Home / Urban / Sistem Sign-In Harian / 71. Pertemuan yang Tak Bisa Ditolak

Share

71. Pertemuan yang Tak Bisa Ditolak

Author: KoTz
last update publish date: 2026-08-07 22:08:10

"Analisis yang tajam. Memang baru satu halaman. Masih ada fragmen lain yang tersebar. Cetak biru energi baru ini baru bisa direkonstruksi secara utuh jika semua pecahannya disatukan," jawab Reyhan.

Sebenarnya, Reyhan sendiri tidak menyadari adanya halaman lanjutan saat sistem pertama kali menjatuhkan item tersebut. Fakta itu baru ia ketahui setelah melakukan konfirmasi ulang dengan antarmuka sistemnya saat beristirahat tadi.

"Gila. Kau sadar seberapa brutal valuasi dari teknologi ini?" tanya Ri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sistem Sign-In Harian   75. Mawar Berduri

    Reyhan tiba di lobi hotel saat jarum jam menunjuk pukul satu dini hari. Setelah meneguk segelas air mineral di pantry kamarnya, ia duduk di pinggir ranjang, bersiap membuka antarmuka sistem untuk mengklaim Sign-In hariannya. Tiba-tiba, terdengar suara derit pintu terbuka.Reyhan menghentikan gerakannya. Rombongan mereka hanya menyewa empat kamar penthouse. Ia memegang satu-satunya kartu akses untuk kamar seorang sendiri.Bangkit tanpa suara, Reyhan menggeser tubuhnya ke sudut gelap di balik pilar. Begitu siluet penyusup itu masuk dan menutup pintu, Reyhan menekan sakelar utama. Ruangan langsung benderang.Dalam hitungan detik, sebuah serangan siku yang sangat cepat melesat ke arah tenggorokannya. Reyhan menyilangkan lengannya untuk menangkis. Benturan keras terjadi, memaksa Reyhan mundur untuk menetralisasi momentum tenaga lawannya.Serangan itu sangat bertenaga. Sangat terlatih.Penyusup itu memutar tubuhnya, bersiap meluncurkan serangan kedua, sebelum akhirnya berhenti total."Ka

  • Sistem Sign-In Harian   74. Pesta Jalanan

    "Bukan masalah besar," kilah Reyhan pelan."Jangan berlagak kuat menanggung semuanya sendiri. Muntahkan saja isi kepalamu. Kami siap mendengarkan," dorong Rio, berjalan menghampiri.Reyhan mengambil napas, membiarkan aroma garam laut mengisi paru-parunya. "Berada jauh dari tanah kelahiran memantik memori lamaku. Sejak mengambil spesialisasi di luar negeri, rutinitasku hanya berkisar di meja operasi dan jurnal medis. Aku hanya memiliki waktu menjenguk orang tuaku pada liburan akhir tahun." dusta Reyhan.Ada jeda sejenak sebelum Reyhan menegakkan tubuhnya, sorot matanya kembali menajam. "Begitu urusan penjemputan calon istriku di St. Marcus ini tuntas, aku akan langsung terbang pulang menemui keluargaku. Rencana itu tidak bisa ditawar lagi."Reyhan menjentikkan pemantik apinya, membiarkan ujung rokoknya membara sebelum mengembuskan asap tebal ke udara malam. Pikirannya masih berputar menyusun strategi untuk esok hari.Ledakan keras dari knalpot mobil balap mendadak memecah konsentrasiny

  • Sistem Sign-In Harian   73. Rahasia Masa Lalu Dokter Kemal

    "Ini murni berkaitan dengan cetak biru energi baru. Beliau pasti mencium pergerakan bisnis yang sedang kami rencanakan," jawab Reyhan lugas."Tebakan yang masuk akal. Namun, lain kali kunci rapat rahasia sebesar itu jika kau berhadapan dengannya. Dia memiliki ego patriot yang tidak bisa ditawar. Tanpa kehadiranku di sana, kau tidak akan bisa keluar dari gang itu dengan dokumenmu utuh," nasihat Dokter Kemal."Aku butuh kepastian mengenai seberapa jauh jangkauan kekuasaannya," tuntut Reyhan, mencoba menakar risiko ke depannya."Kau meremehkan sejarah, Anak Muda. Kakek Cross mendedikasikan darah dan tulang belulangnya untuk kedaulatan negara ini. Apa pun yang dianggapnya bermanfaat bagi fondasi negara, dia akan memastikannya berada di bawah kendalinya. Dia tidak pernah memedulikan kekayaan pribadi. Hari ini dia melepaskanmu murni karena menghormati wajah tuaku," urai Dokter Kemal sungguh-sungguh."Informasi yang sangat berharga. Aku akan lebih berhati-hati," Reyhan mencatat peringatan it

