Home / Rumah Tangga / Setelah Usai Bersamamu / Detik Pertama Melihatnya

Share

Detik Pertama Melihatnya

Author: Ife Bryant
last update publish date: 2026-09-24 22:07:26

"Hari ini kamu sudah boleh melihat anakmu."

Suara bariton pria itu menghentikan lamunanku. Pria itu sudah berdiri di samping ranjang dengan pakaian yang jauh lebih rapi dibanding semalam. Kemeja abu-abu gelap berbalut jas kasual yang membuatnya tampak semakin berwibawa. Dua hari berlalu sejak malam pengusiran itu, dan di sinilah aku, berjuang menyeret langkah kaki berbekal tiang infus demi menemui darah dagingku.

Rasa perih di bekas luka operasi seolah tidak ada apa-apanya dibanding debaran di dadaku. Sesampainya di ruang NICU, napas tertahan di tenggorokan saat mataku menangkap sosok kecil di dalam kotak inkubator transparan.

Ya Allah... kecil sekali...

Air mata yang sudah kutahan sejak tadi malam tumpah seketika. Bayi laki-laki itu begitu mungil. Kulitnya kemerahan dengan selang-selang kecil menempel di tubuh rapuhnya, berjuang untuk menarik napas pertamanya di dunia yang kejam ini. Aku menempelkan telapak tangan pada dinding kaca inkubator, jemariku bergetar hebat.

"Maafkan Ibu, Nak..." bisikku parau, isak tangisku pecah tanpa suara. "Ibu gagal menjagamu tetap aman sejak dalam kandungan..."

Pria di sebelahku terdiam. Dia berdiri tegak dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana, menatap bayi di dalam inkubator dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada keteduhan, tapi juga ketegasan yang menyelimuti wajah tampannya.

"Bayimu kuat," ucap pria itu tiba-tiba, memecah keheningan di antara suara mesin pemantau detak jantung. Suaranya rendah namun penuh keyakinan. "Dia bertahan di tengah badai semalam. Darah pejuang ada di dalam dirinya."

Aku menoleh, mendapati pria itu menatapku lekat-lekat. Kata-katanya sederhana, tetapi entah kenapa berhasil menghangatkan rongga dadaku yang selama ini membeku oleh pengkhianatan Andre.

"Terima kasih, Pak," kataku tulus, menyapu sisa air mata di pipi. "Kalau bukan karena Bapak malam itu, saya dan anak saya pasti sudah..." Kalimatku menggantung, tenggelam oleh rasa nyeri jika mengingat kembali malam pembuangan itu.

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah bayi mungil itu sebelum akhirnya menatapku tajam.

"Kamu tidak bisa terus-terusan memanggil saya 'Pak'. Nama saya Adrian Baskara," ujarnya dingin namun sopan. "Dan sekarang, hal terpenting bukanlah berterima kasih, melainkan rencana masa depanmu. Setelah keluar dari rumah sakit ini, kamu mau tinggal di mana?"

Pertanyaan itu menohok telak. Seketika kepalaku pening. Aku sebatang kara, tidak memiliki rumah, dan uang tabungan dari hasil jualan es krim setahun lalu hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa hari kedepan. Kembali ke rumah Andre? Cih, lebih baik aku mati kelaparan di jalanan.

Melihat kebungkaman aku, Adrian menghela nafas panjang. Ia meraih selembar tisu di atas meja kecil terdekat dan menyerahkannya kepadaku, gestur yang terlampau perhatian untuk ukuran seorang pria asing yang baru ditemui dua hari lalu.

"Saya tahu kamu tidak punya tempat tujuan," lanjut Adrian dengan nada final yang tidak bisa dibantah. "Ikutlah dengan saya. Sementara waktu, tinggallah di salah satu tempat aman milik saya sampai kondisi anakmu pulih total."

Aku terperanjat mundur, menggeleng panik. "Tidak, Adrian! Saya tidak bisa! Ini sudah terlalu merepotkan—"

"Ini bukan tawaran," potongnya tegas, dengan cara yang membuat bulu kudukku meremang. "Anggap saja ini bentuk tanggung jawab saya karena sudah menyelamatkan kalian. Jangan membantah."

