Share

Si Pengacara Gila
Si Pengacara Gila
Author: Zhar

Bab 1

Author: Zhar
last update publish date: 2026-06-14 20:28:04

[Kasus Tuduhan Palsu MRT Dakarta]

Berita ini baru saja meledak di jagat maya, jadi topik hangat yang dibahas di mana-mana!

Bimo lagi asyik main HP di dalam gerbong MRT, tiba-tiba dua cewek yang ngaku diri "Selebtoktok" datang tampar dia keras-keras. Mereka nuduh Bimo ambil foto sembarangan.

Dengan sok berkuasa, si "Selebtoktok" sama petugas keamanan maksa minta diperiksa HP-nya, bahkan sampai buka paksa tas Bimo buat dicari-cari. Tapi setelah semuanya dibongkar dan hasilnya nihil, mereka malah pergi gitu aja tanpa satu kata maaf pun.

Karena gak terima diperlakukan semena-mena, Bimo bawa masalah ini ke meja hijau. Dia nuntut permintaan maaf resmi sama ganti rugi atas tekanan batin yang dia rasain.

Tapi apa balasannya? Si "Selebtoktok" malah balik nuntut! Mereka ngaku jadi korban cyberbullying, depresi, nolak minta maaf, dan malah minta Bimo yang bayar ganti rugi sama mereka!

Dan yang bikin heboh, hakim yang tangani kasus ini cewek. Putusan sidang pertama pun keluar...

Bimo kalah telak. Dia malah disuruh bayar ganti rugi biaya pengobatan dan tekanan mental buat si penuduh!

"Dituduh motret sembarangan, mereka nyebar berita bohong di internet, gak mau minta maaf, tapi sekarang giliran gue yang harus bayar mereka? Atas dasar apa ini?!" ujar Bimo dengan nada emosi pas diwawancara. Dia bertekad bakal terus banding sampai ke Mahkamah Agung demi bela kebenaran.

Yudha nutup layar HP-nya setelah selesai baca berita itu.

Dia pengacara muda yang baru buka kantor sendiri. Udah setengah tahun lewat, tapi belum ada satu klien pun yang datang. Kantornya sepi banget.

Padahal, di kehidupan sebelumnya, Yudha itu pengacara kelas kakap dengan rekor menang kasus nyaris 100%! Satu-satunya kasus yang gagal dia menangkan karena sebelum sidang dia kecelakaan ketabrak mobil. Begitu sadar, dia malah pindah raga.

Pemilik tubuh aslinya juga cita-citanya mau jadi pengacara hebat seperti Hotman Paris, tapi realita berkata lain. Kantornya hampir bangkrut, uang bayar sewa bulan depan aja dia gak punya.

Baru aja Yudha mau pasrah terima nasib, pintu kantornya diketuk keras. Bimo dateng minta tolong buat banding.

"Pak Yudha! Tolong bantu saya, berapapun biayanya gak masalah! Saya mau dengar mereka berdua minta maaf sama saya!"

"Emangnya boleh seenak udel nuduh orang mesum seenaknya? Kenapa mereka berhak nyita HP Saya? Kenapa satpam boleh seenak itu buka paksa tas saya cari kamera?"

"Belum selesai di situ, mereka malah bikin video di TikTok dan nyebar di grup sekolah bahwa saya itu fotografer mesum! Sekarang satu sekolah mandang saya jijik semua!"

"Saya bakal gugat mereka sama pihak MRT! Mereka harus tanggung jawab atas hancurnya nama baik saya Demiiii Tuhannnn!" seru Bimo.

Dia cuma mau keadilan, kan? Gak boleh dong orang seenaknya fitnah orang lain cuma karena mau cari perhatian?

"Ini uang 200 juta Rupiah. Saya gak tahu cukup apa belum. Uang gak masalah, yang penting mereka minta maaf! Kelakuan mereka itu menjijikkan banget!" Bimo sodorin amplop tebal.

