ログインBerita soal gugatan ulang ini langsung meledak! Media pun segera merilis siapa pengacara yang mewakili kedua belah pihak.
Ternyata, Laras dan Tania menyewa Rina Wijaya, pengacara top yang sudah malang melintang tujuh tahun dengan tingkat kemenangan mencapai 70%! Nama besar di dunia hukum. Sementara di sisi Bimo... yang muncul cuma Yudha, pengacara muda yang baru lulus, bahkan belum pernah menang satu kasus pun selama setengah tahun buka praktik! Elite Lawyer VS Rookie Lawyer. Netizen langsung heboh membahasnya. [Hah? Bimo nyewa pengacara magang? Serius?] [Gila sih, gimana mau menang lawan pengacara senior? Jarak kemampuannya jauh banget.] [Udah kalah di sidang pertama, sekarang gugat lagi tapi bawa pengacara cupu. Pasti kalah lagi deh.] [Iya lah, lawannya itu serigala, tim kita ini husky yang masih kecil wkwk.] [Udah tamat kayaknya ceritanya. Meskipun si "Selebtoktok" salah, tapi pengacaranya hebat.] [Kenapa gak nyewa yang profesional sih? Buang-buang waktu aja nyewa pengacara pemula.] Di sisi lain, Laras dan Tania tahu kalau mereka digugat lagi dan tahu lawannya cuma pengacara magang, mereka malah ketawa. "Orang ini nekat ya, nyewa pengacara baru mau lawan kita?" celetuk Laras. Tania agak gelisah, "Kak, beneran gak usah minta maaf aja ya? Kan kita cuma kira-kira dia motret, terus minta cek HP. Salah dikit doang kan?" Laras langsung mendengus, "Minta maaf apanya sama cowok jijik gitu? Gue udah suruh sepupu gue yang tangani. Dia pengacara hebat lho, menang terus! Dia bilang malah ada bukti baru, kali ini kita bisa bikin Bimo masuk penjara!" Mata Tania langsung berbinar, "Beneran bisa masukin Bimo ke penjara, Kak?!" "Pasti dong! Siapa lagi yang pantas masuk kalau bukan dia? Kalau gue gak sadar duluan, mungkin gue yang udah difoto dia!" jawab Laras sombong. Seperti biasa mereka berdua lagi naik MRT. Kebetulan di depan mereka ada cowok ganteng banget. Laras dan Tania langsung sibuk motret! Cekrek! Cekrek! Cekrek! Selama 40 menit perjalanan, HP mereka gak berhenti njepret cowok itu dari berbagai sudut, bahkan sampai bagian bawah badan pun difotoin. Laras langsung upload ke grup telegram, [Para bestie-bestiku! Dapet cogan di MRT! Ganteng banget sumpah!] Dia juga posting di status WA-nya, [OMG! Ketemu pangeran!! Alamak tampannya ] Tania ikutan posting juga. "Ah, kalau bisa tidur sama cowok ganteng gini semalam, pasti enak banget," gumam Laras sambil senyum-senyum. "Iya nih, mata jadi seger. Beda banget sama si Bimo yang jijik itu, kesannya mesum banget," sahut Tania. Mereka lupa, bahwa apa yang mereka lakukan sekarang... persis seperti apa yang mereka tuduhkan ke orang lain! Tiga hari berlalu. Hari persidangan tiba. Kasus ini disiarkan langsung secara live streaming! Pengadilan di negara ini terbuka untuk pengawasan publik. Sebelum sidang dimulai, penonton online udah ada belasan ribu orang! [Kapan mulai nih?] [Semoga si "Selebtoktok" dipaksa minta maaf! Fitnah orang terus gak bertanggung jawab.] [Semangat Pak Yudha! Menang dong, bikin mereka nangis!] [Kalau Bimo kalah lagi, berarti kedepannya orang bisa sembarangan nuduh orang seenaknya ya?] [Gue jadi takut naik MRT, nanti dituduh sembunyiin kamera di tas.] [Tapi jujur sih, rasanya susah menang. Lawannya pengacara senior, kita cuma pengacara magang.] [Meskipun gak yakin menang, tapi tetap berdoa yang terbaik deh!] Tinggal tiga menit lagi. Hakim, juri, semua saksi sudah duduk rapi. Bimo sudah di tempat penggugat. Laras, Tania, dan Pengacara Rina juga sudah siap di tempat tergugat. Semua sudah lengkap... kecuali Yudha. [Wkwk, telat nih si pengacara magang.] [Iya, beneran telat.] [Gak profesional banget. Semua udah pada dateng, dia kemana?] [Udah tamat ini kasus. Cuma nyisa satu menit, pengacaranya gak ada. Mending gak usah lawan dari awal.] Tinggal SATU MENIT sebelum sidang resmi dimulai... CREK! Pintu ruang sidang terbuka. Yudha masuk dengan langkah santai tapi penuh wibawa, tangan di saku