LOGINDari jam lima subuh, Karin nongkrong di kantin rumah sakit, kebetulan mereka sudah mulai buka, menjual sarapan pagi dan kopi. Tentu saja pilihan Karin kopi pahit supaya hari ini ia tidak mengantuk, dari tadi tangan Karin sibuk mengetik, pegawai rumah sakit mulai sedikit demi sedikit datang, kantin ini mulai ramai.Mata Karin sudah mulai tipis, ada kantung hitam dibawah matanya. “Oke, keluhan utama: sesak napas sejak dua hari lalu. Riwayat penyakit dahulu: asma... Umur pasien 26 tahun. Mana sih datanya, diagnosis Apendisitis Akut Perforasi yang telah dilakukan tindakan Apendektomi Terbuka. Pasien saat ini sedang hamil G1P0A0 usia kehamilan 22 minggu. Bab empat tinggal kesimpulan. Ayolah Karin, demi nilai stase interna, jangan sampai remedial!” Karin bicara sendiri sambil mengetik. Tangannya sudah mulai sakit dan kapalan. Karin menyeruput es kopinya. Matanya mulai terasa sangat berat setelah terjaga hampir 24 jam penuh karena dinas malam dan lanjut mengetik laporan kasus.“Hoam, gak
Sambil mengeringkan rambutnya, Karin melihat aplikasi pesan makanan online, ia sudah lapar sekali, hari ini seperti penyiksaan karena begitu banyak pasien yang datang dan semua dalam keadaan darurat.Padahal sebelumnya ruang IGD sepi, kenapa malah menjadi ramai dan sempat-sempatnya Karin mandi untuk selalu menjaga kecantikan, keringatnya sudah bau kambing, Karin sudah ingin menjerit.Sebagai wanita cantik, ia harus selalu tampil memukau walaupun sedang berjaga. Ia baru saja mengenakan baju scrub yang bersih.Karin baru saja tiba di IGD, Tiba-tiba, perawat menghampirinya dengan wajah yang sangat panik.Apalagi? Pasti ada pasien yang kritis.“Mbak Karin! Untung ada Mbak, cepat ke bilik tiga sekarang, Mbak! Ada pasien G1P0A0, pembukaan lengkap, ketubannya baru saja pecah dan kepalanya sudah kelihatan di vulva!”“Hahh? Pembukaan lengkap?” Terkejut, langsung menyampirkan handuknya.“dokter Residen bedah atau dokter Konsulen di mana, Mbak? dokter Icha mana?” tanya Karin, Icha yang berjaga
Jangan harap! Ya, jangan harap Karin akan menghubungi Arlan lebih dulu karena saat ini Karin sedang memikirkan pria mesum yang mempermainkannya siang tadi. Karin lembur, ia mengganti waktunya yang hilang dengan lembur malam dari Senin sampai Jumat, bahkan kalau Sabtu Minggu tidak ada koas yang berjaga, Karin yang harus datang. Cuti sebulan membuat Karin harus siap. Karin juga tidak berani menolak meskipun lelah. “Aduh, pegal banget.” Rasanya ngantuk sekali, Karin memukul lehernya dengan kepalan tangan karena capek sekali hari ini, apalagi pasien bedah cukup banyak. Karin masih sambil mengetik laporan kasus dari semua kasus pasien di rumah sakit, ia harus segera menyelesaikan semua laporannya. Silvi tidak lembur, hanya ia saja. Ruang IGD sedikit lenggang malam ini, ia ada disana untuk berjaga-jaga, jujur saja rata-rata pasien yang datang pada malam hari karena kecelakaan, ada yang bedah minor dan bedah mayor. Dokter spesialis harus siap sedia untuk dihubungi kapanpun bahkan teng
“Lebarkan kakimu, kita coba yang baru!” “Gak dok!” Karin menolak tapi Arlan malah memaksa Karin. Karin tidak seperti ini sebelum Kakek Billy membawanya ke London, sekarang Karin seperti wanita yang naif, polos dan seolah-olah tidak pernah berhubungan intim. “Kau tidak punya pilihan, Sayang!” Arlan memaksa Karin untuk duduk di kursinya, menyingkap roknya ke atas dan menarik dalamannya sampai tanggal. Ia masukkan pelan sampai ke inti dan Karin menggigit kuat bibirnya. “Ouhhh!” Padahal belum juga dimulai, Karin sudah tidak tahan. Alat bercinta kali ini lebih besar ukurannya dari sebelumnya. Karin pasti akan mendapatkan kepuasaan.Sudah berapa kali ia mencapai puncak saat sedang meeting dengan Konsulennya dan sekarang Arlan belum puas memberikan hukuman pada Karin. “Akhhhhh, dok! Stopppp aahhhh.” Arlan mencium bibir Karin dengan rakus saat wanita itu menjerit, tangan Karin melingkar di leher Arlan dan mencengkram pundak Arlan dengan kuat, mata Karin memohon untuk Arlan segera meng
Untung saja di hari pertama stase ini, Karin tidak terlambat. “Huft!” Konsulennya hari ini dokter spesialis bedah umum, masih muda, umurnya dua puluh delapan tahun, belum menikah dan terkenal dingin, irit bicara. Karin baru saja menatap wajah dokter itu, ia tidak melihat Karin. “Koas yang cuti sebulan?” Pertanyaan itu keluar dari mulut dokter itu. Namanya, dr. Revan. “Iya dok,” jawab Karin menunduk, ia malu sekali menjadi pusat perhatian koas lain dan dokter Residen yang ikut bedah kasus pagi ini. “Karin Wijaya,” ejanya dengan senyum mengejek. Pastilah kalau tidak ada orang dalam, Karin akan mengulang satu semester tapi ini spesial. “Harus banyak buat laporan kasus, terpaksa banyak lembur. Gak apa?” tanya dr. Revan. “Gak apa dok,” jawab Karin dengan lembut. Pagi ini ia sudah kacau dengan permintaan gila Arlan, bahkan sekarang ia terpaksa menggunakan alat itu demi membuat mulut Arlan diam dan tidak mengganggu hidupnya. Sekarang, ia malah berhadapan dengan Konsulen yang lebih
Sialan! Karin terjebak permainan gila Arlan dan ia tidak punya pilihan, ia harus lakukan atau Arlan akan datang dan membuat hidupnya semakin hancur. “Kau puas kalau aku menggunakan alat ini, dok?” “Ya.” Karin menutup matanya dan mengepalkan tangannya kuat, ia harus lakukan sekarang supaya semua cepat selesai. “Oke.” Karin melihat pakaian dalam yang disiapkan Arlan di dalam lemari, itu sudah biasa ia gunakan tapi yang ini tipis juga sangat seksi. “Bajingan, kau senang sekali membuat aku malu, dokter.” Karin mengumpat dalam hati tapi tetap saja ia gunakan. Ia berganti pakaian sesuai dengan yang Arlan inginkan. Karin menutup belahan dadanya yang menonjol dengan rambut panjangnya. Ia juga membawa alat itu dan melihat kembali panggilan video call Arlan. “Setelah ini, kau mau mengancamku dengan video ini, iya kan?” tanya Karin kesal.“Sayang, aku bukan pria murahan seperti Dimas. Pria yang dulu kau puji sangat baik, aku hanya ingin bersenang-senang dengan wanitaku. Ayo masukkan ke d
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di







