เข้าสู่ระบบBersama dengan ART, Ruenna meletakkan piring-piring dengan hati hati. Hal yang sudah dihafalnya selama tinggal di kediaman Oleander. Sup pembuka, hidangan utama, hingga set alat makan ditata rapi di hadapan Mario, Altan, Livia, dan Jerry, cucu kakek Mario yang datang bersamanya.
Begitu ART mereka selesai menuangkan air ke gelas terakhir milik Jerry, Ruenna perlahan melangkah mundur bersama art. Ia berniat menyelinap kembali ke dapur, namun ketukan tongkat Mario di lantai menghentikan langkahnya. "Duduk, Ella." Langkah Ruenna langsung berbalik, “Baik, Kek.” Mau tidak mau, ia menarik kursi di sebelah Altan dan duduk dengan patuh. Di seberangnya, Jerry menyesap tehnya perlahan dalam diam. Tatapan pria itu tampak santai, namun telinganya seperti tengah dipersiapkan mendengarkan drama keluarga pamannya yang sebentar lagi akan meledak. "Tiga tahun," suara Mario terdengar serius. "Kau menelantarkan istrimu selama itu, Altan. Kau pikir pernikahan ini lelucon? Kalau kau tidak mencintai Fiorella, membuat cicit untukku kan tetap bisa!" Uhuk! Ruenna buru-buru meraih serbet, sembari menahan batuk agar tak menyemburkan air putihnya. Wajahnya memerah. "Kek, aku di sana belajar mandiri. Aku mau buktiin kalau aku bisa bangun karir dari nol," Altan mencoba membela diri. "Mandiri apa?" Mario mendengus, "Bilang saja kau mau lari dari tanggung jawab. Kau pulang karena sudah tidak punya uang, kan?" "Tapi Ayah, Altan sudah berusaha keras. Dia cuma lagi tidak beruntung saja..." sahut Livia dengan suara pelan, berusaha melindungi putranya. Mario langsung menoleh, menatap Livia dengan sorot mata meremehkan. "Jangan membela dia. Aku sudah cukup kecewa karena kau cuma bisa memberiku satu cucu, dan ternyata dia tidak berguna pula." Livia terdiam seribu bahasa. Tak berani lagi menjawab mertuanya. "Kek, tidak perlu membawa-bawa Mama," Altan mencoba protes. Mario hanya meliriknya sekilas, tatapan yang lebih menghina daripada ucapan kasarnya. Altan ingin sekali berdiri, menendang kursi, dan pergi dari sana. Tapi ingatan tentang saldo rekeningnya yang menipis dan kegagalannya di luar negeri menariknya kembali ke realitas. Di tengah drama itu, mata Ruenna tak sengaja melirik ke arah Jerry. Pria itu menyuap hidangan pembukanya dengan sangat santai. Tatapannya fokus pada layar ponsel di tangannya yang lain. Namun, dari bahunya yang sedikit bergetar dan sudut bibirnya yang berkedut, Ruenna yakin seratus persen pria itu hanya pura-pura sibuk dengan ponselnya. Jerry sedang mati-matian menahan tawa, menikmati pertunjukan omelan kakek Mario. Mario Oleander memiliki seorang putra dan seorang putri. Bagi pria tua itu, hanya garis keturunan lelaki yang layak mewarisi klan Oleander. Ini adalah kali pertama Ruenna melihat Jerry, cucu Mario dari garis anak perempuannya. Tanpa sadar, Ruenna memperhatikan pria itu. Ada sesuatu pada wajah Jerry yang terasa familier. ’Mungkin karena dia terlalu tampan,’ pikir Ruenna. Makan siang yang penuh drama itu akhirnya usai setelah dua jam mendengarkan ceramah kakek Mario. Altan dan Livia mengantar kakek Mario hingga ke halaman depan rumah. Sebelum benar-benar berbalik pergi, Mario berhenti. Ia menoleh, menatap lurus ke arah Altan. "Aku yakin istrimu tadi berniat kabur dari rumah karena ulahmu. Dengar baik-baik. Jika sampai cucu menantuku itu pergi, aku pastikan namamu dicoret dari daftar alih waris." Di belakang punggung Mario, Jerry menyunggingkan senyum miring yang terang-terangan meledek sepupunya itu. Ia menatap wajah Altan yang pucat dan tak berkutik, lalu mulai menuntun kakeknya. "Mari, Kek," ucapnya dengan suara lembut yang dibuat-buat, membimbing pria tua itu masuk ke