Share

Bab 2

Author: Anggun_sari
last update publish date: 2026-08-20 09:44:13

“Kamu. Wanita yang semalam tidur denganku adalah kamu Ruby." 

Ruby melongo, otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Demian. 

"Sa–saya?” ucap Ruby terbata.

“Kamu benar-benar tidak ingat?" Sahut Demian. "Semalam kita melakukannya dan saya terpaksa pulang jam tiga dini hari karena masih harus mengerjakan beberapa tugas. Tapi saya sudah meninggalkan catatan untuk kamu,” imbuh Demian panjang lebar.

Tubuh Ruby membeku, hatinya masih meragukan tentang apa yang dikatakan oleh Demian, dan dia berharap jika apa yang dikatakan Demian hanya mimpi. Bagaimana bisa dia tidur dengan orang nomor satu di negerinya dan berakhir dengan melupakan itu semua.

"Catatan? Catatan apa, Pak? Saya sama sekali tidak melihat ada catatan?” tanya Ruby. Bangun tidur tadi dia sama sekali tidak melihat catatan yang dikatakan oleh Demian.

Demian memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing saat melihat reaksi Ruby. "Saya meninggalkan catatan di atas nakas samping tempat tidur. Saya menuliskan pesan bahwa kita harus berbicara tentang masalah ini setelah kita menyelesaikan pekerjaan kita.”

Ruby menundukkan kepalanya. “Sa–saya….”

Belum menyelesaikan kalimatnya, ucapan Ruby harus terputus saat ponselnya berbunyi. Panggilan telepon dari juru bicara kepresidenan terpampang di layar ponselnya. Menggeser tombol hijau, Ruby menerima telepon tersebut dan sedikit menjauh dari Demian.

"Kerahkan pengawalan ketat untuk Bapak. Massa dan wartawan memenuhi pintu luar istana dan jumlahnya terus bertambah,” terang juru bicara kepresidenan.

Ruby memejamkan matanya sesaat. Helaan napas berat dan panjang terdengar. "Warga juga ikut berdemo di depan istana?” 

“Iya,” jawab juru bicara kepresidenan singkat.

Ruby menghela napas dalam dan berat. “Baiklah,” balas Ruby yang kemudian menutup sambungan teleponnya.

Ruby berjalan mendekat, matanya menatap Demian gelisah. “Saya rasa Bapak harus keluar untuk menenangkan para warga,” kata Ruby memberi ide.

“Baiklah,” jawab Demian.

“Tunggu!” ucap Ruby menarik kecil kemeja Demian.

Ruby menggigit bibirnya. Matanya menatap Demian ragu-ragu dan penuh kegelisahan. Ia sudah bekerja cukup lama dengan Demian, dan selama itu belum pernah ia melakukan hal yang tidak bermartabat. Sebagai sekretaris kepresidenan ia sebisa mungkin menjaga sikapnya dengan baik agar tidak menimbulkan masalah. Namun, hari ini ia seperti tertampar kenyataan yang sulit dipercaya. Ia telah tidur dengan Demian!

“Apa yang akan Bapak katakan pada media?” tanya Ruby gelisah.

“Menurutmu apa yang harus saya katakan pada media? Haruskah saya berbohong tentang apa yang terjadi semalam,” jawab Demian begitu santai.

Ruby tidak bisa menjawab ucapan Demian, ia hanya menatap kosong Demian yang perlahan menghilang di balik pintu.

Sadar bahwa Demian sudah pergi meninggalkannya, Ruby bergegas keluar dari ruang kerja Demian dan menyusulnya. Di luar, warga sipil terlihat semakin banyak. Mereka berdesakan membawa tulisan, meminta Demian mundur dari kursi kepresidenan. 

Di depannya Demian terlihat tenang, langkah tegapnya seolah siap menyambut hujatan serta cacian dari para warganya.

“Mundur dari kursi kepresidenan!”

“Anda tidak pantas menjadi presiden!”

Demian menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di depannya. Saat ini ia sudah berdiri di depan gedung kepresidenan dengan penjagaan yang sangat ketat. Ruby ada di belakangnya, harap-harap cemas sekaligus memberikan dukungan.

“Selamat siang semuanya. Ijinkan saya menjawab semua pertanyaan kalian dan biarkan saya menjelaskan situasi yang sebenarnya,” kata Demian membuka percakapan.

Ruby memejamkan matanya sesaat, keringat dingin membanjiri tangannya. Ia takut jika Demian mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada yang tahu apa isi kepala Demian saat ini.

