Home / Rumah Tangga / Setelah Usai Bersamamu / Bayang Sang Penguasa

Share

Bayang Sang Penguasa

Author: Ife Bryant
last update publish date: 2026-09-24 22:18:05

"Siapa yang kamu bawa ke rumah sakit keluarga kita, Adrian?!"

Suara melengking nan berwibawa itu menggelegar dari lorong rumah sakit, memecah kesunyian malam. Aku yang baru saja hendak melangkah keluar dari ruangan NICU dibuat membeku di tempat.

Seorang wanita paruh baya berbusana elegan dengan perhiasan emas menggantung di lehernya melangkah anggun namun penuh emosi. Di belakangnya, seorang perempuan muda berkulit mulus tampak seperti putri bangsawan mengikutinya dengan raut wajah masam.

Nyonya Besar Diningrat. Ibu dari pria yang menolongku.

"Mama," suara Adrian terdengar sangat tenang, sangat kontras dengan kepanikan yang mulai merayapi dadaku. "Aku sudah bilang, Mama tidak perlu datang ke sini."

"Bagaimana Mama tidak datang kalau tunanganmu sendiri yang bilang kamu bolos makan malam keluarga hanya demi perempuan asing ini?!" tunjuk wanita itu tepat ke arah mukaku dengan tatapan merendahkan.

Tunangan?

Seketika dadaku rasanya ditimpa batu besar. Mata perempuan muda di samping ibu Adrian menatapku tajam dari ujung rambut hingga ujung kaki yang terbalut gaun pasien rumah sakit. Tatapan hinaan yang begitu familiar persis seperti tatapan ibu mertua dan Siska saat mengusirku dari rumah.

"Jadi ini perempuan gatal yang membuatmu mengabaikan Fani semalaman, Adrian?!" bentak sang ibu lagi, suaranya meninggi. "Perempuan kampung yang tak jelas asal-usulnya, bahkan baru saja melahirkan anak haram?!"

"Cukup, Ma!"

Gebrakan suara tegas Adrian membuat koridor itu mendadak hening seketika. Pria itu melangkah maju, meletakkan posisinya persis di depanku menjadi benteng yang menghalangi pandangan membakar dari ibu dan wanita bernama Fani itu.

"Jangan pernah menghina dia atau bayinya di hadapanku," ucap Adrian dingin, setiap kata dituturkan dengan tekanan yang mampu merubah udara di sekitarnya. "Dia adalah tamu kehormatanku. Dan anak itu bukan anak haram."

Fani melangkah maju, dadanya naik turun menahan gertakan emosi. "Mas Adrian! Apakah kamu sudah gila?! Kamu lebih membela wanita murahan yang entah dimana kamu temukan dibanding aku, calon istrimu?!"

"Pernikahan kita baru sebatas wacana keluarga, Fani. Jangan bertindak seolah kamu sudah memegang kendali atas hidupku," balas Adrian telak tanpa keraguan sedikitpun.

Aku mencengkeram tiang infus erat-erat hingga buku-buku jari memutih. Gemuruh di dadaku semakin tak menentu.

Mengapa Adrian melindungiku seperti ini? Mengapa ia rela bersitegang dengan keluarga besarnya demi perempuan yang baru saja ditendang dari rumah suami sahnya sendiri?

"Bagus... bagus sekali, Adrian!" Nyonya Diningrat menyunggingkan senyum sinis yang mengedikkan. "Kamu mempermalukan keluarga kita demi bangkai yang dibuang orang lain! Kalau kamu tetap mempertahankan perempuan ini di lingkaran hidupmu, jangan salahkan Mama kalau keberadaan bayi itu terancam di rumah sakit ini!"

Ancaman itu menghantam jantungku bagai tusukan pisau. Bayiku! Mereka ingin menyentuh bayiku yang masih berjuang di dalam inkubator?!

"Jangan berani-berani menyentuh anak saya!" jeritan histerisku, aku mengabaikan rasa perih luar biasa di perut bekas operasi yang mendadak terasa ditarik paksa. Aku melangkah kencang mencoba berdiri di samping Adrian. "Siksa dan hancurkan saya sepuas Ibu, tapi jangan pernah sentuh bayi saya!"