celana, wajah datar tanpa ekspresi. Dia duduk tepat waktu di kursi pengacara. Laras berbisik ke Rina, "Kak Rina, gak ada masalah kan?" Rina tersenyum sinis, "Tenang aja. Aku punya bukti baru yang bisa bikin Bimo langsung masuk bui. Nanti kalian tinggal iya-in aja." Rina langsung mencoba menjatuhkan mental Yudha sebelum sidang mulai. "KEBERATAN! Yang Mulia Hakim! Pengacara lawan terlambat datang! Ini menghina pengadilan! Saya minta agar kuota hukumnya dicabut dan dia diminta keluar!" seru Rina lantang. Semua mata tertuju ke Yudha. Yudha mendongak, menatap Rina dengan tatapan dingin. "Maaf ya Bu Pengacara, dengan kecerdasan Ibu seharusnya tidak perlu jadi pengacara. Lihat jam dinding dong, persidangan belum mulai. Di mana buktinya saya terlambat? Atau mata Ibu buta? Kebetulan saya kenal dokter mata bagus, mau saya rekomendasikan?" Cessss! Jawaban Yudha pedas banget! Penonton online langsung heboh. Rina tersenyum miring, berusaha tetap santai. "Hahaha, ternyata pengacara muda tidak bisa diajak bercanda ya. Pantas saja setengah tahun tidak ada yang mau pakai jasa Anda, memang ada alasannya." Suasana jadi tegang. Biasanya pengacara gak saling serang personal begini. Tapi karena Rina mulai duluan, Yudha gak mau kalah. Yudha menatap Rina tajam, "Maaf ya, ibumu meninggal ya? ... Eh bercanda kok, ibumu kan masih hidup." PLAK! Serangan balik yang mematikan! Wajah Rina langsung berubah merah padam, matanya memancarkan amarah. "Mulut Anda kotor! Semoga ini kasus terakhir dan terakhir kali Anda bisa jadi pengacara! Tahu kan kantor Anda mau bangkrut? Kalau kalah hari ini, langsung tutup toko!" Yudha minum air putih dengan tenang, lalu berkata pelan tapi jelas: "Kantor saya bangkrut atau enggak itu urusan belakangan. Yang penting... setelah kasus hari ini, saya tidak yakin Ibu masih bisa praktek jadi pengacara lagi."Sidang pengadilan kembali dibuka di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, suasana ruangan terasa tegang namun penuh perhatian. Semua mata tertuju ke meja hakim, di mana Hakim Ketua Santoso kini berdiri tegak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. “Setelah melalui proses verifikasi mendalam, Pengadilan menemukan fakta bahwa Pengacara Rina Wijaya telah dengan sengaja melanggar aturan hukum. Ia terbukti menyuap pihak lain, memalsukan alat bukti, bahkan berulang kali melakukan pemalsuan berkas selama menjalankan profesinya. Sidang hari ini akan dilanjutkan dengan pertimbangan baru,” ucap Hakim Santoso dengan nada tegas. Berita itu seketika memicu kehebohan luar biasa di dunia maya. Siaran langsung sidang ini dibanjiri ribuan komentar dalam hitungan detik. [Wah, gila sih! Keren banget! Pengacara Yudha beneran bakal bikin pengacara lawan masuk penjara ya?!] [Kok bisa sampai sejauh ini ya? Dikit lagi kayaknya Rina Wijaya kena deh!] [Hahaha, Pengacara Yudha emang beda level! Keren banget s
Rina Wijaya kini sudah terborgol rapi di tangan petugas kepolisian, resmi ditahan dan menjalani proses penyidikan. Kariernya yang sudah dibangun bertahun-tahun hancur lebur dalam sekejap. Masa depannya gelap gulita. Dia sudah tamat. Wajahnya pucat pasi, seputih kertas. Dalam hati dia mengutuk, Yudha... pengacara magang sialan ini benar-benar kejam! Dia sudah tidak punya waktu lagi untuk memikirkan nasib Laras dan Tania. Dia sendiri pun belum tahu berapa tahun jeruji besi yang akan menunggunya. "Kakak! Kak Rina!" Laras mencengkeram lengan Rina erat-erat, matanya memanas. "Kakak harus bantu kami! Siapa lagi yang mau bela kami kalau bukan Kakak? Kan Kakak bilang pasti menang? Terus sekarang gimana? Apa aku sama Tania harus minta maaf sama cowok menyebalkan itu? Kenapa sih?! Aku nggak salah! Aku cuma kira dia mau rekam aku diam-diam! Kenapa sekarang giliranku yang harus minta maaf?!" Tania berdiri di samping dengan wajah manyun dan kesal setengah mati. "Aku nggak peduli keputusan peng
