เข้าสู่ระบบ“Ehem!”Karin berdehem pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan agar detak jantungnya tidak semakin menggila.“Sudahlah, jangan bahas pria itu lagi, Sayang,” ucap Karin sambil merapikan tas kecilnya.Pria tadi memang tampan, tapi Karin tidak tertarik. Ia sudah punya suami dan jujur saja tato di tangannya menyeramkan, seperti mafia-mafia. Karin lupa sedang berada dimana mereka. “Oh iya, setelah dari sini, kita harus mencari oleh-oleh, Sayang. Aku ingin membeli topeng Venesia yang cantik dan mungkin beberapa perhiasan dari kaca Murano. Kamu mau menemaniku, kan?”Arlan tersenyum, ketegangan di wajahnya langsung luntur mendengar semangat istrinya.“Tentu saja. Apapun yang kamu mau Sayang, akan ku temani seharian ini.”Namun, kehangatan yang kembali tercipta di meja mereka sama sekali tidak mengubah fakta bahwa sebuah obsesi gelap telah tersulut.Pria lokal yang baru saja ditolak mentah-mentah oleh Arlan adalah Matteo Costra, putra bungsu dari salah satu dinasti keluarga paling berpengaruh
“Dingin banget ya, Sayang. Kita mau kemana?” tanya Karin sambil meniup kedua telapak tangannya dan Arlan yang merangkul Karin lembut.“Nanti kamu juga tau, Sayang.” Arlan menjawab dengan penuh cinta.Pagi musim dingin di Venesia terasa begitu magis. Kabut tipis menggantung di atas kanal-kanal yang tenang, sementara semburat matahari terbit mulai mencairkan sisa embun beku di ujung-ujung bangunan kuno.Mereka menuju Caffe Florian, sebuah kafe legendaris di Piazza San Marco, kehangatan begitu kontras dengan udara dingin di luar.Di salah satu meja sudut, Arlan dan Karin sedang menikmati sarapan ikonik mereka. Di atas meja marmer kecil itu, tersaji dua cangkir Frisson, cokelat panas khas Venesia yang kental dengan whipped cream dan sepiring Fritole, donat musim dingin khas Venesia yang bertabur kismis dan gula halus serta sepotong Torta Nicoletta, kue puding roti tradisional yang manis dan lembut.Karin menyuap sepotong kecil kue, lalu menatap Arlan dengan mata berbinar-binar, tak sabar
Arlan turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya dengan sigap untuk membantu Karin melangkah keluar dari gondola yang bergoyang pelan.Begitu kaki mereka menapak di lantai marmer hotel, kehangatan lobi langsung menyambut mereka, kontras dengan angin malam Laguna Venesia yang dingin.Karin merapatkan jubahnya sambil berjalan beriringan dengan Arlan menuju lift berlapis emas.Namun, saat mereka hampir mencapai pintu lift, Karin mendadak menghentikan langkahnya. Ia menepuk kedua pinggangnya, lalu meraba bagian depan jubahnya dengan gerakan panik.“Sayang….” panggil Karin, suaranya mendadak meninggi dan bergetar.Arlan menoleh, mengerutkan kening melihat wajah Karin yang mendadak pucat pasi.“Ada apa, Sayang?”“Tas selempangku ... tas kecilku gak ada!” Karin mulai memeriksa sekeliling tubuhnya dengan histeris.“Astaga, Sayang! Tas itu tertinggal di kursi gondola tadi!”Raut wajah Arlan langsung berubah serius. Tas kecil itu bukan sekadar aksesori.Di dalamnya terdapat paspor Karin, domp
Malam semakin larut, namun Arlan tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Setelah menyelesaikan makan malam mewah mereka, ia mengajak Karin turun menuju dermaga pribadi Aman Venice.Sebuah taksi air privat bermaterial kayu mahoni berkilau sudah menunggu, siap membawa mereka menembus keheningan kota air.Tujuan pertama mereka adalah destinasi paling ikonik di kota ini.Piazza San Marco!Jika siang hari tempat ini dipadati ribuan turis, malam hari setelah pukul sembilan mengubahnya menjadi pelataran yang magis dan sunyi.Arlan menuntun Karin berjalan di atas ubin-ubin batu yang luas. Langkah kaki mereka menggema pelan, berpadu dengan sayup-sayup alunan musik klasik dari orkestra mini yang bermain di kafe-kafe tua di sudut alun-alun.“Lihat ke atas, Sayang!” ucap Arlan pelan.Di hadapan mereka, Basilika Santo Markus berdiri megah dengan arsitektur Bizantiumnya yang diselimuti lampu sorot keemasan.Fasad Doge's Palace (Istana Doge) yang bergaya Gotik di sebelahnya tampak anggun sekaligus misteri
Begitu pintu ganda berbahan kayu mahoni tua itu tertutup rapat, Karin melepaskan genggaman tangannya dari tas kecil yang dibawanya.Matanya melebar, berpindah dari satu sudut ke sudut lain.Kamar Alcova Tiepolo Suite ini bukan sekedar tempat menginap tapi ini adalah museum pribadi yang hidup.“Sayang, lihat langit-langitnya,” bisik Karin dengan nada tak percaya.Di atas mereka, lukisan dinding asli karya Giambattista Tiepolo membentang megah, menampilkan figur-figur mitologi yang tampak hidup dalam sapuan warna pastel yang anggun.Cahaya dari lampu gantung kristal Murano di tengah ruangan membuat detail emas pada ukiran dinding berkilau seperti taburan bintang.Kamar mandi mereka bahkan lebih mirip ruang spa kerajaan, dengan bathtub marmer besar yang diletakkan tepat di dekat jendela, menghadap langsung ke air.Karin melangkah mendekati jendela kaca setinggi langit-langit. Saat ia menyibak tirai sutra berat berwarna krem, napasnya tertahan.“Luar biasa, ini gila….” gumamnya.Dari sudu
“Kamu benar-benar hebat, Sayang. Aku selalu puas dengan milikmu,” ucap Arlan dengan begitu nakal.Karin menghembuskan napas panjang, membiarkan bobot tubuhnya sepenuhnya bertumpu pada dada bidang Arlan yang masih terasa hangat dan berpeluh.Di dalam keheningan kompartemen yang kini hanya diisi oleh suara detak ritmis roda kereta di atas rel Alpen, Arlan mempererat pelukannya, mengusap lembut punggung Karin yang masih dihiasi sisa keringat.“Bagaimana, Dokter Karin?” bisik Arlan dengan suara serak yang terdengar sangat rileks, jauh dari kesan kaku yang biasa ia tunjukkan di ruang operasi.“Apakah ujian anatomi barusan memenuhi standar kompetensimu?”Karin mencubit pelan pinggang suaminya, menyembunyikan wajahnya yang kembali merona di ceruk leher Arlan.“Sayang, stop! Kamu benar-benar gak bisa meninggalkan insting medismu, ya? Bahkan di saat seperti ini.”Arlan terkekeh rendah, getaran di dadanya terasa menenangkan bagi Karin. Ia mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







