Masuk
Tiga tahun berperan sebagai istri dari seorang pria yang tak pernah menyentuhnya, keseharian Ruenna Selyn malah mengulek cabai di dapur kediaman Oleander. Alih-alih duduk manis menyeruput teh, atau menghabiskan uang di outlet fashion brand mahal layaknya menantu keluarga konglomerat.
Di bawah arahan sang ibu mertua, Livia, tangan Ruenna menggerus cabai dan bawang menggunakan ulekan batu warisan keluarga. Di rumah keluarga ini, blender adalah penistaan terhadap cita rasa cabai. Bagi Livia, masakan istri adalah pengikat suami, sebuah tradisi yang ia yakini sebagai marwah seorang istri. Ruenna menahan perih di sudut mata akibat aroma cabai dan bawang. Ingin rasanya ia menyembunyikan ulekan pusaka milik keluarga Oleander itu di dasar kolam ikan koi halaman belakang. Semuanya bermula tiga tahun lalu. Aras, ayah biologis yang tak pernah menganggap Ruenna ada, tiba-tiba muncul membawa tawaran, "Gantikan Fiorella di altar, dan nenekmu akan mendapatkan perawatan medis terbaik seumur hidupnya." Bagi Ruenna, tawaran gila itu adalah satu-satunya tumpuan. Seperti sebatang kayu yang melintas saat ia hampir tenggelam di tengah laut. Gajinya sebagai tukang cuci piring tidak akan cukup untuk membayar pengasuh, sementara ia tak tega membiarkan sang nenek yang mengidap demensia terus terkurung sendirian di rumah. Akhirnya, demi sang nenek, Ruenna yang hanya anak di luar nikah itu bersedia berdiri di altar. Ia menggantikan posisi Fiorella, sang putri sah yang melarikan diri dari pernikahannya dengan Altan Oleander. Ia pikir sandiwara itu hanya sehari. Namun Fiorella tak pernah ditemukan, dan pria yang menyematkan cincin di jarinya itu langsung terbang ke luar negeri keesokan harinya, tanpa pernah kembali hingga tiga tahun telah berlalu. Hari ini, kabarnya tuan muda Oleander itu akhirnya kembali. Karenanya, Livia sejak semalam sudah sibuk mempersiapakan kedatangan putranya. Dan Ruenna sendiri sibuk memikirkan, ‘Apa yang harus kulakukan? Menyapa halo, tuan Altan? Atau ... bagaimana jika pria itu menuntut haknya sebagai suami?’ Padahal mereka bukan pasangan suami istri. Ia hanyalah istri palsu, sementara. Tiba-tiba, Altan sudah berdiri di ambang pintu dapur. "Altan!" Pekik Livia yang tengah mencicipi sup yang masih menggelegak di atas kompor. Wanita paruh baya itu meletakan sendok sup begitu saja dan langsung berhambur, memeluk putranya dengan erat. "Astaga, kenapa tidak mengabari Mama? tiba-tiba sudah sampai di rumah!" Altan membalas pelukan ibunya dengan senyum. "Kejutan, Ma." "Ayo cerita ceritanya di ruang keluarga," ucap Livia antusias, menarik lengan putranya. Tinggalah di dapur Ruenna bersama seorang asisten rumah tangga yang melanjutkan masakan Livia. Beberapa menit kemudian, Livia kembali muncul di dapur. "Koper Altan sudah dibawa ke kamarnya, dan layani semua keperluannya," titah wanita paruh baya itu sembari berjalan ke meja dapur mengecek masakan yang dilanjutkan Ruenna bersama ART mereka. Ruenna mematung sejenak. ‘Melayani apa? Termasuk pakaian dalamnya?’ batinnya berontak. Karena terbiasa patuh demi kelangsungan biaya perawatan neneknya, Ruenna hanya mengangguk pelan dan menaiki tangga menuju kamar pribadi Altan. Gadis itu menarik koper besar milik Altan itu ke dalam walk-in closet. Ia duduk di lantai, tersembunyi di balik meja kabinet tengah, mulai memilah pakaian dari dalam koper. Sayup-sayup, suara gemericik air dari kamar mandi terdengar. Altan sedang membersihkan diri. Tak berapa lama kemudian, dering ponsel menggema di kamar itu. Karena yakin ponsel yang berdering bukan miliknya, Ruenna lanjut fokus dengan pekerjaannya. