LOGINKalau bukan karena ada telepon dari rumah sakit, mereka pasti bercinta lagi. “Nanti aku pulang lagi, kau tidak mau ke apartemenku?” tanya Arlan sambil mengecup pundak Karin yang polos, permainan panas mereka seharusnya masih berlanjut. Arlan tidak ingin meninggalkan Karin sendirian di ranjang. “Gak,” jawab Karin dengan matanya yang terpejam, seluruh tubuhnya sakit dan area sensitifnya terasa kebas juga perih. Perawannya baru saja hilang, ada tetesan darah juga di spreinya. Tapi, Karin tidak peduli. Pembantunya pasti berpikir itu darah periodenya. “Kau tidak merindukanku?”Begitu manjanya Arlan, Karin membalik tubuhnya dan melilitkan tangan ke leher Arlan. “Baru aja main, kamu gak puas?” Arlan menggeleng pelan. Mana mungkin pria dewasa puas dengan sekali permainan apalagi ini pertama untuk mereka. “Aku ketagihan, apa yang kau berikan padaku?” tanya Arlan dengan senyum nakalnya. Arlan mengecup lembut bibir Karin dan menatap matanya dengan penuh hasrat. “Masih ada besok dokter, a
“Ahhh, dokter jangan, please!” Karin memohon sambil menarik lingerie nya ke bawah dan menggeleng pelan.Matanya benar-benar memohon agar Arlan tidak melakukan itu di rumahnya. “Apa yang kamu takutkan Sayang?” tanya Arlan sambil mengecup telapak tangan Karin. “Ini di rumahku, aku gak mau sampai Bibi tau dokter ada di dalam kamarku, ahhhh.” Arlan seakan tidak peduli, tangannya sengaja menyusup ke dalam perut Karin dan mengusapnya dengan lembut. Membuat Karin bingung melepaskan diri dari Paman mesumnya ini. “Dia baru saja keluar, kita punya banyak waktu.”Tanpa ragu Arlan melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuh Karin begitupun kain yang menutup tubuhnya. Mulut Arlan sibuk melumat bibir Karin dan Karin membalasnya seolah tidak lagi peduli dengan pendapat orang lain yang mengetahui hubungan terlarang mereka. Akkkhhhh! Karin mendesah hebat setiap Arlan mengecup setiap inci tubuhnya. “Apa boleh aku melakukannya?” tanya Arlan setelah puas mencium tubuh Karin dari atas sampai b
Tok! Tok! Karin mengunci seluruh pintu kamarnya, Arlan tidak bisa masuk baik dari depan atau dari belakang. “Kau akan terus marah?” tanya Arlan sambil mengetuk pintu. Karin malas menjelaskan apapun. Mungkin menurut Arlan sepele tapi tidak untuk Karin. Saat ini ia sedang sangat stres, semua orang mengejeknya, semua orang juga membicarakannya meskipun sudah mendapatkan hasil.Tuduhan mereka terbantahkan, ia dan Arlan tidak melakukan hubungan seperti itu. “Kau seperti anak-anak Karin,” lanjut Arlan sambil memijat keningnya. Di rumah sakit sedang banyak masalah dan Karin juga membuat masalah dengannya. Salah Arlan hanya mengaku pada semua temannya kalau ia sudah punya kekasih. Semua itu bohong, semua itu Arlan lakukan untuk melindungi Karin.“Aku lelah dok, dokter boleh pulang, Mami dan Papi juga gak ada di rumah, dokter mau kita kembali terlibat skandal. Kali ini apa yang mau dokter jelaskan?” tanya Karin mengejek. Oke!Arlan tidak mau berdebat tetapi ia juga tidak mau pulang. Arl
Tangan Karin meremas kuat ranjang pasien dan menutup matanya dengan bibir yang dilipatnya kuat. Karin berusaha sedemikian rupa untuk tidak menghalangi dr. Icha bekerja. “Ok, sudah selesai.” Karin menarik napasnya dalam dan sungguh puas sekali. Icha pun tersenyum mengejek, akhirnya semua orang tahu kalau ia memang masih perawan. “Tinggal menunggu test darah dan urine, mungkin pagi nanti, kita sudah mendapatkan hasilnya.” Sebenarnya secara menyeluruh, Icha sudah bisa memastikan kalau Karin perawan, semua ini hanya formalitas saja sesuai dengan prosedur. “Makasih dokter,” jawab Karin dengan lembut. Sekarang Karin bisa bebas dari segala tuduhan, Karin senang belum melakukan hubungan itu dengan dr. Arlan meskipun menginginkannya. “Semua baik-baik aja, aku percaya sama kamu,” ucap Dimas. Dimas tidak pernah meninggalkan Karin saat melakukan test itu. Dimas bahkan memeluk Karin setelah selesai melakukan pemeriksaan. Meskipun Karin enggan dengan sentuhan itu tetapi ternyata ia juga memer
Keluar dari ruangan, Karin tersenyum tapi air matanya menetes. “Ngapain aku nangisin dia?” gerutu Karin sambil mengusap air matanya yang menetes tanpa tahu malu. Mereka memang tidak pacaran, hubungan mereka memang tidak jelas, tidak cinta hanya sekedar saling memanfaatkan, lagipula Arlan itu Pamannya. Bodohnya Karin berpikir kalau ungkapan cinta dari Arlan itu memang benar karena cinta. “Hahahah bodoh,” lanjut Karin bersedih. Karin menonaktifkan ponselnya setelah itu, ia sudah tidak peduli gosip yang beredar, meskipun gosip itu ternyata sudah menyebar, teman-teman koasnya berbisik dari jauh sedangkan Residen yang ada di ruang IGD juga melihatnya dengan sinis. Jam tiga subuh, Arlan masuk ke ruang IGD, entah apa yang dicari pria itu. Karin tidak peduli dan pura-pura tidak tahu, Karin tidak mau lagi ke ruangan Arlan, sudah muak rasanya. “Kenapa ponselmu?” tanya Arlan berdiri tepat dihadapan Karin tanpa peduli dengan gosip mereka. “Kenapa apanya dok?” Karin menjawab dengan lembut
Arlan menghela napasnya panjang karena pulang dari Jepang, ia menghadapi masalah serius. Ternyata ada musuh dalam selimut yang melaporkan perilaku buruknya dan dinilai tidak pantas menjadi Direktur rumah sakit. Malam ini ada pertemuan dadakan pemegang saham dan direksi rumah sakit. “Siapa sebenarnya yang mengirimkan foto-foto itu,” ucap Arlan kesal. Arlan melihat foto-foto saat Karin masuk ke ruangannya dan keluar dari ruangannya berikut dengan foto Karin yang mampir ke apartemennya saat malam. Sialan! Haruskah dia mengakui kalau Karin itu adalah keponakannya di depan direksi nanti. Kalau sampai ia gagal pemilihan Direktur nanti, pasti musuh-musuhnya akan senang. Arlan mencuci wajahnya di wastafel sebelum berangkat ke ruang pertemuan. “Aku gak akan menceritakannya,” ucap Arlan dengan tegas. Ketika semua orang tahu kalau Karin adalah keponakannya. Hubungan mereka pasti akan semakin jauh. Arlan tidak menginginkan itu. Setelah rapi, Arlan menuju ruang pertemuan dan di tengah jal







