LOGINDemian duduk di barisan paling depan bersama dengan kepala desa menyaksikan tari-tarian dan pertunjukkan lainnya yang diadakan oleh desa yang tengah dikunjunginya. Acara ini dilakukan setiap tahunnya menjelang panen raya.
Di belakang Demian berdiri Ruby dengan wajah lelahnya. Seharian ini ia sama sekali tidak bisa beristirahat dengan benar. Sekamar dengan Demian membuatnya terus was-was, meski orang nomor satu itu tidak melakukan apapun. Acara berlangsung begitu meriah, Demian beberapa kali bertepuk tangan terkesima oleh pertunjukan yang dilihatnya. Beberapa kali Demian terlibat percakapan dengan kepala desa, menanyakan bagaimana desa ini bisa begitu maju meski terisolasi dari dunia luar. Untuk sampai ke desa ini perlu effort yang begitu besar. Selain wilayah permukiman yang sulit dijangkau dan minimnya sarana transportasi, desa ini juga terletak di wilayah geografis yang tidak strategis. “Silahkan dinikmati, ini adalah arak beras buatan desa kami. Saya jamin Anda pasti menyukainya,” ucap si kepala desa ketika seorang perempuan menghampiri mereka untuk memberikan arak beras. Demian tersenyum ramah, ia menerima arak beras yang dibawa oleh si wanita dan mencicipinya. Rasa manis alami dengan kombinasi rasa asam yang menyegarkan dan sedikit bersoda membuat Demian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ini adalah salah satu arak beras yang cukup enak yang pernah dicicipinya. “Bagaimana, apa Anda menyukainya?” tanya si kepala desa. “Arak beras buatan desa ini sungguh nikmat. Saya sangat menyukainya,” jawab Demian jujur. “Ruby.” Ruby yang dipanggil oleh Demian segera maju ke depan, ia sedikit membungkukkan tubuhnya mensejajarkan tubuhnya dengan Demian yang tengah duduk. “Simpan arak beras ini!” perintah Demian. “Baik, Pak,” jawab Ruby menerima arak beras yang diberikan Demian. Demian kembali fokus melihat acara yang sedang berlangsung, beberapa kali ia terlihat menenggak arak beras untuk membuat matanya terus terjaga. Rasa lelahnya sekan sudah sampai pada batasnya, namun ia masih harus bersikap profesional. Pukul sepuluh malam acara belum juga selesai, masih banyak pertunjukan yang disajikan dalam rangkaian acara, sementara besok pagi-pagi buta ia harus melakukan blusukan ke setiap sudut desa ini dan juga pasar tradisional. “Besok kami akan menjemput Bapak di hotel. Kita bisa berangkat bersama-sama menjelajahi desa kami,” kata kepala desa membuka obrolan. “Boleh. Kita bisa sekalian sarapan bersama di hotel sebelum berangkat,” jawab Demian. Si kepala desa terkekeh. “Kalau begitu apa ada request dari Anda untuk makanan yang ingin Anda makan?” “Tidak perlu. Apapun yang disajikan pihak hotel pasti saya makan. Desa ini sudah terlalu banyak menjamu dan memanjakan saya,” ucap Demian. “Bapak tidak perlu sungkan. Ini sudah menjadi kewajiban kami. Bisa dikunjungi oleh Anda saja sudah satu kehormatan bagi kami,” sahut si kepala desa. “Begitu juga dengan saya,” balas Demian. Demian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat. Kepalanya terasa pusing dan berat, begitu juga dengan matanya. Sepertinya ia terlalu banyak meminum arak beras. “Maaf, sepertinya saya harus undur diri terlebih dahulu. Masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan,” terang Demian beralasan. “Oh…tentu. Apa perlu kami antar sampai ke hotel?” sahut si kepala desa. “Tidak perlu. Anda lanjutkan saja menikmati acara yang ada,” balas Demian. Demian segera berdiri, namun keseimbangan tubuhnya sedikit oleng, beruntung Ruby dan salah satu paspampres dengan cekatan menolongnya. “Bapak baik-baik saja?” tanya salah paspampres yang saat ini memegangi tangan Demian. “Hem,” jawab Demian. “Sepertinya aku terlalu banyak minum arak beras tadi,” imbuh Demian. Meski bicara seperti itu entah kenapa Ruby seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Demian. Wajah pria itu terlihat lelah dan mungkin kondisinya sedang tidak baik-baik saja. “Saya permisi dulu, terima kasih untuk jamuan malam ini. Saya sangat menikmatinya,” kata Demian berpamitan dengan kepala desa. Demian segera meninggalkan tempat acara. Langkahnya lebar dan tergesa. Ia segera masuk ke dalam