LOGINRuby menghela napas berat beberapa kali. Matanya menatap layar komputer namun pikirannya melayang kemana-mana. Surat pengunduran diri sudah dibuatnya, alasannya tentu sudah jelas. Semua karena ia merasa malu. Tadi pagi-pagi sekali ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri itu, meski tidak langsung diberikannya pada Demian.
Rasa sesal dan malu terus memenuhi relung hatinya, karena terlalu mabuk ia lalai menjaga dirinya dan berakhir tidur dengan Demian—orang nomor satu di negaranya. Harusnya ia tidak melakukan itu, harusnya ia menjaga dan melindungi Demian. Bruak! Ruby terperanjat, matanya menatap lurus Demian yang baru saja masuk ke ruang kerjanya. Wajah atasannya itu terlihat kaku dan dipenuhi amarah. “Apa maksudnya ini?!” Demian melemparkan kertas putih ke meja Ruby. “Haruskah aku menerimanya dari orang lain? Tidak bisakah kamu memberikannya padaku secara langsung, atau setidaknya kamu merundingkan ini denganku terlebih dahulu. Kita masih memiliki kontrak kerja sama yang belum selesai!” omel Demian panjang lebar. Ruby berdehem, ia segera bangun dari duduknya. Matanya melirik sekilas surat pengunduran dirinya yang tergeletak di atas meja kerjanya.. “Sa–saya….” “Kamu ingin mengundurkan diri?!” potong Demian. Nada bicaranya naik beberapa oktaf dan penuh penekanan. “Sa–saya…saya hanya merasa tidak pantas bekerja bersama Anda setelah kejadian malam itu,” kata Ruby dengan jujur. “Tidak pantas?” ulang Demian dengan senyum miringnya. “Atas dasar apa kamu mengatakan tidak pantas bekerja denganku?!” imbuhnya tak suka. “Hanya karena kita telah tidur bersama jadi kamu mengatakan kita tidak pantas bekerja sama lagi. Apa hanya sebatas ini sikap profesionalisme mu!” seru Demian. Ruby menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling meremas. Mulutnya kaku tak bisa digerakkan meski ia ingin menimpali ucapan Demian. “Ini bukan permainan Ruby, kamu tidak bisa begitu saja mengundurkan diri. Sebagai sekretaris kepresidenan kamu memiliki tanggung jawab yang besar!” kata Demian. Demian maju selangkah, matanya menyorot tajam Ruby yang masih menundukkan kepalanya. “Saya tidak akan pernah menyetujui surat pengunduran dirimu!” “Tapi Pak, saya….” “Tidak ada kata tapi Ruby!” potong Demian tak ingin dibantah. Demian menghela napasnya, ia maju selangkah lagi mendekati Ruby. tangannya terjulur mencapit dagu Ruby. Wajah wanita yang telah memenuhi hatinya itu terlihat memerah, matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis. Sebenarnya dia tidak ingin membentak Ruby, hanya saja saat menerima surat pengunduran diri Ruby, emosinya langsung naik begitu saja. “Jika kamu menganggap apa yang kita lakukan adalah sebuah beban, maka letakkan beban itu. Buang semua pikiran tidak penting di dalam otakmu dan mulailah semuanya dari awal. Anggap saja kita tidak pernah melakukan apapun,” kata Demian panjang lebar. “Bagaimana saya bisa membuangnya jika ingatan itu terus menghantui saya. Harusnya saya menjaga Anda, namun pada kenyataannya saya justru melakukan hal yang tidak seharusnya kita lakukan,” lirih Ruby. Demian menarik sudut bibirnya. “Aku akan bersikap seolah kita tidak pernah melakukannya jika itu keinginanmu.” “Tapi….” Demian menempelkan jari telunjuknya di bibir Ruby. “Berhentilah mengatakan tapi Ruby.” Demian menarik napas panjang. Tangannya memegang bahu Ruby. “Jadilah Ruby yang selama ini aku kenal. Ruby yang pemberani dan tidak takut apapun. Lupakan semuanya dan kita lakukan semua dari awal.” Ruby hanya bisa mengangguk lemah, ia terpaksa menuruti semua keinginan Demian: melupakan semuanya dan menganggap tidak ada kejadian apa-apa diantara mereka. “Baiklah kalau begitu bisa kita mulai membahas pekerjaan yang harus saya lakukan untuk besok?” tanya Demian mengalihkan pembicaraan. “Te–tentu, Pak. Saya akan mem….” “Datanglah ke ruang kerjaku. Aku akan menunggumu di sana,” potong Demian yang kemudian pergi meninggalkan ruang kerja Ruby. Selepas kepergian