INI BUKTINYA!!Bukti transaksi pribadi antara pengacara lawan, Rina Wijaya, dan dokter Hari Darsono!Sebagai seorang psikiater, tentu saja sangat mudah bagi Hari untuk mengeluarkan surat keterangan gangguan jiwa atau depresi berat. Di zaman sekarang, isu kesehatan mental sedang ramai dibicarakan, jadi siapa pun bisa dengan mudah mengaku sakit jiwa untuk lepas dari tanggung jawab.Dan bukti yang dilayangkan Yudha bagaikan bom nuklir yang meledak seketika!Siaran langsung yang ditonton ribuan orang langsung heboh! Komentar-komentar berjejalan membanjiri layar.[APA?? SERIUS??][GILA! JADI DEPRESINYA PALSU SEMUA?!][BISA GITU YA CARANYA? SURAT DOKTER BISA DIBELI GITU AJA?][JAHAT BANGET! JADI LARAS SAMA TANIA ITU CUMA BERAKTING YA? MEREKA YANG REKAM ORANG, TERUS NUDUH ORANG REKAM MEREKA, BIKIN THREAD FITNAH, PAS UDAH KETAHANAN LEMAH, LANGSUNG PAKE ALASAN SAKIT JIWA. JIJIK BANGET SI!][MEREKA HARUS DIHUKUM! GAK BISA DIAM AJA INI!][EMANG BOLEH ADA DOKTER KAYA GINI? KELUARIN SURAT PASTU SE
Begitu kalimat itu meluncur dari mulut Yudha, suasana di ruang sidang langsung berubah 180 derajat. Keributan pun tak terelakkan, apalagi di kolom komentar siaran langsung yang langsung meledak.[Hah? Seriusan?][Maksudnya gimana? Sertifikat depresinya palsu dong?!][Gila, tadi kan bilang udah diverifikasi dan asli? Kok bisa berubah gitu?][Wah, ada apa-apa nih ceritanya! Ada skandal besar kah?][Asiiik, makin seru nih! Kalau beneran mereka cuma pura-pura sakit, pasti bakal kocak banget endingnya!]Hakim Ketua Santoso menatap Yudha dengan wajah serius dan tatapan tajam, seolah ingin menelusuri isi pikiran pengacara muda itu.Di sisi lain, wajah Rina Wijaya, pengacara dari pihak lawan, langsung berubah pucat. Ekspresinya sempat terlihat panik dan bingung, tapi ia buru-buru menguasai diri dan berusaha tetap terlihat tenang.Nggak mungkin!Gimana caranya Yudha bisa tahu soal ini?Meskipun jantungnya rasanya mau copot, Rina tetap mempertahankan wajah datarnya."Pengacara penggugat," tegur
"Saya meminta Hakim Ketua untuk menghukum Laras dan Tania dengan hukuman penjara selama 7 tahun! Dijalankan segera!!"Suara Yudha menggelegar, memecah keheningan.Seketika itu juga, tepuk tangan meriah meledak di ruang sidang! Buktinya terlalu kuat dan tidak bisa dibantah!Fakta sudah sangat jelas: Video Bimo adalah bentuk pembelaan hak asasi yang wajar. Sedangkan Laras dan Tania? Mereka adalah pelaku utama fitnah dan cyberbullying yang sangat kejam!Bimo berdiri terpaku di tempatnya.'Pengacara gue ini beneran monster, ya? Dari cuma minta maaf, sekarang mau masukin mereka berdua ke penjara?'Di dalam hati Bimo memberikan jempol berkali-kali. 'Gokil! Luar biasa!'Ini pengacara magang? Bukan! Ini adalah pembawa keadilan yang siap menghancurkan kejahatan!TOK! TOK! TOK!Hakim Santoso mengetuk palu."Tertib! Pengacara Pembela, apakah masih memiliki pembelaan?"Wajah Hakim Santoso tampak sangat serius. Dia tidak menyangka di balik wajah cantik kedua wanita itu, tersimpan niat jahat yang b
Yudha melanjutkan dengan suara tegas dan tak tergoyahkan,"Bimo hanya menceritakan pengalaman yang dia alami. Apakah itu disebut melakukan pelecehan online? Ratusan ribu komentar yang menyerang itu adalah tulisan netizen lain. Apa hubungannya dengan Bimo?""Saya ingin bertanya pada pengacara lawan, apakah berbagi fakta dan pengalaman pribadi di media sosial sekarang sudah dikategorikan sebagai tindak pidana?"Pertanyaan logis Yudha sekali lagi membuat seluruh ruangan hening dan tak bisa membantah.Namun Rina Wijaya tetap berusaha memutarbalikkan logika,"Tapi dampak buruk yang dialami klien saya karena video itu adalah FAKTA! Mental mereka hancur, depresi berat! Itu tidak bisa disangkal! Jadi kalau Bimo tidak upload video, mereka tidak akan menderita! Maka Bimo harus bertanggung jawab!"Yudha tersenyum miring, lalu melontarkan serangkaian pertanyaan yang mematikan logika lawan."Pengacara lawan sedang mendistorsi konsep! Kalau logikanya begitu... Jika hari ini Pengacara Rina tidak sen