Sebelum aku sempat merangkai kata penolakan, pintu ruangan NICU terbuka. Seorang perawat keluar membawa sebuah map rekam medis dengan wajah panik.

"Maaf, Tuan Adrian. Ada telepon darurat untuk Anda dari kediaman utama diningrat. Nyonya Besar mendesak Anda untuk segera mengangkatnya."

Deg!

Jantungku seperti berhenti berdetak. Nama Diningrat—marga bangsawan dan konglomerat papan atas yang sangat terkenal. Pria di hadapanku ini bukan orang sembarangan. Dan aku, perempuan malang korban buangan suami, kini justru berada dalam lingkaran kehidupan seorang pria berdarah biru.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Usai Bersamamu    Kemarahan Tuan Diningrat

    ​"Apakah Adrian sudah gila, Mas?! Berani-beraninya dia menentang keputusan kita demi perempuan murahan itu!"​Jeritan Nyonya Besar Diningrat memecah keheningan pagi di ruang makan utama kediaman keluarga Diningrat yang megah. Suaranya bergetar hebat, mencerminkan kepedihan dan kemarahan yang sudah di ambang batas. Buku-buku jarinya mencengkeram erat tepi meja makan yang terbuat dari marmer, menatap kosong pada kursi kosong di ujung ruangan — kursi yang biasanya ditempati oleh putra tunggal kebanggaan mereka.​Tuan Besar Diningrat duduk diam di ujung meja. Wajah paruh baya itu tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Rahangnya mengeras kaku, sementara matanya yang tajam menatap nanar segelas kopi hitam yang belum tersentuh sama sekali. Sejak semalam, rumah utama ini tidak pernah benar-benar tenang. Berita tentang Adrian yang secara terang-terangan membangkang, melepas seluruh fasilitas perusahaan, dan memilih hidup bersama seorang wanita asing yang masih berstatus istri orang telah me

  • Setelah Usai Bersamamu    KEBINASAAN

    "Kamu sudah kehilangan akal sehat, Adrian! Kartu kredit mu akan diblokir total, dan ayahmu sedang bersiap menggelar rapat darurat untuk mendepakmu dari kursi direktur utama!""Biarkan saja. Itu bukan urusanmu, Arsen. Pergi dari rumahku dan jangan campuri urusan ku lagi!."Suara bantingan pintu ruang kerja pribadi Adrian mengakhiri perdebatan panas itu. Dari balik dinding pembatas lantai dua tempatku berdiri, seluruh darahku seolah tersedot habis. Kakiku terasa lemas seketika.Berita itu menghantam dadaku bagaikan palu godam. Ayah Adrian benar-benar bertindak kejam. Seluruh fasilitas, kartu kredit, hingga posisi Adrian di perusahaan besar itu kini dipertaruhkan dan semua itu terjadi semata-mata karena pria tersebut memilih melindungiku dan bayiku.Rasa bersalah yang teramat besar langsung mencengkeram rongga dadaku, membuat napas pendek-pendek ku terasa sangat sesak.Aku adalah racun bagi Adrian.Pikiran itu berkelebat kejam di kepalaku. Sebelum malam pengusiran itu, Adrian adalah seo

  • Setelah Usai Bersamamu    Pilihan Di Ambang Kehancuran

    "Pilih sekarang, Adrian! Tetap menjadi penerus tunggal keluarga Diningrat, atau pergi secara tidak terhormat bersama perempuan buangan yang tidak jelas asal-usulnya itu?!"Gebrakan meja kaca di ruang tamu rumah peristirahatan privat milik Adrian bergetar keras. Suara Tuan Besar Diningrat menggema dingin, sarat akan amarah yang sudah mencapai puncaknya.Aku yang berdiri kaku di balik pilar lantai dua sambil memeluk Gibran erat-erat dalam dekapanku menahan napas dengan dada bergemuruh. Kedatangan orang tua Adrian bersama Fani yang tiba-tiba melacak keberadaan tempat ini berubah menjadi medan pertempuran yang paling menakutkan dalam hidupku.Adrian berdiri tegap di hadapan ayahnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, rahangnya mengeras tajam, memancarkan aura ketenangan yang begitu membekukan."Aku tidak pernah meminta tahta atau harta warisan itu, Pa," jawab Adrian dengan suara bariton yang begitu tenang namun tajam menghujam. "Kalau Papa ingin memakai kekayaan itu untuk me

