LOGINKarin tidak sempat merapikan setiap sudut apartemennya, ia bergegas mengusir Arlan karena sebentar lagi Silvi pulang. Begitu Silvi sampai dengan kedua pizza di tangannya, Silvi terkejut bukan main. Apartemen seperti kapal pecah, piring berantakan, kotak makanan yang masih ada di meja makan, bantal sofa sudah ada di bawah lantai, air mineral yang tumpah. “Ini sebenarnya kenapa? Kok seperti dirampok?” Silvi bingung melihatnya, ia pun melihat kamar Karin, membuka kamar sahabatnya yang dingin, Karin tidur tengkurap tanpa busana dan ditutup selimut, tapi punggungnya masih terbuka. Silvi melihat ke lantai ada pengaman yang masih terisi cairan kental. “Sialan,” gumam Silvi mengutuk Karin, pantas saja Karin memintanya membeli Pizza di tempat yang jauh. Ternyata di apartemen ia mengajak seseorang untuk bercinta. Masih tercium wangi parfum maskulin bercampur kayu dan jeruk segar.Karin tidur, ia tidak bangun mungkin lelah. Silvi pun tidak membangunkan Karin, ia malah merapikan ruang tamu y
“Siapa yang telpon?” tanya Xavier saat Karin keluar dari kamar. “Mami,” jawab Karin bohong. “Mami mau ke apartemenku Xavier, kamu pulanglah, sudah ada Mami yang temani aku,” lanjut Karin sambil melihat ke arah lain. Ia tidak berani menatap wajah Xavier karena saat ini ia sedang berbohong. “Ok, tapi makan siang dulu. Ayo, aku sudah siapkan.” Xavier membantu Karin untuk ke meja makan dan Karin melihat semua makanan mewah dari Restoran bintang lima yang dipesan khusus oleh Xavier bahkan datang saat makanan itu masih hangat. “Eugh!” Karin melenguh menahan sakit dan nyeri dibagian dadanya, ia memang mengikuti saran Arlan untuk Induksi Laktasi, memang Karin menginginkan tubuhnya mengeluarkan susu seperti Renata karena Karin cemburu dengan tubuh Renata yang menggoda. Karena Karin tidak ingin Arlan berpindah hati meskipun ia selalu saja mengusir Arlan dengan kejam. “Ada apa Karin, kenapa dadamu basah?” tanya Xavier. Mata Xavier terbelalak. Mungkinkah Karin menyusui? Ia tidak hamil, tid
Di dalam ruangan meeting, Arlan tidak fokus, pikirannya kacau karena Papanya sudah mengetahui kalau Arlan masih belum menyerah sampai saat ini. Ditinggalkan berdua saja dengan Renata, entah apa yang dipikirkan Papanya untuk memaksa mereka berdua menikah. “Hari ini cukup sampai disini, terima kasih semuanya.” Arlan merapikan mejanya dari berkas-berkas laporan yang menumpuk dan membawanya keluar, ia ingin kembali ke ruangannya tapi masih ragu, Arlan takut Papanya belum pulang. Arlan urungkan dan ia kembali ke ruang kliniknya, tempat itu menyimpan banyak rahasia antara ia dan Karin. Arlan tidak mungkin melupakan itu. “Ahhh,” suara desahan Karin yang berharap Arlan mempercepat permainannya. Sialan! Baru saja ia merasakan bercinta dengan Karin, tapi masih saja menginginkannya lagi dan lagi. Arlan tidak pernah bosan, bahkan tidak ada kata bosan. “Huh!” Arlan membuang napas kasar setelah masuk ke ruangannya yang kecil tapi cukup nyaman. “Karin Karin Karin.”Arlan memanggil nama Kar
“Ngapain Kakek Billy ke rumah sakit?” Silvi melihat Kakek Billy terburu-buru naik ke lift, sepertinya menuju ruangan dr. Arlan. Silvi tidak tahu ada masalah apa yang penting ia menghubungi Karin saja. Siapa tahu ini masalah pertunangan dr. Arlan dan dr. Renata yang akan disegerakan. Supaya Karin sadar dan tidak lagi memikirkan Pamannya. “Halo, Rin. Udah sehat?” tanya Silvi setelah telepon tersambung. “Udah lumayan, kenapa? Tumben banget nelpon, biasa juga nunggu aku mati dulu,” sindir Karin dengan menarik sudut bibirnya. “Gak ada kayak gitu Rin, aku ini sahabat yang selalu ada suka dan duka.” Karin memang tidak pernah serius. Padahal Silvi tidak ingin bercanda saat ini. “Ada gosip, aku lihat Kakek Billy naik ke ruangan dr. Arlan, dia terburu-buru banget, kayak mau nikahin anak gitu,” lanjut Silvi. Memang kompor! Padahal Karin sudah tidak sedih dan bisa tertawa, Silvi malah mengingatkan pernikahan Arlan dan juga dr. Renata. “Ngapain Kakek? Berobat?” “Sehat gitu, tapi gak tau j
“Pagi, princess.” Xavier selalu menghubungi Karin di waktu yang tepat, saat ia memang membutuhkan orang untuk diajaknya bicara. “Pagi,” jawab Karin dengan suara serak karena ia baru selesai menangis. “Ada apa? Sepertinya kamu habis menangis?” tebak Xavier. Suara Karin berbeda, biasanya ceria atau cuek tapi pagi ini seperti ada suara yang tertahan. “Gak ada, semalam aku jatuh dari tangga.”“Jatuh dari tangga?” tanya Xavier panik. Baru saja Xavier tiba di kantornya, belum sempat duduk, ia melepaskan jasnya di kursi. “Hemm, tapi gak apa. Aku gak masuk hari ini,” lanjut Karin sambil memijat kakinya. Padahal pagi tadi Arlan sudah memijatnya dan sudah mulai nyaman. “Aku akan ke apartemenmu sekarang! Aku mau melihat keadaanmu,” ucap Xavier menarik jasnya dan berlari secepat mungkin ke parkiran, ia sendiri yang mengendarai mobilnya menuju apartemen Karin yang baru. Padahal Karin belum setuju tapi Xavier cepat sekali. Karin melanjutkan merebahkan dirinya di ranjang dan melamun lagi.“K
“Bohong!” Karin mendorong tubuh Arlan dengan kuat, tidak mungkin semua ini terjadi, pasti Arlan sedang memanipulasinya dan Arlan bisa melakukan semua itu dengan kekuasaan yang sekarang. Padahal Karin sudah terharu, Arlan bingung. Kenapa sikap Karin menjadi seperti ini lagi. “Aku akan tanya Kakek langsung, aku gak percaya denganmu, dok.” Karin begitu sigap menekan nomor Kakek Billy, sedangkan Arlan langsung panik dan berusaha menarik ponsel Karin. Namun, terlambat! Kakek Billy sudah mengangkat telepon dari cucu kesayangannya itu. “Kek, Karin mau tanya sesuatu, boleh?” tanya Karin dengan hati-hati. Arlan menggeleng, meminta Karin untuk menutup telponnya sekarang. “Matikan Sayang!” Arlan berbisik dengan suaranya yang pelan. Karin tidak mau mendengarkan, ia tetap saja ingin bicara dan langsung bertanya. Kakek Billy tidak mungkin berbohong. “Ada yang mengirimkan pesan padaku, Kek. Apa benar dr. Arlan itu bukan anak kandung Kakek?” tanya Karin ragu sambil melipat bibirnya. Karin m
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







