LOGINRuby terus menatap kursi dimana Demian duduk. Seingatnya kemarin pria itu mengatakan bahwa tak ada kursi kosong lagi untuk Vivian, namun nyatanya masih ada dua kursi kosong yang tidak ditempati oleh siapapun. Pagi ini dia sudah di dalam pesawat dan bersiap terbang ke salah satu desa terbelakang untuk melakukan blusukan. Demian memang kerap kali melakukan blusukan untuk mengetahui bagaimana kehidupan serta memantau harga pangan di pasar-pasar tradisional.
Tak ada hal penting yang dilakukannya saat di pesawat, Ruby hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat langit dan memikirkan tentang nasibnya. “Lima belas menit lagi kita akan mendarat, Pak,” kata salah satu paspampres yang duduk di samping Demian. “Hem,” sahut Demian singkat. Ia sempat menoleh ke belakang untuk beberapa detik, melihat Ruby yang seakan tengah menjaga jarak dengannya. Lima belas menit berlalu, Demian berdiri, bersiap untuk turun. Di depannya sudah ada kepala desa dan beberapa orang penting di desa yang dikunjunginya untuk menyambut kedatangannya. Senyum penuh keramah tamahan diperlihatkan oleh Demian, ia sedikit menundukkan kepalanya kala seorang wanita maju ke depan mengalungkan bunga di lehernya, dan sekali lagi Demian melihat ke belakang, biasanya Ruby selalu berdiri tepat di belakangnya, namun tidak untuk kali ini. Wanita itu berdiri diantara barisan paspamres. Rasa kesal itu merayap mengisi relung hatinya, namun coba ia tahan. “Selamat datang di desa kami, Pak. Kami sangat tersanjung atas kunjungan yang Bapak lakukan. Maaf jika ada kekurangan kami dalam hal penyambutan kami,” ucap kepala desa membangunkan Demian dari gejolak hatinya tentang Ruby. Demian tersenyum ramah. “Saya juga sangat tersanjung atas sambutan yang Bapak berikan. Ini lebih dari cukup.” “Terima kasih Pak. Bagaimana kalau kita menikmati makan siang yang sudah kami siapkan untuk Bapak, sebelum Bapak melakukan blusukan?” tawar sang kepala desa. “Kami sudah menyiapkan banyak makanan kesukaan Bapak dan beberapa menu tradisional dari desa kami,” tambah sang kepala desa. “Boleh,” sahut Demian. Demian melangkah, ia mengikuti kepala desa yang berjalan di sampingnya. Mereka terlibat perbincangan ringan sebelum menuju ke restoran sederhana yang tak jauh dari landasan pesawat terbang mereka. Hanya sepuluh menit dengan jalan kaki. Demian tersenyum tipis, restoran yang dimasukinya kali ini sungguh sederhana, tempatnya terdiri dari sawung sawung yang nyaman. Kanan dan kirinya merupakan sawah yang asri. “Silahkan duduk Pak,” ujar pak kepala desa. Demian mengangguk, ia segera duduk. Di samping kanan dan kirinya berdiri paspampres yang menjaganya seperti biasa, sementara Ruby, ia mengambil tempat di sisi Demian. Seperti biasa ia akan bertugas mencicipi makanan yang hendak disantap oleh Demian. Sebenarnya ini bukan tugasnya, namun sejak Demian keracunan makanan, ia menyodorkan diri untuk mencicipi setiap makanan yang akan dimakan oleh orang nomor satu itu. Melihat Ruby yang duduk di sampingnya, Demian mengulum senyum tipisnya. Untuk beberapa detik tatapannya terus tertuju pada wanita yang saat ini tengah mencicipi makanan yang telah disajikan di depannya. “Silahkan menikmati sajiannya Pak,” kata Ruby penuh sopan santun. Demian menganggukkan kepalanya. “Maaf, ini sudah menjadi semacam kebiasaan. Sekretaris saya akan selalu melakukan ini sejak saya keracunan makanan