مشاركة

Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA
Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA
مؤلف: TJ

Bab 1

مؤلف: TJ
Aku menundukkan pandangan pada empat figur LEGO custom yang terpajang di atas meja belajarku.

Aku memesannya pada minggu pertama tinggal di sini, figur Ibu, Ayah, Arvin, dan Elvano. Bahkan saat itu, aku tahu tindakan tersebut terdengar menyedihkan. Namun, menata keempatnya di antara buku-buku pelajaran, membuat apartemen ini terasa tidak terlalu kosong.

Aku baru hendak menyimpannya ketika layar ponselku menyala.

Ibu: [Pulanglah sore ini. Kita perlu membicarakan tempat kuliahmu.]

Mataku berhenti pada satu kata.

Pulang.

Sesuatu di dalam diriku bergejolak sebelum sempat kutahan.

Mungkin mereka akhirnya ingat pada janji mereka.

Aku segera memesan taksi.

Beberapa bulan lalu, aku pernah menggunakan salah satu mobil keluarga untuk menjenguk Keisha di rumah sakit. Begitu melihatku, dia langsung mengalami serangan panik.

Ayah menyalahkanku dan mencabut aksesku ke semua kendaraan milik keluarga. Dia memastikan aku tidak akan bisa datang menemuinya lagi tanpa diundang.

Ketika taksi berhenti di depan gerbang kediaman Mahendra, para pengawal langsung mengelilingi mobil dan mempertanyakan supirnya, sebelum akhirnya membiarkan kami masuk.

Saat aku tiba di ruang utama, Keisha sudah duduk di tengah ruangan. Ada empat hadiah yang dibungkus dengan indah, tersusun di hadapannya.

Ibu, Ayah, Arvin, dan Elvano mengelilinginya.

"Universitas Adikara dan Universitas Nawasena," kata Ibu sambil merapikan rambut Keisha. "Anak Ibu mendapat dua tawaran bagus dari luar kota."

Ibu tidak menyebut sumbangan yang telah diberikan oleh Ayah, para petinggi kampus yang sudah dihubungi, maupun berbagai bantuan yang dia berikan demi memastikan Keisha mendapatkan tawaran tersebut.

Keisha tersenyum lembut. "Aku masih belum tahu harus pilih yang mana."

"Adikara," kata Arvin. "Itu salah satu universitas terbaik."

Elvano menggeleng. "Nawasena lebih cocok untuknya. Kampusnya lebih kecil, lebih privat, dan Keluarga Mahendra juga sudah punya banyak koneksi di sana."

Ibu mengusap bahu Keisha dengan penuh kasih sayang.

"Yang mana pun nggak masalah. Lingkungan di sana pasti bagus. Dokter juga selalu bilang sinar matahari dan udara yang lebih hangat bisa bantu pemulihannya."

Mereka sedang membicarakan penerimaan kuliah Keisha seolah-olah gadis itu baru saja menaklukkan seluruh Serandia.

Padahal aku tahu, penyakit Keisha tidak pernah benar-benar menjadi masalahnya. Aku pernah melihat sendiri betapa cepatnya kerapuhan Keisha menghilang saat tidak ada yang memperhatikannya.

Suatu kali, setelah salah satu serangan paniknya, aku menemukan Keisha sedang sendirian sambil tertawa melihat sesuatu di ponselnya. Begitu Ibu masuk, Keisha langsung menjatuhkan ponselnya dan kedua tangannya mulai gemetar.

Aku menceritakan apa yang kulihat kepada keluargaku. Tetapi Ibu malah menuduhku iri dan Arvin mengatakan aku memang sengaja ingin mengganggu proses pemulihan Keisha.

Sejak saat itu, aku berhenti berusaha membuktikan apa pun.

Ayah duduk di kursinya sambil memperhatikan Keisha. Wajahnya yang biasanya tegas tampak melunak karena rasa bangga.

Tidak seorang pun menyadari aku sedang berdiri di ambang pintu.

Untuk sesaat, aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri, tempat aku dilahirkan.

Kemudian Ibu menoleh.

"Nadira. Kamu sudah datang?"

Kehangatan dalam suaranya menghilang. Tidak sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuatku menyadari perbedaannya.

Keisha mengikuti arah pandangan Ibu. Senyumnya langsung memudar.

Arvin menunjuk sofa. "Jangan berdiri saja."

Aku duduk di kursi yang paling jauh dari Keisha.

Ayah menatapku dari seberang ruangan. "Pengumuman hasil penerimaan universitasmu sudah keluar?"

"Sudah. Aku diterima di …."

"Nanti saja," potong Ibu.

Dia duduk di samping Keisha dan menggenggam tangannya sebelum kembali menatapku.

"Kami memintamu datang karena kamu harus menolak semua tawaran dari universitas yang berada di Serandia, kota yang dipilih Keisha." Ibu berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Keisha membutuhkan awal yang baru. Akan lebih baik kalau kamu nggak kuliah di tempat yang terlalu dekat dengannya."

Sesaat, aku mengira aku yang salah dengar.

Ibu tahu aku sudah menghabiskan tiga tahun terakhir untuk mengejar Universitas Cakrawala. Itu impianku sejak tahun pertama di SMA.

Setiap kelas yang kuambil, setiap kompetisi yang kuikuti, dan setiap malam tanpa tidur hanya kuhabiskan untuk belajar demi mendapatkan kesempatan berkuliah di sana.

Dan sekarang Ibu memintaku untuk menyerah begitu saja, seolah-olah tiga tahun itu tidak berarti apa-apa.

Aku menatapnya. "Kenapa aku harus melakukan itu?"

Ibu menjawab dengan hati-hati, "Keisha sudah bekerja sangat keras tahun ini. Dia berhak memulai kuliah tanpa merasa harus bersaing denganmu lagi."

Bekerja keras?

Aku tahu persis bagaimana Keisha mendapatkan tawaran-tawaran itu semua. Ayah memberikan sumbangan, menghubungi para petinggi universitas, dan menggunakan berbagai koneksi sampai pintu-pintu itu terbuka untuknya.

Aku sendiri bekerja keras selama tiga tahun untuk mendapatkan penerimaan dari Universitas Cakrawala. Tanpa sumbangan. Tanpa koneksi keluarga. Bahkan tanpa sepatah kata pun dukungan dari orang-orang yang sekarang memintaku untuk membuang itu semua.

"Aku nggak pernah bersaing dengannya," kataku.

"Kamu nggak perlu bersaing," bisik Keisha. "Kamu selalu mendapatkan semuanya tanpa perlu berusaha."

Arvin langsung meletakkan tangan di bahu Keisha, seolah-olah sedang melindunginya dariku.

Aku menatap Ayah. "Ayah benar-benar memintaku membuang tiga tahun kerja kerasku hanya supaya Keisha merasa nyaman dan aman?"

Tatapannya tetap dingin dan tegas.

"Keputusan sudah dibuat. Kamu harus menjauh dari wilayah itu. Keisha berhak memiliki satu tempat di mana dia nggak perlu terus hidup dalam bayang-bayangmu."

Ibu mengangguk. "Keluarga ini akhirnya menjalani satu tahun dengan tenang," katanya. "Kami nggak bisa mengambil risiko apa pun yang bisa mengganggu pemulihan adikmu. Ibu tahu kamu pasti mengerti."

"Universitas Cakrawala punya salah satu program ilmu komputer terbaik di negeri ini," desakku.

"Universitas Wijaya juga universitas yang bagus," jawab Ayah. "Cukup jauh dari kota buat memberi Keisha ruang, tapi masih cukup dekat bagi keluarga buat menjengukmu."

Dia sudah memilih masa depanku.

Sama seperti dia memilihkan apartemenku. Kesendirianku. Bahkan menentukan seberapa besar perlindungan yang pantas kudapatkan.

Semuanya tanpa pernah bertanya pendapatku.

Aku menoleh kepada Arvin.

Dia mengerutkan kening seolah-olah akulah yang sedang bersikap tidak masuk akal.

