Share

Bab 454 Bukan Salahmu!

last update publish date: 2026-09-18 16:31:55
“Sebenarnya males banget ke rumah sakit, Sayang.”

Di dalam mobil, Karin menggerutu. Mereka hanya cuti satu hari. Belum puas honeymoon.

“Cuti lagi saja,” jawab Arlan sambil membelai lembut pipi Karin.

Huft!

Mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Pagi itu, suasana koridor rumah sakit terasa berbeda bagi Karin.

Langkah kakinya yang berbalut sepatu flat putih terdengar berirama, beriringan dengan langkah tegap Arlan.

Tidak ada lagi jarak yang sengaja dibuat, tidak ada lagi kecemasan aka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
deviaprilia_rahayu
dasar Dimas GE***, waduh jgn Ampe ada gangguan kebahagian Arlan dan Karin yg baru semalam resmi🫢
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 576 Tolong Aku!

    “Sudah bangun?” sapa Aldi. Suaranya terdengar begitu lembut, berbanding terbalik dengan kekejaman yang ia lakukan beberapa jam lalu.Sebelum Silvi sempat menjauh, Aldi mencondongkan tubuhnya ke depan. Dengan gerakan yang teramat perlahan namun penuh dominasi, ia mengecup puncak kepala Silvi yang berambut kusut.Sentuhan itu membuat Silvi memejamkan mata erat-erat, menahan pekikan jijik yang tertahan di tenggorokannya.Aldi mundur sedikit, menatap wajah dokter muda di hadapannya yang kini tampak pucat pasi dengan sisa air mata yang mengering.Pria itu menyunggingkan senyum tipis, mengira bahwa keterdiaman Silvi hanyalah bentuk dari rasa malu yang wajar dirasakan seorang wanita setelah malam pertama mereka.Di mata Aldi, Silvi bukan lagi sekedar tantangan semalam, wanita ini telah menjelma menjadi sesuatu yang ingin ia miliki secara permanen.“Aku tau kamu pasti malu, Silvi. Wajar!” ucap Aldi, jemarinya yang kekar bergerak mengelus helai rambut Silvi dengan gerakan protektif.“Tapi kamu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 575 Ternoda Tanpa Ampun

    Silvi ingin berteriak.Ia bukan pelacur! Ia memang bukan wanita yang benar tapi tidak seperti ini, Silvi tidak mau.Silvi ingin menggerakkan tangannya untuk mencakar, menepis atau setidaknya menjauh.Namun, obat tidur dosis tinggi yang dicekoki Rion telah memutus jembatan antara otak dan tubuhnya. Ia lumpuh dalam raganya sendiri.Suara langkah kaki Rion yang menjauh dan bunyi pintu yang mengunci secara otomatis menjadi lonceng kematian bagi harga dirinya.Rion benar-benar telah pergi, meninggalkannya sendirian di dalam sangkar pemangsa.Di dalam kamar suite yang luas itu, kini hanya ada Silvi dan Aldi.“Hehh!”Pendar lampu kamar diredupkan, menyisakan pencahayaan kuning temaram yang menciptakan atmosfer mencekam.Aldi berdiri di tepi ranjang, melepaskan jam tangan mewahnya lalu meletakkannya di atas nakas dengan bunyi dentang yang dingin.Matanya menatap tubuh Silvi yang terbaring lemas dengan gaun malam hitam yang masih melekat.Senyum kemenangan terukir di wajah pria berusia tiga pu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 574 Percaya Pada Orang Yang Salah

    Di mata Rion, harga dirinya ternyata setara dengan sebuah mobil sport.Silvi menyunggingkan senyum, sebuah senyuman paling getir dan penuh luka yang pernah terukir di wajahnya. Dengan perlahan namun tegas, ia menepis tangan Rion dari bahunya.“Ferrari, Sayang?” bisik Silvi, suaranya mendadak tenang, namun dingin sedingin es.“Jadi, segitu harga diriku di mata kamu?”Silvi berdiri dari kursinya. Ia mengambil tas tangan kecilnya yang tergeletak di atas meja.Untuk terakhir kalinya, ia menatap Rion dengan pandangan kosong, seolah pria di hadapannya tak lebih dari orang asing yang tak sengaja ia temui di jalan.“Nikmati malammu di Paris, Rion,” ucap Silvi tenang, membalikkan badannya.“Dan silahkan tidur sendiri dengan Ferrarimu!”Tanpa menoleh lagi, Silvi melangkah lebar meninggalkan meja makan mewah itu. Gaun hitamnya berkibar pelan seiring langkah kaki yang mantap menembus pintu keluar restoran, meninggalkan Rion yang terpaku sendirian dalam kepanikan, tepat saat sosok Aldi mulai berja

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 573 Aku Bukan Pelacur!