satu tahun yang lalu,” jelas Demian ketika kepala desa dan beberapa stafnya menatap penuh rasa khawatir. Kepala desa tertawa renyah. “Oh…ternyata begitu. Kalau begitu mari kita nikmati sajian khusus ini.” “Baik,” balas Demian. Semua orang yang ada di restoran siang ini menikmati sajian yang telah disiapkan tak terkecuali para paspampres. Tawa renyah serta guyonan-guyonan ringan memenuhi restoran. Kebersamaan itu terhenti saat jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Demian perlu mengistirahatkan tubuhnya sebelum nanti malam mendatangi pesta yang diadakan setiap tahun sekali di desa yang sedang dikunjunginya saat ini. “Terima kasih untuk sambutan serta makan siang hari ini. Masakan di sini sungguh enak dan menggugah selera saya,” ucap Demian ramah. Kepala desa tertawa renyah. “Saya sungguh senang jika sambutan kecil ini bisa membuat Bapak nyaman dan senang.” Demian menarik sudut bibirnya hingga membentuk garis melengkung. “Desa ini akan menjadi salah satu desa favorit saya untuk berkunjung lagi. Di sini suasananya masih asri dan nyaman.” Kepala desa tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangan sebelum berpisah dengan Demian. “Sampai jumpa nanti. Semoga acara nanti malam juga bisa menyenangkan hati Anda, Pak,” ujar pak kepala desa. “Tentu,” jawab Demian. “Sampai jumpa nanti malam, kami pamit undur diri terlebih dahulu,” imbuh Demian. Demian segera meninggalkan restoran dan berjalan menuju ke mobil yang sudah disiapkan untuk mengantarkan mereka ke hotel yang sudah disiapkan. Tangan Demian bergerak dengan cepat menyambar tangan Ruby agar wanita itu tidak lagi menghindarinya. “Masuk!” perintah Demian saat Ruby menatapnya dengan penuh tanya. “Tapi….” Demian menghela napas beratnya. “Berhenti mengatakan tapi jika sedang bersamaku Ruby. Sebaiknya kamu segera masuk ke dalam mobil. Orang-orang sudah melihata kita dengan tatapan penuh tanya.” Ruby menggigit bibirnya. Ia tak memiliki pilihan lain selain masuk ke dalam mobil yang sama dengan Demian. Ia memilih duduk tenang dan mengeluarkan tablet, membuka jadwal dan mengecek kembali apa saja yang akan dilakukan selama mereka ada di desa ini. Sebenarnya ini dilakukannya untuk menghindari pembicaraan dengan Demian. Ia ingin menarik garis agar keduanya tidak terlibat terlalu jauh. Hingga mobil berjalan, Ruby masih terlihat menyibukkan diri. Beberapa kai terdengar helaan napas dari Demian. Ruby sama sekai tak berani menolehkan kepalanya. Perjalanan mereka benar-benar sunyi senyap sebelum Demian membuka mulutnya. “Apa kamu sedang menghindariku?” Tangan Demian menggenggam pergelangan tangan Ruby, membuat wanita itu menoleh menatap Demian. “Kita sudah sampai, Pak,” terang supir yang bertugas mengantarkan Demian. Demian menghela napas panjang dan beratnya. Belum juga mendapatkan jawaban dari Ruby, ia sudah harus mengakhiri pembicaraan yang bahkan belum dimulai itu. Dengan sedikit kesal, ia melepaskan genggamannya dan keluar dari mobil diikuti oleh Ruby. Beberapa pegawai hotel terlihat berdiri di samping kanan dan kiri koridor, menyambut kedatangan Demian. Dengan senyum ramahnya Demian berjalan melewati mereka, langkahnya berhenti tepat di depan resepsionis. “Silahkan beristirahat dengan nyaman dan nyenyak, Pak, ini kunci kamar yang sudah kami siapkan,” ucap salah satu resepsionis dengan sopan. Demian mengerutkan alisnya saat mendapatkan sembilan kunci