Share

Bab 4

Author: Anggun_sari
last update publish date: 2026-08-20 09:45:17

Ruby terus menatap kursi dimana Demian duduk. Seingatnya kemarin pria itu mengatakan bahwa tak ada kursi kosong lagi untuk Vivian, namun nyatanya masih ada dua kursi kosong yang tidak ditempati oleh siapapun. Pagi ini dia sudah di dalam pesawat dan bersiap terbang ke salah satu desa terbelakang untuk melakukan blusukan. Demian memang kerap kali melakukan blusukan untuk mengetahui bagaimana kehidupan serta memantau harga pangan di pasar-pasar tradisional.

Tak ada hal penting yang dilakukannya saat di pesawat, Ruby hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat langit dan memikirkan tentang nasibnya. 

“Lima belas menit lagi kita akan mendarat, Pak,” kata salah satu paspampres yang duduk di samping Demian.

“Hem,” sahut Demian singkat. Ia sempat menoleh ke belakang untuk beberapa detik, melihat Ruby yang seakan tengah menjaga jarak dengannya.

Lima belas menit berlalu, Demian berdiri, bersiap untuk turun. Di depannya sudah ada kepala desa dan beberapa orang penting di desa yang dikunjunginya untuk menyambut kedatangannya.

Senyum penuh keramah tamahan diperlihatkan oleh Demian, ia sedikit menundukkan kepalanya kala seorang wanita maju ke depan mengalungkan bunga di lehernya, dan sekali lagi Demian melihat ke belakang, biasanya Ruby selalu berdiri tepat di belakangnya, namun tidak untuk kali ini. Wanita itu berdiri diantara barisan paspamres. Rasa kesal itu merayap mengisi relung hatinya, namun coba ia tahan.

“Selamat datang di desa kami, Pak. Kami sangat tersanjung atas kunjungan yang Bapak lakukan. Maaf jika ada kekurangan kami dalam hal penyambutan kami,” ucap kepala desa membangunkan Demian dari gejolak hatinya tentang Ruby.

Demian tersenyum ramah. “Saya juga sangat tersanjung atas sambutan yang Bapak berikan. Ini lebih dari cukup.”

“Terima kasih Pak. Bagaimana kalau kita menikmati makan siang yang sudah kami siapkan untuk Bapak, sebelum Bapak melakukan blusukan?” tawar sang kepala desa. “Kami sudah menyiapkan banyak makanan kesukaan Bapak dan beberapa menu tradisional dari desa kami,” tambah sang kepala desa.

“Boleh,” sahut Demian.

Demian melangkah, ia mengikuti kepala desa yang berjalan di sampingnya. Mereka terlibat perbincangan ringan sebelum menuju ke restoran sederhana yang tak jauh dari landasan pesawat terbang mereka. Hanya sepuluh menit dengan jalan kaki.

Demian tersenyum tipis, restoran yang dimasukinya kali ini sungguh sederhana, tempatnya terdiri dari sawung sawung yang nyaman. Kanan dan kirinya merupakan sawah yang asri.

“Silahkan duduk Pak,” ujar pak kepala desa.

Demian mengangguk, ia segera duduk. Di samping kanan dan kirinya berdiri paspampres yang menjaganya seperti biasa, sementara Ruby, ia mengambil tempat di sisi Demian. Seperti biasa ia akan bertugas mencicipi makanan yang hendak disantap oleh Demian. Sebenarnya ini bukan tugasnya, namun sejak Demian keracunan makanan, ia menyodorkan diri untuk mencicipi setiap makanan yang akan dimakan oleh orang nomor satu itu.

Melihat Ruby yang duduk di sampingnya, Demian mengulum senyum tipisnya. Untuk beberapa detik tatapannya terus tertuju pada wanita yang saat ini tengah mencicipi makanan yang telah disajikan di depannya.

“Silahkan menikmati sajiannya Pak,” kata Ruby penuh sopan santun.