Yudha mengangguk tenang, "Ceritain detail kejadiannya, sama kasih saya salinan putusan pengadilannya."

Maka berceritalah Bimo...

Saat itu dia mau pulang sekolah, MRT lagi padat-padatnya. Dia berdiri sambil main HP, pas mau masukin HP ke saku, tiba-tiba Laras dan Tania dateng tampar dia terus teriak-teriak nuduh dia mesum!

Suasana langsung ricuh. Orang-orang pada melotot. Mereka langsung nelpon polisi dan bikin ribut besar. Begitu sampai stasiun, petugas keamanan langsung kelilingi mereka.

Laras rebut HP Bimo, dibuka satu-satu fotonya, nihil. Gak ada bukti apa-apa.

Eh, Tania malah ngotot, "Pasti kameranya disembunyiin di dalem tas tuh!"

Tanpa basa-basi, petugas langsung buka paksa tas Bimo buat diperiksa. Tetep aja gak ketemu apa-apa.

Akhirnya polisi datang dan mediasi. Hasil mediasi sih harusnya mereka minta maaf. Tapi gimana maafnya? Mereka cuma basa-basi ngomong ke angin, muka jutek, terus pergi tanpa natap mata Bimo. Laras bahkan masih sempat-sempatnya nuduh foto di HP Bimo itu foto cewek, padahal itu cuma foto pemandangan biasa!

Sesampainya di rumah, mereka berdua malah bikin konten video, nyerang Bimo di medsos, bikin opini publik hancur. Jadilah akhirnya kasus ini masuk pengadilan dan Bimo kalah inisiatif di putusan pertama.

[Ding! Selamat Tuan telah mendapatkan Sistem Dewa Hukum!]

[Misi Utama: Menangkan kasus ini di pengadilan.]

[Hadiah Misi: Uang Tunai 200 Juta Rupiah.]

[Paket Pemula sedang didistribusikan... Kemampuan analisis hukum dan penilaian kasus meningkat 300%!]

[Skill 'Tangan Dewa' telah aktif: Bisa ekstrak bukti tersembunyi dari berkas kasus. Bisa dipake 3 kali sehari!]

Suara sistem itu kedengeran jelas di kepala Yudha pas dia baru aja selesai paham seluruh kronologi kasus ini.

Yudha santai aja. Dia udah paham banget cara kerja sistem kek gini.

Jadi pengacara itu udah pasti cuan, apalagi jadi pengacara nomor satu di negara ini. Siapa sih yang bakal nolak duit banyak?

"Oke, aku udah ngerti situasinya. Kasus ini aku tangani," kata Yudha datar. "Biaya perkaranya gak bakal sampe segini kok. Nanti biayanya bakal kita bebankan ke pihak lawan."

"Pak Yudha, yang penting menang! Uang 200 juta itu anggap aja sumbangan buat perkembangan kantor Bapak! Saya cuma mau keadilan!"

"Mereka injak-injak harga diri saya, bully saya di internet, hancurin hidup saya, tapi saya yang harus bayar ganti rugi? Kenapa dunia ini gak adil, Pak? Kenapa orang baik selalu yang rugi?" Bimo kelihatan sangat terpukul.

Yudha mulai nyusun strategi. Kasus ini viral banget, komentarnya membelah tajam. Kalau dia bisa menangkan ini, bukan cuma dapat bonus 200 juta dari sistem, nama kantornya juga bakal langsung melambung tinggi!

Di medsos, kasus [Tuduhan Palsu MRT] ini udah tembus puluhan juta views, netizen pada panas dingin.

[Gila ya nasib orang, dituduh mesum eh malah disuruh bayar duit? Wkwk, dunia emang udah gila.]

[Sifat asli 'Selebtoktok' ternyata busuk ya. Semoga ada pengacara keren yang bales dendam buat dia!]

[Ada gak sih pengacara hebat yang mau bantu kakak ini? Kasian banget liatnya.]