kamar, sementara ia membutuhkan satu lagi kamar untuk Ruby. Ruby adalah satu-satunya wanita yang ikut dengan rombongannya, tidak mungkin ia menyatukan tempat tidur Ruby dengan para paspampres dan rombongan lainnya. “Maaf, bisa tolong siapkan satu kamar lagi?” pinta Demian pada sang resepsionis. “Satu kamar lagi?” ulang sang resepsionis. “Maaf, tapi kamar di hotel kami sudah penuh semua Pak,” sambungnya. “Penuh?” ujar Demian. Ia menatap Ruby yang terlihat gelisah. Demian menatap satu persatu rombongannya, ia kemudian memerintahkan semuanya masuk ke kamar mereka masing-masing. Sementara Ruby masih tinggal bersama Demian, menunggu pria itu memberikan solusi dimana ia akan beristirahat malam ini. “Malam ini kamu tidur satu kamar denganku.”“Ti–tidur disini?” ulang Ruby. Ia mendorong pelan dada Demian, menatap pria itu malu-malu.“Tapi….”Ting tong.Suara bel membuyarkan fokus Ruby, wanita itu menatap ke arah pintu dengan pandangan panik. Keberadaan Demian tidak boleh diketahui oleh siapapun jika mereka ingin tetap menjalin hubungan.“Jangan memintaku untuk sembunyi!” kata Demian seolah tahu apa yang ada di pikiran Ruby.“Tapi….” Ting tong.Suara bel kembali terdengar, kali ini sepertinya Ruby tak memiliki pilihan lain selain menuruti kata-kata Demian. Pria itu sudah duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tak memiliki pilihan lain akhirnya Ruby membuka pintu apartemennya. Di depannya sudah ada Megan dengan sebotol anggur di tangannya. Sahabatnya itu tersenyum mengangkat apa yang dibawanya.“Waktunya gadis-gadis untuk bersenang-senang!” kata Megan yang langsung masuk ke dalam apartemen Ruby.“Oh may good!” Senyum lebar Megan seketika musnah saat melihat siapa yang saat ini sedang duduk santai di depan televisi dengan kak
Demian tersenyum manis. Ia menangkup wajah Ruby. Matanya menatap sang pujaan hati dalam dan penuh perasaan. Sungguh jawaban yang diberikan oleh Ruby, membangkitkan dopaminnya.Wajah Demian mendekat hendak mencium bibir tipis Ruby, namun sayang suara perut Ruby yang tiba-tiba berbunyi membuatnya tersenyum.“Kamu belum makan?” Tanya Demian.Ruby menggigit bibirnya, sungguh rasanya malu sekali menatap Demian saat ini. Perutnya berbunyi disaat yang tidak tepat sama sekali. “Ayo kita makan malam di luar,” ajak Demian yang masih belum melepaskan dekapannya.“Makan di luar?” Ulang Ruby. “Bagaimana kalau kita makan disini saja? Aku juga baru membeli beberapa bahan masakan,” sambung Ruby menawarkan.Demian tersenyum manis. Ia membelai rambut Ruby yang dicepol asal. “Memangnya kamu bisa memasak?”“Apa kamu sedang meremehkanku. Aku sudah lama tinggal sendiri. Urusan masak memasak tentu bukan masalah besar. Lagipula kalau kita makan di luar, itu bukan ide yang bagus,” balas Ruby.Demian mengerut
Ponsel Megan berdering tepat saat Ruby hendak mengatakan siapa pria yang tengah dipikirkannya saat ini.“Sebentar ya,” kata Megan mengangkat panggilan teleponnya.Ruby mengangguk, ia memilih melihat ponselnya, mengecek mungkinkah Demian mengiriminya pesan. Namun sayang apa yang diharapkannya tetap sama, ponsel itu kosong, tak ada satupun pesan dari Demian.Meletakkan kembali ponselnya di atas meja, Ruby lantas memilih berdiri, kepalanya menengadah ke atas sementara tangannya memegang pinggiran pembatas balkon. Sebuah pesawat lewat menarik perhatiannya. Pikirannya kembali melayang memikirkan Demian yang entah sedang apa sekarang. Pengaruh pria itu benar-benar telah mengusik pikirannya. Beberapa bulan yang lalu meski pernah mengalami hal seperti ini, ia tak pernah sedikitpun mengharapkan kabar dari pria itu, tapi sekarang ia sudah seperti seorang wanita yang sedang menunggu kabar dari kekasihnya.“Ruby maaf, aku harus segera pulang. Atasanku menelpon dan memintaku untuk kembali ke kant