Demian menganggukkan kepalanya. “Maaf, ini sudah menjadi semacam kebiasaan. Sekretaris saya akan selalu melakukan ini sejak saya keracunan makanan satu tahun yang lalu,” jelas Demian ketika kepala desa dan beberapa stafnya menatap penuh rasa khawatir.

Kepala desa tertawa renyah. “Oh…ternyata begitu. Kalau begitu mari kita nikmati sajian khusus ini.”

“Baik,” balas Demian.

Semua orang yang ada di restoran siang ini menikmati sajian yang telah disiapkan tak terkecuali para paspampres. Tawa renyah serta guyonan-guyonan ringan memenuhi restoran. Kebersamaan itu terhenti saat jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Demian perlu mengistirahatkan tubuhnya sebelum nanti malam mendatangi pesta yang diadakan setiap tahun sekali di desa yang sedang dikunjunginya saat ini.

“Terima kasih untuk sambutan serta makan siang hari ini. Masakan di sini sungguh enak dan menggugah selera saya,” ucap Demian ramah.

Kepala desa tertawa renyah. “Saya sungguh senang jika sambutan kecil ini bisa membuat Bapak nyaman dan senang.”

Demian menarik sudut bibirnya hingga membentuk garis melengkung. “Desa ini akan menjadi salah satu desa favorit saya untuk berkunjung lagi. Di sini suasananya masih asri dan nyaman.”

Kepala desa tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangan sebelum berpisah dengan Demian. “Sampai jumpa nanti. Semoga acara nanti malam juga bisa menyenangkan hati Anda, Pak,” ujar pak kepala desa.

“Tentu,” jawab Demian. “Sampai jumpa nanti malam, kami pamit undur diri terlebih dahulu,” imbuh Demian.

Demian segera meninggalkan restoran dan berjalan menuju ke mobil yang sudah disiapkan untuk mengantarkan mereka ke hotel yang sudah disiapkan. Tangan Demian bergerak dengan cepat menyambar tangan Ruby agar wanita itu tidak lagi menghindarinya.

“Masuk!” perintah Demian saat Ruby menatapnya dengan penuh tanya.

“Tapi….”

Demian menghela napas beratnya. “Berhenti mengatakan tapi jika sedang bersamaku Ruby. Sebaiknya kamu segera masuk ke dalam mobil. Orang-orang sudah melihata kita dengan tatapan penuh tanya.”

Ruby menggigit bibirnya. Ia tak memiliki pilihan lain selain masuk ke dalam mobil yang sama dengan Demian. Ia memilih duduk tenang dan mengeluarkan tablet, membuka jadwal dan mengecek kembali apa saja yang akan dilakukan selama mereka ada di desa ini. Sebenarnya ini dilakukannya untuk menghindari pembicaraan dengan Demian. Ia ingin menarik garis agar keduanya tidak terlibat terlalu jauh. 

Hingga mobil berjalan, Ruby masih terlihat menyibukkan diri. Beberapa kai terdengar helaan napas dari Demian. Ruby sama sekai tak berani menolehkan kepalanya. Perjalanan mereka benar-benar sunyi senyap sebelum Demian membuka mulutnya.

“Apa kamu sedang menghindariku?” Tangan Demian menggenggam pergelangan tangan Ruby, membuat wanita itu menoleh menatap Demian.

“Kita sudah sampai, Pak,” terang supir yang bertugas mengantarkan Demian.

Demian menghela napas panjang dan beratnya. Belum juga mendapatkan jawaban dari Ruby, ia sudah harus mengakhiri pembicaraan yang bahkan belum dimulai itu. Dengan sedikit kesal, ia melepaskan genggamannya dan keluar dari mobil diikuti oleh Ruby.

Beberapa pegawai hotel terlihat berdiri di samping kanan dan kiri koridor, menyambut kedatangan Demian. Dengan senyum ramahnya Demian berjalan melewati mereka, langkahnya berhenti tepat di depan resepsionis.