Demian, Ruby segera menyusul pria itu ke ruangannya. Di tangannya sudah ada tablet yang berisi jadwal dan tugas apa saja yang harus Demian lakukan. Ruby menarik napas beberapa kali sebelum mengetuk pintu ruang kerja Demian sebelum akhirnya ia mengetuknya lalu masuk ke dalam. “Maaf, saya tidak tahu jika ada Nyonya. Saya akan kembali lagi nanti,” ucap Ruby saat melihat Luna—ibu Demian yang sepertinya tengah terlibat pembicaraan serius dengan Demian. “Kami sudah selesai bicara,” sahut Demian suaranya terdengar dingin. Luna mendengus kesal, ia menarik tangan Ruby dan mengadu. “Katakan padanya dia harus mau menemui wanita yang sudah saya pilihkan. Dia harus segera menikah agar negara ini punya ibu negara. Bantu saya untuk membujuk Demian. Hem…?” Ruby mengangguk, ia tidak tahu harus berkata apa. Entah bagaimana jadinya jika Luna mengetahui bahwa ia telah tidur dengan putranya yang selama ini selalu menolak perjodohan yang dilakukan oleh Luna. “Bu, berhenti mempengaruhi orang untuk membujukku. Aku sudah dewasa dan aku bisa mengurus hidupku sendiri,” sela Demian. Luna memutar bola matanya. “Mangkanya segeralah menikah kalau kamu benar-benar sudah dewasa! Negara ini membutuhkan ibu negara, Demian!” “Sudahlah Bu, sebaiknya Ibu keluar. Masih banyak yang harus aku lakukan dan kerjakan, jika Ibu terus di sini pekerjaanku tidak akan selesai-selesai. Besok aku harus ke luar kota untuk melakukan kunjungan, jadi aku mohon berhentilah sampai di sini. Kita bisa membicarakannya lagi nanti,” ucap Demian panjang lebar. “Kunjungan ke luar kota?” Mata Luna nampak berbinar. “Itu bagus, kamu bisa mengajak Vivian, agar dia tahu bagaimana dan seperti apa kerjamu. Benar kan Ruby?” sambung Luna. “Tidak!” balas Demian. “Aku akan mengajak Ruby, jadi tidak akan ada kursi kosong untuk Vivian!” sambung Demian. “Sa–saya?” sahut Ruby terperangah. “Iya kamu! Saya akan mengajak kamu Ruby.”“Ti–tidur disini?” ulang Ruby. Ia mendorong pelan dada Demian, menatap pria itu malu-malu.“Tapi….”Ting tong.Suara bel membuyarkan fokus Ruby, wanita itu menatap ke arah pintu dengan pandangan panik. Keberadaan Demian tidak boleh diketahui oleh siapapun jika mereka ingin tetap menjalin hubungan.“Jangan memintaku untuk sembunyi!” kata Demian seolah tahu apa yang ada di pikiran Ruby.“Tapi….” Ting tong.Suara bel kembali terdengar, kali ini sepertinya Ruby tak memiliki pilihan lain selain menuruti kata-kata Demian. Pria itu sudah duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tak memiliki pilihan lain akhirnya Ruby membuka pintu apartemennya. Di depannya sudah ada Megan dengan sebotol anggur di tangannya. Sahabatnya itu tersenyum mengangkat apa yang dibawanya.“Waktunya gadis-gadis untuk bersenang-senang!” kata Megan yang langsung masuk ke dalam apartemen Ruby.“Oh may good!” Senyum lebar Megan seketika musnah saat melihat siapa yang saat ini sedang duduk santai di depan televisi dengan kak
Demian tersenyum manis. Ia menangkup wajah Ruby. Matanya menatap sang pujaan hati dalam dan penuh perasaan. Sungguh jawaban yang diberikan oleh Ruby, membangkitkan dopaminnya.Wajah Demian mendekat hendak mencium bibir tipis Ruby, namun sayang suara perut Ruby yang tiba-tiba berbunyi membuatnya tersenyum.“Kamu belum makan?” Tanya Demian.Ruby menggigit bibirnya, sungguh rasanya malu sekali menatap Demian saat ini. Perutnya berbunyi disaat yang tidak tepat sama sekali. “Ayo kita makan malam di luar,” ajak Demian yang masih belum melepaskan dekapannya.“Makan di luar?” Ulang Ruby. “Bagaimana kalau kita makan disini saja? Aku juga baru membeli beberapa bahan masakan,” sambung Ruby menawarkan.Demian tersenyum manis. Ia membelai rambut Ruby yang dicepol asal. “Memangnya kamu bisa memasak?”“Apa kamu sedang meremehkanku. Aku sudah lama tinggal sendiri. Urusan masak memasak tentu bukan masalah besar. Lagipula kalau kita makan di luar, itu bukan ide yang bagus,” balas Ruby.Demian mengerut
