LOGIN“Kamu. Wanita yang semalam tidur denganku adalah kamu Ruby."
Ruby melongo, otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Demian. "Sa–saya?” ucap Ruby terbata. “Kamu benar-benar tidak ingat?" Sahut Demian. "Semalam kita melakukannya dan saya terpaksa pulang jam tiga dini hari karena masih harus mengerjakan beberapa tugas. Tapi saya sudah meninggalkan catatan untuk kamu,” imbuh Demian panjang lebar. Tubuh Ruby membeku, hatinya masih meragukan tentang apa yang dikatakan oleh Demian, dan dia berharap jika apa yang dikatakan Demian hanya mimpi. Bagaimana bisa dia tidur dengan orang nomor satu di negerinya dan berakhir dengan melupakan itu semua. "Catatan? Catatan apa, Pak? Saya sama sekali tidak melihat ada catatan?” tanya Ruby. Bangun tidur tadi dia sama sekali tidak melihat catatan yang dikatakan oleh Demian. Demian memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing saat melihat reaksi Ruby. "Saya meninggalkan catatan di atas nakas samping tempat tidur. Saya menuliskan pesan bahwa kita harus berbicara tentang masalah ini setelah kita menyelesaikan pekerjaan kita.” Ruby menundukkan kepalanya. “Sa–saya….” Belum menyelesaikan kalimatnya, ucapan Ruby harus terputus saat ponselnya berbunyi. Panggilan telepon dari juru bicara kepresidenan terpampang di layar ponselnya. Menggeser tombol hijau, Ruby menerima telepon tersebut dan sedikit menjauh dari Demian. "Kerahkan pengawalan ketat untuk Bapak. Massa dan wartawan memenuhi pintu luar istana dan jumlahnya terus bertambah,” terang juru bicara kepresidenan. Ruby memejamkan matanya sesaat. Helaan napas berat dan panjang terdengar. "Warga juga ikut berdemo di depan istana?” “Iya,” jawab juru bicara kepresidenan singkat. Ruby menghela napas dalam dan berat. “Baiklah,” balas Ruby yang kemudian menutup sambungan teleponnya. Ruby berjalan mendekat, matanya menatap Demian gelisah. “Saya rasa Bapak harus keluar untuk menenangkan para warga,” kata Ruby memberi ide. “Baiklah,” jawab Demian. “Tunggu!” ucap Ruby menarik kecil kemeja Demian. Ruby menggigit bibirnya. Matanya menatap Demian ragu-ragu dan penuh kegelisahan. Ia sudah bekerja cukup lama dengan Demian, dan selama itu belum pernah ia melakukan hal yang tidak bermartabat. Sebagai sekretaris kepresidenan ia sebisa mungkin menjaga sikapnya dengan baik agar tidak menimbulkan masalah. Namun, hari ini ia seperti tertampar kenyataan yang sulit dipercaya. Ia telah tidur dengan Demian! “Apa yang akan Bapak katakan pada media?” tanya Ruby gelisah. “Menurutmu apa yang harus saya katakan pada media? Haruskah saya berbohong tentang apa yang terjadi semalam,” jawab Demian begitu santai. Ruby tidak bisa menjawab ucapan Demian, ia hanya menatap kosong Demian yang perlahan menghilang di balik pintu. Sadar bahwa Demian sudah pergi meninggalkannya, Ruby bergegas keluar dari ruang kerja Demian dan menyusulnya. Di luar, warga sipil terlihat semakin banyak. Mereka berdesakan membawa tulisan, meminta Demian mundur dari kursi kepresidenan. Di depannya Demian terlihat tenang, langkah tegapnya seolah siap menyambut hujatan serta cacian dari para warganya. “Mundur dari kursi kepresidenan!” “Anda tidak pantas menjadi presiden!” Demian menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di depannya. Saat ini ia sudah berdiri di depan gedung kepresidenan dengan penjagaan yang sangat ketat. Ruby ada di belakangnya, harap-harap cemas sekaligus memberikan dukungan. “Selamat siang semuanya. Ijinkan saya menjawab semua pertanyaan kalian dan biarkan saya menjelaskan situasi yang sebenarnya,” kata Demian membuka percakapan. Ruby memejamkan matanya sesaat, keringat dingin membanjiri tangannya. Ia takut jika Demian mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada yang tahu apa isi kepala Demian saat ini. “Tolong jawab pertanyaan kami, apa benar Bapak bersama seorang wanita tadi malam?” tanya salah satu wartawan dengan lantang. “Apa wanita itu kekasih Bapak?” tanya wartawan yang lainnya. “Tolong jelaskan kepada kami tentang apa yang sebenarnya terjadi, Pak?” Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para wartawan dan warga sipil. Semuanya seolah sedang berlomba-lomba meminta jawaban atas keingintahuan mereka. “Sebenarnya….” BUUK…. Sebuah telur dilempar oleh salah satu warga sipil yang sedang berdemo ke arah presiden, beruntung telur itu tidak mengenai tubuh Demian. Ruby yang panik karena situasi menjadi tidak kondusif langsung maju ke depan untuk melindungi Demian, pasalnya beberapa warga sipil jadi ikut-ikutan melempar barang apapun yang mereka bawa. “Lindungi Bapak!” perintah Ruby dengan suara lantang. Paspampres maju ke depan, mereka mencoba membawa Demian untuk pergi dari para wartawan dan warga sipil yang tak lagi kondusif. Namun, bukannya mengikuti arahan para paspampres, Demian justru menarik tangan Ruby dan memeluk tubuh wanita itu untuk melindungi Ruby yang terkena lemparan telur dan beberapa barang yang dibawa warga sipil. Ruby yang tubuhnya dipeluk oleh Demian, seketika menegang. Matanya membulat, sebuah ingatan tentang malam itu seolah menjawab semua keraguannya. Semalam, keduanya memang tidur bersama. Dan yang lebih parahnya lagi, Ruby yang memulai semua itu!Demian duduk di barisan paling depan bersama dengan kepala desa menyaksikan tari-tarian dan pertunjukkan lainnya yang diadakan oleh desa yang tengah dikunjunginya. Acara ini dilakukan setiap tahunnya menjelang panen raya. Di belakang Demian berdiri Ruby dengan wajah lelahnya. Seharian ini ia sama sekali tidak bisa beristirahat dengan benar. Sekamar dengan Demian membuatnya terus was-was, meski orang nomor satu itu tidak melakukan apapun.Acara berlangsung begitu meriah, Demian beberapa kali bertepuk tangan terkesima oleh pertunjukan yang dilihatnya. Beberapa kali Demian terlibat percakapan dengan kepala desa, menanyakan bagaimana desa ini bisa begitu maju meski terisolasi dari dunia luar. Untuk sampai ke desa ini perlu effort yang begitu besar. Selain wilayah permukiman yang sulit dijangkau dan minimnya sarana transportasi, desa ini juga terletak di wilayah geografis yang tidak strategis.“Silahkan dinikmati, ini adalah arak beras buatan desa kami. Saya jamin Anda pasti menyukainya,”
Ruby berdehem beberapa kali, kegugupan menyelimuti hatinya ketika kakinya melangkah masuk ke kamar bersama Demian. Lamat-lamat ia melihat Demian yang saat ini melepas jasnya. Pria itu juga terlihat melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa. Tangannya menutupi wajahnya. Pria itu terlihat lelah.“Mandilah dulu!” kata Demian dengan tangan yang masih menutupi wajahnya. Ia terlalu lelah dan mengantuk. Semalam ia hanya tidur kurang dari dua jam. “Ba–baik,” sahut Ruby tergagap.Tanpa menunggu diperintah dua kali, Ruby segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya ke pintu untuk beberapa saat sebelum menanggalkan satu persatu pakaiannya. Kakinya yang jenjang melangkah pelan, tangannya bergerak menyalakan shower. Untuk beberapa saat ia memejamkan mata, menikmati tetesan-tetesan air yang keluar dari shower membasahi tubuhnya.Ruby mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Tidur satu kamar dengan Demian sungguh mengganggu hatinya. Ia takut jika kejadian beberapa