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Altan melangkah keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk putih tebal yang melilit pinggangnya, mengekspos otot perut dan dada yang terbentuk atletis. Pria itu tidak menyadari keberadaan Ruenna di balik meja kabinet. Sambil mengeringkan rambutnya, ia menekan tombol terima di layar ponselnya, dan menyalakan speaker. "Hai, Babe," jawabnya sembari mencari pakaian untuk dikenakannya. "Sayang... Aku sudah sampai di apart. Kau sudah bertemu ibumu?" Suara yang keluar dari ponsel Altan membuat Ruenna mau tak mau harus memasang kupingnya lebar-lebar. Sayang?? “Kau menyukainya?” tanya Altan. "Ah... Kau benar-benar nakal," desah wanita di seberang telepon. "Tahu nggak apa yang sedang aku bayangkan sekarang?" "Apa? Katakan padaku," tuntut Altan. "Tidak... tidak sampai kau di sini. Undress me, sign my labyrinth, Altan. Aku ingin kau datang dan melakukan apa yang kau mau padaku." Altan terkekeh pelan, tawa maskulin yang terdengar penuh hasrat. Ruenna yang tak sengaja menguping dengan telinga lebarnya, tidak bisa menahan diri lagi. Percakapan cabul itu lebih panas dari ulekan cabai yang digunakannya tadi. Lekas, ia bangkit berdiri dari balik meja kabinet. Altan, yang baru saja selesai memakai kaosnya, tersentak kaget dan lekas mengkhiri pembicaraannya di telepon. “Babe, nanti aku hubungi lagi,” katanya sebelum memutuskan sambungan teleponnya. Mata pria itu menatap tajam ke arah Ruenna. "Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanyanya. Ruenna balik bertanya. "Jika Anda sudah memiliki wanita lain yang begitu Anda cintai... mengapa tiga tahun lalu Anda tidak menolak saja pernikahan ini? Mengapa Anda membiarkannya tetap berjalan?" Altan menatap Ruenna dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Pernikahan ini adalah keputusan mutlak Kakekku dan Harmlock. Siapa pun wanita di balik gaun pengantin itu tidak ada bedanya. Pernikahan ini hanya soal legalitas penggabungan keluarga." "Apa maksudnya?" tanya Ruenna. Pria itu berjalan mendekat ke arah Ruenna. "Sejak awal aku tahu kalau kau bukan Fiorella." Ruenna terbelalak, dan menelan ludah, "Apa... apa Anda akan memberitahu Kakek Mario?" tanyanya. Jika itu terjadi, maka tugasnya gagal. Sesuai perjanjian dengan Aras, ia tidak boleh ketahuan sampai Fiorella yang asli ditemukan. Altan tertawa meremehkan. “Jika aku ingin membatalkan pernikahanku, aku sudah melakukannya ketika mengetahui kau bukan cucu asli Harmlock." Ruenna mengerutkan kening. "Mengapa Anda mempertahankan pernikahan ini, meskipun istri Anda yang asli telah kabur?" "Kau sendiri? Kau tetap bertahan menjadi menantu Oleander, meski aku kabur selama tiga tahun lalu?" Ruenna berdehem pelan. "Itu... itu karena Fiorella belum ditemukan." Altan mendengus sinis, "Apa kau menikmati identitas Fiorella. Kau menyukai status sebagai menantu Oleander, bukan?" "Aku tidak seperti itu,” elak Ruenna. "Jika aku pergi, Anda akan diam saja kan?" Altan tidak menjawabnya. Ia lanjut mencari celananya di lemari. “Kalau begitu saya boleh pergi?” tatapan Ruenna mengikuti gerak gerik Altan yang kini terlihat benar-benar mengabaikan keberadaannya, dan malah bersiap melepas handuknya. Ruenna buru-buru membuang muka. "Baik! Saya pergi sekarang!" serunya sebelum melarikan diri dari kamar itu secepat kilat. *** Hanya butuh waktu dua puluh menit bagi Ruenna untuk mengepak seluruh barang-barangnya ke dalam satu koper. Begini sajakah akhir ceritanya? Pikiran itu mengusiknya saat ia menyeret koper menuruni tangga. Haruskah ia merayakan hari ini? Ia akhirnya bebas, kembali menjadi gadis bernama Ruenna Selyn. Namun sebelum sempat Ruenna menuju pintu keluar, siap meninggalkan rumah megah itu untuk selamanya, pintu utama