LOGINRuby berdehem beberapa kali, kegugupan menyelimuti hatinya ketika kakinya melangkah masuk ke kamar bersama Demian. Lamat-lamat ia melihat Demian yang saat ini melepas jasnya. Pria itu juga terlihat melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa. Tangannya menutupi wajahnya. Pria itu terlihat lelah.
“Mandilah dulu!” kata Demian dengan tangan yang masih menutupi wajahnya. Ia terlalu lelah dan mengantuk. Semalam ia hanya tidur kurang dari dua jam. “Ba–baik,” sahut Ruby tergagap. Tanpa menunggu diperintah dua kali, Ruby segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya ke pintu untuk beberapa saat sebelum menanggalkan satu persatu pakaiannya. Kakinya yang jenjang melangkah pelan, tangannya bergerak menyalakan shower. Untuk beberapa saat ia memejamkan mata, menikmati tetesan-tetesan air yang keluar dari shower membasahi tubuhnya. Ruby mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Tidur satu kamar dengan Demian sungguh mengganggu hatinya. Ia takut jika kejadian beberapa waktu yang lalu akan terulang lagi. Mengakhiri acara mandinya, Ruby keluar dari dalam kamar mandi. Matanya langsung tertuju pada Demian yang masih dalam posisi yang sama, duduk berselonjor dengan tangan yang menutupi wajahnya. Sepertinya pria itu benar-benar lelah. “Pak….” Ruby menggoyangkan pelan bahu Demian, membangunkan pria itu dari tidurnya. Demian menggeliat, matanya yang masih setengah mengantuk langsung terbuka lebar saat melihat Ruby dengan rambut basahnya. “Sebaiknya Bapak tidur di ranjang,” kata Ruby pelan. Demian tersenyum tipis. “Kamu pikir saya lelaki kejam yang membiarkan seorang wanita tidur di sofa,” balas Demian yang mulai berdiri dari duduknya. Ruby menatap setiap pergerakan Demian, pria itu berjalan ke arah nakas di samping tempat tidur, membuka laci dan mengeluarkan hair dryer. “Kemarilah!” perintah Demian sambil menepuk kursi di depan nakas. “Tidak perlu Pak, saya bisa melakukannya sendiri. Sebaiknya Bapak pergi mandi lalu beristirahat,” balas Ruby setia berdiri di tempatnya di depan sofa. “Jangan membuatku mengulangi apa yang aku katakan untuk dua kali Ruby,” seru Demian tak ingin dibantah. Ruby menundukkan kepalanya. Ia berjalan pelan mendekat ke arah Demian. “Duduklah!” perintah Demian. Mata Ruby menatap ragu tangan Demian yang menepuk kursi di depan nakas. Ia ingin pergi namun rasanya ia seperti dikunci oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tatapan Demian yang menatapnya dalam membuat ia tak bisa mengelak. Dengan sedikit ragu, ia akhirnya duduk di kursi dan membiarkan Demian mengeringkan rambutnya yang setengah basah. Tak ada percakapan, Demian dengan telaten mengeringkan rambut Ruby hingga rambut itu benar-benar kering. “Selesai,” ucap Demian. “Sekarang tidurlah. Kita masih memiliki waktu sekitar satu setengah jam untuk beristirahat,” imbuhnya usai mengeringkan rambut Ruby. “Tidurlah di ranjang!” Demian menahan bahu Ruby saat wanita itu hendak bangun dari duduknya. “Tapi Pak, saya….” Demian menghela napas jengah. “Bukankah saya sudah pernah mengatakan jangan mengatakan tapi jika bersamaku. Dan satu lagi, panggil aku Demian jika kita sedang berdua saja.” “Itu tidak mungkin Pak. Anda adalah pemimpin negeri ini, bagaimana bisa saya memanggil Anda dengan panggilan nama saja,” sahut Ruby menolak. Demian tersenyum tipis. “Jadi statusku yang mempersulit kita?” “Huh…?” sahut Ruby tidak sepenuhnya paham dengan apa yang dikatakan oleh Demian. “Jika aku bukan pemimpin negeri ini, akankah kamu bersikap biasa saja denganku?” tanya Demian Ruby menggigit bibirnya, matanya bergerak gelisah menatap mata Demian yang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. “Tidurlah, saya akan mandi,” kata Demian mengalihkan pembicaraan. Ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi. “Ah…kamu bisa memakai baju santai jika sedang tidak bertugas. Badanmu pasti lengket memakai pakaian yang sama,” lanjut Demian sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kamar mandi. Ruby hanya bisa memejamkan matanya malu. Ia merutuki nasibnya yang seperti sedang di ujung jurang. Tak ada pilihan yang bisa dipilihnya, Demian terlalu dominan meski setiap kata-katanya dikatakan dengan lembut. Malam ini sepertinya ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Ruby menghela napasnya. Ia mencoba membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap ke langit langit kamar, memikirkan banyak hal: tentang hubungannya dengan Demian. Setelah malam panas yang pernah mereka lalui bersama kini semuanya terasa aneh dan kikuk. Ia ingin menghilang dan menjauh dari Demian, namun surat pengunduran dirinya ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Cukup lama ia bergelut dengan isi hatinya, hingga suara pintu kamar mandi yang terbuka menyadarkannya kembali ke alam nyata Demian keluar dengan jubah mandi yang mempertontonkan sedikit dadanya. Rambut acak-acakan dan setengah basah Demian membuat Ruby menelan ludahnya susah payah. Pria itu seolah sedang menggodanya untuk disentuh. Bagaimanapun juga ia hanya wanita biasa yang bisa tergoda oleh pemandangan indah seperti ini. “Belum tidur?” tanya Demian sambil mengusap-usapkan handuk kecil di kepalanya. Ruby berdehem. “Sebaiknya saya tidur di sofa saja, Pak. Ranjang ini terlalu empuk untuk saya tidur,” kata Ruby beralasan. Demian tersenyum miring. Ia melangkah mendekati ranjang Ruby dan berkata. “Jika kamu terus memaksa tidur di sofa, bagaimana jika kita tidur berdua di ranjang ini.” Ruby menelan ludahnya susah payah. Ia segera membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi separuh tubuhnya. Matanya juga ia paksa terpejam. Melihat itu semua, Demian mengulum senyumnya. Pria itu lantas membaringkan tubuhnya di sofa. “Gadis keras kepala,” gumam Demian.“Ti–tidur disini?” ulang Ruby. Ia mendorong pelan dada Demian, menatap pria itu malu-malu.“Tapi….”Ting tong.Suara bel membuyarkan fokus Ruby, wanita itu menatap ke arah pintu dengan pandangan panik. Keberadaan Demian tidak boleh diketahui oleh siapapun jika mereka ingin tetap menjalin hubungan.“Jangan memintaku untuk sembunyi!” kata Demian seolah tahu apa yang ada di pikiran Ruby.“Tapi….” Ting tong.Suara bel kembali terdengar, kali ini sepertinya Ruby tak memiliki pilihan lain selain menuruti kata-kata Demian. Pria itu sudah duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tak memiliki pilihan lain akhirnya Ruby membuka pintu apartemennya. Di depannya sudah ada Megan dengan sebotol anggur di tangannya. Sahabatnya itu tersenyum mengangkat apa yang dibawanya.“Waktunya gadis-gadis untuk bersenang-senang!” kata Megan yang langsung masuk ke dalam apartemen Ruby.“Oh may good!” Senyum lebar Megan seketika musnah saat melihat siapa yang saat ini sedang duduk santai di depan televisi dengan kak
Demian tersenyum manis. Ia menangkup wajah Ruby. Matanya menatap sang pujaan hati dalam dan penuh perasaan. Sungguh jawaban yang diberikan oleh Ruby, membangkitkan dopaminnya.Wajah Demian mendekat hendak mencium bibir tipis Ruby, namun sayang suara perut Ruby yang tiba-tiba berbunyi membuatnya tersenyum.“Kamu belum makan?” Tanya Demian.Ruby menggigit bibirnya, sungguh rasanya malu sekali menatap Demian saat ini. Perutnya berbunyi disaat yang tidak tepat sama sekali. “Ayo kita makan malam di luar,” ajak Demian yang masih belum melepaskan dekapannya.“Makan di luar?” Ulang Ruby. “Bagaimana kalau kita makan disini saja? Aku juga baru membeli beberapa bahan masakan,” sambung Ruby menawarkan.Demian tersenyum manis. Ia membelai rambut Ruby yang dicepol asal. “Memangnya kamu bisa memasak?”“Apa kamu sedang meremehkanku. Aku sudah lama tinggal sendiri. Urusan masak memasak tentu bukan masalah besar. Lagipula kalau kita makan di luar, itu bukan ide yang bagus,” balas Ruby.Demian mengerut