dalam mobil. Selepas deru mobil menjauh dari pekarangan, Altan memijat pelipisnya, bersiap masuk kembali ke dalam rumah. Namun, penampakan Ruenna yang kembali menyeret kopernya menghentikan langkahnya. Ketika langkah mereka berselisih, Altan berkata, "Tetap di sini." Ruenna mendengus tak percaya, dan langsung mengejar langkah panjang Altan. "Mengapa? Bukankah beberapa jam lalu Anda menuduh saya yang tidak tidak karena tidak pergi?" burunya. Altan berbalik mendadak, membuat Ruenna hampir menabrak dada bidang pria itu. “Sekarang kau berlagak ingin pergi, tapi selama ini kau tetap tinggal dan mencoba menarik simpati keluargaku.” Matanya menyipit penuh selidik. “Apa kau berencana merebut posisi Fiorella?” "Apa?" desis Ruenna. Mengapa ia jadi pihak yang disalahkan? Pikirnya. Ia hanya berusaha menjalani sandirawa menantu palsu yang baik budiman. “Lanjutkan saja menikmati hidupmu sebagai istri palsu sampai yang asli kembali,” ucap Altan. "Tuan Muda Altan Oleander yang terhormat," Suara Ruenna tiba-tiba memotong lamunan Altan. Gadis itu mengangkat dagunya, menolak terintimidasi. "Maaf mengecewakan Anda. Saya bukan orang yang bisa Anda perintah. Saya memutuskan untuk tinggal dan pergi dari rumah ini sesuai mood saya." Ruenna berbalik, dan menghentakkan kakinya. Ia hendak kembali turun ke lantai bawah untuk melanjutkan kepergiannya. Bertolak belakangan dengan sikap menantangnya, di dalam, dada Ruenna bergemuruh takut karena baru saja membalas tuan muda yang plin plan tak konsisten itu. "Aku tidak tahu kesepakatan apa yang dibuat Harmlock denganmu." lagi, suara Altan menghentikan langkah Ruenna. "Tapi bagaimana... jika aku memutuskan untuk menuntutnya karena telah menyerahkan cucu palsu?" lanjut pria itu. Ruenna menoleh perlahan, menatap Altan dengan dahi berkerut. "Tunggu dulu," gumamnya. Ia menatap pria itu dari atas ke bawah layaknya melihat sesuatu yang aneh "Kenapa Anda begitu plin-plan? Anda tidak sedang mencoba menjadi Drama King, kan?" sindirnya. Baru beberapa jam yang lalu Pria itu menghinanya karena masih betah tinggal selama tiga tahun di rumah ini, namun sekarang mengancamnya jika ia berani pergi. “Coba saja pergi,” balas Altan. “Tentu saja saya akan pergi,” kata Ruenna sembari berjalan pergi. Tangannya dengan cepat memesan taksi online di ponselnya. *** Ruenna dengan percaya diri menyandarkan punggung di kursi taksi. Sebenarnya setelah keluar dari rumah besar yang telah ditempatinya selama tiga tahun ini, gadis itu tak tahu sekarang harus tinggal di mana. Ia pun membuka layar ponselnya, dan mulai mencari tempat kos murah di internet. Namun, baru setengah jalan, ponselnya berbunyi. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya sedikit berdebar. Brighton Memory Care. "Halo?" "Selamat siang, Nona Ruenna. Bisa Anda datang ke sini sekarang? Ada hal mendesak." "Nenek? Nenek baik-baik saja, kan? Dia tidak jatuh atau..." "Kondisi kesehatan Nyonya Sofia baik, Nona. Tapi ini menyangkut kelangsungan perawatannya di sini. Kami tunggu di kantor administrasi." Mendapat panggilan itu, Ruenna segera meminta supir taxi mengganti arah tujuannya. Gadis itu mulai cemas. Semalam ia baru saja menjenguk neneknya dan semuanya baik-baik saja. Neneknya bahkan sempat tersenyum meski tidak mengenali siapa Ruenna. Begitu sampai, Ruenna menitipkan kopernya di resepsionis dan setengah berlari menuju kantor administrasi di lantai dua. Di sana, seorang wanita paruh baya dengan kacamata bertengger di hidung sudah menunggunya di balik meja keuangan. "Silakan duduk, Nona Ruenna," ucap wanita itu. "Kami baru saja menerima pemberitahuan bahwa deposit dana perawatan Nyonya Sofia untuk bulan depan dan seterusnya