mobil bersama dengan salah satu paspampres. Kali ini ia tidak meminta Ruby untuk duduk bersamanya. Ia mencoba memejamkan matanya kala mobil mulai berjalan meninggalkan tempat acara. Hanya sekitar lima belas menit mobil Demian sudah sampai di hotel. “Apa perlu saya papah?” tawar salah satu paspampres ketika melihat Demian hendak turun dari mobil. “Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Kepalaku hanya sedikit pusing,” jawab Demian. Demian tidak langsung masuk ke hotel, ia melihat mobil yang ditumpangi oleh Ruby berhenti baru kemudian masuk ke dalam hotel bersama salah satu paspampres. “Kembalilah ke kamar. Aku baik-baik saja,” perintah Demian. “Tapi Pak….” Demian menepuk pundak si paspampres. “Di desa ini tidak akan ada orang yang berniat jahat padaku. Jadi kembalilah ke kamar dan beristirahatlah, besok kita harus bangun pagi-pagi sekali,” kata Demian meyakinkan paspampresnya. “Baiklah kalau itu keinginan Bapak, saya permisi undur diri,” sahut si paspampres. Demian menganggukkan kepalanya. Ia berjalan lambat menunggu Ruby yang ada di belakangnya. Tidak ada yang tahu jika ia dan Ruby tidur satu kamar berdua. Keduanya sepakat untuk menyembunyikan ini semua agar tidak terjadi kehebohan. Apalagi ada wartawan kepresidenan yang selalu mengikutinya kemana saja. “Ekhem…,” dehem Demian saat mengetahui Ruby berjalan dengan Elo—wartawan kepresidenan. Keduanya terlihat begitu akrab. Ruby juga tampak tersenyum sumringah, tidak sama jika saat bersama dengannya. Ruby seolah menarik garis pembatas kala bersamanya. “Bapak? Apa terjadi sesuatu? Kenapa Bapak belum masuk ke dalam kamar?” tanya Ruby nampak khawatir. Rombongan kepresidenan sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Melihat Demian yang masih berada di luar, tentu menjadi pertanyaan besar bagi Ruby. “Hem…,” jawab Demian singkat. Wajahnya dingin dan tidak bersahabat. “Elo, kembalilah ke kamar terlebih dahulu. Sepertinya aku masih ada tugas yang harus aku lakukan. Kita lanjutkan pembicaraan kita esok hari saja,” kata Ruby. “Baiklah, kalau begitu aku duluan,” sahut Elo. Setelah memastikan Elo sudah tidak lagi terlihat, Demian menarik tangan Ruby, membuat wanita itu jatuh kepelukan Demian. “Temani aku tidur malam ini Ruby.”Demian duduk di barisan paling depan bersama dengan kepala desa menyaksikan tari-tarian dan pertunjukkan lainnya yang diadakan oleh desa yang tengah dikunjunginya. Acara ini dilakukan setiap tahunnya menjelang panen raya. Di belakang Demian berdiri Ruby dengan wajah lelahnya. Seharian ini ia sama sekali tidak bisa beristirahat dengan benar. Sekamar dengan Demian membuatnya terus was-was, meski orang nomor satu itu tidak melakukan apapun.Acara berlangsung begitu meriah, Demian beberapa kali bertepuk tangan terkesima oleh pertunjukan yang dilihatnya. Beberapa kali Demian terlibat percakapan dengan kepala desa, menanyakan bagaimana desa ini bisa begitu maju meski terisolasi dari dunia luar. Untuk sampai ke desa ini perlu effort yang begitu besar. Selain wilayah permukiman yang sulit dijangkau dan minimnya sarana transportasi, desa ini juga terletak di wilayah geografis yang tidak strategis.“Silahkan dinikmati, ini adalah arak beras buatan desa kami. Saya jamin Anda pasti menyukainya,”
Ruby berdehem beberapa kali, kegugupan menyelimuti hatinya ketika kakinya melangkah masuk ke kamar bersama Demian. Lamat-lamat ia melihat Demian yang saat ini melepas jasnya. Pria itu juga terlihat melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa. Tangannya menutupi wajahnya. Pria itu terlihat lelah.“Mandilah dulu!” kata Demian dengan tangan yang masih menutupi wajahnya. Ia terlalu lelah dan mengantuk. Semalam ia hanya tidur kurang dari dua jam. “Ba–baik,” sahut Ruby tergagap.Tanpa menunggu diperintah dua kali, Ruby segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya ke pintu untuk beberapa saat sebelum menanggalkan satu persatu pakaiannya. Kakinya yang jenjang melangkah pelan, tangannya bergerak menyalakan shower. Untuk beberapa saat ia memejamkan mata, menikmati tetesan-tetesan air yang keluar dari shower membasahi tubuhnya.Ruby mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Tidur satu kamar dengan Demian sungguh mengganggu hatinya. Ia takut jika kejadian beberapa
