Share

Bab 147 Cemburu Juga

last update publish date: 2026-07-28 15:20:58

“Bohong!”

Arlan marah, ia tahu kalau Karin menginap di apartemen Dimas dan menyangka Karin bercinta dengan pria itu. Padahal Karin tidak melakukan apapun tapi Arlan tidak mau percaya.

Arlan memblokir nomor ponsel Karin!

Baru kali ini Karin merasa ditinggalkan, ia juga tidak menyangka kalau Arlan yang sebucin itu dengannya bisa tega melakukan hal itu.

“Dia marah banget kayaknya,” gumam Karin sambil melihat pesannya yang sekarang centang satu dan ia sudah tidak bisa lagi melihat foto profil A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 262 Apa Dia Pernah Mencintaiku?

    Apa memang di hati Karin tidak pernah ada namanya?Arlan merenung di mejanya setelah Karin keluar dari ruangan, tubuh Karin sempoyongan karena lelah melayani hasrat Arlan yang begitu besar. Untuk Arlan nilai B itu tidak sulit, ia bisa saja merekomendasikan nilai seperti itu untuk Karin bahkan bisa saja nilai A. Karin hanya perlu menggodanya tapi wanita itu lebih memilih tidak peduli, bahkan setelah bercinta, ia keluar tanpa ada rayuan atau kata-kata romantis.Tidak ada pula pujian karena akhirnya ia berhasil menjadi Direktur Rumah Sakit mengalahkan kelicikan Dimas yang tidak pernah Karin ketahui. “Dia tidak percaya,” gumam Arlan sambil melihat layar komputer kosong. Padahal Arlan sudah katakan kalau ia bukan Pamannya Karin tapi Karin seolah tidak peduli. Mungkin Arlan sudah sering mengatakan hal lelucon seperti itu sehingga tidak asing di telinga Karin. “Aku adalah Om nya, di matanya seperti itu.” Arlan tertawa. Karin tidak akan pernah percaya kalau semua itu keluar dari mulutnya

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 261 Merekam Jejak Keintiman

    “Ahhhh.”Karin dan Arlan mencapai klimaks bersamaan. Tubuh Arlan ambruk di atas tubuh Karin. Arlan memeluk Karin begitu kuat dan wajahnya bersandar pada ceruk leher Karin cukup lama. Keperkasaan nya bahkan enggan ia keluarkan. Karin tahu ini sangat berbahaya mengingat Arlan tidak menggunakan pengaman dan ia juga sudah lepas KB. Setelah pelukan yang mereda dan napas yang kembali teratur, tubuh mereka basah oleh keringat sisa gairah.Sprei di bawah mereka terasa lembap dan basah, merekam jejak keintiman yang baru saja mereka bagi.Keduanya terbaring dalam keheningan yang penuh kepuasan, menikmati sisa debar jantung dan rasa lega yang mendalam.Dada mereka naik turun secara perlahan. Otot-otot yang tadinya tegang kini lemas dan rileks.Ada rasa puas yang tenang di antara mereka. Tatapan mata mereka menyiratkan kedekatan yang utuh tanpa perlu kata-kata.“Kamu tau Sayang, aku tidak pernah bisa melupakan saat kita bercinta,” bisik Arlan sambil memeluk Karin dari belakang. “Hanya itu? Hany

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 260 Stop, Mengeluh!

    “Nilaimu untuk stase ini ada di tanganku, Sayang.” Arlan menunjukkan rekapan nilai semua mahasiswa kedokteran yang koas di rumah sakitnya. Baru saja Karin sampai di ruangan Arlan, Arlan sudah menodongnya seperti ini. Karin pun terpaksa melihat nilainya. Mengulang Stase (D).Sudah Karin duga, ia tidak mungkin mendapatkan nilai yang baik, semua temannya sudah mengerjakan makalah ilmiah sedangkan ia selalu saja gagal.“Gimana caranya supaya bisa dapat nilai B, dok?” Karin langsung to the point. Ia memang tidak ingin mengulang stase itu, apalagi semakin lama-lama bersama dengan Arlan. “Mudah, mudah banget,” jawab Arlan mendekati Karin. Karin menelan salivanya, ia duduk mulai tidak nyaman, rasanya ingin berdiri dari kursi tamu mewah ini. “Puaskan aku! Itu saja, aku hanya ingin itu, aku tidak ingin yang lain.”“Aku gak mau, dok. Kamu sudah punya dr. Renata, kalau memang kamu ingin dipuaskan. Kenapa tidak mencarinya?” tanya Karin dengan tatapannya yang tajam. “Memangnya sekarang kamu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 259 Hadiah Dari Dua Pria