Ponsel Megan berdering tepat saat Ruby hendak mengatakan siapa pria yang tengah dipikirkannya saat ini.“Sebentar ya,” kata Megan mengangkat panggilan teleponnya.Ruby mengangguk, ia memilih melihat ponselnya, mengecek mungkinkah Demian mengiriminya pesan. Namun sayang apa yang diharapkannya tetap sama, ponsel itu kosong, tak ada satupun pesan dari Demian.Meletakkan kembali ponselnya di atas meja, Ruby lantas memilih berdiri, kepalanya menengadah ke atas sementara tangannya memegang pinggiran pembatas balkon. Sebuah pesawat lewat menarik perhatiannya. Pikirannya kembali melayang memikirkan Demian yang entah sedang apa sekarang. Pengaruh pria itu benar-benar telah mengusik pikirannya. Beberapa bulan yang lalu meski pernah mengalami hal seperti ini, ia tak pernah sedikitpun mengharapkan kabar dari pria itu, tapi sekarang ia sudah seperti seorang wanita yang sedang menunggu kabar dari kekasihnya.“Ruby maaf, aku harus segera pulang. Atasanku menelpon dan memintaku untuk kembali ke kant
Ruby menatap kosong layar laptopnya. Sian ini setelah menikmati tidur paginya, wanita dengan rambut terurai itu memilih mengerjakan pekerjaannya di balkon sambil menikmati pemandangan langit cerah. Sesekali Ruby melirik jam yang ada di laptopnya, seharusnya DEmian sudah sampai, tapi pria itu sama sekali tak memberinya kabar.Meletakkan laptopnya, Ruby berdiri memegang pinggiran balkon, salah satu tangannya merogoh saku celana trainingnya, melihat ponselnya. Sepi tak ada notifikasi dari orang yang diharapkannya. Padahal sebelumnya Demian mengatakan bahwa pria itu akan mengabarinya jika sudah sampai.Mendesah jengah, Ruby memilih membuka pesan dari sahabatnya yang sejak tadi ia abaikan. Senyum tipis menghiasi wajah Ruby kala pesan bertuliskan ‘aku sudah di depan pintu’ tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, ia berjalan membukakan pintu untuk Megan. Senyum lebar menghiasi wajah Ruby, menyambut sahabatnya yang datang membawa buah tangan.“Baru bangun?” tebak Megan.Ruby mengangg
Pipi Ruby memerah. Kata-kata Demian sukses membuatnya malu. “Tapi aku tidak sedang menggodamu,” cicit Ruby.Demian tersenyum tipis. Ia mengusap pipi Ruby yang memerah. “Cantik,” puji Demian.“Dem, bisa jangan seperti ini. Aku takut jika Ada yang masuk dan melihat kita seperti ini. Orang bisa salah paham,” cicit Ruby.Demian tersenyum. “Tidak akan ada yang masuk Ruby. Ini sudah malam, orang-orang pasti sudah tidur. Besok mereka harus bangun pagi untuk bersiap.”“Kalau begitu kamu juga harus segera istirahat Dem. Ini sudah malam dan….”“Tapi aku masih merindukanmu Ruby,” potong Demian yang sukses membuat Ruby terbatuk.Mendengar apa yang dikatakan Demian, pipi Ruby semakin memanas. Ia memalingkan wajahnya, malu menatap Demian lebih lama lagi. Jantungnya sudah bertalu hebat. Kata-kata serta pujian pria itu sungguh membuatnya tak bisa berkutik.“Tidurlah di sini malam ini,” pinta Demian.“Ti–tidur di sini?” ulang Ruby tergagap.Demian menganggukkan kepalanya. Pegangannya pada pinggang Rub
Ruby berjalan kesana kemari. Sudah hampir setengah jam ia berjalan bimbang di taman belakang. Pesan yang dikirim oleh Demian menyisakan kegelisahan yang teramat di hatinya. Malam ini wanita yang masih mengenakan pakaian dinasnya itu memang berniat bermalam di istana, pasalnya esok hari ia dan yang lainnya akan terbang meninjau lokasi di salah satu kota yang cukup jauh. Berbekal telat yang sudah ia bulatkan, Ruby berjalan menuju ruang kerja Demian. Semakin lama menemui pria itu, kegelisahan hatinya semakin tak terkendali. Setidaknya dengan menemui Demian, ia tahu apa yang diinginkan oleh pria yang tengah gencar mendekatinya itu.Tok…tok…tok….“Masuk!”Suara sahutan dari dalam, mendorong Ruby masuk ke dalam. Helaan napas panjang dan berat membersamai langkah Ruby yang juga terasa berat. Di depannya Demian duduk di kursi kebesarannya dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Kemeja Demian sudah tidak lagi rapi, dua kancing di atasnya terbuka serta kemeja yang dikenakanny