Ruby terus menatap kursi dimana Demian duduk. Seingatnya kemarin pria itu mengatakan bahwa tak ada kursi kosong lagi untuk Vivian, namun nyatanya masih ada dua kursi kosong yang tidak ditempati oleh siapapun. Pagi ini dia sudah di dalam pesawat dan bersiap terbang ke salah satu desa terbelakang untuk melakukan blusukan. Demian memang kerap kali melakukan blusukan untuk mengetahui bagaimana kehidupan serta memantau harga pangan di pasar-pasar tradisional.Tak ada hal penting yang dilakukannya saat di pesawat, Ruby hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat langit dan memikirkan tentang nasibnya. “Lima belas menit lagi kita akan mendarat, Pak,” kata salah satu paspampres yang duduk di samping Demian.“Hem,” sahut Demian singkat. Ia sempat menoleh ke belakang untuk beberapa detik, melihat Ruby yang seakan tengah menjaga jarak dengannya.Lima belas menit berlalu, Demian berdiri, bersiap untuk turun. Di depannya sudah ada kepala desa dan beberapa orang penting di desa yang dikunjunginy
Ruby menghela napas berat beberapa kali. Matanya menatap layar komputer namun pikirannya melayang kemana-mana. Surat pengunduran diri sudah dibuatnya, alasannya tentu sudah jelas. Semua karena ia merasa malu. Tadi pagi-pagi sekali ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri itu, meski tidak langsung diberikannya pada Demian.Rasa sesal dan malu terus memenuhi relung hatinya, karena terlalu mabuk ia lalai menjaga dirinya dan berakhir tidur dengan Demian—orang nomor satu di negaranya. Harusnya ia tidak melakukan itu, harusnya ia menjaga dan melindungi Demian. Bruak! Ruby terperanjat, matanya menatap lurus Demian yang baru saja masuk ke ruang kerjanya. Wajah atasannya itu terlihat kaku dan dipenuhi amarah.“Apa maksudnya ini?!” Demian melemparkan kertas putih ke meja Ruby.“Haruskah aku menerimanya dari orang lain? Tidak bisakah kamu memberikannya padaku secara langsung, atau setidaknya kamu merundingkan ini denganku terlebih dahulu. Kita masih memiliki kontrak kerja sama yang belum se
“Kamu. Wanita yang semalam tidur denganku adalah kamu Ruby." Ruby melongo, otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Demian. "Sa–saya?” ucap Ruby terbata.“Kamu benar-benar tidak ingat?" Sahut Demian. "Semalam kita melakukannya dan saya terpaksa pulang jam tiga dini hari karena masih harus mengerjakan beberapa tugas. Tapi saya sudah meninggalkan catatan untuk kamu,” imbuh Demian panjang lebar.Tubuh Ruby membeku, hatinya masih meragukan tentang apa yang dikatakan oleh Demian, dan dia berharap jika apa yang dikatakan Demian hanya mimpi. Bagaimana bisa dia tidur dengan orang nomor satu di negerinya dan berakhir dengan melupakan itu semua."Catatan? Catatan apa, Pak? Saya sama sekali tidak melihat ada catatan?” tanya Ruby. Bangun tidur tadi dia sama sekali tidak melihat catatan yang dikatakan oleh Demian.Demian memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing saat melihat reaksi Ruby. "Saya meninggalkan catatan di atas nakas samping tempat tidur. Saya menuliskan p
'Presiden Demian Tertangkap Keluar Hotel Bersama Seorang Wanita!'Ruby yang baru menegak kopinya seketika tersedak saat membaca berita terkini pagi ini. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca pagi ini.Bagaimana bisa hal ini terjadi?! Bukankah Demian langsung pulang setelah mengantarnya ke apartemen?Ia merutuki dirinya sendiri. Sebagai sekretaris seorang presiden seharusnya ia bisa menjaga dirinya dengan baik dan mengutamakan keselamatan presiden, bukan malah minum dan mabuk sampai lupa segalanya.Ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ruby langsung menyambar kunci mobilnya yang ia letakkan di atas nakas. Sebuah mobil hitam dengan plat merah ia kendarai membelah jalanan ibu kota yang cukup padat. Tujuannya saat ini adalah istana negara.Beberapa pers terlihat berkumpul di depan istana negara, sepertinya menunggu juru bicara kepresidenan untuk melakukan konferensi pers. Ruby mengabaikannya dan langsung melesat masuk ke dalam istana negara. “Dimana bapak







