共有

Bab 146 Lebih Menantang

last update 公開日: 2026-07-28 14:45:40

Darah Karin berdesir hebat, saat tangan Dimas membawanya ke bawah, Karin tahu Dimas memaksanya untuk menyentuh miliknya.

Karin menelan salivanya dan menatap wajah tampan Dimas yang masih lembab, rambutnya juga masih meneteskan air ke dadanya.

“Kamu sudah lihat yang aku kirim tadi?” bisik Dimas dengan suaranya yang menggoda.

“A-apa? Gak dok, aku langsung hapus.” Karin langsung mengerti, ia lupa kalau Dimas mengirimkan foto itunya yang bangun.

“Kamu gak suka, Karin?”

“dok, bukan aku gak suka
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Asy Nahak
karin terlalu kegaatalan tambah sooo cantik njirrrrr
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 274 Aku Sangat Mencintaimu

    “Karena kau tidak masuk, ada pelajaran tambahan dariku,” bisik Arlan saat ada berdua saja di kamar dengan Karin. Karin sudah berpikir kalau Arlan akan mengajaknya bercinta. Ternyata Karin salah, Arlan malah memijat kakinya dengan lembut. “Masih sakit?” tanya Arlan dengan senyum manisnya. “Gak lagi, dokter gak ke rumah sakit?” tanya Karin sekali lagi. Padahal tidak ada yang peduli dengannya. Kenapa Arlan selalu ada untuknya? Tapi, kalau ingat Arlan tunangan dengan Renata, rasanya kesal sekali. Ditambah dr. Renata yang selalu membanggakan kisah cintanya yang penuh gairah di masa muda. “Boleh aku tau sejak kapan kau jatuh cinta padaku, dok?” tanya Karin. Tidak mungkin kalau sejak mereka pertama kali bertemu, pasti ada pertemuan jauh sebelum itu yang Karin tidak ketahui. Arlan menatap Karin dengan lembut dan mengusap pipi Karin setelahnya. “Sejak melihat kau berenang di rumah Kakek Billy, kau tidak pernah melihatku tapi saat itu, aku mulai bergairah.” “Kau bohong!” “Aku tidak

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 273 Morning Sickness

    Pagi ini kembali canggung. Mereka berdua diam sambil menatap ponsel. “Gak usah masuk aja Rin, pasti diizinkan kok kalau kamu sedang sakit,” ucap Silvi. Karin memang dari tadi berpikir seperti itu juga. Kakinya belum kuat dan kalau ia masuk, hanya merepotkan saja. Tapi, izinnya masih dengan dr. Arlan. “Ya sudahlah aku izin dulu,” jawab Karin ragu-ragu. Akhirnya ia mengetik pesan singkat untuk dikirimkan ke Arlan. “Pagi dok, maaf saya tidak bisa masuk hari ini karena kaki saya masih sakit, kemarin jatuh dari tangga, mohon izinnya, terima kasih.” Ia kirim serta dengan foto kakinya yang dibalut perban elastis. “Oke.”Arlan membalasnya dengan cepat. Karin tersenyum, baguslah kalau ia tidak perlu datang ke rumah sakit. Setidaknya ia memulihkan dirinya sehari di apartemen baru sambil tiduran. “Sil, aku duluan aja ke rumah sakit, aku pesan ojek aja supaya cepat,” ucap Silvi. Mobil Silvi tergadai karena hutangnya dengan Diego. Makanya sekarang sudah tidak punya mobil lagi, apartemen ju

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 272 Batasan Yang Mulai Terkikis

    “Karin ngapain sih?” Silvi mendekatkan telinganya dan ada suara desahan. “Ouh dokter ya Sayang, eummph lebih dalam ouuuh yess.” Silvi mengutuk kelakuan Karin, bisa-bisanya ia kembali jatuh dalam pesona Konsulennya padahal sudah terang-terangan dikhianati. “Aku gak mau dengar suara itu,” ucap Silvi mencari earphone miliknya sambil mendengarkan music dengan volume paling tinggi. Merinding Silvi mendengar suara temannya yang sedang VCS. Saat santai sambil mendengarkan music, ponsel Silvi berdering. “Om Rion?” Ngapain lagi Papi Karin menghubunginya malam seperti ini, tadi mereka baru saja bertemu dan rasanya saja masih membekas. Silvi ingin memanggil ‘Papi’ tapi ingat ia dan Rion begitu intim, Silvi tidak ingin lagi memanggil seperti itu, lebih baik ‘Om’ saja. “Halo, Om?” Silvi menggeser tombol hijau, menunggu suara Rion. “Lagi apa Sayang?” tanya Rion tanpa basa-basi. Suara Rion sepertinya sedang mabuk. “Baru mau tidur,” jawab Silvi. “Ehmm, mikirin Om gak?” tanya Rion. Rion h

