LOGINNanang baru saja membanting tubuhnya ke sofa. Peluh membasahi keningnya setelah seharian berkeliling mencari kosan, namun hasilnya nihil.
Tidak ada yang cocok sama sekali.
"Sial, masa iya gue harus terus tinggal di sini bareng Tante yang hipernya minta ampun itu?"gumam Nanang kesal sambil menatap langit-langit rumah.
TOK!... TOK!... TOK...
"Nang, buka pintunya. Ini Tante!"
Nanang mendengus.
"Baru aja diomongin, sudah muncul o
Ia lalu bangkit dari duduknya untuk menjalankan skenario yang sudah ia siapkan.“Ning, kamu mau minum apa?” tanya Risa basa-basi.“Aku sih biasa, kopi saja, Ris,” jawab Ningsih dengan suara yang sengaja dibuat manja.“Duh, di dapur kopi sepertinya habis. Ya sudah, kamu tunggu dulu ya di sini, aku ke warung depan sebentar,” ucap Risa yang langsung bergegas keluar tanpa menunggu jawaban,Meninggalkan Nanang dan Ningsih dalam keheningan yang menyesakkan.Begitu pintu tertutup, efek Sirup tahan banting itu meledak dalam tubuh Nanang.Darahnya terasa mendi dih, dan fokusnya benar-benar hilang.“Nang... kamu kenapa? Kok menatap Kakak seperti itu?” tanya Ningsih, berpura-pura polos meski matanya berkilat nakal.“Kak Ningsih... makin cantik saja,” desis Nanang dengan napas yang mulai memburu.“Ah, masa sih, Nang?” Ningsih memancing lagi.“Serius
Nanang baru saja membanting tubuhnya ke sofa. Peluh membasahi keningnya setelah seharian berkeliling mencari kosan, namun hasilnya nihil.Tidak ada yang cocok sama sekali."Sial, masa iya gue harus terus tinggal di sini bareng Tante yang hipernya minta ampun itu?"gumam Nanang kesal sambil menatap langit-langit rumah.TOK!... TOK!... TOK..."Nang, buka pintunya. Ini Tante!"Nanang mendengus."Baru aja diomongin, sudah muncul orangnya," gumamnya malas sambil bangkit membukakan pintu.Begitu pintu terbuka, sosok Risa berdiri di sana. Namun, ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang sangat Nanang kenal yaitu Ningsih.Sebagai instruktur senam, Ningsih memiliki bentuk tubuh yang atletis dan wajah yang menawan, selalu berhasil membuat pria di lingkungan itu menoleh dua kali.“Om kamu sudah berangkat, Nang?” tanya Risa sambil melongok ke dalam.“Sudah, Tan. T
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Risa melangkah keluar dengan penampilan yang cukup mencolok.Ia sudah mengenakan setelan baju senam yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuh matangnya yang masih berbekal sisa - sisa kehangatan semalam.Mendengar percakapan mereka, Risa langsung menyambar dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin.“Iya Nang... mending kamu tinggal di sini saja. Rumah ini sepi banget loh kalau nggak ada kamu,” ucap Risa.Kalimatnya terdengar seperti perhatian seorang Tante, namun bagi Nanang, itu adalah undangan terbuka menuju bahaya.“Tuh, dengerin kata Tante kamu,” timpal Om Iwan, memberikan dukungan penuh tanpa rasa curiga sedikit pun.Nanang hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya.“Ya... gimana nanti saja lah, Om.”Di balik wajah tenangnya, pikiran Nanang justru berkecamuk.Maaf ya Tan, bukannya Nanang nggak mau hemat, tapi k
