INICIAR SESIÓNSementara itu, Ningsih yang sudah sedikit pulih mulai bangkit.Ia memeluk Nanang dari belakang, menempelkan Gunung kembarnya yang basah oleh keringat ke punggung Nanang.Jari-jari lentik Ningsih mulai memllin kelereng Nanang dengan Nakal, membuat pemuda itu kelo jotan.Adrenalin Nanang memuncak, ia menghentakkan pinggulnya semakin cepat dan dalam.“Aahhh... mentok, Nanang! ahhh!” teriak Risa saat merasakan ujung Permen Nanang menghantam Lembahnya.Nanang sudah berada di titik na dir pertahanannya.Permennya berkedut hebat, urat-uratnya meno njol tegang, menandakan bendungan cairan di dalamnya siap untuk meledak Kapan saja.“Tan..Tan... arghhh!” Nanang mengerang keras, suaranya parau menahan kenikmatan yang luar biasa.Seolah sudah paham, Nanang menarik keluar Permennya dengan gerakann refleks. Ningsih yang sigap langsung berlu tut di samping Risa yang masih dalam posisi menungging.Keduanya berebut posisi, menengadahkan
Risa menghela napas panjang, lalu tersenyum penuh arti.“Sudah, sudah! Gini saja biar adil. Hari ini, kamu harus layani kami berdua!”Nanang menyeringai lebar,Matanya berkilat nakal.“Serius??”“Ya kenapa enggak?” jawab Risa menantang. Tanpa basa-basi, ia langsung menanggalkan pakaiannya.Sisa keringat bekas olahraga masih menetes di tubuhnya yang polos, membuatnya terlihat semakin menggoda.Ningsih tak mau tinggal diam.Seolah tak ingin kalah saing, ia segera melepaskan g-string-nya.Dengan gerakan gesit, ia mulai melu cuti baju Nanang,Membiarkan hasrat mereka bertiga pecah di dalam ruangan itu.Nanang yang hasratnya sudah meledak-ledak digiring masuk ke dalam kamar.Risa dengan agresif mendo rong tubuh Nanang sampai ia terlentang di atas kasur yang empuk.Risa memberikan kedipan mata pada Ningsih, sebuah kode maut:Sikat!Tanpa aba-aba, Nin
Ia lalu bangkit dari duduknya untuk menjalankan skenario yang sudah ia siapkan.“Ning, kamu mau minum apa?” tanya Risa basa-basi.“Aku sih biasa, kopi saja, Ris,” jawab Ningsih dengan suara yang sengaja dibuat manja.“Duh, di dapur kopi sepertinya habis. Ya sudah, kamu tunggu dulu ya di sini, aku ke warung depan sebentar,” ucap Risa yang langsung bergegas keluar tanpa menunggu jawaban,Meninggalkan Nanang dan Ningsih dalam keheningan yang menyesakkan.Begitu pintu tertutup, efek Sirup tahan banting itu meledak dalam tubuh Nanang.Darahnya terasa mendi dih, dan fokusnya benar-benar hilang.“Nang... kamu kenapa? Kok menatap Kakak seperti itu?” tanya Ningsih, berpura-pura polos meski matanya berkilat nakal.“Kak Ningsih... makin cantik saja,” desis Nanang dengan napas yang mulai memburu.“Ah, masa sih, Nang?” Ningsih memancing lagi.“Serius
Nanang baru saja membanting tubuhnya ke sofa. Peluh membasahi keningnya setelah seharian berkeliling mencari kosan, namun hasilnya nihil.Tidak ada yang cocok sama sekali."Sial, masa iya gue harus terus tinggal di sini bareng Tante yang hipernya minta ampun itu?"gumam Nanang kesal sambil menatap langit-langit rumah.TOK!... TOK!... TOK..."Nang, buka pintunya. Ini Tante!"Nanang mendengus."Baru aja diomongin, sudah muncul orangnya," gumamnya malas sambil bangkit membukakan pintu.Begitu pintu terbuka, sosok Risa berdiri di sana. Namun, ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang sangat Nanang kenal yaitu Ningsih.Sebagai instruktur senam, Ningsih memiliki bentuk tubuh yang atletis dan wajah yang menawan, selalu berhasil membuat pria di lingkungan itu menoleh dua kali.“Om kamu sudah berangkat, Nang?” tanya Risa sambil melongok ke dalam.“Sudah, Tan. T
