LOGIN“Sudah bangun?” sapa Aldi. Suaranya terdengar begitu lembut, berbanding terbalik dengan kekejaman yang ia lakukan beberapa jam lalu.Sebelum Silvi sempat menjauh, Aldi mencondongkan tubuhnya ke depan. Dengan gerakan yang teramat perlahan namun penuh dominasi, ia mengecup puncak kepala Silvi yang berambut kusut.Sentuhan itu membuat Silvi memejamkan mata erat-erat, menahan pekikan jijik yang tertahan di tenggorokannya.Aldi mundur sedikit, menatap wajah dokter muda di hadapannya yang kini tampak pucat pasi dengan sisa air mata yang mengering.Pria itu menyunggingkan senyum tipis, mengira bahwa keterdiaman Silvi hanyalah bentuk dari rasa malu yang wajar dirasakan seorang wanita setelah malam pertama mereka.Di mata Aldi, Silvi bukan lagi sekedar tantangan semalam, wanita ini telah menjelma menjadi sesuatu yang ingin ia miliki secara permanen.“Aku tau kamu pasti malu, Silvi. Wajar!” ucap Aldi, jemarinya yang kekar bergerak mengelus helai rambut Silvi dengan gerakan protektif.“Tapi kamu
Silvi ingin berteriak.Ia bukan pelacur! Ia memang bukan wanita yang benar tapi tidak seperti ini, Silvi tidak mau.Silvi ingin menggerakkan tangannya untuk mencakar, menepis atau setidaknya menjauh.Namun, obat tidur dosis tinggi yang dicekoki Rion telah memutus jembatan antara otak dan tubuhnya. Ia lumpuh dalam raganya sendiri.Suara langkah kaki Rion yang menjauh dan bunyi pintu yang mengunci secara otomatis menjadi lonceng kematian bagi harga dirinya.Rion benar-benar telah pergi, meninggalkannya sendirian di dalam sangkar pemangsa.Di dalam kamar suite yang luas itu, kini hanya ada Silvi dan Aldi.“Hehh!”Pendar lampu kamar diredupkan, menyisakan pencahayaan kuning temaram yang menciptakan atmosfer mencekam.Aldi berdiri di tepi ranjang, melepaskan jam tangan mewahnya lalu meletakkannya di atas nakas dengan bunyi dentang yang dingin.Matanya menatap tubuh Silvi yang terbaring lemas dengan gaun malam hitam yang masih melekat.Senyum kemenangan terukir di wajah pria berusia tiga pu
Di mata Rion, harga dirinya ternyata setara dengan sebuah mobil sport.Silvi menyunggingkan senyum, sebuah senyuman paling getir dan penuh luka yang pernah terukir di wajahnya. Dengan perlahan namun tegas, ia menepis tangan Rion dari bahunya.“Ferrari, Sayang?” bisik Silvi, suaranya mendadak tenang, namun dingin sedingin es.“Jadi, segitu harga diriku di mata kamu?”Silvi berdiri dari kursinya. Ia mengambil tas tangan kecilnya yang tergeletak di atas meja.Untuk terakhir kalinya, ia menatap Rion dengan pandangan kosong, seolah pria di hadapannya tak lebih dari orang asing yang tak sengaja ia temui di jalan.“Nikmati malammu di Paris, Rion,” ucap Silvi tenang, membalikkan badannya.“Dan silahkan tidur sendiri dengan Ferrarimu!”Tanpa menoleh lagi, Silvi melangkah lebar meninggalkan meja makan mewah itu. Gaun hitamnya berkibar pelan seiring langkah kaki yang mantap menembus pintu keluar restoran, meninggalkan Rion yang terpaku sendirian dalam kepanikan, tepat saat sosok Aldi mulai berja
Selesai mengucapkan kalimat penuh makna tersebut, Aldi condong ke arah Rion.Suaranya berubah menjadi bisikan setengah bergolak yang tajam.“Rion, wanita di sebelahmu ini benar-benar luar biasa. Pandai sekali kamu memilih 'teman' untuk perjalanan dinas ke Paris ini. Bagaimana kalau malam ini dia menemaniku? Kamar suite saya di lantai atas sangat sepi.”Rion sempat tertegun.Pak Aldi biasanya tidak pernah berebut wanita dengannya karena biasanya saat Rion menawari ia wanita cantik dan seksi saja, Pak Aldi tidak pernah tertarik.Dan kali ini, Pak Aldi adalah orang yang tidak boleh Rion singgung, klien paling berpengaruh dalam hidupnya.Senyum profesional yang sejak tadi ia pasang mendadak membeku di sudut bibir.Aldi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kekuasaan mutlak. Ia tahu Rion tidak akan bisa menolaknya.“Saya ke toilet sebentar. Buat dia setuju, Rion. Kamu tau seberapa besar nilai proyek merger kita bulan depan, kan? Jangan kecewakan saya!”Di balik meja, jemari Rio
“Makasih ya, Sayang. Aku seneng banget liburan kita kali ini,” ucap Silvi melingkarkan tangannya ke leher Rion.Malam ini, Silvi mengenakan gaun terbaiknya. Dari balik dinding kaca restoran fine dining yang bertengger di salah satu sudut premium kota dan Menara Eiffel memancarkan kerlip keemasan yang memantul indah pada permukaan gelas-gelas kristal.“Aku juga senang kalau kamu happy,” jawab Rion merapikan anak rambut Silvi ke daun telinganya. Alunan musik jazz berirama lambat mengalun, mengiringi denting sendok perak dan tawa samar kaum borjuis yang memenuhi ruangan.Bagi Silvi, malam ini seharusnya menjadi puncak perayaan. Setelah bertahun-tahun hidupnya tersedot oleh jadwal koas yang brutal, malam-malam tanpa tidur, aroma antiseptik rumah sakit dan tekanan mental yang nyaris membuatnya menyerah, ia akhirnya bisa bernapas.Juga akhirnya ia menyerah pada kisah yang tidak pernah dimulai.Ia telah lulus.Dan Rion, kekasihnya sekarang, membawanya terbang ke Eropa untuk merayakan kebeba
“Sayang, kamu senang?” tanya Moreno setelah selesai makan malam terakhir dengan Arlan dan Karin.Pertanyaan yang sering sekali Moreno lontarkan, ia seolah ingin mendapatkan validasi atas semua kerja kerasnya.Sepertinya susah sekali membuat wanita disampingnya ini bahagia, padahal Moreno sudah menuruti semua yang Laura inginkan. Bahkan untuk mendapatkan senyumannya saja, Moreno terpaksa mengemis. “Iya senang, Moreno.” Laura menatap Moreno dengan lembut, usaha untuk kabur saat ini belum bisa dilakukan Laura, penjagaan terhadap dirinya begitu ketat.“Apa hadiah untukku?” tanya Moreno dengan lembut sambil mengusap bibir Laura. Laura tahu kalau Moreno ingin hadiah sesuatu yang menyenangkan hatinya, Laura mendekatkan dirinya dan mengecup lembut bibir Moreno. Moreno tersenyum saat bibir itu mendarat tempat di bawah bibirnya. “Terima kasih, Sayang.” Moreno mengusap pipi Laura dengan sangat lembut, dulu ia begitu senang memprovokasi Laura, membuat Laura cemburu dengan wanita-wanita yang me
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”







