LOGIN
'Presiden Demian Tertangkap Keluar Hotel Bersama Seorang Wanita!'
Ruby yang baru menegak kopinya seketika tersedak saat membaca berita terkini pagi ini. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca pagi ini. Bagaimana bisa hal ini terjadi?! Bukankah Demian langsung pulang setelah mengantarnya ke apartemen? Ia merutuki dirinya sendiri. Sebagai sekretaris seorang presiden seharusnya ia bisa menjaga dirinya dengan baik dan mengutamakan keselamatan presiden, bukan malah minum dan mabuk sampai lupa segalanya. Ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ruby langsung menyambar kunci mobilnya yang ia letakkan di atas nakas. Sebuah mobil hitam dengan plat merah ia kendarai membelah jalanan ibu kota yang cukup padat. Tujuannya saat ini adalah istana negara. Beberapa pers terlihat berkumpul di depan istana negara, sepertinya menunggu juru bicara kepresidenan untuk melakukan konferensi pers. Ruby mengabaikannya dan langsung melesat masuk ke dalam istana negara. “Dimana bapak?!” tanya Ruby pada salah satu paspampres yang sedang berjaga di depan pintu utama. “Bapak ada di ruang kerja. Beliau sedang melakukan rapat bersama dengan beberap mentreri,” jawab si paspamres. Ruby menganggukkan kepalanya lantas berjalan ke ruang tengah, menunggu sang presiden selesai melakukan meeting. Beberapa pertanyaan sudah berjejal di pikirannya minta dituntaskan. Ruby menghela napasnya beberapa kali. Kakinya terus bergerak melakukan hentakan kecil. Sementara matanya beberapa kali melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah hampir satu jam ia menunggu, namun pintu ruang kerja Demian belum juga terbuka. Kegelisahan itu semakin nyata ketika juru bicara kepresidenan menghubunginya dan mengatakan bahwa ada beberapa warga sipil yang turut berjejal di depan istana negara. Untuk menutupi kegelisahannya Ruby memilih membuka ponselnya. Tangannya bergerak lincah membuka beberapa sosial media yang sebagian besar membicarakan tentang Demian. Dari sekian banyak hujatan, mata Ruby tertuju pada satu tulisan yang membuatnya mengumpat dalam hati. “Pantas belum juga menikah, kelakuannya jelek begitu. Presiden kok suka celup sana sini.” “Sialan, tangan orang-orang lincah bener kalau menghujat seseorang!” umpat Ruby. Demian adalah presiden termuda dan belum memiliki pasangan, tidak heran jika namanya sering terseret dalam beberapa gosip murahan. Amora—ibu Demian sebenarnya sudah mempersiapkan beberapa calon pendamping untuk Demian, namun pria nomer satu di Andalas itu seakan tutup mata dan telinga. Dan sekarang gosip murahan kembali menyerang Demian, namun kali ini foto Demian terpampang nyata. Ruby yang tak sabaran menunggu rapat usai, berjalan ke depan. Dilihatnya sekali lagi kerumunan para wartawan dan beberapa warga sipil yang masih betah berdiri di depan pagar. “Apa semalam bapak tidak pulang?” tanya Ruby pada salah satu paspamres yang berjaga di depan pintu masuk. “Semalam bapak berpisah dari rombongan. Beliau mengantarkan Anda tanpa pengawalan dan kembali ke istana hampir jam 4 pagi,” jawab sang paspamres. “Aku?" Tunjuk Ruby pada dirinya sendiri. “Semalam bapak mengantarkanku pulang, benarkah?" sambung Ruby seakan tak percaya. Ruby mencoba mengingat kembali kepingan kejadian tadi malam yang terlupakan olehnya. Namun sayangnya Ruby tidak mengingat apapun. Kebiasaan buruknya kalau sudah minum, ia akan melupakan semua kejadian yang dialaminya saat mabuk. “Apa bapak tidak berniat melakukan konferensi pers dan menemui para wartawan serta warga sipil secara langsung?” tanya Ruby kembali pada sang paspampres. "Mungkin setelah rapat bapak akan melakukan konferensi pers. Beliau sudah menyuruh juru bicara kepresidenan untuk menyampaikan beberapa hal untuk membantah tuduhan yang dilontarkan awak media, tadi” sahut si paspampres. Ruby bernapas lega. Ia menepuk pundak paspampres yang diajaknya bicara. "Semoga