  • Setelah Usai Bersamamu    Sumpah Di Atas Reruntuhan

    Suara bantingan pintu dari kepergian Tuan Besar Diningrat masih menyisakan dengung ngilu di telingaku. Napasku memburu, sementara dadaku bergemuruh hebat. Pria paruh baya tadi baru saja mengancam akan mencoret Adrian dari daftar pewaris kekayaan keluarga Diningrat —semua itu gara-gara aku dan bayiku.Adrian menarik kursi dan duduk kembali di samping ranjangku. Wajahnya tetap tenang, seolah ancaman pemecatan dari tahta keluarga konglomerat itu tidak lebih berharga dari angin lalu."Adrian..." suaraku tercekat, air mataku kembali meleleh membasahi pipi. "Kenapa... kenapa kamu harus separah ini membelaku? Kamu baru saja mempertaruhkan masa depanmu sendiri demi aku... wanita asing yang tidak punya apa-apa."Adrian menatapku lekat-lekat. Sorot matanya yang tajam melembut, menyalurkan kehangatan yang belum pernah kudapatkan seumur hidupku bahkan dari Mas Andre, pria yang dulu kusebut suami."Karena aku bukan tipe pria yang bisa diam melihat manusia lain diinjak-injak di hadapanku, Ayu," jaw

  • Setelah Usai Bersamamu    Pertentangan Keluarga Diningrat

    "Adrian! Kamu benar-benar anak yang sudah kehilangan akal sehat!"Suara bentakan Tuan Besar Diningrat menggema di seluruh sudut ruangan rawat inap yang mewah itu. Kemurkaan terpampang jelas di wajah pria paruh baya tersebut, membuat udara di sekitar kami terasa begitu menyesakkan.Aku yang baru saja siuman dari operasi darurat hanya bisa terdiam kaku di atas ranjang. Jantungku berdegup kencang, dihantui rasa takut yang luar biasa. Caci maki dan pengusiran yang kuterima dari keluarga Andre beberapa hari yang lalu seolah terulang kembali, kali ini dalam skala yang jauh lebih besar dan menakutkan. Keluarga Diningrat adalah raksasa bisnis di kota ini yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sedetik.Namun, Adrian sedikit pun tidak bergeming. Pria itu tetap berdiri kokoh di samping ranjangku, memasang badannya sebagai perisai pelindung yang tangguh."Aku sangat sadar dengan apa yang kukatakan, Pa," jawab Adrian dengan nada suara yang dingin, tenang, namun penuh keyakinan. "Ayu dan ana

  • Setelah Usai Bersamamu     Badai Di Ruang Operasi

    "Tahan sebentar, Ayu. Kamu harus kuat!" Suara bariton Adrian terdengar panik, mengiris kesadaranku yang mulai menipis akibat rasa sakit luar biasa di perut bagian bawah. Darah segar merembes begitu deras, membasahi kain seprai putih rumah sakit saat aku dibopong paksa kembali menuju ruang tindakan darurat. Di luar lorong, samar-samar kulihat bayangan Nyonya Besar Diningrat berteriak murka dan Fani yang menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. Namun, ancaman mereka tidak ada apa-apanya dibanding ketakutan terbesarku saat ini: bagaimana nasib anakku jika aku mati di meja operasi? Pintu putih ruang darurat membanting tertutup. Suster dan dokter spesialis bedah langsung berlari panik, mengerubungiku yang sudah menggigil hebat. "Jahitannya robek karena pasien histeris dan memaksakan diri bergerak," seru dokter perempuan itu tegas. "Siapkan alat anestesi sekarang! Kita harus lakukan tindakan darurat kedua!" Masker oksigen dipasang menutupi wajahku. Sebelum pandanganku benar-ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status