  • Sistem Sign-In Harian   72. Di Bawah Pengawasan Negara

    Reyhan mengekor di belakangnya. Matanya memindai interior ruangan cepat.Bukan ruang kerja mewah yang menyambutnya, melainkan ruangan berdesain minimalis yang sangat sederhana. Sebuah meja kayu kokoh, beberapa kursi tamu, dan dinding yang penuh sesak oleh deretan buku. Di balik meja, seorang pria tua dengan perawakan yang masih memancarkan wibawa tengah menunduk, sepenuhnya fokus menggoreskan pena kaligrafi.Mereka bertiga melangkah mendekat pelan-pelan. Pria tua itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari ujung penanya.Baru setelah tarikan garis terakhir diselesaikan, pria itu meletakkan alat tulisnya dan mendongak menatap para tamu."Goresan yang bertenaga. Kakek Cross, karya kaligrafimu semakin matang dimakan usia," puji Dokter Kemal santai."Waktu merampas banyak hal dariku. Ketajamanku tak lagi sama seperti saat masih muda dulu," balas Kakek Cross diiringi tawa kecil yang berwibawa. Ia beranjak dan mempersilakan tamunya duduk.Begitu mereka mengambil tempat, Kai segera u

  • Sistem Sign-In Harian   71. Pertemuan yang Tak Bisa Ditolak

    "Analisis yang tajam. Memang baru satu halaman. Masih ada fragmen lain yang tersebar. Cetak biru energi baru ini baru bisa direkonstruksi secara utuh jika semua pecahannya disatukan," jawab Reyhan.Sebenarnya, Reyhan sendiri tidak menyadari adanya halaman lanjutan saat sistem pertama kali menjatuhkan item tersebut. Fakta itu baru ia ketahui setelah melakukan konfirmasi ulang dengan antarmuka sistemnya saat beristirahat tadi."Gila. Kau sadar seberapa brutal valuasi dari teknologi ini?" tanya Rio dengan suara tertahan. Sebagai pakar teknologi jaringan, ia melihat lebih dari sekadar inovasi, ini adalah revolusi yang akan meruntuhkan korporasi raksasa."Tentu saja. Itulah alasan utama aku memanggil kalian ke mari. Skala proyek ini terlalu masif untuk dikendalikan seorang diri. Beruntung, aku punya aliansi yang kompeten," senyum Reyhan mengembang. Ia menepuk bahu Kai dengan bersahabat.Setelah suasana perlahan mereda, Alex akhirnya mengambil sikap. "Jadi, kau berniat menggunakan teknologi

  • Sistem Sign-In Harian   70. Iktikad Baik yang Mengguncang Elit

    "Teori medis itu kadang malah membunuh pasien, Dok." Reyhan menunjuk sudut grafik EKG. "Lihat gelombang P di detik keempat. Ada anomali yang tertutup dengan takikardia. Tuan Stefan menyembunyikan riwayat aritmia fatal. Kalau aku paksa memasukan vasodilator, pembuluh darahnya memang melebar, tapi jantungnya akan langsung berhenti berdetak."Kemal meneliti grafik tersebut dan menarik napas tak percaya. "Kau bisa melihat detail sekecil ini di tengah pendarahan hebat dan operasi saraf yang sedang jalan ketat?""Insting bertahan hidup, Dok. Ditambah sedikit bakat alami.""Alasan." Kemal menaruh kertasnya. "Aku sudah melacak nomor registrasimu. Lisensinya baru terbit tahun lalu. Tidak ada catatan residensi, hanya ada beberapa pasien yang kamu tarik dari maut, tidak mungkin dokter baru punya insting sebuas dirimu. Siapa kamu sebenarnya?"Reyhan tersenyum santai. "Daripada buang waktu mengurus masa laluku, lebih baik kita bahas tawaran apa yang mau Dokter berikan."Kemal menatap Reyhan lurus,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status