skandal ini segera berlalu,” ucapnya penuh harap. Usai mengatakan harapannya, Ruby kembali ke ruang tengah, bersamaan dengan itu pintu ruang rapat Demian terbuka, Ruby membungkukkan sedikit badannya untuk memberikan hormat pada para menteri. “Tunggu, aku ingin bertemu dengan bapak," kata Ruby saat salah satu paspampres Demian hampir menutup pintu ruang rapatnya. Ruby langsung masuk ke dalam, di kursi kebesarannya Demian terlihat tegas dan berwibawa. Pria itu terlihat tampan dari segi manapun, bahkan ketika memakai kacamata. “Katakan!" ucap Demian melepas kacamatanya. Demian menatap lurus Ruby yang berdiri di depannya. Wajah wanita itu seakan menyiratkan banyak sekali pertanyaan yang ditujukan kepadanya. “Saya ingin mengkonfirmasi tentang berita yang beredar luas pagi ini. Bagaimana bisa Bapak tersangkut skandal seperti ini. Dan foto yang didapatkan oleh wartawan seolah memperjelas skandal Bapak,” ujar Ruby yang berdiri di depan meja Demian. Demian menggulung lengan kemejanya. Ia juga melepas kacamata yang bertengger di hidungnya. Tatapannya seolah tengah menyelidik lawan bicaranya. Sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya seiring dengan langkah kakinya yang mendekati Ruby. “Apa kamu tidak mengingatnya?" lontar Demian. Kening Ruby mengkerut. " Mengingat? Mengingat apa Pak?” “Mengingat tentang apa yang kita lakukan semalam," sahut Demian. “Kamu tidak mungkin melupakan semuanya kan?” imbuh Demian. “Jangan bilang kamu melupakan semuanya karena mabuk?!” Kening Ruby dibuat semakin mengkerut oleh kata-kata yang diucapkan oleh Demian. "Tu–tunggu dulu m–maksud Bapak apa?” “Apa yang sebenarnya saya lupakan?!” lanjut Ruby. “Kamu. Wanita yang semalam tidur denganku adalah kamu Ruby."“Ti–tidur disini?” ulang Ruby. Ia mendorong pelan dada Demian, menatap pria itu malu-malu.“Tapi….”Ting tong.Suara bel membuyarkan fokus Ruby, wanita itu menatap ke arah pintu dengan pandangan panik. Keberadaan Demian tidak boleh diketahui oleh siapapun jika mereka ingin tetap menjalin hubungan.“Jangan memintaku untuk sembunyi!” kata Demian seolah tahu apa yang ada di pikiran Ruby.“Tapi….” Ting tong.Suara bel kembali terdengar, kali ini sepertinya Ruby tak memiliki pilihan lain selain menuruti kata-kata Demian. Pria itu sudah duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tak memiliki pilihan lain akhirnya Ruby membuka pintu apartemennya. Di depannya sudah ada Megan dengan sebotol anggur di tangannya. Sahabatnya itu tersenyum mengangkat apa yang dibawanya.“Waktunya gadis-gadis untuk bersenang-senang!” kata Megan yang langsung masuk ke dalam apartemen Ruby.“Oh may good!” Senyum lebar Megan seketika musnah saat melihat siapa yang saat ini sedang duduk santai di depan televisi dengan kak
Demian tersenyum manis. Ia menangkup wajah Ruby. Matanya menatap sang pujaan hati dalam dan penuh perasaan. Sungguh jawaban yang diberikan oleh Ruby, membangkitkan dopaminnya.Wajah Demian mendekat hendak mencium bibir tipis Ruby, namun sayang suara perut Ruby yang tiba-tiba berbunyi membuatnya tersenyum.“Kamu belum makan?” Tanya Demian.Ruby menggigit bibirnya, sungguh rasanya malu sekali menatap Demian saat ini. Perutnya berbunyi disaat yang tidak tepat sama sekali. “Ayo kita makan malam di luar,” ajak Demian yang masih belum melepaskan dekapannya.“Makan di luar?” Ulang Ruby. “Bagaimana kalau kita makan disini saja? Aku juga baru membeli beberapa bahan masakan,” sambung Ruby menawarkan.Demian tersenyum manis. Ia membelai rambut Ruby yang dicepol asal. “Memangnya kamu bisa memasak?”“Apa kamu sedang meremehkanku. Aku sudah lama tinggal sendiri. Urusan masak memasak tentu bukan masalah besar. Lagipula kalau kita makan di luar, itu bukan ide yang bagus,” balas Ruby.Demian mengerut