terbuka. Sosok Mario Oleander berdiri di ambang pintu. Kakek tua itu tidak sendirian. Ia ditopang oleh seorang pria muda berwajah tampan bersih dengan hidung dan rahang yang kokoh simetris, mata hitam tajam, rambut sedikit berantakan menutup dahinya. Langkah Mario terhenti, matanya yang mulai kabur langsung tertuju pada koper di tangan Ruenna. "Ella? Kau mau pergi ke mana?" Ruenna tertegun. Di keluarga Oleander, hanya Kakek Mario yang memperlakukannya dengan kasih sayang yang tulus, kerena selain Altan tidak ada yang tahu bahwa pengantin di altar tiga tahun lalu adalah Fiorella palsu.Jerry memperhatikan bibir Ruenna yang seolah sedang memanggil-manggilnya. Ia masih berniat jual mahal. Sayangnya, tubuhnya tidak bisa diajak berunding. "Aku milikmu. Jadi jangan melepasku. Jangan menyerah padaku," balas Jerry. Tangannya langsung meraih tengkuk Ruenna dan menariknya mendekat. Bibir mereka bertemu cepat dan kasar. Ruenna langsung balas menciumnya. Belum sempat mereka benar-benar mengambil napas, Jerry kembali meraup bibirnya. Satu tangannya turun mencengkeram pinggang Ruenna, menarik tubuh wanita itu semakin rapat. Ciumannya menuntut, mendesak. 'Ah... menolak hidangan yang sudah menyerahkan diri seperti ini adalah sebuah dosa besar,' batin Jerry. Jemari Ruenna meremas kuat bahu pria itu. Jerry terus mendesaknya mundur hingga punggung Ruenna perlahan mendarat di kasur. Jerry menahan berat tubuhnya dengan satu tangan di sisi kepala Ruenna. Tatapannya mengunci mata wanita itu, tetapi hanya bertahan sedetik sebelum ia kembali turun ke bibir Ruenna. Jerry memirin
"Bukan begitu... Aku memikirkan kemungkinan kau yang berniat menceraikanku." "Aku tidak akan menceraikanmu," sahut Jerry datar. "Sekalipun kau tidak ingin memiliki anak denganku." "Aku mau memiliki anak denganmu," sanggah Ruenna cepat. "Kau membuatku takut... sampai tidak sempat sedih karena kehilangan calon bayiku." Alis Jerry bertaut. "Kau sedih?" tanyanya heran, nada suaranya terdengar ragu. Ruenna mengangguk, dan menundukkan kepala sambil terus memegangi tangan suaminya. Jerry memperhatikan Ruenna dalam diam. Apakah Ruenna benar-benar menginginkan anak darinya? Jerry tidak mengerti. Seumur hidupnya, ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia paham mencintai dan memiliki sesuatu. Baginya, sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak boleh lepas. Namun kesedihan adalah konsep yang asing baginya. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan bahwa Ruenna sengaja melenyapkan calon bayi mereka agar bisa lepas dari genggamannya. Dengan tangan kanannya, Jerry menarik jemari
Sementara di kediaman Homar pagi itu, sang tuan rumah duduk tenang di meja makan sembari menyeruput jus buahnya. Sudut matanya melirik ponsel Jihan di atas meja makan. Homar tahu transaksi pembelian tonik yang diminum Ruenna dilakukan oleh Jihan. Namun, Jihan adalah istrinya. Sebesar apa pun kesalahannya, insting Homar tetap membuatnya melindungi Jihan. Ia memilih mengubur bukti itu rapat-rapat. Langkah kaki terdengar mendekat. Jihan kembali dan duduk di kursinya, baru saja hendak meraih cangkir tehnya, suara bariton Homar terdengar. “Tonik yang kau beli kemarin,” gumam Homar pelan tanpa menoleh. Mendengarnya, Jihan terdiam, tak jadi meraih cangkir tehnya. Homar menatap Jihan serius. "Bahan di dalamnya bisa menyebabkan perdarahan berat pada kehamilan muda. Ruenna beruntung bisa diselamatkan. Kalau terlambat sedikit saja, Jerry tidak akan memaafkanmu.” Bibir Jihan terbuka sedikit, pupil matanya melebar menatap suaminya. “Sayang, aku tidak tahu bisa sebahaya itu.” Homar