Ponsel Megan berdering tepat saat Ruby hendak mengatakan siapa pria yang tengah dipikirkannya saat ini.“Sebentar ya,” kata Megan mengangkat panggilan teleponnya.Ruby mengangguk, ia memilih melihat ponselnya, mengecek mungkinkah Demian mengiriminya pesan. Namun sayang apa yang diharapkannya tetap sama, ponsel itu kosong, tak ada satupun pesan dari Demian.Meletakkan kembali ponselnya di atas meja, Ruby lantas memilih berdiri, kepalanya menengadah ke atas sementara tangannya memegang pinggiran pembatas balkon. Sebuah pesawat lewat menarik perhatiannya. Pikirannya kembali melayang memikirkan Demian yang entah sedang apa sekarang. Pengaruh pria itu benar-benar telah mengusik pikirannya. Beberapa bulan yang lalu meski pernah mengalami hal seperti ini, ia tak pernah sedikitpun mengharapkan kabar dari pria itu, tapi sekarang ia sudah seperti seorang wanita yang sedang menunggu kabar dari kekasihnya.“Ruby maaf, aku harus segera pulang. Atasanku menelpon dan memintaku untuk kembali ke kant
Ruby menatap kosong layar laptopnya. Sian ini setelah menikmati tidur paginya, wanita dengan rambut terurai itu memilih mengerjakan pekerjaannya di balkon sambil menikmati pemandangan langit cerah. Sesekali Ruby melirik jam yang ada di laptopnya, seharusnya DEmian sudah sampai, tapi pria itu sama sekali tak memberinya kabar.Meletakkan laptopnya, Ruby berdiri memegang pinggiran balkon, salah satu tangannya merogoh saku celana trainingnya, melihat ponselnya. Sepi tak ada notifikasi dari orang yang diharapkannya. Padahal sebelumnya Demian mengatakan bahwa pria itu akan mengabarinya jika sudah sampai.Mendesah jengah, Ruby memilih membuka pesan dari sahabatnya yang sejak tadi ia abaikan. Senyum tipis menghiasi wajah Ruby kala pesan bertuliskan ‘aku sudah di depan pintu’ tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, ia berjalan membukakan pintu untuk Megan. Senyum lebar menghiasi wajah Ruby, menyambut sahabatnya yang datang membawa buah tangan.“Baru bangun?” tebak Megan.Ruby mengangg
Pipi Ruby memerah. Kata-kata Demian sukses membuatnya malu. “Tapi aku tidak sedang menggodamu,” cicit Ruby.Demian tersenyum tipis. Ia mengusap pipi Ruby yang memerah. “Cantik,” puji Demian.“Dem, bisa jangan seperti ini. Aku takut jika Ada yang masuk dan melihat kita seperti ini. Orang bisa salah paham,” cicit Ruby.Demian tersenyum. “Tidak akan ada yang masuk Ruby. Ini sudah malam, orang-orang pasti sudah tidur. Besok mereka harus bangun pagi untuk bersiap.”“Kalau begitu kamu juga harus segera istirahat Dem. Ini sudah malam dan….”“Tapi aku masih merindukanmu Ruby,” potong Demian yang sukses membuat Ruby terbatuk.Mendengar apa yang dikatakan Demian, pipi Ruby semakin memanas. Ia memalingkan wajahnya, malu menatap Demian lebih lama lagi. Jantungnya sudah bertalu hebat. Kata-kata serta pujian pria itu sungguh membuatnya tak bisa berkutik.“Tidurlah di sini malam ini,” pinta Demian.“Ti–tidur di sini?” ulang Ruby tergagap.Demian menganggukkan kepalanya. Pegangannya pada pinggang Rub
Ruby berjalan kesana kemari. Sudah hampir setengah jam ia berjalan bimbang di taman belakang. Pesan yang dikirim oleh Demian menyisakan kegelisahan yang teramat di hatinya. Malam ini wanita yang masih mengenakan pakaian dinasnya itu memang berniat bermalam di istana, pasalnya esok hari ia dan yang lainnya akan terbang meninjau lokasi di salah satu kota yang cukup jauh. Berbekal telat yang sudah ia bulatkan, Ruby berjalan menuju ruang kerja Demian. Semakin lama menemui pria itu, kegelisahan hatinya semakin tak terkendali. Setidaknya dengan menemui Demian, ia tahu apa yang diinginkan oleh pria yang tengah gencar mendekatinya itu.Tok…tok…tok….“Masuk!”Suara sahutan dari dalam, mendorong Ruby masuk ke dalam. Helaan napas panjang dan berat membersamai langkah Ruby yang juga terasa berat. Di depannya Demian duduk di kursi kebesarannya dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Kemeja Demian sudah tidak lagi rapi, dua kancing di atasnya terbuka serta kemeja yang dikenakanny







