Home / Romansa / Sopir Kesayangan Dokter Cantik / 1 Mengintip Majikan Ku

Share

Sopir Kesayangan Dokter Cantik
Sopir Kesayangan Dokter Cantik
Author: Ryu Lee

1 Mengintip Majikan Ku

Author: Ryu Lee
last update Last Updated: 2026-03-05 10:15:51

Aku Reno.

Di rumah mewah yang ukurannya lebih mirip istana ini, aku cuma seorang supir rendahan yang tidak punya hak untuk banyak bicara.

Tugasku sebenarnya sangat sederhana dan tidak membutuhkan otak cerdas. Cukup antar jemput Dokter Sarah Adiwangsa, telan mentah-mentah semua perintah judesnya, dan pura-pura buta kalau majikan perempuanku itu sebenarnya kesepian setengah mati sejak ditinggal suaminya melaut berbulan-bulan.

Benar sekali, dokter itu selalu haus akan kasih sayang, terutama nafkah batin. Dan itulah yang membuat aku terjebak dalam pusaran panas ini.

Belum lagi, kedua asistennya yang sama-sama aduhai, masih muda, dan blasteran. Keduanya selalu menggodaku. Tapi aku selalu berusaha menghindar, sampai akhirnya aku tidak kuat menahan ketiganya sekaligus.

***

Di luar sana, suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pilar teras. Itu Udin, satpam kompleks yang terkenal punya insting seperti anjing pelacak dan sedikit gila hormat.

Napasku tertahan di ujung tenggorokan.

Kalau Udin memergokiku berkeliaran di area samping rumah utama selarut ini, hidupku yang damai pasti akan langsung tamat.

"Kucing garong sialan, bikin kaget saja," gerutu Udin dengan suara serak dari kejauhan.

Detik berikutnya, suara langkah kaki yang mengenakan sepatu bot itu perlahan berputar arah dan menjauh, kembali ditelan oleh sunyinya malam.

Aku menghembuskan napas panjang yang sedari tadi menyiksa paruku. Otot-otot bahuku yang kaku perlahan mengendur.

Baru saja tanganku merogoh saku celana kainku untuk mengambil sebatang rokok kretek murah, telingaku menangkap suara lain.

Ada bunyi gesekan halus dari arah lorong samping rumah yang gelap gulita.

Baru saja tanganku merogoh saku celana untuk mengambil sebatang rokok kretek, ekor mataku menangkap seberkas cahaya kuning temaram.

Cahaya itu menyelinap keluar dari celah jendela kamar mandi lantai dua yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter. Otak warasku berteriak keras. Akal sehatku mengingatkan statusku sebagai pelayan dan menyuruhku segera menyingkir kembali ke kamar belakang. Tapi, itu sia-sia.

Aku menyeimbangkan pijakan kakiku yang beralaskan sepatu basah, lalu perlahan menempelkan wajahku mengintip dari celah kaca yang berembun.

Di dalam kamarnya, Dokter Sarah sedang berdiri mematung di hadapan cermin wastafel besar yang dikelilingi uap air hangat.

Jas dokter putihnya yang selalu terlihat kaku, terhormat, dan angkuh itu sudah lenyap entah ke mana. Sebagai gantinya, majikanku itu hanya mengenakan sebuah gaun tidur berbahan sutra merah marun. Tipisnya kain itu benar-benar menguji keimananku sebagai laki-laki normal.

Pinggangnya terbentuk ramping sempurna, mengalir turun menuju pinggulnya yang padat dan ranum.

Kulit putih mulusnya yang terekspos terlihat lembap oleh uap panas, berkilau menggoda di bawah cahaya.

Rambut hitam legamnya yang biasa digelung kaku kini dibiarkan tergerai berantakan. Beberapa helai rambut basah itu menempel manja di bahu dan lehernya yang jenjang.

Pemandangan visual itu saja sudah cukup untuk membuat otakku korslet total. Namun, apa yang dilakukan tangannya sedetik kemudian benar-benar meruntuhkan sisa-sisa kewarasanku.

Tangan halusnya yang lentik merayap pelan naik ke lehernya sendiri. Jari-jari itu membelai kulitnya yang basah, turun perlahan menyusuri tulang selangka, lalu terus menyusup ke balik belahan gaun tipis di area dadanya.

Sarah memejamkan mata erat-erat. Bibirnya yang dipoles merah alami terbelah sedikit, meloloskan sebuah desahan parau yang menembus celah jendela dan langsung menghancurkan pertahananku.

"Jangkrik, Reno, kamu beneran berubah jadi tukang intip murahan sekarang?" rutukku dalam hati, merasakan beban moral yang sangat berat menghimpit rongga dada.

Aku ini cuma supir rendahan bergaji bulanan.

Sedangkan, wanita yang sedang mengerang menahan gairah di depanku ini adalah nyonya besar, istri dari pria yang memberiku makan.

Kalau kelakuan binatangku ini ketahuan, riwayatku bukan cuma tamat, tapi aku bisa dijebloskan ke penjara atau dibunuh suaminya.