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Risa melangkah keluar dengan penampilan yang cukup mencolok.Ia sudah mengenakan setelan baju senam yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuh matangnya yang masih berbekal sisa - sisa kehangatan semalam.Mendengar percakapan mereka, Risa langsung menyambar dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin.“Iya Nang... mending kamu tinggal di sini saja. Rumah ini sepi banget loh kalau nggak ada kamu,” ucap Risa.Kalimatnya terdengar seperti perhatian seorang Tante, namun bagi Nanang, itu adalah undangan terbuka menuju bahaya.“Tuh, dengerin kata Tante kamu,” timpal Om Iwan, memberikan dukungan penuh tanpa rasa curiga sedikit pun.Nanang hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya.“Ya... gimana nanti saja lah, Om.”Di balik wajah tenangnya, pikiran Nanang justru berkecamuk.Maaf ya Tan, bukannya Nanang nggak mau hemat, tapi k
Sensasi hangat, licin, dan jepitan dinding belakang Risa membuat Nanang merasa seperti sedang terbang ke langit ke tujuh.“Enak, Tan?” bisik Nanang dengan napas memburu di telinga Risa.“Enak banget, Nanang... terusss, jangan berhenti!” balas Risa dengan suara serak yang penuh gairah.PLOK... PLOK... PLOK...Hentakan kulit bertemu kulit memenuhi keheningan kamar malam itu.Mereka seolah lupa atau mungkin malah sengaja menantang bahaya, karena di kamar sebelah, Om Iwan sedang tertidur lelap.Setiap hujaman Nanang membuat ranjang berderit halus, menambah sensasi ngeri sekaligus nikmat dalam perselingkuhan yang semakin gila ini.Nanang bener-bener menghajar Risa tanpa ampun! Om Iwan kalau sampai terbangun sedikit saja pasti bakal tamat riwayat mereka.Saat Permen Nanang sudah berada di titik di dih dan siap meledak, Nanang berniat mencabutnya.Namun dengan refleks kilat, Risa bangkit dan menahannya.“Stop! Jangan dulu keluar, Nanang!”Risa langsung merunduk, mengulum habis Permen raksasa
Dua hari setelah kejadian di restoran, Lina menyewa seorang detektif. Pria paruh baya dengan mata tenang dan catatan lusuh yang selalu dibawanya ke mana pun.Namanya Pak Ronald. Ia tak banyak bertanya, hanya mendengarkan, lalu menyusun potongan cerita seperti puzzle. Ancaman pada Nanang. N
“Hey...!”Bentakan Nanang memecah kerumunan kecil di depan kamar mandi. Suaranya keras, refleks, penuh dorongan protektif yang bahkan ia sendiri tak sempat pikirkan. Tubuhnya bergerak maju satu langkah, berdiri di antara Lina dan perempuan bermasker itu.Perempuan itu tampak terkeju
Nanang tertegun sesaat, tangannya yang berada di punuk besar itu dapat merasakan keempukan yang luar biasa.Kalau dirinya adalah Nanang yang kemarin pasti ia sudah mulai mere-mas gundukan itu. Nanang meneguk liurnya, ia menahan diri sebisa mungkin kala bagian bawahnya menjadi tegak.
Nanang menangkap maksud Lina tanpa perlu banyak tanya. Wajah Imut perempuan itu tampak lembut, dan tatapannya penuh desakan halus yang tak bisa ia abaikan begitu saja.Nanang mengangguk kecil, lalu meminta kunci mobil dari tangan Lina dengan nada rendah, seolah tak ingin suara mereka terde