[Padahal gak ada bukti sama sekali, kok bisa-bisanya kalah? Logika mana yang dipake?]

[Komentar hari ini kenapa pada aneh sih? Emang kalau cowok otomatis pasti mesum? Kenapa mereka gak dituntut karena fitnah?]

[Wajahnya emang kelihatan mesum sih, jadi wajar kalau dicurigai.]

[Gak tau terima kasih, main bully cewek aja. Emang banyak banget cowok brengsek sekarang.]

[Pengen deh ada gerbong khusus cewek, males banget satu gerbong sama orang-orang mesum kek gini.]

[Loh kok banyak cowok yang protes? Hakim kan udah putusin pasti dia salah. Gak usah bahas bukti, dari mukanya aja udah kelihatan orangnya kek apa.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Si Pengacara Gila   Bab 93

    Yudha melirik panel sistem yang hanya bisa dilihat olehnya.Dalam sekejap, layar transparan itu terbuka. Puluhan berkas, rekaman, hingga bukti-bukti yang selama ini tersembunyi langsung muncul di hadapannya.Setelah gagal mendapatkan jawaban dari Pak Ganang, Yudha mencoba menemui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.Namun hasilnya tetap sama."Agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar, kami tidak bisa memberikan keterangan apa pun."Kalimat itu terdengar seperti sudah dihafal.Tak menyerah, Yudha kembali mencoba menemui Kepala Sekolah.Sayangnya, jawaban yang ia terima masih persis sama.Tak ada penjelasan.Tak ada dokumen.Tak ada satu pun pihak sekolah yang bersedia membuka kembali kasus kematian Tasya.Bisa dibilang, selama berada di SMP Negeri 13, Yudha tidak memperoleh bukti apa pun secara langsung.Namun dari beberapa siswa yang diam-diam berani berbicara, ia mulai melihat gambaran besar tentang bagaimana sekolah itu dija

  • Si Pengacara Gila   Bab 92

    Pak Ganang melempar lembar hasil ujian hingga menghantam wajah seorang siswa laki-laki. Belum sempat anak itu bereaksi, Pak Ganang yang sudah dikuasai amarah langsung menendang tubuh siswa kelas sembilan tersebut sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya tinggi besar dengan sorot mata yang mengintimidasi. Di SMP Negeri 13, tak ada satu pun murid yang berani membantah atau membuatnya marah. Lagi pula, sekolah itu merupakan salah satu dari lima SMP paling bergengsi di kota, dengan prestasi akademik yang selalu dibanggakan. Pak Ganang memang sudah lama dikenal sebagai guru yang keras. Memarahi, menghukum, bahkan sesekali melakukan kekerasan fisik kepada murid dianggapnya sebagai cara mendidik. Baginya, semakin tinggi tingkat kelulusan kelas yang diampunya, semakin besar pula peluangnya mendapat kenaikan pangkat dan tunjangan. Siswa itu perlahan kembali ke dalam kelas. Dengan tangan gemetar, ia mengambil selembar kertas berisi surat pernyataan. "Saya berjanji tidak

  • Si Pengacara Gila   Bab 91

    Yudha dan Martiyus berbincang selama hampir dua jam. Dalam waktu itu, Yudha benar-benar memahami seluruh masalah dan situasi yang menimpa keluarga itu.Setelah selesai menjelaskan, Martiyus menyerahkan semua dokumen dan bukti yang ia miliki kepada Yudha.Yudha menatap berkas-berkas itu, lalu berkata dengan nada tenang, “Soal biaya jasa pengacara, tidak perlu sampai tiga ratus juta. Dua ratus juta saja sudah cukup. Tapi ada satu kesepakatan: jika kita memenangkan kasus ini, biaya proses persidangannya tidak perlu kamu bayarkan lagi.”Sebenarnya, untuk menyewa jasa pengacara, angka segitu memang tidak terlalu tinggi. Namun kasus ini berbeda dari biasanya.Ada dua peristiwa yang saling berkaitan!Pertama, kasus diduga bunuh diri yang menimpa Tasya Andini.Kedua, kasus yang menimpa ibunya, Imelda, yang mengalami perundungan secara daring hingga akhirnya ia pun mengakhiri hidupnya.Kedua kasus ini akan diurus sekaligus!Dan Yudha yakin ia sanggup menangani keduanya. Selain itu, kasus ini d

