ログインSetelah menyemprotkan parfum baru ke seluruh tubuhnya, Arlan merasa sangat percaya diri. Ia yakin wewangian premium yang ramah ibu hamil ini tidak akan membuat Karin mual lagi.“Pasti setelah ini kamu peluk dan cium aku.”Malam itu, dengan langkah tegap dan dada membusung, Arlan mulai beraksi. Ia sengaja berjalan petantang-petenteng mondar-mandir di lorong depan kamar Karin.Kebetulan, pintu kamar istrinya sedang terbuka lebar. Arlan sengaja memperlambat langkahnya, berharap Karin melihat ketampanannya dan langsung berlari memeluknya karena rindu.Namun, yang terjadi justru di luar ekspektasi.Begitu aroma parfum itu tertiup angin dan masuk ke kamarnya, wajah Karin langsung memucat karena takut.Rasa mual yang teramat sangat mendadak menyengat ulu hatinya. Karin tidak sanggup menahan gejolak di perutnya.Tanpa sempat menyapa suaminya, ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit menuju wastafel di dalam kamar.Huekk!Mendengar suara itu, Arlan tertegun di ambang pintu. Karena Karin ta
Malam ini, sekat yang memisahkan mereka bukan lagi sekadar jarak satu meter di atas kasur, melainkan dinding beton yang tebal.Setelah pulang dari rumah sakit, Arlan terpaksa mengalah dan pindah ke kamar tamu yang berada tepat di seberang kamar utama mereka.Dari balik pintu yang sengaja dibuka sedikit, Arlan hanya bisa menatap bayangan Karin yang sedang bersiap untuk tidur.“Sayang, aku kangen kamu,” bisik Arlan lirih dari ambang pintunya sendiri. Suaranya terdengar menyedihkan, menggantung di lorong sepi yang memisahkan kamar mereka.“Apa kita harus beda kamar seperti ini?”Karin berjalan mendekati pintunya, memandang Arlan dari kejauhan dengan tatapan bersalah.Hatinya perih melihat suaminya seperti anak ayam yang kehilangan induk. Ia juga tersiksa.Namun, setiap kali Arlan melangkah mendekat ke kamarnya, indra penciuman Karin langsung bereaksi.Rasa mual itu langsung naik ke dada, siap memaksanya muntah hebat hingga lemas.“Sabar ya, Sayang. Aku juga kangen banget sama kamu,” sahu
Malam semakin larut di rumah sakit, dan giliran Silvi yang duduk di kursi samping ranjang untuk menjaga Karin.Suasana kamar rawat inap itu sudah jauh lebih tenang setelah Karin mendapatkan obat pereda mual dari dokter jaga.Silvi melirik ke arah pintu kaca kecil yang tertutup rapat, lalu menatap Karin yang sedang bersandar pada bantal.“Rin, asli kasihan banget suamimu di luar,” ucap Silvi dengan nada iba namun setengah menggoda.“Wajah Dokter Arlan sedih banget, kelihatan merana karena tidak bisa masuk ke dalam sini. Kamu ini sebenarnya cuma bercanda atau serius sih, bisa muntah-muntah hebat begitu kalau ada dia?”Karin menghembus napas berat, wajahnya yang pucat tampak sangat pasrah.“Mana mungkin aku bercanda, Silvi. Isi perutku rasanya mau keluar semua setiap kali mencium bau parfumnya, bau tubuhnya atau bahkan cuma melihat wajah Arlan sedikit saja dari pintu. Aku langsung pusing dan mual gak karuan.”Karin membelai perutnya yang masih rata dengan tatapan bingung sekaligus heran.
“Sayang, aku kangen. Kapan kamu datang ke apartemenku? Kamu memangnya tidak mau aku puasin lagi?”Malam itu di rumah mereka, ketenangan yang baru saja Dimas dan Laura rasakan seketika pecah.Ponsel Dimas yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar nyaring. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar yang menyala terang.Pesan yang sangat sensual itu dikirim oleh nomor asing yang tidak dikenal.Kebetulan, Laura yang sedang berdiri di dekat meja sempat melihat kalimat terlarang tersebut secara jelas dari layar ponsel suaminya.Detik itu juga, suasana di dalam kamar langsung mendingin“Siapa wanita ini, Sayang?!” tanya Laura, suaranya bergetar menahan cemburu dan rasa sakit.Dimas yang baru menyadari situasi itu langsung menyambar ponselnya dengan geram.“Aku gak tau, Sayang. Sumpah, aku gak kenal!”Ting.Belum sempat Dimas menjelaskan lebih jauh, nomor asing itu kembali mengirimkan beberapa file foto. Begitu dibuka, foto-foto masa lalu terpampang nyata, menampilkan sosok Dimas ya
Dari balik celah pintu yang terbuka sedikit, Karin menatap suaminya dengan tatapan bersalah.“Sayang, aku minta maaf tapi sumpah, aku benar-benar gak tahan dengan bau parfum kamu yang sekarang. Atau... bagaimana kalau kamu masuk lagi tapi jangan pakai parfum itu? Ayo, kita coba!”Mendengar tantangan itu, harapan Arlan seketika membubung tinggi. Dengan penuh semangat, ia bergegas menuju ruangan Direktur, tempat kerjanya yang biasa.Sebagai salah satu dokter penting di rumah sakit ini, Arlan memang selalu meninggalkan beberapa stel pakaian ganti cadangan di sana. Ia mandi dengan cepat, membasuh seluruh tubuhnya hingga bersih dan berganti pakaian baru tanpa menyemprotkan wewangian apa pun.“Sayang, jangan tolak aku lagi!” Wajah Arlan cemberut. Ia ingin memeluk istrinya dan merayakan kehamilan Karin. Arlan sangat yakin kali ini istri tercintanya akan bisa menerimanya kembali.“Hoeeeekkkk!!!”Namun, begitu ia kembali melangkah masuk ke kamar rawat, kenyataan pahit kembali menghantamnya.B
“Hentikan, Moreno!”Laura melangkah kembali masuk ke dalam kamar rawat Karin dengan perasaan cemas.Namun, pemandangan di depannya seketika membuat langkahnya terhenti. Ia melihat Karin sedang membuka bingkisan mewah dari Moreno.Di dalamnya, kilau logam mulia dan permata langsung menyapa mata mereka. Pria gila itu memberikan hadiah berupa perhiasan yang sangat mahal.“Apa maksudnya ini?” gumam Laura dengan wajah memucat. Ia menatap Karin dengan cemas sekaligus takut.“Dia sengaja melakukannya, Karin. Moreno sengaja memberikan perhiasan ini agar Arlan salah paham dan mengira terjadi sesuatu di antara kalian selama di Monako.”Karin hanya bisa menghembus napas berat, menatap perhiasan itu dengan rasa jengkel yang tertahan di dadanya.Sementara itu, di area koridor dekat lift, Moreno berjalan perlahan untuk beranjak pulang. Langkah kakinya mendadak terhenti ketika melihat Dokter Dimas dan Dokter Arlan berjalan bersama.Setelah melewati masalah penculikan kemarin, kedua dokter itu kini t
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