"Kamu pasti akan baik-baik saja di mana pun kamu berada. Kamu selalu begitu."

Akhirnya, aku menatap Elvano.

Dulu, dia pernah duduk di sampingku saat berada di perpustakaan milik keluargaku ketika aku mengisi formulir pendaftaran Universitas Cakrawala. Dia bahkan mencium pelipisku dan mengatakan bahwa dia tidak sabar menungguku untuk kuliah di sana.

Sekarang, dia bahkan tidak mau menatap mataku.

"Elvano?"

Rahangnya mengeras.

Betapa bodohnya aku karena masih berharap dia akan membelaku.

Dengan suara pelan, dia berkata, "Kamu itu pintar, Nad. Universitas mana pun nggak akan mengubah fakta itu."

Kemudian dia menatap Keisha.

"Tapi dia nggak sepertimu. Dia membutuhkan seseorang untuk menjaganya."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 9

    Tiga hari setelah Elvano meninggalkan Kota Astera, skandal Keluarga Mahendra akhirnya terungkap.Ravena News tidak pernah menayangkan wawancara mereka di Kediaman Mahendra.Sebaliknya, salah satu kru berita mulai mempertanyakan bagaimana mungkin salah satu siswa paling berprestasi di Negara Ardhana bisa menghilang tanpa keluarganya sendiri tahu ke mana dia pergi.Mantan teman-teman sekolahku pun mulai berbicara.Lalu, manajer kafe mengakui bahwa Ibu pernah mengambil gajiku dan menggantinya dengan uang palsu.Pengelola gedung juga mengonfirmasi bahwa aku telah tinggal sendirian selama setahun di salah satu gedung milik Keluarga Mahendra.Berita itu pun menyebar ke seluruh Kota Ravena.[Si Kembar Mahendra yang Dilupakan: Jenius Nasional Tinggal Sendirian Tanpa Perlindungan, Sementara Keluarganya Merayakan Saudarinya][Menang Olimpiade Sains, Menolak Universitas Cakrawala, dan Meninggalkan Keluarganya Demi Institut Teknologi Astera]Aku melihat berita itu saat sedang makan pizza bersama t

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 8

    Dua minggu kemudian, Elvano menemukanku di Universitas Institut Astera.Aku baru saja keluar dari perpustakaan ketika melihatnya berdiri di kaki tangga.Elvano terlihat kelelahan. Pakaiannya memang rapi, tetapi bayangan gelap di bawah matanya menunjukkan betapa sedikitnya waktu yang dia habiskan untuk tidur.Begitu melihatku, wajahnya langsung dipenuhi kelegaan."Nad."Dia buru-buru menghampiriku."Aku sudah mencarimu ke mana-mana."Aku berhenti, tetapi tidak berlari ke dalam pelukannya.Dulu, semarah apa pun aku kepadanya, melihat wajahnya saja sudah cukup untuk meluluhkan hatiku.Sekarang, aku hanya bertanya, "Kamu mau apa?"Elvano terdiam sesaat.Lalu jemarinya semakin erat menggenggam sesuatu di tangannya."Aku salah," katanya pelan. "Seharusnya kita berada di Universitas Cakrawala bersama."Dia mengulurkan kartu pos yang dulu kusobek di apartemen.Seseorang telah menyatukan kedua potongannya dengan hati-hati menggunakan selotip, tetapi bekas sobekannya masih membelah gambar menara

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 7

    Hujan membasahi kaca jendela ketika pesawatku mendarat di bandara Kota Astera.Tak ada seorang pun yang menungguku di luar area pengambilan bagasi.Selama bertahun-tahun, hal seperti itu pasti akan menyakitiku.Sebagian besar hidupku kuhabiskan dengan menunggu, menunggu Ibu untuk menepati janjinya, menunggu Ayah memandangku dengan bangga, menunggu Arvin memperlakukanku seperti seorang adik, dan menunggu Elvano kembali menjadi laki-laki yang dulu pernah berjanji akan menungguku di Universitas Cakrawala.Namun sekarang, untuk pertama kalinya, sendirian justru terasa seperti sebuah kebebasan bagiku.Begitu menyalakan ponsel, layarku langsung dipenuhi panggilan tak terjawab.Aku mengabaikan semuanya dan memesan kendaraan, lalu memberikan alamat Institut Teknologi Astera kepada supir taksi.Program riset musim panas universitas sudah menyiapkan tempat tinggalku di kampus. Begitu tiba, seorang koordinator pascasarjana sudah menungguku di lobi dengan membawa kartu identitas dan kunci kamar."