Tapi mau ditahan seperti apa pun, kejantananku di balik celana bahan ini sudah memberontak keras. Aku menikmati setiap inci gerakannya tanpa bisa memalingkan wajah.

Di saat aku sedikit menggeser posisi kaki kananku yang mulai kesemutan menahan beban tubuh, sol sepatuku yang licin tergelincir dari bibir pot keramik.

PRANG!

Bencana itu terjadi tanpa bisa dicegah.

Sepatuku menendang jatuh sebuah pot kecil hingga pecah berkeping-keping menghantam lantai semen di bawahku. Suara pecahannya terdengar nyaring seperti ledakan bom di tengah kesunyian malam.

Tertangkap basah menjadi supir mesum yang mengintip majikan sedang memuaskan diri adalah akhir dari segalanya.

Aku mengencangkan otot-otot betisku, bersiap melompat turun dan melarikan diri sejauh mungkin sebelum ia berteriak memanggil Udin atau menelepon polisi. Anehnya, teriakan maling atau makian kasar yang kutunggu-tunggu tidak pernah keluar dari bibir merahnya.

Alih-alih panik dan menutupi tubuhnya dengan handuk, Sarah justru diam mematung menatapku dalam-dalam.

Napasnya masih memburu cepat, membuat bagian dadanya yang mencetak jelas di balik kain tipis itu naik-turun menantang pandanganku.

Perlahan, ia melangkah maju mendekati jendela kaca tempatku mengintip.

Dari balik kaca yang memisahkan kami, tangan halusnya terangkat. Telunjuknya menunjuk ke arah pintu kayu samping yang berada tepat di bawah jendela.

“Gusti Agung. Majikanku ini baru saja menyuruhku masuk ke dalam rumahnya?” Otak udangku menolak memproses informasi sinting ini. Ini pasti sebuah jebakan maut.

Hatiku berperang hebat.

Kalau aku memutar kenop pintu di bawah sana, aku akan melewati batas sosial yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali.

"Woy! Siapa di sana?!" Sebuah teriakan garang dari arah pagar depan membelah keheningan. Itu suara Udin yang kembali mendekat.

Cahaya senter kuningnya mulai menyapu halaman samping dengan cepat.

Aku terjepit dalam posisi mati langkah. Kalau aku tetap berdiri di sini, senter Udin akan menangkap basah tubuhku dalam hitungan detik.

Kutatap jendela itu sekali lagi. Sarah masih berdiri di sana, menungguku dengan tatapan yang meremehkan nyaliku.

Argh, Persetan dengan moral dan dosa!

Dengan satu lompatan ringan, aku mendarat di atas lantai semen dan langsung berlari ke arah pintu samping. Tanganku yang gemetar meraih gagang pintu kayu yang terasa dingin. Pintu itu benar-benar tidak dikunci.

Tanpa ragu lagi, aku mendorongnya terbuka dan melangkah masuk ke dalam perut rumah mewah yang gelap gulita itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   9 Gairah Panas Di Mobil

    'Tidak salah lagi, Elena pasti tau semuanya. Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau Elena memberi tau suami dokter Sarah? Ahhhh, tamat sudah riwayatmu Reno,' batinku, merutuki kebodohanku sendiri.Niat yang tadinya mau hidup tenang, tiba-tiba saja di gagalkan oleh skandal memalukan ini.Tak lama kemudian, dokter Sarah pun tiba, tapi kali ini ia datang bersama dengan Maya. Ya ampun, ujian apa lagi ini."Elena, Maya bilang dokter Riska tidak bisa dihubungi, karena pasien juga merupakan pasien dari dokter Riska, kamu tolong jemput dia ke rumahnya. Saya dan Reno akan berangkat duluan ke rumah sakit," perintah dokter Sarah yang membuat Elena kembali menatapku dengan tatapan yang penuh arti. Aku tau apa yang ada di dalam pikirannya. Dia pasti mengira kalau aku akan memiliki kesempatan lagi bersama dokter Sarah."Tapi Sar, kenapa tidak Maya saja yang pergi? Aku takutnya nanti kamu keteteran," ucap Elena membuat kening dokter Sarah berkerut."Keteteran? Maksud kamu gimana

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   8 Sindiran Elena

    Ponsel di atas nakas itu kembali menjerit nyaring, merobek atmosfer panas yang baru saja kami bangun. Dokter Sarah tersentak, perlahan melepaskan lumatannya dari bibirku dengan napas yang masih tersengal-sengal. Sorot matanya yang tadi sayu penuh damba, dalam sekejap berubah menjadi dingin dan waspada saat melihat layar ponselnya. Permainan kami terhenti karena panggilan itu. "Ya, saya segera ke sana sekarang," ucapnya singkat, suaranya kembali otoriter seolah adegan panas tadi tidak pernah terjadi. Setelah panggilan penting itu berakhir, dokter Sarah kembali menatapku dengan tatapan rumit. "Maafkan aku Reno, aku ada pekerjaan mendesak. Permainan ini harus segera kita akhiri," ucapnya mencoba mengendalikan nafasnya yang masih memburu. Sial! Tanpa menunggu jawaban dariku, dokter Sarah bergegas turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan aku? Aku hanya bisa mematung di atas ranjang, mengatur napas yang masih memburu dan menahan denyut frustasi di bawah perutku. Se