Ponsel Megan berdering tepat saat Ruby hendak mengatakan siapa pria yang tengah dipikirkannya saat ini.“Sebentar ya,” kata Megan mengangkat panggilan teleponnya.Ruby mengangguk, ia memilih melihat ponselnya, mengecek mungkinkah Demian mengiriminya pesan. Namun sayang apa yang diharapkannya tetap sama, ponsel itu kosong, tak ada satupun pesan dari Demian.Meletakkan kembali ponselnya di atas meja, Ruby lantas memilih berdiri, kepalanya menengadah ke atas sementara tangannya memegang pinggiran pembatas balkon. Sebuah pesawat lewat menarik perhatiannya. Pikirannya kembali melayang memikirkan Demian yang entah sedang apa sekarang. Pengaruh pria itu benar-benar telah mengusik pikirannya. Beberapa bulan yang lalu meski pernah mengalami hal seperti ini, ia tak pernah sedikitpun mengharapkan kabar dari pria itu, tapi sekarang ia sudah seperti seorang wanita yang sedang menunggu kabar dari kekasihnya.“Ruby maaf, aku harus segera pulang. Atasanku menelpon dan memintaku untuk kembali ke kant
Ruby menatap kosong layar laptopnya. Sian ini setelah menikmati tidur paginya, wanita dengan rambut terurai itu memilih mengerjakan pekerjaannya di balkon sambil menikmati pemandangan langit cerah. Sesekali Ruby melirik jam yang ada di laptopnya, seharusnya DEmian sudah sampai, tapi pria itu sama sekali tak memberinya kabar.Meletakkan laptopnya, Ruby berdiri memegang pinggiran balkon, salah satu tangannya merogoh saku celana trainingnya, melihat ponselnya. Sepi tak ada notifikasi dari orang yang diharapkannya. Padahal sebelumnya Demian mengatakan bahwa pria itu akan mengabarinya jika sudah sampai.Mendesah jengah, Ruby memilih membuka pesan dari sahabatnya yang sejak tadi ia abaikan. Senyum tipis menghiasi wajah Ruby kala pesan bertuliskan ‘aku sudah di depan pintu’ tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, ia berjalan membukakan pintu untuk Megan. Senyum lebar menghiasi wajah Ruby, menyambut sahabatnya yang datang membawa buah tangan.“Baru bangun?” tebak Megan.Ruby mengangg
Pipi Ruby memerah. Kata-kata Demian sukses membuatnya malu. “Tapi aku tidak sedang menggodamu,” cicit Ruby.Demian tersenyum tipis. Ia mengusap pipi Ruby yang memerah. “Cantik,” puji Demian.“Dem, bisa jangan seperti ini. Aku takut jika Ada yang masuk dan melihat kita seperti ini. Orang bisa salah paham,” cicit Ruby.Demian tersenyum. “Tidak akan ada yang masuk Ruby. Ini sudah malam, orang-orang pasti sudah tidur. Besok mereka harus bangun pagi untuk bersiap.”“Kalau begitu kamu juga harus segera istirahat Dem. Ini sudah malam dan….”“Tapi aku masih merindukanmu Ruby,” potong Demian yang sukses membuat Ruby terbatuk.Mendengar apa yang dikatakan Demian, pipi Ruby semakin memanas. Ia memalingkan wajahnya, malu menatap Demian lebih lama lagi. Jantungnya sudah bertalu hebat. Kata-kata serta pujian pria itu sungguh membuatnya tak bisa berkutik.“Tidurlah di sini malam ini,” pinta Demian.“Ti–tidur di sini?” ulang Ruby tergagap.Demian menganggukkan kepalanya. Pegangannya pada pinggang Rub
Ruby berjalan kesana kemari. Sudah hampir setengah jam ia berjalan bimbang di taman belakang. Pesan yang dikirim oleh Demian menyisakan kegelisahan yang teramat di hatinya. Malam ini wanita yang masih mengenakan pakaian dinasnya itu memang berniat bermalam di istana, pasalnya esok hari ia dan yang lainnya akan terbang meninjau lokasi di salah satu kota yang cukup jauh. Berbekal telat yang sudah ia bulatkan, Ruby berjalan menuju ruang kerja Demian. Semakin lama menemui pria itu, kegelisahan hatinya semakin tak terkendali. Setidaknya dengan menemui Demian, ia tahu apa yang diinginkan oleh pria yang tengah gencar mendekatinya itu.Tok…tok…tok….“Masuk!”Suara sahutan dari dalam, mendorong Ruby masuk ke dalam. Helaan napas panjang dan berat membersamai langkah Ruby yang juga terasa berat. Di depannya Demian duduk di kursi kebesarannya dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Kemeja Demian sudah tidak lagi rapi, dua kancing di atasnya terbuka serta kemeja yang dikenakanny