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 6

    Sepuluh menit kemudian, kru berita dipersilakan masuk ke ruang tamu.Di mata publik, Keluarga Mahendra dikenal sebagai pengusaha yang sangat berkuasa. Namun di dalam rumah ini, tak seorang pun boleh melupakan siapa dirinya sebenarnya.Perempuan yang memimpin kru itu memperkenalkan diri sebagai reporter pendidikan dari Ravena News. Seorang kamerawan dan produser berdiri di belakangnya, keduanya tampak jelas tidak nyaman berada di bawah pengawasan para pengawal."Kami ke sini untuk mencari Nona Nadira Mahendra," kata reporter itu. "Apakah dia ada di sini?"Ekspresi Ibu langsung bingung. "Untuk apa kalian mencari Nadira?"Reporter itu melirik ke sekeliling ruangan, tampak terkejut mendengar pertanyaan tersebut."Bukankah kalian sudah mendengar tentang beritanya?"Mata Ayah menyipit. "Mendengar apa?""Nadira menjadi juara pertama dalam Olimpiade Sains Nasional Muda," kata reporter itu.Tak seorang pun di ruangan yang bergerak."Dia juga meraih medali emas untuk Tim Nasional Negara Ardhana

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 5

    Kediaman Mahendra sedang sibuk dengan berbagai persiapan.Paket penyambutan mahasiswa Universitas Adikara milik Keisha memenuhi bagian tengah meja ruang keluarga. Map biru dan emas itu terbuka di samping bendera kampus, ada buku panduan mahasiswa baru, dan surat penerimaan yang sudah dibaca Ibu setidaknya enam kali."Keisha kita akan kuliah di Universitas Adikara," katanya, tak mampu menyembunyikan senyumnya. "Semua tutor dan konsultan selama ini, ternyata sepadan dengan hasilnya."Ayah duduk di seberangnya, memeriksa daftar tamu di tabletnya."Kita punya dua putri yang akan berangkat kuliah. Keluarga kita harus merayakannya dengan semestinya."Dia mulai menyebut nama para tokoh berpengaruh, keluarga sekutu, dan pejabat yang akan diundang."Kita buka ballroom saja," usul Ibu. "Kedua anak kita bisa masuk bersama."Arvin menggeleng sambil menggulir daftar kontaknya."Ballroom tidak akan cukup besar kalau kita mengundang semua keluarga Kota Ravena. Lebih baik gunakan halaman yang ada di s

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 4

    Malam itu, aku kembali ke apartemen dengan keadaan perut kosong, sementara uang palsu tadi masih kusimpan di dalam tas.…Keesokan paginya, aku langsung pergi ke kafe. Begitu masuk, aku menghampiri meja kasir dan melemparkan amplop itu ke atasnya."Kenapa Anda membayarku dengan uang palsu?"Manajerku bahkan tidak terlihat terkejut."Aku nggak melakukannya.""Maksudnya?""Kemarin, ibumu datang bersama dua pengawal. Dia mengambil gajimu dan meninggalkan amplop itu sebagai gantinya."Lututku terasa lemas ketika mendengarnya."Gajiku diberikan kepadanya?""Ibumu itu istri kepala Keluarga Mahendra," katanya dengan bibir mengerucut pahit. "Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan?"Aku berpegangan pada meja kasir untuk menjaga keseimbangan."Katanya, kamu perlu belajar kalau mencari uang sendiri itu nggak semudah yang kamu kira," lanjutnya. "Dan kalau kamu mengalami masalah, kamu akan ingat siapa yang seharusnya kamu andalkan."Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya berbalik dan pergi meningg

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status