  • Si Pengacara Gila   Bab 90

    Di media sosial, topik yang paling ramai dibicarakan bukanlah gosip selebritas atau hiburan. Yang menduduki puncak trending justru kabar memilukan.Imelda, ibu dari Tasya Andini, nekat melompat dari sebuah gedung dan meninggal dunia.Keluarga yang dulu berjumlah tiga orang kini hanya menyisakan sang ayah, Martiyus.Usianya baru empat puluh enam tahun, tetapi hanya dalam semalam, seluruh rambutnya berubah putih.Sambil memegang foto istri dan putrinya, Martiyus menahan air mata. Di dalam hatinya hanya ada satu pertanyaan yang belum pernah terjawab.Apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya?Video wawancaranya langsung meledak di media sosial.Yudha tercengang saat melihat berita itu."Apa yang sebenarnya terjadi?"Dia membuka topik yang sedang trending di TokTok, tetapi potongan-potongan informasi yang ada tidak cukup untuk membuatnya memahami keseluruhan kasus.Dalam video itu, Martiyus berkata dengan suara bergetar,"Setahun yang lalu, pu

  • Si Pengacara Gila   Bab 89

    Sidang banding kedua kasus Zara akhirnya digelar. Yudha tidak hadir langsung di ruang sidang, tapi ia mengikuti jalannya persidangan lewat siaran langsung yang disiarkan secara luas di media daring. Selama ini, Zara tetap berpegang pada harapan kosong. Ia yakin vonis mati di sidang pertama hanyalah ancaman untuk membuatnya takut. Meskipun ia tidak mampu menyewa pengacara sendiri, setidaknya lembaga bantuan hukum negeri telah menugaskan seorang pembela untuk membantunya. Ia pikir, dengan adanya bantuan itu, hukum pasti akan memberinya kesempatan kedua. Namun begitu keputusan hakim dibacakan, seluruh harapannya hancur seketika. "Terpidana Zara, tetap dijatuhi hukuman mati, dicabut hak-hak politiknya seumur hidup, dan diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak yang dirugikan!" Zara sama sekali tidak menyangka hasilnya akan tetap sama. Begitu mendengar kata-kata itu, seluruh tubuhnya lemas dan gemetar hebat. Ia tidak pernah membayangkan

  • Si Pengacara Gila   Bab 88

    Akhirnya, genaplah lima belas hari sejak sidang pertama berakhir. Selama masa itu, Yudha bekerja tanpa henti, tapi hasilnya juga terasa sangat menguntungkan. Memang biaya untuk merekrut dan membangun tim tidak sedikit, namun saat Yudha menghitung laporan keuangan, ia menyadari satu hal penting: kantornya sudah mulai menghasilkan keuntungan bersih! Penyebabnya jelas: jumlah kasus yang masuk melimpah ruah. Kini, jumlah pengacara yang bekerja di kantornya telah mencapai lebih dari sepuluh orang. Lima di antaranya merupakan lulusan magister hukum dari Universitas Padjadjaran, sementara lima lainnya berasal dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Meski kedua perguruan tinggi itu termasuk yang terbaik di Indonesia, ia sadar bahwa untuk menangani perkara-perkara besar, kantornya masih membutuhkan lebih banyak pengacara berbakat dari berbagai universitas ternama. Bahkan, banyak lulusan terbaik dari universitas hukum ternama di Indonesia, seperti Un

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status