Sensasi hangat, licin, dan jepitan dinding belakang Risa membuat Nanang merasa seperti sedang terbang ke langit ke tujuh.“Enak, Tan?” bisik Nanang dengan napas memburu di telinga Risa.“Enak banget, Nanang... terusss, jangan berhenti!” balas Risa dengan suara serak yang penuh gairah.PLOK... PLOK... PLOK...Hentakan kulit bertemu kulit memenuhi keheningan kamar malam itu.Mereka seolah lupa atau mungkin malah sengaja menantang bahaya, karena di kamar sebelah, Om Iwan sedang tertidur lelap.Setiap hujaman Nanang membuat ranjang berderit halus, menambah sensasi ngeri sekaligus nikmat dalam perselingkuhan yang semakin gila ini.Nanang bener-bener menghajar Risa tanpa ampun! Om Iwan kalau sampai terbangun sedikit saja pasti bakal tamat riwayat mereka.Saat Permen Nanang sudah berada di titik di dih dan siap meledak, Nanang berniat mencabutnya.Namun dengan refleks kilat, Risa bangkit dan menahannya.“Stop! Jangan dulu keluar, Nanang!”Risa langsung merunduk, mengulum habis Permen raksasa
Nanang kelojotan setengah mati di atas kasur.Sensasi dari Kain yang meraba urat-urat Permennya benar-benar nyata, mengirimkan gelombang nikmat yang membuat otaknya seolah mau pecah.“Gimana, Nanang? Celana dalam Tante enak, kan?” bisik Risa, suaranya serak menahan gairah.“Enak... enak banget, Tan... terusss!” racau Nanang dengan mata terpejam rapat.Sambil terus memompa Permen Nanang dengan kain itu, Risa merunduk, menjilati dan Menggigit kecil kelereng Nanang, memberikan serangan ganda yang membuat Nanang hampir mencapai puncaknya.“Aahhh... stop, Tan! Stop! Mau keluar nih!” teriak Nanang tertahan.Risa menyeringai puas, lalu melempar celana dalam itu ke lantai begitu saja.Namun, tiba-tiba keadaan berbalik. Nanang yang sudah dikuasai nafsu mendadak bangkit.Dengan satu dorongan bertenaga, ia membalikkan posisi hingga Risa terbaring di bawahnya.Nanang langsung menerjang, menyedot k
Nanang mengangkat tangannya, berusaha memberi jarak.Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipisnya, jantungnya berdegup seperti genderang perang."Jangan, Tan... jangan di sini," bisiknya parau.Namun, Risa sudah kehilangan akal sehat. Baginya,Penolakan Nanang justru seperti bumbu yang membakar gairahnya.Tanpa memedulikan gemetar di tubuh pemuda itu, Risa menyeret Nanang masuk ke dalam kamarnya sendiri.CEKLEK.Suara kunci pintu yang diputar Risa terdengar seperti vonis mati bagi pertahanan Nanang.Risa benar-benar nekat, ia tak peduli sedikit pun meski ayah Nanang mungkin saja terbangun di kamar sebelah.“Kalau di kamar mandi atau dapur kamu nggak mau, ya sudah... kita main di kamar kamu saja,” ucap Risa dengan suara rendah yang menggetarkan nyali.Nanang hanya bisa terpaku, lidahnya kelu saat tangan terampil Risa mulai mempreteli kancing kemeja kerjanya satu per sat
Tinju itu mendarat begitu cepat.Nanang terhuyung ke belakang, dunia di sekelilingnya seolah berputar sesaat. Rahangnya terasa ngilu, rasa logam memenuhi mulutnya. Ia nyaris kehilangan keseimbangan, namun refleks membuatnya bertahan dengan satu kaki menapak aspal."Nanang!!" Teriaka
Lina makin senang ketika tau Nanang bereaksi dengan jujur, apalagi senjata besarnya itu benar-benar mengodanya. "Jujur saja," katanya pelan, suaranya rendah dan penuh keyakinan. "Tubuh kamu menginginkan saya, Nanang. Bukan Inara."Nanang mengangkat kepala perlahan. Kali ini tatapannya tida
Inara terdiam sejenak mendengar penyataan dari Nanang.Akan tetapi wajahnya memerah perlahan, bukan merah karena malu semata, tapi karena ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Ia menunduk sejenak, lalu mengangguk kecil, hampir tak terlihat, namun cukup bagi Nanang untuk menangkapnya
Perintah itu membuat ruangan terasa berputar.Nanang membeku. Wajahnya memucat. "Bu Lina..." suaranya bergetar. "Ini kantor. Ini tidak pantas."Lina mengangkat bahu, sikapnya dingin dan nyaris acuh. "Ini kan kantor saya," koreksinya singkat. "Dan kamu sendiri yang minta cara supaya