“Tolong jawab pertanyaan kami, apa benar Bapak bersama seorang wanita tadi malam?” tanya salah satu wartawan dengan lantang.

“Apa wanita itu kekasih Bapak?” tanya wartawan yang lainnya.

“Tolong jelaskan kepada kami tentang apa yang sebenarnya terjadi, Pak?”

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para wartawan dan warga sipil. Semuanya seolah sedang berlomba-lomba meminta jawaban atas keingintahuan mereka.

“Sebenarnya….”

BUUK….

Sebuah telur dilempar oleh salah satu warga sipil yang sedang berdemo ke arah presiden, beruntung telur itu tidak mengenai tubuh Demian.

Ruby yang panik karena situasi menjadi tidak kondusif langsung maju ke depan untuk melindungi Demian,  pasalnya beberapa warga sipil jadi ikut-ikutan melempar barang apapun yang mereka bawa. 

“Lindungi Bapak!” perintah Ruby dengan suara lantang.

Paspampres maju ke depan, mereka mencoba membawa Demian untuk pergi dari para wartawan dan warga sipil yang tak lagi kondusif. Namun, bukannya mengikuti arahan para paspampres, Demian justru menarik tangan Ruby dan memeluk tubuh wanita itu untuk melindungi Ruby yang terkena lemparan telur dan beberapa barang yang dibawa warga sipil.

Ruby yang tubuhnya dipeluk oleh Demian, seketika menegang. Matanya membulat, sebuah ingatan tentang malam itu seolah menjawab semua keraguannya. 

Semalam, keduanya memang tidur bersama. Dan yang lebih parahnya lagi, Ruby yang memulai semua itu!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Emak pipit
keren,.. ......... aku ikut berlayar diatas kapal Ruby dan Demian ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 26

    “Ti–tidur disini?” ulang Ruby. Ia mendorong pelan dada Demian, menatap pria itu malu-malu.“Tapi….”Ting tong.Suara bel membuyarkan fokus Ruby, wanita itu menatap ke arah pintu dengan pandangan panik. Keberadaan Demian tidak boleh diketahui oleh siapapun jika mereka ingin tetap menjalin hubungan.“Jangan memintaku untuk sembunyi!” kata Demian seolah tahu apa yang ada di pikiran Ruby.“Tapi….” Ting tong.Suara bel kembali terdengar, kali ini sepertinya Ruby tak memiliki pilihan lain selain menuruti kata-kata Demian. Pria itu sudah duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tak memiliki pilihan lain akhirnya Ruby membuka pintu apartemennya. Di depannya sudah ada Megan dengan sebotol anggur di tangannya. Sahabatnya itu tersenyum mengangkat apa yang dibawanya.“Waktunya gadis-gadis untuk bersenang-senang!” kata Megan yang langsung masuk ke dalam apartemen Ruby.“Oh may good!” Senyum lebar Megan seketika musnah saat melihat siapa yang saat ini sedang duduk santai di depan televisi dengan kak

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 25

    Demian tersenyum manis. Ia menangkup wajah Ruby. Matanya menatap sang pujaan hati dalam dan penuh perasaan. Sungguh jawaban yang diberikan oleh Ruby, membangkitkan dopaminnya.Wajah Demian mendekat hendak mencium bibir tipis Ruby, namun sayang suara perut Ruby yang tiba-tiba berbunyi membuatnya tersenyum.“Kamu belum makan?” Tanya Demian.Ruby menggigit bibirnya, sungguh rasanya malu sekali menatap Demian saat ini. Perutnya berbunyi disaat yang tidak tepat sama sekali. “Ayo kita makan malam di luar,” ajak Demian yang masih belum melepaskan dekapannya.“Makan di luar?” Ulang Ruby. “Bagaimana kalau kita makan disini saja? Aku juga baru membeli beberapa bahan masakan,” sambung Ruby menawarkan.Demian tersenyum manis. Ia membelai rambut Ruby yang dicepol asal. “Memangnya kamu bisa memasak?”“Apa kamu sedang meremehkanku. Aku sudah lama tinggal sendiri. Urusan masak memasak tentu bukan masalah besar. Lagipula kalau kita makan di luar, itu bukan ide yang bagus,” balas Ruby.Demian mengerut