    Selesai mengucapkan kalimat penuh makna tersebut, Aldi condong ke arah Rion.Suaranya berubah menjadi bisikan setengah bergolak yang tajam.“Rion, wanita di sebelahmu ini benar-benar luar biasa. Pandai sekali kamu memilih 'teman' untuk perjalanan dinas ke Paris ini. Bagaimana kalau malam ini dia menemaniku? Kamar suite saya di lantai atas sangat sepi.”Rion sempat tertegun.Pak Aldi biasanya tidak pernah berebut wanita dengannya karena biasanya saat Rion menawari ia wanita cantik dan seksi saja, Pak Aldi tidak pernah tertarik.Dan kali ini, Pak Aldi adalah orang yang tidak boleh Rion singgung, klien paling berpengaruh dalam hidupnya.Senyum profesional yang sejak tadi ia pasang mendadak membeku di sudut bibir.Aldi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kekuasaan mutlak. Ia tahu Rion tidak akan bisa menolaknya.“Saya ke toilet sebentar. Buat dia setuju, Rion. Kamu tau seberapa besar nilai proyek merger kita bulan depan, kan? Jangan kecewakan saya!”Di balik meja, jemari Rio

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 572 Prinsip Yang Mematik Gairah

    “Makasih ya, Sayang. Aku seneng banget liburan kita kali ini,” ucap Silvi melingkarkan tangannya ke leher Rion.Malam ini, Silvi mengenakan gaun terbaiknya. Dari balik dinding kaca restoran fine dining yang bertengger di salah satu sudut premium kota dan Menara Eiffel memancarkan kerlip keemasan yang memantul indah pada permukaan gelas-gelas kristal.“Aku juga senang kalau kamu happy,” jawab Rion merapikan anak rambut Silvi ke daun telinganya. Alunan musik jazz berirama lambat mengalun, mengiringi denting sendok perak dan tawa samar kaum borjuis yang memenuhi ruangan.Bagi Silvi, malam ini seharusnya menjadi puncak perayaan. Setelah bertahun-tahun hidupnya tersedot oleh jadwal koas yang brutal, malam-malam tanpa tidur, aroma antiseptik rumah sakit dan tekanan mental yang nyaris membuatnya menyerah, ia akhirnya bisa bernapas.Juga akhirnya ia menyerah pada kisah yang tidak pernah dimulai.Ia telah lulus.Dan Rion, kekasihnya sekarang, membawanya terbang ke Eropa untuk merayakan kebeba

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 571 Gairah Di Nihi Sumba

    “Sayang, kamu senang?” tanya Moreno setelah selesai makan malam terakhir dengan Arlan dan Karin.Pertanyaan yang sering sekali Moreno lontarkan, ia seolah ingin mendapatkan validasi atas semua kerja kerasnya.Sepertinya susah sekali membuat wanita disampingnya ini bahagia, padahal Moreno sudah menuruti semua yang Laura inginkan. Bahkan untuk mendapatkan senyumannya saja, Moreno terpaksa mengemis. “Iya senang, Moreno.” Laura menatap Moreno dengan lembut, usaha untuk kabur saat ini belum bisa dilakukan Laura, penjagaan terhadap dirinya begitu ketat.“Apa hadiah untukku?” tanya Moreno dengan lembut sambil mengusap bibir Laura. Laura tahu kalau Moreno ingin hadiah sesuatu yang menyenangkan hatinya, Laura mendekatkan dirinya dan mengecup lembut bibir Moreno. Moreno tersenyum saat bibir itu mendarat tempat di bawah bibirnya. “Terima kasih, Sayang.” Moreno mengusap pipi Laura dengan sangat lembut, dulu ia begitu senang memprovokasi Laura, membuat Laura cemburu dengan wanita-wanita yang me

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status