LOGIN“Silvi kemana sih? Seharian aku gak tau dia pergi kemana?” gerutu Karin kesal,Karin sedang duduk gelisah di tepi tempat tidurnya, meremas ponsel dengan kedua tangan yang dingin.Malam ini terasa begitu berat, dan dia sangat membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.Pikiran pertama yang terlintas di kepalanya adalah Silvi, sahabat terdekatnya yang selalu punya waktu untuk mendengarnya.Tanpa berpikir panjang, Karin menekan tombol panggilan suara di aplikasi pesannya.Di tempat lain, di dalam sebuah kamar tidur yang mewah dan temaram terkunci rapat, suasananya sangat kontras. Silvi sama sekali tidak sedang sibuk dengan urusan pekerjaan atau tugas kuliah.“Ahhhh, sabar Sayang.” Dari tadi, Rion terus memburu tubuhnya tanpa ampun, menekannya dengan kuat hingga, kakinya bahkan sudah gemetar saat ini. Rion memang sangat hebat kalau diranjang. Silvi sedang terengah-engah menahan napas di atas ranjang. Di atas tubuhnya ada Rion, sedang bergerak dalam keintiman yang terlarang
Suara langkah kaki terburu-buru terdengar mendekati pintu. Pintu terbuka, menampilkan Silvi yang tampak cemas. Ia datang memenuhi panggilan Rion dengan pakaian seksi namun elegan yang biasa disukai Rion untuk acara malam.Rion berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan lampu kota. Ia menoleh, matanya menatap Silvi tajam sebelum melangkah mendekat dengan langkah tegas.“Kamu terlambat dan ke mana saja kamu selama ini? Aku sudah siapkan apartemen untukmu, tapi tempat ini selalu kosong. Jangan lupa Silvi, kamu sudah menandatangani kontrak kita. Kasus korupsi ayahmu sudah aku bereskan seluruhnya. Jadi, jalankan kewajibanmu sesuai kesepakatan tanpa bantahan.” Rion bicara dengan tegas dan penuh tuntutan.Silvi tertunduk, suasana di dalam ruangan terasa begitu menekan akibat ketegangan di antara mereka. Rion berjalan mondar-mandir sebelum akhirnya berhenti tepat di depan Silvi dengan tatapan dingin dan menyelidik.“Sekarang, bicara. Tentang Karin dan dr. Arlan!”Silvi terkejut, mat
Sudut bibir Dimas terangkat, memancarkan kepuasan dingin yang kontras dengan gemuruh amarah di seberang telepon. Ia menempelkan ponselnya ke telinga, mendengarkan napas memburu Arlan yang dipenuhi dendam."Kau puas sekarang? Ini yang kau mau, dr. Dimas? Akhirnya kau bisa menghancurkan kami berdua!"Suara Arlan meninggi, bergetar menahan amarah yang nyaris meledak di dalam ruang sempit mobilnya.Buku-buku jarinya mengepal kemudi hingga memutih.Dimas terkekeh rendah, suara tawa yang sengaja dibuat untuk memancing emosi rivalnya."Menghancurkan kalian? Jangan memutarbalikkan fakta, Arlan. Aku tidak pernah berencana melakukan ini kalau kekasihmu itu tahu diri.""Jangan sebut namanya dengan mulut busukmu itu!" bentak Arlan, memukul setir mobil dengan keras."Kenapa? Tersinggung?" Dimas mengubah posisinya, bersandar santai di kursi kerjanya sambil memutar-mutar pena."Karin yang memprovokasiku. Dia yang memulai semua ini! Selama ini aku selalu membantunya, memberikan nilai sempurna sebagai
PLAK!Tamparan keras itu menggema di ruang tengah kediaman utama Keluarga Wijaya.Sudut bibir dr. Arlan berdarah, namun tatapannya tetap lurus mendongak menatap pria paruh baya di depannyaNapas Kakek Billy memburu, tangannya yang baru saja mendarat di wajah Arlan masih gemetar karena amarah yang memuncak."Berani-beraninya kamu menatap Papa seperti itu, Arlan! Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan? Laporan DNA sialan itu sudah tersebar! Saham Wijaya Group anjlok sore ini!"Arlan menyeka darah di bibirnya dengan tenang."Kenyataannya memang begitu, Pa. Arlan bukan anak kandung Papa. Arlan bukan darah daging Keluarga Wijaya."“DIAM!” Billy berteriak murka."Tapi seluruh dunia tau kamu adalah anakku! Nama baik keluarga ini hancur karena kelakuan bejatmu! Tidak pernah ada aturan di dunia ini yang memperbolehkan paman dan keponakan bersama! Mau ditaruh dimana muka Papa, Arlan?!"Di sofa seberang, Rion, duduk dengan wajah pucat pasi. Kepalanya dicengkeram kedua tangan, napasnya terasa sesa
Gara-gara gosip tadi, Arlan harus menghadapi sidang kode etik, ia terancam dicabut dari jabatannya sebagai Direktur Rumah Sakit karena sikapnya yang tidak terpuji. Berpacaran dengan keponakan sendiri bahkan melakukannya di rumah sakit. Arlan membela dirinya, foto yang menyebar, tidak membuktikan ia dan Karin tidur bersama. Banyak koas yang keluar masuk ke ruang Konsulen.Apa itu termasuk melakukan hubungan tidak terpuji?"Brak!"Pintu ruangan itu tertutup dengan bantingan pelan namun tegas.Karin berdiri di dekat daun pintu dengan napas memburu dan dada yang kembang kempis.Sepasang matanya menatap tajam ke arah Arlan, yang saat ini duduk lemas di balik meja kerja besarnya sembari memijat pelipisnya yang berdenyut pening.Di kepala Arlan, nama Dimas berdenging layaknya kutukan. Pria itu selalu mencari gara-gara.Ternyata hukuman dinas ke luar negeri yang pernah ia jatuhkan belum cukup membuat Dimas jera.Pria itu menyimpan dendam kesumat yang pekat, bergerak dalam senyap untuk mengha
Sejak pagi, Karin belum juga melihat Silvi. Padahal mereka berada di satu stase yang sama. Silvi memang ada di rumah sakit, tetapi ia sama sekali tidak mencari Karin.Saat jam istirahat pun, Karin gagal menemukan sahabatnya itu. Padahal, ia sangat ingin tahu perkembangan kasus ayah Silvi.Apakah Silvi sudah menemukan pengacara yang bisa membersihkan nama ayahnya dari tuduhan korupsi?“Ke mana sih, Silvi? Pesan juga gak dibalas,” gerutu Karin sambil mengedarkan pandangan ke arah kantin.Ponsel Silvi aktif, tetapi semua pesan Karin hanya berujung centang dua tanpa dibaca.Karin menghembuskan napas pelan, mencoba memaklumi. Mungkin Silvi sedang sibuk ikut operasi, menemui dosen di kampus, atau sedang bimbingan laporan kasus dengan dokter konsulen.Enggan larut dalam kebingungan, Karin memutuskan membatalkan pencariannya. Ia memilih berjalan kaki menuju kafe di seberang jalan depan rumah sakit untuk makan siang sendirian.Gemerincing lonceng menyambut kedatangan Karin saat ia mendorong pi
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