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 24

    Ponsel Megan berdering tepat saat Ruby hendak mengatakan siapa pria yang tengah dipikirkannya saat ini.“Sebentar ya,” kata Megan mengangkat panggilan teleponnya.Ruby mengangguk, ia memilih melihat ponselnya, mengecek mungkinkah Demian mengiriminya pesan. Namun sayang apa yang diharapkannya tetap sama, ponsel itu kosong, tak ada satupun pesan dari Demian.Meletakkan kembali ponselnya di atas meja, Ruby lantas memilih berdiri, kepalanya menengadah ke atas sementara tangannya memegang pinggiran pembatas balkon. Sebuah pesawat lewat menarik perhatiannya. Pikirannya kembali melayang memikirkan Demian yang entah sedang apa sekarang. Pengaruh pria itu benar-benar telah mengusik pikirannya. Beberapa bulan yang lalu meski pernah mengalami hal seperti ini, ia tak pernah sedikitpun mengharapkan kabar dari pria itu, tapi sekarang ia sudah seperti seorang wanita yang sedang menunggu kabar dari kekasihnya.“Ruby maaf, aku harus segera pulang. Atasanku menelpon dan memintaku untuk kembali ke kant

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 23

    Ruby menatap kosong layar laptopnya. Sian ini setelah menikmati tidur paginya, wanita dengan rambut terurai itu memilih mengerjakan pekerjaannya di balkon sambil menikmati pemandangan langit cerah. Sesekali Ruby melirik jam yang ada di laptopnya, seharusnya DEmian sudah sampai, tapi pria itu sama sekali tak memberinya kabar.Meletakkan laptopnya, Ruby berdiri memegang pinggiran balkon, salah satu tangannya merogoh saku celana trainingnya, melihat ponselnya. Sepi tak ada notifikasi dari orang yang diharapkannya. Padahal sebelumnya Demian mengatakan bahwa pria itu akan mengabarinya jika sudah sampai.Mendesah jengah, Ruby memilih membuka pesan dari sahabatnya yang sejak tadi ia abaikan. Senyum tipis menghiasi wajah Ruby kala pesan bertuliskan ‘aku sudah di depan pintu’ tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, ia berjalan membukakan pintu untuk Megan. Senyum lebar menghiasi wajah Ruby, menyambut sahabatnya yang datang membawa buah tangan.“Baru bangun?” tebak Megan.Ruby mengangg

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 22

    Pipi Ruby memerah. Kata-kata Demian sukses membuatnya malu. “Tapi aku tidak sedang menggodamu,” cicit Ruby.Demian tersenyum tipis. Ia mengusap pipi Ruby yang memerah. “Cantik,” puji Demian.“Dem, bisa jangan seperti ini. Aku takut jika Ada yang masuk dan melihat kita seperti ini. Orang bisa salah paham,” cicit Ruby.Demian tersenyum. “Tidak akan ada yang masuk Ruby. Ini sudah malam, orang-orang pasti sudah tidur. Besok mereka harus bangun pagi untuk bersiap.”“Kalau begitu kamu juga harus segera istirahat Dem. Ini sudah malam dan….”“Tapi aku masih merindukanmu Ruby,” potong Demian yang sukses membuat Ruby terbatuk.Mendengar apa yang dikatakan Demian, pipi Ruby semakin memanas. Ia memalingkan wajahnya, malu menatap Demian lebih lama lagi. Jantungnya sudah bertalu hebat. Kata-kata serta pujian pria itu sungguh membuatnya tak bisa berkutik.“Tidurlah di sini malam ini,” pinta Demian.“Ti–tidur di sini?” ulang Ruby tergagap.Demian menganggukkan kepalanya. Pegangannya pada pinggang Rub

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 21

    Ruby berjalan kesana kemari. Sudah hampir setengah jam ia berjalan bimbang di taman belakang. Pesan yang dikirim oleh Demian menyisakan kegelisahan yang teramat di hatinya. Malam ini wanita yang masih mengenakan pakaian dinasnya itu memang berniat bermalam di istana, pasalnya esok hari ia dan yang lainnya akan terbang meninjau lokasi di salah satu kota yang cukup jauh. Berbekal telat yang sudah ia bulatkan, Ruby berjalan menuju ruang kerja Demian. Semakin lama menemui pria itu, kegelisahan hatinya semakin tak terkendali. Setidaknya dengan menemui Demian, ia tahu apa yang diinginkan oleh pria yang tengah gencar mendekatinya itu.Tok…tok…tok….“Masuk!”Suara sahutan dari dalam, mendorong Ruby masuk ke dalam. Helaan napas panjang dan berat membersamai langkah Ruby yang juga terasa berat. Di depannya Demian duduk di kursi kebesarannya dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Kemeja Demian sudah tidak lagi rapi, dua kancing di atasnya terbuka serta kemeja yang dikenakanny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status