telah dibatalkan secara mendadak oleh pihak sponsor." Darah Ruenna berdesir. "Dibatalkan? Maksudnya bagaimana?" "Dana yang masuk hanya cukup untuk menutupi biaya hingga akhir minggu ini. Jika tidak ada pelunasan untuk enam bulan ke depan, kami dengan berat hati harus meminta Nyonya Sofia dipindahkan." Ruenna menelan ludah. Altan. Pria itu tidak main-main.Jerry memperhatikan bibir Ruenna yang seolah sedang memanggil-manggilnya. Ia masih berniat jual mahal. Sayangnya, tubuhnya tidak bisa diajak berunding. "Aku milikmu. Jadi jangan melepasku. Jangan menyerah padaku," balas Jerry. Tangannya langsung meraih tengkuk Ruenna dan menariknya mendekat. Bibir mereka bertemu cepat dan kasar. Ruenna langsung balas menciumnya. Belum sempat mereka benar-benar mengambil napas, Jerry kembali meraup bibirnya. Satu tangannya turun mencengkeram pinggang Ruenna, menarik tubuh wanita itu semakin rapat. Ciumannya menuntut, mendesak. 'Ah... menolak hidangan yang sudah menyerahkan diri seperti ini adalah sebuah dosa besar,' batin Jerry. Jemari Ruenna meremas kuat bahu pria itu. Jerry terus mendesaknya mundur hingga punggung Ruenna perlahan mendarat di kasur. Jerry menahan berat tubuhnya dengan satu tangan di sisi kepala Ruenna. Tatapannya mengunci mata wanita itu, tetapi hanya bertahan sedetik sebelum ia kembali turun ke bibir Ruenna. Jerry memirin
"Bukan begitu... Aku memikirkan kemungkinan kau yang berniat menceraikanku." "Aku tidak akan menceraikanmu," sahut Jerry datar. "Sekalipun kau tidak ingin memiliki anak denganku." "Aku mau memiliki anak denganmu," sanggah Ruenna cepat. "Kau membuatku takut... sampai tidak sempat sedih karena kehilangan calon bayiku." Alis Jerry bertaut. "Kau sedih?" tanyanya heran, nada suaranya terdengar ragu. Ruenna mengangguk, dan menundukkan kepala sambil terus memegangi tangan suaminya. Jerry memperhatikan Ruenna dalam diam. Apakah Ruenna benar-benar menginginkan anak darinya? Jerry tidak mengerti. Seumur hidupnya, ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia paham mencintai dan memiliki sesuatu. Baginya, sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak boleh lepas. Namun kesedihan adalah konsep yang asing baginya. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan bahwa Ruenna sengaja melenyapkan calon bayi mereka agar bisa lepas dari genggamannya. Dengan tangan kanannya, Jerry menarik jemari
Sementara di kediaman Homar pagi itu, sang tuan rumah duduk tenang di meja makan sembari menyeruput jus buahnya. Sudut matanya melirik ponsel Jihan di atas meja makan. Homar tahu transaksi pembelian tonik yang diminum Ruenna dilakukan oleh Jihan. Namun, Jihan adalah istrinya. Sebesar apa pun kesalahannya, insting Homar tetap membuatnya melindungi Jihan. Ia memilih mengubur bukti itu rapat-rapat. Langkah kaki terdengar mendekat. Jihan kembali dan duduk di kursinya, baru saja hendak meraih cangkir tehnya, suara bariton Homar terdengar. “Tonik yang kau beli kemarin,” gumam Homar pelan tanpa menoleh. Mendengarnya, Jihan terdiam, tak jadi meraih cangkir tehnya. Homar menatap Jihan serius. "Bahan di dalamnya bisa menyebabkan perdarahan berat pada kehamilan muda. Ruenna beruntung bisa diselamatkan. Kalau terlambat sedikit saja, Jerry tidak akan memaafkanmu.” Bibir Jihan terbuka sedikit, pupil matanya melebar menatap suaminya. “Sayang, aku tidak tahu bisa sebahaya itu.” Homar