“Silahkan beristirahat dengan nyaman dan nyenyak, Pak, ini kunci kamar yang sudah kami siapkan,” ucap salah satu resepsionis dengan sopan.

Demian mengerutkan alisnya saat mendapatkan sembilan kunci kamar, sementara ia membutuhkan satu lagi kamar untuk Ruby. Ruby adalah satu-satunya wanita yang ikut dengan rombongannya, tidak mungkin ia menyatukan tempat tidur Ruby dengan para paspampres dan rombongan lainnya.

“Maaf, bisa tolong siapkan satu kamar lagi?” pinta Demian pada sang resepsionis.

“Satu kamar lagi?” ulang sang resepsionis. “Maaf, tapi kamar di hotel kami sudah penuh semua Pak,” sambungnya.

“Penuh?” ujar Demian. Ia menatap Ruby yang terlihat gelisah. 

Demian menatap satu persatu rombongannya, ia kemudian memerintahkan semuanya masuk ke kamar mereka masing-masing. Sementara Ruby masih tinggal bersama Demian, menunggu pria itu memberikan solusi dimana ia akan beristirahat malam ini.

“Malam ini kamu tidur satu kamar denganku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 6

    Demian duduk di barisan paling depan bersama dengan kepala desa menyaksikan tari-tarian dan pertunjukkan lainnya yang diadakan oleh desa yang tengah dikunjunginya. Acara ini dilakukan setiap tahunnya menjelang panen raya. Di belakang Demian berdiri Ruby dengan wajah lelahnya. Seharian ini ia sama sekali tidak bisa beristirahat dengan benar. Sekamar dengan Demian membuatnya terus was-was, meski orang nomor satu itu tidak melakukan apapun.Acara berlangsung begitu meriah, Demian beberapa kali bertepuk tangan terkesima oleh pertunjukan yang dilihatnya. Beberapa kali Demian terlibat percakapan dengan kepala desa, menanyakan bagaimana desa ini bisa begitu maju meski terisolasi dari dunia luar. Untuk sampai ke desa ini perlu effort yang begitu besar. Selain wilayah permukiman yang sulit dijangkau dan minimnya sarana transportasi, desa ini juga terletak di wilayah geografis yang tidak strategis.“Silahkan dinikmati, ini adalah arak beras buatan desa kami. Saya jamin Anda pasti menyukainya,”

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 5

    Ruby berdehem beberapa kali, kegugupan menyelimuti hatinya ketika kakinya melangkah masuk ke kamar bersama Demian. Lamat-lamat ia melihat Demian yang saat ini melepas jasnya. Pria itu juga terlihat melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa. Tangannya menutupi wajahnya. Pria itu terlihat lelah.“Mandilah dulu!” kata Demian dengan tangan yang masih menutupi wajahnya. Ia terlalu lelah dan mengantuk. Semalam ia hanya tidur kurang dari dua jam. “Ba–baik,” sahut Ruby tergagap.Tanpa menunggu diperintah dua kali, Ruby segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya ke pintu untuk beberapa saat sebelum menanggalkan satu persatu pakaiannya. Kakinya yang jenjang melangkah pelan, tangannya bergerak menyalakan shower. Untuk beberapa saat ia memejamkan mata, menikmati tetesan-tetesan air yang keluar dari shower membasahi tubuhnya.Ruby mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Tidur satu kamar dengan Demian sungguh mengganggu hatinya. Ia takut jika kejadian beberapa

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 4

    Ruby terus menatap kursi dimana Demian duduk. Seingatnya kemarin pria itu mengatakan bahwa tak ada kursi kosong lagi untuk Vivian, namun nyatanya masih ada dua kursi kosong yang tidak ditempati oleh siapapun. Pagi ini dia sudah di dalam pesawat dan bersiap terbang ke salah satu desa terbelakang untuk melakukan blusukan. Demian memang kerap kali melakukan blusukan untuk mengetahui bagaimana kehidupan serta memantau harga pangan di pasar-pasar tradisional.Tak ada hal penting yang dilakukannya saat di pesawat, Ruby hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat langit dan memikirkan tentang nasibnya. “Lima belas menit lagi kita akan mendarat, Pak,” kata salah satu paspampres yang duduk di samping Demian.“Hem,” sahut Demian singkat. Ia sempat menoleh ke belakang untuk beberapa detik, melihat Ruby yang seakan tengah menjaga jarak dengannya.Lima belas menit berlalu, Demian berdiri, bersiap untuk turun. Di depannya sudah ada kepala desa dan beberapa orang penting di desa yang dikunjunginy