Jerry menutup pintu kamar rawat, meninggalkan Ruenna di dalam. Awalnya ia siap memercayai apa pun yang keluar dari mulut Ruenna, namun penjelasan istrinya itu barusan malah membuat akal sehatnya menolak percaya.Ia bersandar di dinding lorong rumah sakit, mengeluarkan ponsel, dan mengakses sistem keamanan kediamannya.Jarinya memutar mundur rekaman CCTV ke siang hari. Tidak ada yang mencurigakan saat ibunya datang. Hingga akhirnya, ia menemukan asal-usul botol tonik herbal itu. Ruenna mengambil sendiri paket itu dari tangan kurir. Jadi, dia memang ingin menggugurkan kandungannya?Rahang Jerry mengeras. Ia mengepalkan tangan dan menghantam dinding lorong dengan keras. Buku-buku jarinya robek dan berdarah, tapi tatapannya tetap dingin.Ponsel di tangannya berdering. Di layar, ayahnya memanggil. "Apa yang sudah kau lakukan sampai membuat ibumu menangis?!" suara Homar di ujung saluran terdengar sangat marah. Setengah jam kemudian, Jerry tiba di kediaman orang tuanya.Di ruang baca, Jih
Mobil yang membawa Jerry dan Ruenna berhenti di depan lobi utama gedung Aureon. Sebelum turun, Jerry menahan tengkuk Ruenna dan mengecup bibirnya sekilas.Begitu pintu tertutup, sopir kembali melajukan mobil untuk mengantar Ruenna pulang.Sesampainya di halaman rumah, Ruenna dikejutkan oleh mobil asing yang terparkir di sana.Rasa penasarannya terjawab saat melangkah masuk ke ruang depan. Jihan yang sudah duduk menunggu di sofa langsung berdiri dan memeluknya erat. Namun, Ruenna hanya diam mematung. "Kau tidak suka aku berkunjung?" "Bukan begitu, Bu Jihan," balas Ruenna canggung. "Jangan memanggilku begitu, kau tidak anggap aku mertuamu?" tanya Jihan lembut. Ruenna tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Ibu.""Nah, begitu lebih baik." Jihan pun tersenyum lebar.Wanita paruh baya itu menunjukkan beberapa tas belanja di meja, berisi gaun, tas, dan sekotak perhiasan."Aku membelikanmu beberapa hadiah," katanya menggenggam jemari Ruenna. Berpikir Jihan sudah bersedia merangk
Malam harinya, Ruenna menatap layar ponselnya. Jerry kembali mengirim pesan singkat, mengabarkan bahwa ia akan menginap di apartemen karena harus bekerja sampai larut.Setengah jam kemudian, Ruenna sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Jerry. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali ia datang saat mereka masih partner kencan. Ruenna tidak tahu apakah suaminya punya unit lain di kota ini, ia hanya menebak Jerry pasti pulang ke tempat ini.Jemarinya menekan digit kode kunci pada panel pintu. Kodenya belum berubah. Unit itu rapi, bersih, dan sama sekali tidak tampak seperti tempat yang lama ditinggalkan. Ruenna tersenyum kecil, tebakannya tepat, Jerry memang menghabiskan beberapa malam terakhir di sini. Ia sadar, jika hanya berdiam diri menunggu di rumah, jarak di antara mereka akan semakin melebar. Kalau kesempatan itu tidak kunjung datang, maka ia yang harus menjemputnya.Ruenna duduk di sofa ruang tengah, berniat menunggu suaminya pulang. Namun, ia t
"Sebentar, aku butuh waktu untuk berpikir," sahut Ruenna pelan. "Hanya latihan, kan? Maksudku... ini murni latihan akting?" Jerry mengangguk singkat. "Ya." Ruenna menarik napas dalam. Baginya, berakting bukan hal baru. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di depan keluarga Ol
Ruenna menelan ludah. Bayangan tentang kesuksesan lewat konten memasak tiba-tiba terasa seperti gelembung yang siap pecah. "Jadi, terima saja tawaran kami," tekan Genio lagi. "Apa untungnya bagi Anda menghapus akun Chef Rue? Membagikan resep adalah cita-cita saya." "Untuk mematikan akses Anda
Di menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor. Kakek Mario benar-benar membuat A
Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa







