LOGIN“Huft!”Karin merapatkan benaman tubuhnya ke dada Arlan begitu mereka berhasil masuk dan mengunci pintu kamar mereka sendiri.Sisa-sisa ketegangan dari konfrontasi di kamar sebelah masih membuat dadanya bergemuruh hebat.Sambil berjalan perlahan menuju tepi ranjang, Karin mulai menumpahkan segala kekhawatiran yang sedari tadi ia tahan di depan Laura.“Moreno sangat menyeramkan, Sayang....”Cerita Karin dengan suara yang sedikit bergetar, menatap suaminya dengan mata cemas.“Aku sempat lihat tangannya tadi terluka, entah karena mendobrak pintu atau apa, tapi dia sama sekali gak merasa sakit. Tatapan matanya ... matanya seolah-olah ingin membunuh Dimas malam ini juga.”Arlan diam mendengarkan, ia membantu melepas syal yang dikenakan Karin lalu menuntun istrinya untuk duduk di ranjang.“Aku sangat khawatir Laura akan kembali jadi target utamanya seperti kemarin,” lanjut Karin dengan napas yang memburu halus.Bayangan masa lalu saat Laura disekap kembali berputar di otaknya.“Bagaimana ka
Setelah pintu kamar hotel tertutup rapat dan langkah kaki Moreno beserta rombongannya menjauh, keheningan yang pekat kembali melingkupi ruangan.Dimas menghembuskan napas panjang, mencoba meredakan sisa ketegangan yang sempat membakar dadanya. Ia segera berbalik menatap Arlan.“Dokter Arlan, sekali lagi terima kasih banyak. Kalau bukan karena bantuanmu dan kehadiran polisi tadi, aku tidak tau apa yang akan dilakukan pria nekat itu pada Laura,” ucap Dimas dengan ketulusan yang mendalam.Arlan hanya mengangguk pelan, menepuk bahu Dimas sebagai tanda bahwa mereka kini berada di pihak yang sama dalam menghadapi ancaman Moreno.Sementara itu, di sudut ranjang, Karin terus mendekap tubuh Laura yang masih menggigil hebat.Air mata Laura tumpah ruah, membasahi pundak sang kembar. Ketakutan yang amat sangat mencengkram batinnya.“Moreno sudah pergi dan kamu aman sekarang, Laura. Dia gak akan bisa menyentuhmu lagi di sini,” bisik Karin mencoba menenangkan, mengusap punggung adiknya dengan lembu
Pintu toilet perlahan terbuka.Laura melangkah keluar didampingi oleh Karin, kini ia telah mengenakan pakaian yang sopan dan rapi, meski sisa-sisa trauma masih membekas jelas di wajah pucatnya.Kehadirannya langsung membuat seisi ruangan terdiam.Perwira polisi yang memimpin pemeriksaan menatap Laura dengan sopan dan adil.Setelah mencermati kedua bukti, surat pernikahan siri dari Dimas serta berkas pendaftaran KUA sepihak dari Moreno, polisi tersebut mengambil posisi netral namun tegas sesuai koridor hukum yang berlaku.“Selamat malam, Ibu Laura. Saya dari pihak kepolisian,” sapa perwira tersebut dengan nada tenang guna meredakan ketakutan Laura.“Kami sudah memeriksa berkas dari kedua belah pihak. Berkas dari Pak Moreno menunjukkan adanya rencana pernikahan hukum minggu ini. Namun, Dokter Dimas juga menunjukkan bukti pernikahan siri yang menyatakan Anda sudah sah secara agama hari ini.”Polisi itu menjeda kalimatnya, menatap lurus ke mata Laura.“Dalam hukum, rencana pernikahan nega
“Kau sungguh tidak mau ikut denganku, Laura?”Ketegangan di dalam kamar hotel yang remang itu kian mencekam ketika Moreno mulai kehilangan seluruh akal sehatnya.Karin yang sedari tadi berdiri di belakang punggung Arlan mencengkram kemeja suaminya dengan tangan gemetar.Rasa khawatir menjalar hebat di dadanya melihat koridor hotel di luar sudah dipenuhi poros bodyguard berbadan tegap yang dibawa oleh Moreno.Karin didera ketakutan luar biasa jika malam ini mereka semua akan dipaksa tunduk oleh kuasa pria itu. Ia bahkan tidak berani melangkah mendekat karena Arlan sejak awal sudah melarangnya demi keselamatannya.Dari posisinya, Karin bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh Laura menggigil hebat karena tekanan emosional yang luar biasa, memeluk Dimas dengan begitu kuat seolah mencari perlindungan dari situasi yang mengancam ini.“Laura!” jerit Moreno dengan suara tegas yang menggelegar, memperingatkan Laura untuk melepaskan pelukannya.“Lepaskan dia dan kembali denganku malam ini! Ak
Sebelum Moreno sempat melangkah lebih dekat ke arah ranjang, pintu kamar terbuka lebar dengan bantingan keras. Arlan melangkah masuk dengan aura intimidasi yang luar biasa pekat, disusul oleh Karin di belakangnya yang langsung memasang wajah tegang namun penuh keberanian.“Stop!” ucap Arlan dengan kesal.Melihat Laura berlindung di balik punggung Dimas dengan tubuh gemetar, darah Arlan mendidih. Ia langsung mengambil posisi di baris paling depan, berdiri tegap di antara Moreno dan pasangan suami istri baru tersebut.Langkah kakinya yang mantap seketika memotong ruang gerak Moreno.Arlan mengangkat tangan kanannya, menunjuk tepat di depan wajah Moreno dengan tatapan mata yang luar biasa dingin dan sinis.“Siapa kau, Moreno?” desis Arlan, suaranya tidak tinggi namun getaran otoritas di dalamnya sanggup membungkam ruangan yang tadinya bising.Moreno tertegun sejenak, urat di pelipisnya masih menegang hebat.“Kemarin, aku biarkan kau sombong menunjukkan kuasamu karena aku malas melayani k
“Eugh!” Laura mendesah dengan begitu lembut saat Dimas memulai permainannya di ranjang. Ini malam pertama, tapi Dimas bukan pertama kali melihat miliknya. Andai saja Laura tahu kalau ia akan ternoda oleh Moreno, lebih baik malam itu ia serahkan sepenuhnya tubuh indahnya pada Dimas. Setidaknya Laura tidak akan pernah menyesal. “Kamu menikmatinya?” tanya Dimas dengan begitu lembut di telinga Laura, Laura mengangguk pelan dan tersenyum getir.Laura takut Dimas jijik dengannya, ia bukan perawan!Hamil anak Moreno. Tidak ada yang bisa diharapkan darinya tapi Laura melihat tidak ada gurat penyesalan dari wajah Dimas.“Ya, Dok. Ahhhh. Pelan ya, Sayang.” Laura mencengkram lembut bahu Dimas saat Dimas mulai menekan inti tubuhnya.Di bawah temaram lampu kamar yang sunyi, waktu seolah berjalan melambat.“Ouhhh.”Dimas bergerak dengan sangat perlahan, menepati janjinya untuk menjaga Laura dan janin di dalam kandungannya dengan penuh kehati-hatian.Ini pertama kalinya mereka saling memiliki, d
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