Ruby terus menatap kursi dimana Demian duduk. Seingatnya kemarin pria itu mengatakan bahwa tak ada kursi kosong lagi untuk Vivian, namun nyatanya masih ada dua kursi kosong yang tidak ditempati oleh siapapun. Pagi ini dia sudah di dalam pesawat dan bersiap terbang ke salah satu desa terbelakang untuk melakukan blusukan. Demian memang kerap kali melakukan blusukan untuk mengetahui bagaimana kehidupan serta memantau harga pangan di pasar-pasar tradisional.Tak ada hal penting yang dilakukannya saat di pesawat, Ruby hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat langit dan memikirkan tentang nasibnya. “Lima belas menit lagi kita akan mendarat, Pak,” kata salah satu paspampres yang duduk di samping Demian.“Hem,” sahut Demian singkat. Ia sempat menoleh ke belakang untuk beberapa detik, melihat Ruby yang seakan tengah menjaga jarak dengannya.Lima belas menit berlalu, Demian berdiri, bersiap untuk turun. Di depannya sudah ada kepala desa dan beberapa orang penting di desa yang dikunjunginy
Ruby menghela napas berat beberapa kali. Matanya menatap layar komputer namun pikirannya melayang kemana-mana. Surat pengunduran diri sudah dibuatnya, alasannya tentu sudah jelas. Semua karena ia merasa malu. Tadi pagi-pagi sekali ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri itu, meski tidak langsung diberikannya pada Demian.Rasa sesal dan malu terus memenuhi relung hatinya, karena terlalu mabuk ia lalai menjaga dirinya dan berakhir tidur dengan Demian—orang nomor satu di negaranya. Harusnya ia tidak melakukan itu, harusnya ia menjaga dan melindungi Demian. Bruak! Ruby terperanjat, matanya menatap lurus Demian yang baru saja masuk ke ruang kerjanya. Wajah atasannya itu terlihat kaku dan dipenuhi amarah.“Apa maksudnya ini?!” Demian melemparkan kertas putih ke meja Ruby.“Haruskah aku menerimanya dari orang lain? Tidak bisakah kamu memberikannya padaku secara langsung, atau setidaknya kamu merundingkan ini denganku terlebih dahulu. Kita masih memiliki kontrak kerja sama yang belum se
“Kamu. Wanita yang semalam tidur denganku adalah kamu Ruby." Ruby melongo, otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Demian. "Sa–saya?” ucap Ruby terbata.“Kamu benar-benar tidak ingat?" Sahut Demian. "Semalam kita melakukannya dan saya terpaksa pulang jam tiga dini hari karena masih harus mengerjakan beberapa tugas. Tapi saya sudah meninggalkan catatan untuk kamu,” imbuh Demian panjang lebar.Tubuh Ruby membeku, hatinya masih meragukan tentang apa yang dikatakan oleh Demian, dan dia berharap jika apa yang dikatakan Demian hanya mimpi. Bagaimana bisa dia tidur dengan orang nomor satu di negerinya dan berakhir dengan melupakan itu semua."Catatan? Catatan apa, Pak? Saya sama sekali tidak melihat ada catatan?” tanya Ruby. Bangun tidur tadi dia sama sekali tidak melihat catatan yang dikatakan oleh Demian.Demian memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing saat melihat reaksi Ruby. "Saya meninggalkan catatan di atas nakas samping tempat tidur. Saya menuliskan p
'Presiden Demian Tertangkap Keluar Hotel Bersama Seorang Wanita!'Ruby yang baru menegak kopinya seketika tersedak saat membaca berita terkini pagi ini. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca pagi ini.Bagaimana bisa hal ini terjadi?! Bukankah Demian langsung pulang setelah mengantarnya ke apartemen?Ia merutuki dirinya sendiri. Sebagai sekretaris seorang presiden seharusnya ia bisa menjaga dirinya dengan baik dan mengutamakan keselamatan presiden, bukan malah minum dan mabuk sampai lupa segalanya.Ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ruby langsung menyambar kunci mobilnya yang ia letakkan di atas nakas. Sebuah mobil hitam dengan plat merah ia kendarai membelah jalanan ibu kota yang cukup padat. Tujuannya saat ini adalah istana negara.Beberapa pers terlihat berkumpul di depan istana negara, sepertinya menunggu juru bicara kepresidenan untuk melakukan konferensi pers. Ruby mengabaikannya dan langsung melesat masuk ke dalam istana negara. “Dimana bapak







