LOGINArlan turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya dengan sigap untuk membantu Karin melangkah keluar dari gondola yang bergoyang pelan.Begitu kaki mereka menapak di lantai marmer hotel, kehangatan lobi langsung menyambut mereka, kontras dengan angin malam Laguna Venesia yang dingin.Karin merapatkan jubahnya sambil berjalan beriringan dengan Arlan menuju lift berlapis emas.Namun, saat mereka hampir mencapai pintu lift, Karin mendadak menghentikan langkahnya. Ia menepuk kedua pinggangnya, lalu meraba bagian depan jubahnya dengan gerakan panik.“Sayang….” panggil Karin, suaranya mendadak meninggi dan bergetar.Arlan menoleh, mengerutkan kening melihat wajah Karin yang mendadak pucat pasi.“Ada apa, Sayang?”“Tas selempangku ... tas kecilku gak ada!” Karin mulai memeriksa sekeliling tubuhnya dengan histeris.“Astaga, Sayang! Tas itu tertinggal di kursi gondola tadi!”Raut wajah Arlan langsung berubah serius. Tas kecil itu bukan sekadar aksesori.Di dalamnya terdapat paspor Karin, domp
Malam semakin larut, namun Arlan tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Setelah menyelesaikan makan malam mewah mereka, ia mengajak Karin turun menuju dermaga pribadi Aman Venice.Sebuah taksi air privat bermaterial kayu mahoni berkilau sudah menunggu, siap membawa mereka menembus keheningan kota air.Tujuan pertama mereka adalah destinasi paling ikonik di kota ini.Piazza San Marco!Jika siang hari tempat ini dipadati ribuan turis, malam hari setelah pukul sembilan mengubahnya menjadi pelataran yang magis dan sunyi.Arlan menuntun Karin berjalan di atas ubin-ubin batu yang luas. Langkah kaki mereka menggema pelan, berpadu dengan sayup-sayup alunan musik klasik dari orkestra mini yang bermain di kafe-kafe tua di sudut alun-alun.“Lihat ke atas, Sayang!” ucap Arlan pelan.Di hadapan mereka, Basilika Santo Markus berdiri megah dengan arsitektur Bizantiumnya yang diselimuti lampu sorot keemasan.Fasad Doge's Palace (Istana Doge) yang bergaya Gotik di sebelahnya tampak anggun sekaligus misteri
Begitu pintu ganda berbahan kayu mahoni tua itu tertutup rapat, Karin melepaskan genggaman tangannya dari tas kecil yang dibawanya.Matanya melebar, berpindah dari satu sudut ke sudut lain.Kamar Alcova Tiepolo Suite ini bukan sekedar tempat menginap tapi ini adalah museum pribadi yang hidup.“Sayang, lihat langit-langitnya,” bisik Karin dengan nada tak percaya.Di atas mereka, lukisan dinding asli karya Giambattista Tiepolo membentang megah, menampilkan figur-figur mitologi yang tampak hidup dalam sapuan warna pastel yang anggun.Cahaya dari lampu gantung kristal Murano di tengah ruangan membuat detail emas pada ukiran dinding berkilau seperti taburan bintang.Kamar mandi mereka bahkan lebih mirip ruang spa kerajaan, dengan bathtub marmer besar yang diletakkan tepat di dekat jendela, menghadap langsung ke air.Karin melangkah mendekati jendela kaca setinggi langit-langit. Saat ia menyibak tirai sutra berat berwarna krem, napasnya tertahan.“Luar biasa, ini gila….” gumamnya.Dari sudu
“Kamu benar-benar hebat, Sayang. Aku selalu puas dengan milikmu,” ucap Arlan dengan begitu nakal.Karin menghembuskan napas panjang, membiarkan bobot tubuhnya sepenuhnya bertumpu pada dada bidang Arlan yang masih terasa hangat dan berpeluh.Di dalam keheningan kompartemen yang kini hanya diisi oleh suara detak ritmis roda kereta di atas rel Alpen, Arlan mempererat pelukannya, mengusap lembut punggung Karin yang masih dihiasi sisa keringat.“Bagaimana, Dokter Karin?” bisik Arlan dengan suara serak yang terdengar sangat rileks, jauh dari kesan kaku yang biasa ia tunjukkan di ruang operasi.“Apakah ujian anatomi barusan memenuhi standar kompetensimu?”Karin mencubit pelan pinggang suaminya, menyembunyikan wajahnya yang kembali merona di ceruk leher Arlan.“Sayang, stop! Kamu benar-benar gak bisa meninggalkan insting medismu, ya? Bahkan di saat seperti ini.”Arlan terkekeh rendah, getaran di dadanya terasa menenangkan bagi Karin. Ia mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang
“Sayang, pintu ini ... benar-benar tebal, kan? Maksudku, kalau kita melakukan 'sesuatu' di dalam sini, suaranya gak akan terdengar sampai ke lorong kereta, kan? Dan ... apa kasur sutra ini cukup kuat?” tanya Karin dengan nada polos namun cepat, matanya mengerjap menatap pintu kompartemen dan ranjang bergantian.Arlan mengerti dengan kode ini, mereka masih termasuk pengantin baru sebenarnya.Arlan sempat menahan napas sejenak, lalu tawa rendahnya yang berat pecah di dalam keheningan kompartemen mewah mereka.Ia menatap Karin dengan wajah lucu yang sangat jarang ia tunjukkan di koridor rumah sakit, sementara wajah Karin sendiri langsung merona merah merona setelah menyadari betapa polos sekaligus beraninya kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri.“Dokter Karin,” bisik Arlan lembut, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.“Kamu sedang berada di dalam Grand Suite kereta paling mewah di Eropa. Kamar mandi dalam dengan pancuran air panas, t
Kereta mewah itu terus melaju membelah jantung Eropa menuju Italia, membawa sepasang suami istri itu menjauh dari masa lalu yang pahit, menuju lembaran baru bulan madu mereka yang penuh kemewahan, tawa dan cinta yang nyata.Arlan menyesap Champagne di gelasnya perlahan, matanya yang tajam menatap Karin yang tampak melamun menatap hamparan salju Alpen di balik jendela kereta.Pria itu meletakkan gelas kristalnya dengan ketukan halus, memecah keheningan di dalam kompartemen mewah mereka.“Kamu puas dengan liburan kita di Paris?” tanya Arlan lembut, namun nada suaranya menyiratkan bahwa ia bisa membaca apapun yang tersembunyi di kepala istrinya.Karin tersentak kecil, lalu menoleh menatap suaminya.Pertanyaan itu membuat dadanya kembali berdenyut agak perih.Sebenarnya Karin memang belum puas.Bagaimana bisa puas?Paris adalah kota impiannya sejak remaja, sudah lama ia tidak ke Paris lagi dan baru semalam ia menikmati menara Eiffel dari atas kapal dan berpose layaknya supermodel di bawah
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se