Adrian langsung menoleh, matanya mengkilat panik saat melihat mukaku pucat dan bercak darah segar mulai merembes kecil di balik gaun pasienku. Bekas jahitan operasiku terbuka.

Tanpa memperdulikan tatapan syok ibunya dan kemarahan Fani, Adrian berbalik dan langsung membopong tubuhku ke dalam pelukannya.

"Panggil dokter! Sekarang!" teriak Adrian bergema di lorong koridor.

Dalam dekapannya yang kokoh, di antara kesakitan fisik yang menjalar hebat, mataku sempat bersibobrok dengan tatapan Adrian. Ada amarah liar di matanya, tetapi juga ada kecemasan mendalam yang sama sekali tak bisa ia sembunyikan dariku.

Siapa sebenarnya kamu, Adrian Baskara Diningrat? Dan kenapa hadirmu terasa seperti takdir yang siap menyapu bersih semua musuh-musuhku?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Usai Bersamamu    Kemarahan Tuan Diningrat

    ​"Apakah Adrian sudah gila, Mas?! Berani-beraninya dia menentang keputusan kita demi perempuan murahan itu!"​Jeritan Nyonya Besar Diningrat memecah keheningan pagi di ruang makan utama kediaman keluarga Diningrat yang megah. Suaranya bergetar hebat, mencerminkan kepedihan dan kemarahan yang sudah di ambang batas. Buku-buku jarinya mencengkeram erat tepi meja makan yang terbuat dari marmer, menatap kosong pada kursi kosong di ujung ruangan — kursi yang biasanya ditempati oleh putra tunggal kebanggaan mereka.​Tuan Besar Diningrat duduk diam di ujung meja. Wajah paruh baya itu tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Rahangnya mengeras kaku, sementara matanya yang tajam menatap nanar segelas kopi hitam yang belum tersentuh sama sekali. Sejak semalam, rumah utama ini tidak pernah benar-benar tenang. Berita tentang Adrian yang secara terang-terangan membangkang, melepas seluruh fasilitas perusahaan, dan memilih hidup bersama seorang wanita asing yang masih berstatus istri orang telah me

  • Setelah Usai Bersamamu    KEBINASAAN

    "Kamu sudah kehilangan akal sehat, Adrian! Kartu kredit mu akan diblokir total, dan ayahmu sedang bersiap menggelar rapat darurat untuk mendepakmu dari kursi direktur utama!""Biarkan saja. Itu bukan urusanmu, Arsen. Pergi dari rumahku dan jangan campuri urusan ku lagi!."Suara bantingan pintu ruang kerja pribadi Adrian mengakhiri perdebatan panas itu. Dari balik dinding pembatas lantai dua tempatku berdiri, seluruh darahku seolah tersedot habis. Kakiku terasa lemas seketika.Berita itu menghantam dadaku bagaikan palu godam. Ayah Adrian benar-benar bertindak kejam. Seluruh fasilitas, kartu kredit, hingga posisi Adrian di perusahaan besar itu kini dipertaruhkan dan semua itu terjadi semata-mata karena pria tersebut memilih melindungiku dan bayiku.Rasa bersalah yang teramat besar langsung mencengkeram rongga dadaku, membuat napas pendek-pendek ku terasa sangat sesak.Aku adalah racun bagi Adrian.Pikiran itu berkelebat kejam di kepalaku. Sebelum malam pengusiran itu, Adrian adalah seo

  • Setelah Usai Bersamamu    Pilihan Di Ambang Kehancuran

    "Pilih sekarang, Adrian! Tetap menjadi penerus tunggal keluarga Diningrat, atau pergi secara tidak terhormat bersama perempuan buangan yang tidak jelas asal-usulnya itu?!"Gebrakan meja kaca di ruang tamu rumah peristirahatan privat milik Adrian bergetar keras. Suara Tuan Besar Diningrat menggema dingin, sarat akan amarah yang sudah mencapai puncaknya.Aku yang berdiri kaku di balik pilar lantai dua sambil memeluk Gibran erat-erat dalam dekapanku menahan napas dengan dada bergemuruh. Kedatangan orang tua Adrian bersama Fani yang tiba-tiba melacak keberadaan tempat ini berubah menjadi medan pertempuran yang paling menakutkan dalam hidupku.Adrian berdiri tegap di hadapan ayahnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, rahangnya mengeras tajam, memancarkan aura ketenangan yang begitu membekukan."Aku tidak pernah meminta tahta atau harta warisan itu, Pa," jawab Adrian dengan suara bariton yang begitu tenang namun tajam menghujam. "Kalau Papa ingin memakai kekayaan itu untuk me