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 271 Godaan Yang Terkutuk

    Tidak ada yang menghubungi Karin, Karin hanya menghubungi dirinya sendiri, sengaja! Karin tahu kalau Arlan pasti akan menghubunginya setelah sampai rumah atau dalam perjalanan dan ternyata Karin benar. “Ngapain sih gitu?” tanya Silvi. Silvi bingung saja, memang ada yang menghubungi dirinya sendiri sampai selama ini. Hampir satu jam, kedua batre ponsel Karin habis dalam waktu yang bersamaan. “Gak apa, aku lagi gak ada kerjaan,” jawab Karin dengan senyum nakalnya. Silvi memutar bola matanya malas, Silvi tahu kalau Karin sedang memikirkan Pamannya. “Udahlah Rin, kamu gak bisa memangnya lepas dari dr. Arlan?” tanya Silvi serius. “Gak bisa Sil, kalau bisa sudah aku lakukan, aku juga malas melihat dia pamer rumahnya,” jawab Karin dengan jujur. “Rumahnya?” “Hemm, dia ajak aku ke rumahnya. Katanya itu untuk kami tapi aku gak percaya, pasti untuk dia dan Renata.”Sudah sejauh ini hubungan Karin dan Arlan, sampai dr. Arlan menyiapkan rumah khusus untuk tempat tinggal mereka. Bagaimana k

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 270 Bantu Aku Keluarkan

    Rasanya berat sekali meninggalkan Karin dalam kondisi seperti itu tapi Karin tidak menawarkan dirinya untuk tinggal. Mana mungkin Arlan memaksa apalagi ada Silvi di sana. Ponsel Arlan berdering, itu dari Renata. Sejak Arlan jadi Direktur Rumah Sakit. Arlan jadi semakin dingin, Renata malah merasa Arlan semakin jauh darinya apa itu hanya perasaan ia saja. Panggilan video call. “Wow,” gumam Arlan dalam hati saat mengangkat telepon itu, jelas saja Arlan terkejut, Renata menggunakan baju cosplay kelinci warna hitam lengkap dengan mainan telinganya yang digunakan Renata di kepalanya. Apa maksud Renata? Menggodanya? “Arrrr ouhhh!” Renata memukul sendiri bokongnya dengan keras sambil menunjukkannya dengan Arlan. Tidak dilihat sayang pikir Arlan, tapi kalau dilihat nanti ia ingin dan Karin sedang sakit. “Sudah lama banget Arrrr, aku kangen banget sama kejantanan kamu mengisi penuh tubuhku. Ahhhh Arrrr,” desahan Renata yang ia sengaja. Arlan menarik sudut bibirnya dan menepikan mobiln

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 269 Sisa Parfum Yang Tertinggal

    Arlan mengantar Karin ke apartemennya yang baru, ia dengan sabar menggendong Karin dari parkiran hingga ke depan apartemennya dengan Silvi. Karin sepertinya sangat menjaga privasinya sehingga Arlan tidak bisa lagi masuk sesuka hati karena ia tidak tinggal sendiri. “Karin, kenapa kakinya?” Silvi langsung panik saat melihat kaki Karin di perban elastis. Karin berjalan tertatih ke ruang tamu dan Arlan di belakangnya, masih dengan sabar membantu Karin. “Jatuh dari tangga,” jawab Karin setelah berhasil duduk. Untung saja Silvi tidak melihat saat Arlan menggendongnya. Pria mesum ini tidak tahu malu, padahal sudah bertunangan tetapi masih mencari cara untuk tetap bersama dengan Karin tapi bisa juga menikah Renata. Sialan! Karin tidak akan mau dimanfaatkan oleh Arlan. “Kok bisa sih? Kamu gak lihat ada tangga atau gimana? Kamu melamun lagi?” Karin sedang malas menjawab pertanyaan Silvi, sudah larut sekali. Karin ingin tidur dan mengusir lelaki kardus ini keluar dari apartemen mereka. “A

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status