Jerry menutup pintu kamar rawat, meninggalkan Ruenna di dalam. Awalnya ia siap memercayai apa pun yang keluar dari mulut Ruenna, namun penjelasan istrinya itu barusan malah membuat akal sehatnya menolak percaya.Ia bersandar di dinding lorong rumah sakit, mengeluarkan ponsel, dan mengakses sistem keamanan kediamannya.Jarinya memutar mundur rekaman CCTV ke siang hari. Tidak ada yang mencurigakan saat ibunya datang. Hingga akhirnya, ia menemukan asal-usul botol tonik herbal itu. Ruenna mengambil sendiri paket itu dari tangan kurir. Jadi, dia memang ingin menggugurkan kandungannya?Rahang Jerry mengeras. Ia mengepalkan tangan dan menghantam dinding lorong dengan keras. Buku-buku jarinya robek dan berdarah, tapi tatapannya tetap dingin.Ponsel di tangannya berdering. Di layar, ayahnya memanggil. "Apa yang sudah kau lakukan sampai membuat ibumu menangis?!" suara Homar di ujung saluran terdengar sangat marah. Setengah jam kemudian, Jerry tiba di kediaman orang tuanya.Di ruang baca, Jih
Mobil yang membawa Jerry dan Ruenna berhenti di depan lobi utama gedung Aureon. Sebelum turun, Jerry menahan tengkuk Ruenna dan mengecup bibirnya sekilas.Begitu pintu tertutup, sopir kembali melajukan mobil untuk mengantar Ruenna pulang.Sesampainya di halaman rumah, Ruenna dikejutkan oleh mobil asing yang terparkir di sana.Rasa penasarannya terjawab saat melangkah masuk ke ruang depan. Jihan yang sudah duduk menunggu di sofa langsung berdiri dan memeluknya erat. Namun, Ruenna hanya diam mematung. "Kau tidak suka aku berkunjung?" "Bukan begitu, Bu Jihan," balas Ruenna canggung. "Jangan memanggilku begitu, kau tidak anggap aku mertuamu?" tanya Jihan lembut. Ruenna tertegun sejenak sebelum mengangguk. "Baik... Ibu.""Nah, begitu lebih baik." Jihan pun tersenyum lebar.Wanita paruh baya itu menunjukkan beberapa tas belanja di meja, berisi gaun, tas, dan sekotak perhiasan."Aku membelikanmu beberapa hadiah," katanya menggenggam jemari Ruenna. Berpikir Jihan sudah bersedia merangk
Malam harinya, Ruenna menatap layar ponselnya. Jerry kembali mengirim pesan singkat, mengabarkan bahwa ia akan menginap di apartemen karena harus bekerja sampai larut.Setengah jam kemudian, Ruenna sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Jerry. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali ia datang saat mereka masih partner kencan. Ruenna tidak tahu apakah suaminya punya unit lain di kota ini, ia hanya menebak Jerry pasti pulang ke tempat ini.Jemarinya menekan digit kode kunci pada panel pintu. Kodenya belum berubah. Unit itu rapi, bersih, dan sama sekali tidak tampak seperti tempat yang lama ditinggalkan. Ruenna tersenyum kecil, tebakannya tepat, Jerry memang menghabiskan beberapa malam terakhir di sini. Ia sadar, jika hanya berdiam diri menunggu di rumah, jarak di antara mereka akan semakin melebar. Kalau kesempatan itu tidak kunjung datang, maka ia yang harus menjemputnya.Ruenna duduk di sofa ruang tengah, berniat menunggu suaminya pulang. Namun, ia t
Tiga tahun berperan sebagai istri dari seorang pria yang tak pernah menyentuhnya, keseharian Ruenna Selyn malah mengulek cabai di dapur kediaman Oleander. Alih-alih duduk manis menyeruput teh, atau menghabiskan uang di outlet fashion brand mahal layaknya menantu keluarga konglomerat. Di bawah ara
"Sebentar, aku butuh waktu untuk berpikir," sahut Ruenna pelan. "Hanya latihan, kan? Maksudku... ini murni latihan akting?" Jerry mengangguk singkat. "Ya." Ruenna menarik napas dalam. Baginya, berakting bukan hal baru. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di depan keluarga Ol
Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa
Ruenna bergegas pergi dari Griya perawatan Demensia Brighton Memory Care itu dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak menuju gedung tempat Aras bekerja. Ruenna harus menemui ayahnya itu. Sang sponsor perawatan neneknya. "Biaya perawatan Nenek dihentikan!" seru Ruenna begitu dipersilahkan masuk o