  • Setelah Usai Bersamamu    Sumpah Di Atas Reruntuhan

    Suara bantingan pintu dari kepergian Tuan Besar Diningrat masih menyisakan dengung ngilu di telingaku. Napasku memburu, sementara dadaku bergemuruh hebat. Pria paruh baya tadi baru saja mengancam akan mencoret Adrian dari daftar pewaris kekayaan keluarga Diningrat —semua itu gara-gara aku dan bayiku.Adrian menarik kursi dan duduk kembali di samping ranjangku. Wajahnya tetap tenang, seolah ancaman pemecatan dari tahta keluarga konglomerat itu tidak lebih berharga dari angin lalu."Adrian..." suaraku tercekat, air mataku kembali meleleh membasahi pipi. "Kenapa... kenapa kamu harus separah ini membelaku? Kamu baru saja mempertaruhkan masa depanmu sendiri demi aku... wanita asing yang tidak punya apa-apa."Adrian menatapku lekat-lekat. Sorot matanya yang tajam melembut, menyalurkan kehangatan yang belum pernah kudapatkan seumur hidupku bahkan dari Mas Andre, pria yang dulu kusebut suami."Karena aku bukan tipe pria yang bisa diam melihat manusia lain diinjak-injak di hadapanku, Ayu," jaw

  • Setelah Usai Bersamamu    Pertentangan Keluarga Diningrat

    "Adrian! Kamu benar-benar anak yang sudah kehilangan akal sehat!"Suara bentakan Tuan Besar Diningrat menggema di seluruh sudut ruangan rawat inap yang mewah itu. Kemurkaan terpampang jelas di wajah pria paruh baya tersebut, membuat udara di sekitar kami terasa begitu menyesakkan.Aku yang baru saja siuman dari operasi darurat hanya bisa terdiam kaku di atas ranjang. Jantungku berdegup kencang, dihantui rasa takut yang luar biasa. Caci maki dan pengusiran yang kuterima dari keluarga Andre beberapa hari yang lalu seolah terulang kembali, kali ini dalam skala yang jauh lebih besar dan menakutkan. Keluarga Diningrat adalah raksasa bisnis di kota ini yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sedetik.Namun, Adrian sedikit pun tidak bergeming. Pria itu tetap berdiri kokoh di samping ranjangku, memasang badannya sebagai perisai pelindung yang tangguh."Aku sangat sadar dengan apa yang kukatakan, Pa," jawab Adrian dengan nada suara yang dingin, tenang, namun penuh keyakinan. "Ayu dan ana

  • Setelah Usai Bersamamu     Badai Di Ruang Operasi

    "Tahan sebentar, Ayu. Kamu harus kuat!" Suara bariton Adrian terdengar panik, mengiris kesadaranku yang mulai menipis akibat rasa sakit luar biasa di perut bagian bawah. Darah segar merembes begitu deras, membasahi kain seprai putih rumah sakit saat aku dibopong paksa kembali menuju ruang tindakan darurat. Di luar lorong, samar-samar kulihat bayangan Nyonya Besar Diningrat berteriak murka dan Fani yang menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. Namun, ancaman mereka tidak ada apa-apanya dibanding ketakutan terbesarku saat ini: bagaimana nasib anakku jika aku mati di meja operasi? Pintu putih ruang darurat membanting tertutup. Suster dan dokter spesialis bedah langsung berlari panik, mengerubungiku yang sudah menggigil hebat. "Jahitannya robek karena pasien histeris dan memaksakan diri bergerak," seru dokter perempuan itu tegas. "Siapkan alat anestesi sekarang! Kita harus lakukan tindakan darurat kedua!" Masker oksigen dipasang menutupi wajahku. Sebelum pandanganku benar-ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status