Share

Bab 140 Sok Sibuk!

Penulis: Madamme Yellow
last update Tanggal publikasi: 2026-07-27 16:05:56

“Sorry, Xavier. Aku gak bisa ikut.”

Walaupun ia free tapi Karin tidak bisa liburan jauh, pikiran Karin masih teringat pada laporannya meskipun Karin terlihat cuek dan enggan mengetiknya.

“Tapi, malam ini aku mau main padel, kamu mau ikut?” tanya Karin. Karin ingin mengajak Dimas tapi tangan Dimas sakit dan kekasihnya juga sedang istirahat di rumahnya, Karin tidak mau mengganggu Dimas yang sedang pemulihan.

“Oke, gak masalah. Malam nanti aku jemput di rumahmu.”

“Hemm,” jawab Karin dengan sen
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 229 Mau Mati Saja

    Kejadiannya begitu cepat, Karin saja tidak tahu kalau Kakeknya dibawa ke rumah sakit terdekat. Arlan panik malam itu, ia menghubungi semua keluarga karena kondisi Kakek Billy kritis, darah tingginya kambuh karena tahu yang Arlan lakukan dengan Karin. “Kakek Billy tadi bangun sebentar, ia minta dipanggilkan pengacara dan notaris,” ucap dr. Erland. Dokter pribadi Kediaman Kakek Billy. Semua keluarga sudah berkumpul karena takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. “Arlan sini!” Kakek Billy berbisik lembut tapi Arlan mendengarnya. Semua ini karenanya, tapi Arlan akan melakukan apapun karena memang ini kesalahannya. “Menikahlah sekarang, di depanku!” Jantung Arlan berdegup kencang. Apa Papanya meminta Arlan untuk menikah dengan Karin? “Te-terserah kamu. Renata atau Winda,” lanjut Kakek Billy dengan kondisinya yang begitu lemah, itu saja hanya di dengar oleh Arlan dan Rion saja. Arlan tersenyum getir, matanya merah karena menahan tangis. Tentu saja tidak mungkin ia direstui dengan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 228 Tertangkap Basah

    “Sudah selesai mengantar Renata?” tanya Karin sambil melilitkan tangannya ke leher Arlan. “Sudah, aku langsung pulang, dia memintaku untuk mampir. Menikmati susu gantung hangat,” bisik nakal Arlan, Arlan ingin melihat reaksi Karin saat ia mengatakan itu dan Karin langsung marah. “Aku benci kamu, dok!” Karin menjauhkan pelukan Arlan dan memukul dada Arlan dengan kuat.“Kenapa?” tanya Arlan memeluk Karin dari belakang. Seperti ini saja, hubungan mereka tidak perlu diketahui banyak orang tapi mereka berdua menikmatinya. “Kamu serius ingin bertunangan dengan dr. Renata?” tanya Karin dengan wajah sedihnya. Karin tidak sanggup melihatnya. “Mungkin, aku suka minum susu gantung,” jawab Arlan sambil tertawa.“Gak lucu ihhh,” jawab Karin malas. Ia sedang serius tapi Arlan selalu mengajaknya bercanda. “Kamu gak ada, Sayang. Makanya aku cari orang yang memilikinya. Sekarang lagi trend,” bisik Arlan sambil menggelitik pinggang Karin. “Apaan sih? Dasar gila,” jawab Karin dengan senyumnya. Ka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 227 Menyusup Kamar Karin

    Setelah Arlan mengantar Renata, Karin tidur dikamarnya sendiri. Ia takut Kakek Billy masuk lagi ke kamar Arlan dan melihat ia ada di sana. “Sudah sampai rumah?” tanya Karin saat Dimas menghubunginya. Sepertinya Dimas ingin mencari tahu, ada Arlan atau tidak di rumah Kakek Billy. “Baru sampai dan langsung kangen kamu lagi,” jawab Dimas. Karin hanya tersenyum lembut. Seharusnya dulu, Karin tidak perlu menerima Dimas menjadi kekasihnya, sekarang ia benar-benar sulit lepas dari Dimas. “Hemm, dokter mau mengajukan diri jadi Direktur Rumah Sakit?” tanya Karin ragu-ragu. Mereka belum membicarakan ini berdua saja, Karin hanya samar-samar mendapatkan berita tentang masalah ini. “Ya.” Dimas menunggu pertanyaan Karin selanjutnya. Ia tidak akan mundur sedikitpun, ia ingin menghancurkan Arlan. “Kenapa dr. Arlan tidak bisa ikut bersaing?” Dimas tahu kalau Karin pasti akan menanyakan ini. “Tanyakan saja dengannya. Kenapa dia mengundurkan diri,” jawab Dimas dengan seringainya.