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   7 Eksekusi Yang Lagi-Lagi Mendapatkan Gangguan

    Suara pintu utama yang tertutup rapat oleh Maya tadi masih menyisakan gema yang mencekam di telingaku. Keheningan yang menyusuk setelahnya justru terasa jauh lebih berat dan nebekan dari pada saat ada orang lain di kamar ini. Dokter Sarah tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan langkah cepat yang dipenuhi campuran antara marah yang tertahan dan gairah yang sudah meluap hingga ke ubun-ubun, dia berjalan menuju pintu utama kamar dan memutar kunci ganda. Klik.. Klik.. Suara kunci itu bagaikan pelatuk pistol yang di tarik tepat di depan wajahku. Dia berbalik, matanya yang tajam dan berkilat di bawah temaram lampu kamar menatap langsung ke arah tirai tempatku masih mematung dengan napas memburu. Tanpa kata-kata, dia menyambar kain tirai tebal itu dan menyibakkannya dengan satu sentakan kasar. Cahaya lampu kamar kini menerangi seluruh tubuhku yang berantakan, dengan kemeja seragam supir yang terbuka lebar dan kulit yang mengkilap oleh keringat. "Keluar dari sana Reno!" perintahnya. Suar

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   6 Godaan Maya

    Keheningan di dalam kamar mewah itu mendadak pecah oleh suara yang paling kami tidak harapkan. Sebuah ketukan teratur di pintu kayu yang kokoh, namun di telingaku, suaranya terdengar seperti dentuman godam yang menghantam dada.Tok.. Tok.. Tok.."Dokter Sarah? Ini saya, Maya," suara lembut namun tegas itu membelah kesunyian "Saya bawakan teh hangat untuk dokter dan bu Elena."Jantungku seolah merosot hingga ke dasar lambung. Di balik tirai yang sempit ini, cengkraman dokter Sarah di pundakku seketika mengeras. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat semakin menusuk kulit pundakku melalui kain kemeja yang aku kenakan. Tubuh dokter Sarah yang tadinya begitu menempel padaku, kini menjadi sekaku batu, seolah ia sedang memerintahkan seluruh anggota tubuhnya untuk berhenti bergerak dan mengeluarkan bunyi sekecil apa pun. Tanpa perlu di perintah, aku menahan napas sampai dadaku terasa perih dan panas. Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipis ku, mengalir melewati pipi yang me

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   5 Hasrat Dibalik Tirai

    Duniaku seolah berhenti berputar saat pintu kamar mandi itu berderit terbuka dan Elena yang pandangannya langsung ke arahku dan Sarah. Aku yang tadi tersiksa dengan hasrat yang dikendalikan oleh dokter Sarah, kini ditambah lagi dengan kehadiran Elena yang tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi. Rasanya aku mau hilang saja dari kamar ini dan kembali ke bagasi mobil untuk bersantai sembari membakar sebatang rokok murah ku. "Sar, handuk bersihnya dimana? Aku lupa membawanya tadi," tanya Elena masih mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bertanya dengan santai, sama sekali tidak menyadari kalau ia hanya berjarak dua meter dengan supir yang tadi ia gunjing kan bersama dengan Sarah. Cengkraman tangan dokter Sarah di lenganku mengencang seketika. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat sedikit menekan kulitku, memberikan sinyal bahaya. Dengan gerakan yang sangat cepat, halus, dan nyaris tanpa suara, dokter Sarah menarik lenganku. Sebelum aku sempat memproses apa yang terjad

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   4 Kecurigaan Elena

    "Aneh? Aneh apanya?" sergah Sarah cepat, suaranya terdengar seperti orang tercekik.Elena turun dari ranjang dengan gerakan mengancam. Langkah kaki telanjangnya menginjak karpet tanpa suara mendekati lemari."Aroma udara di sekitar sini beda. Ada bau asing yang menyengat, entah yaa bau apa. Kayak bau-bau lumpur gitu. Bau hujan. Aku kurang paham. Intinya bau yang nggak banget ada di kamar kamu. Padahal, aku tau banget kamu orangnya ga suka ada bau lain selain parfum kamu sendiri."Elena mendongak sedikit di depan pintu lemariku, menghirup udara dengan hidung mancungnya. "Baunya kayak campuran keringat laki-laki kotor dan asap rokok kretek murahan. Kamu sendiri, kan, paling sensitif sama asap rokok. Masa kamu nggak nyium baunya?"Jantungku berhenti berdetak detik itu juga. Itu bau badanku dari garasi tadi sore."Jangan ngawur kamu, El! Itu paling sisa bau jaket suamiku di dalam lemari!" jerit Sarah dengan nada terlalu tinggi untuk menutupi kebohongannya.Elena sama sekali tidak menggubr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status