Ruby menatap kosong layar laptopnya. Sian ini setelah menikmati tidur paginya, wanita dengan rambut terurai itu memilih mengerjakan pekerjaannya di balkon sambil menikmati pemandangan langit cerah. Sesekali Ruby melirik jam yang ada di laptopnya, seharusnya DEmian sudah sampai, tapi pria itu sama sekali tak memberinya kabar.Meletakkan laptopnya, Ruby berdiri memegang pinggiran balkon, salah satu tangannya merogoh saku celana trainingnya, melihat ponselnya. Sepi tak ada notifikasi dari orang yang diharapkannya. Padahal sebelumnya Demian mengatakan bahwa pria itu akan mengabarinya jika sudah sampai.Mendesah jengah, Ruby memilih membuka pesan dari sahabatnya yang sejak tadi ia abaikan. Senyum tipis menghiasi wajah Ruby kala pesan bertuliskan ‘aku sudah di depan pintu’ tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, ia berjalan membukakan pintu untuk Megan. Senyum lebar menghiasi wajah Ruby, menyambut sahabatnya yang datang membawa buah tangan.“Baru bangun?” tebak Megan.Ruby mengangg
Pipi Ruby memerah. Kata-kata Demian sukses membuatnya malu. “Tapi aku tidak sedang menggodamu,” cicit Ruby.Demian tersenyum tipis. Ia mengusap pipi Ruby yang memerah. “Cantik,” puji Demian.“Dem, bisa jangan seperti ini. Aku takut jika Ada yang masuk dan melihat kita seperti ini. Orang bisa salah paham,” cicit Ruby.Demian tersenyum. “Tidak akan ada yang masuk Ruby. Ini sudah malam, orang-orang pasti sudah tidur. Besok mereka harus bangun pagi untuk bersiap.”“Kalau begitu kamu juga harus segera istirahat Dem. Ini sudah malam dan….”“Tapi aku masih merindukanmu Ruby,” potong Demian yang sukses membuat Ruby terbatuk.Mendengar apa yang dikatakan Demian, pipi Ruby semakin memanas. Ia memalingkan wajahnya, malu menatap Demian lebih lama lagi. Jantungnya sudah bertalu hebat. Kata-kata serta pujian pria itu sungguh membuatnya tak bisa berkutik.“Tidurlah di sini malam ini,” pinta Demian.“Ti–tidur di sini?” ulang Ruby tergagap.Demian menganggukkan kepalanya. Pegangannya pada pinggang Rub
Ruby berjalan kesana kemari. Sudah hampir setengah jam ia berjalan bimbang di taman belakang. Pesan yang dikirim oleh Demian menyisakan kegelisahan yang teramat di hatinya. Malam ini wanita yang masih mengenakan pakaian dinasnya itu memang berniat bermalam di istana, pasalnya esok hari ia dan yang lainnya akan terbang meninjau lokasi di salah satu kota yang cukup jauh. Berbekal telat yang sudah ia bulatkan, Ruby berjalan menuju ruang kerja Demian. Semakin lama menemui pria itu, kegelisahan hatinya semakin tak terkendali. Setidaknya dengan menemui Demian, ia tahu apa yang diinginkan oleh pria yang tengah gencar mendekatinya itu.Tok…tok…tok….“Masuk!”Suara sahutan dari dalam, mendorong Ruby masuk ke dalam. Helaan napas panjang dan berat membersamai langkah Ruby yang juga terasa berat. Di depannya Demian duduk di kursi kebesarannya dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Kemeja Demian sudah tidak lagi rapi, dua kancing di atasnya terbuka serta kemeja yang dikenakanny