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 3

    Ruby menghela napas berat beberapa kali. Matanya menatap layar komputer namun pikirannya melayang kemana-mana. Surat pengunduran diri sudah dibuatnya, alasannya tentu sudah jelas. Semua karena ia merasa malu. Tadi pagi-pagi sekali ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri itu, meski tidak langsung diberikannya pada Demian.Rasa sesal dan malu terus memenuhi relung hatinya, karena terlalu mabuk ia lalai menjaga dirinya dan berakhir tidur dengan Demian—orang nomor satu di negaranya. Harusnya ia tidak melakukan itu, harusnya ia menjaga dan melindungi Demian. Bruak! Ruby terperanjat, matanya menatap lurus Demian yang baru saja masuk ke ruang kerjanya. Wajah atasannya itu terlihat kaku dan dipenuhi amarah.“Apa maksudnya ini?!” Demian melemparkan kertas putih ke meja Ruby.“Haruskah aku menerimanya dari orang lain? Tidak bisakah kamu memberikannya padaku secara langsung, atau setidaknya kamu merundingkan ini denganku terlebih dahulu. Kita masih memiliki kontrak kerja sama yang belum se

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 2

    “Kamu. Wanita yang semalam tidur denganku adalah kamu Ruby." Ruby melongo, otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Demian. "Sa–saya?” ucap Ruby terbata.“Kamu benar-benar tidak ingat?" Sahut Demian. "Semalam kita melakukannya dan saya terpaksa pulang jam tiga dini hari karena masih harus mengerjakan beberapa tugas. Tapi saya sudah meninggalkan catatan untuk kamu,” imbuh Demian panjang lebar.Tubuh Ruby membeku, hatinya masih meragukan tentang apa yang dikatakan oleh Demian, dan dia berharap jika apa yang dikatakan Demian hanya mimpi. Bagaimana bisa dia tidur dengan orang nomor satu di negerinya dan berakhir dengan melupakan itu semua."Catatan? Catatan apa, Pak? Saya sama sekali tidak melihat ada catatan?” tanya Ruby. Bangun tidur tadi dia sama sekali tidak melihat catatan yang dikatakan oleh Demian.Demian memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing saat melihat reaksi Ruby. "Saya meninggalkan catatan di atas nakas samping tempat tidur. Saya menuliskan p

  • Sst, Pelan-Pelan Pak Presiden!   Bab 1

    'Presiden Demian Tertangkap Keluar Hotel Bersama Seorang Wanita!'Ruby yang baru menegak kopinya seketika tersedak saat membaca berita terkini pagi ini. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca pagi ini.Bagaimana bisa hal ini terjadi?! Bukankah Demian langsung pulang setelah mengantarnya ke apartemen?Ia merutuki dirinya sendiri. Sebagai sekretaris seorang presiden seharusnya ia bisa menjaga dirinya dengan baik dan mengutamakan keselamatan presiden, bukan malah minum dan mabuk sampai lupa segalanya.Ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ruby langsung menyambar kunci mobilnya yang ia letakkan di atas nakas. Sebuah mobil hitam dengan plat merah ia kendarai membelah jalanan ibu kota yang cukup padat. Tujuannya saat ini adalah istana negara.Beberapa pers terlihat berkumpul di depan istana negara, sepertinya menunggu juru bicara kepresidenan untuk melakukan konferensi pers. Ruby mengabaikannya dan langsung melesat masuk ke dalam istana negara. “Dimana bapak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status