    Heboh di group koas, padahal Karin belum sampai di rumah sakit tapi sudah ada dua buket bunga yang dikirim untuk Karin, semuanya mawar merah dan besar-besar. “Rin, dari siapa?”Karin meringis, ia tidak suka mendapatkan hadiah seperti ini, apalagi dikirim ke rumah sakit. “Mr. X dan Cinta Sejatimu.” Silvi menutup mulutnya terkekeh, tapi Silvi bisa menebak siapa saja yang mengirim bunga ini. “Apa dari dr. Dimas?” tanya Silvi. Sepertinya bukan, tidak ada juga yang mengirim pesan pada Karin. Bertanya apa hadiahnya sudah sampai apa belum. Semuanya misteri. Karin disuruh menebak sendiri. “Rin, Residen tambah gak suka sama kamu,” bisik Silvi sambil melihat dr. Icha, sekarang dr. Luna tidak ada lagi, dr. Icha mulai bersekutu dengan dr. Naomi untuk menghujat Karin. “Aku gak ada salah apapun sama mereka, aku juga gak minta kok bunga ini dikirim ke rumah sakit. Siapa sih orangnya?” Saat Karin penasaran, Xavier menghubungi Karin. “Halo Cantik, suka bunganya?” tanya Xavier. Oh, sudah pa

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 258 Uang Jajan Dari Papi

    Sejak tahu mereka tidak sedarah, Arlan tidak marah, tidak pula kesal saat Karin menolaknya karena Arlan tahu sekarang tujuan hidupnya adalah Karin. “Kita harus mimpi bersama kalau begitu, supaya bisa melakukannya dalam mimpi,” jawab Arlan dengan senyum manisnya. Karin tidak lagi membalasnya, kata-kata Arlan hanya bualan, Karin malas bicara dengan Arlan saat ini apalagi setelah Arlan bertunangan dengan Renata. Ponsel Karin berdering karena Karin tidak membalas pesan Arlan lagi. Arlan jujur, ia sangat merindukan Karin. Ia hanya ingin bertemu, setidaknya ngobrol dari hati ke hati dan melupakan batas di antara mereka. “Apa lagi sih, dok?” tanya Karin kesal. “Ayo kita bertemu, kau tidak perlu masuk ke rumah sakit hari ini, aku bisa memberikanmu izin, please!” “Gak!”Tidak ada yang perlu Karin bicarakan dengan Arlan, mereka sudah selesai.“Kamu yakin ingin selalu dipaksa, Sayang?” tanya Arlan kesal. “Aku gak mau ketemu kamu, dok. Ngapain? Di antara kita sudah tidak ada apapun dan aku

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 257 Dalam Mimpi

    Pagi ini, Silvi dan Karin jadi canggung, antara mereka menyimpan rahasia yang susah untuk diutarakan, Silvi takut Karin membencinya sedangkan Karin juga takut Silvi menyalahkannya. Mereka diam sambil bermain ponsel, tidak ada keinginan untuk bangun, padahal mereka harus ke rumah sakit. “Aku mandi dulu, ya. Aku udah suruh Bibi untuk antar sarapan ke kamar, gak usah ke meja makan lagi,” ucap Karin sambil melirik Silvi yang muram. “Hemm,” jawab Silvi. Ah, Karin tidak tahu harus seperti apa, Karin saja sudah sering mengutuk kelakuan Papinya yang playboy tapi pria mesum itu tidak pernah mau berubah, seolah wajar kalau pria mapan dan berkharisma seperti dirinya memiliki banyak selir dan herannya, Papi Rion tidak pernah kena penyakit kelamin. Tubuhnya sehat, justru Mami yang sering sakit-sakitan. Saat Karin mandi, Silvi memilih pakaian kuliahnya, ia meminjam baju Karin karena tidak membawa baju, Karin pasti tidak keberatan. Silvi melihat jejeran pakaian Karin dan brand ternama. Koleksi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status