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 226 Tubuhku Milikmu

    “Jangan pernah memberitahu Dimas kalau ada aku malam ini, mengerti?” Karin mengangguk, ia juga tidak seaneh itu. Hubungan ini cukup mereka berdua saja yang tahu. “Kenapa kembali Sayang? Kamu masih kangen aku?” tanya Karin sambil memeluk tubuh kekar Arlan.Kenapa gengsi? Biasanya juga blak-blakan dengannya. Arlan memandang wajah Karin dan menjawab dengan melumat bibir Karin. Sepertinya Karin mengerti jawabannya. Ia tidak akan memaksa kalau memang Arlan mencintai Renata, Karin akan mengalah. Tapi, ia tidak akan pernah mau meninggalkan Arlan. Karin akan terus menjadi bayang-bayang dalam keluarga itu. Salah Arlan sendiri. Ia yang membawa Karin dalam hidupnya dan sekarang, mereka sudah tidak bisa berhenti. “Sudah malam. Apa harus mengantar dokter genit itu?” tanya Karin dengan bibirnya yang mengerucut. Kenapa Renata harus kembali ke Jakarta? Seharusnya wanita tidak pernah pulang sehingga Arlan tetap menjadi miliknya.“Ya, aku yang membawanya, kau ingin menungguku di sini?” bisik Arla

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 225 Semua Pria Dewasa Melakukannya

    “Mau kemana Arrr?” tanya Renata mengejar Arlan sampai ke kamarnya. “Aku ingin tidur sebentar, supir yang akan mengantarmu Renata, aku sungguh mengantuk sekali, aku tidak bisa membawa mobil dalam keadaan ngantuk seperti ini,” jawab Arlan bohong. Ia ingin masuk ke kamarnya karena Karin masih di dalam, dengan perilaku Arlan yang hyper, mana mungkin ia cukup hanya satu atau dua kali mencapai klimaks. Tubuhnya begitu cocok dengan Karin. “Arrrr, Kakek masih ingin bertanya tentang keseriusan kamu menikahi aku, Arrrr. Apa itu bohong?” tanya Renata dengan wajahnya memelas. Tangannya mulai sibuk menyentuh dada bidang Arlan. “Kita bahas besok saja Renata.” “Aku temani kamu tidur,” jawab Renata yang memaksa ingin masuk tapi Arlan menahannya. “Please! Kamu tau begitu sulit untuk kita istirahat Renata, kamu tau itu karena kamu juga seorang dokter, malam ini tidak ada panggilan dari rumah sakit.” “Oke, aku gak akan ganggu kamu lagi tapi cium aku dulu!” Arlan memutar bola matanya malas tapi te

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 224 Kau Yang Menginginkannya

    “Ini kau yang menginginkannya Karin,” bisik Arlan membalik keadaan, Karin di bawah tubuhnya, Arlan menghentakkan keras miliknya sampai Karin mendesah hebat, Arlan menutup mulut Karin agar tidak ada yang mendengar kegiatan mereka di dalam kamar. “Eumphhh ahhhh ya Sayang, lebih dalam lagi Om,” bisik Karin meracau tidak jelas, Karin menyukai saat Arlan seperti ini, ia tidak ingin percintaan ini cepat selesai meskipun semua orang mencari keberadaan mereka. “Akhhh, sempit sekali Sayang.” Karin memang tidak pernah gagal membuatnya puas. “Ohhh yess baby, eumph!” Arlan menggendongnya sambil melumat bibirnya dengan rakus, Karin menyeringai dalam posisi ini, Dimas begitu sombong mengatakan kalau ia bisa memuaskan Karin, ia tidak tahu kalau Arlan dan dirinya sudah melakukan semua gaya bercinta. Arlan meletakkan kembali tubuh Karin, melebarkan kakinya dan menghisapnya dengan rakus sebelum akhirnya menekannya lagi. Tubuhnya berkeringat, rambutnya basah tapi mereka belum ingin berhenti sampai a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status