مشاركة

Bab 170 Cuma Iseng

مؤلف: Madamme Yellow
last update تاريخ النشر: 2026-08-01 17:19:05

Dari jauh Arlan melihat Karin menangis, ia duduk sendirian sambil menghapus air matanya. Rasanya mereka sudah baikan, tidak ada masalah pagi tadi. Arlan sudah minta maaf. Lalu, apalagi yang terjadi pagi ini pada Karin.

Ketika Arlan ingin mendekat, Dimas sudah lebih dulu menemukan Karin. Ia langsung memeluk Karin dan menatap mata Karin dengan lembut.

“Ada apa?” tanya Dimas sambil mengusap air mata Karin.

Siapa yang menyakiti hati Karin? Apa Arlan?

“Gak ada kok dok,” jawab Karin sambil memaks
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 172 Janda Baru Mulai Merapat

    “Katanya ada mantan dr. Arlan di ruangan, kamu lihat gak?” tanya Silvi saat mereka di dalam lift. “Hemm, beneran?” “Kata orang, aku juga gak tau. Kamulah tanya dengan dr. Arlan, bener apa gak?” Karin tidak berani bertanya hal seperti itu. Kecuali kalau Arlan sendiri yang cerita. Selama ini mereka tidak pernah membahas masa lalu atau cinta lalu yang pernah ada. Karin juga tidak kepo terhadap hidup Arlan yang sudah berlalu atau yang saat ini sedang berjalan. “Cantik juga Rin, orangnya ramah banget, senyum terus dan kayaknya lembut. Apa udah nikah?” Karin mengedikkan bahunya, ia juga tidak tahu. Mengingat umur Arlan yang sudah matang, bisa saja mantan kekasihnya sudah menikah. Teman-teman Arlan saja banyak yang sudah menikah. Hanya Arlan yang betah jomblo. Diego saja seorang duda. Makanya banyak yang bergosip kalau dr. Arlan suka sesama jenis padahal hanya Karin yang tahu betapa gagahnya Arlan di ranjang. “Kira-kira mereka putus, kenapa ya?” Karin tidak tahu dan tidak ingin tahu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 171 Ciuman Rindu

    “Silahkan tanda tangan disini dok, ini bingkisannya. Terima kasih!” Karin dengan ramah membantu para dokter itu mengisi buku tamu dan memberikan souvenir yang sudah disiapkan oleh Panitia. Karin hanya tinggal beres saja, ia tidak tahu apapun. “Eh, itu dr. Renata. Katanya dia baru selesai sekolah di luar negeri, ada yang bilang dia itu cinta pertama dr. Arlan.” Karin yang tadinya fokus membantu dokter mengisi buku tamu jadi teralihkan. Arlan tidak pernah cerita tentang dr. Renata bahkan Karin tidak tahu kalau cinta pertama dr. Arlan juga seorang dokter. Karin mendengar teman koasnya yang sesama panitia bergosip, mereka ditemani Residen dan perawat senior. Karin dan Silvi anak baru jadi tidak diajak. Sampailah dr. Renata yang mengisi buku tamu, wanita ini cantik, punya senyum yang lembut, anggun juga, terlihat dari cara pakaiannya yang sopan, tidak seperti Karin yang selalu ingin terlihat seksi, dr. Renata bahkan menggunakan rok sampai mata kaki. “Ini souvenirnya dokter,” ucap Ka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 170 Cuma Iseng

    Dari jauh Arlan melihat Karin menangis, ia duduk sendirian sambil menghapus air matanya. Rasanya mereka sudah baikan, tidak ada masalah pagi tadi. Arlan sudah minta maaf. Lalu, apalagi yang terjadi pagi ini pada Karin. Ketika Arlan ingin mendekat, Dimas sudah lebih dulu menemukan Karin. Ia langsung memeluk Karin dan menatap mata Karin dengan lembut. “Ada apa?” tanya Dimas sambil mengusap air mata Karin. Siapa yang menyakiti hati Karin? Apa Arlan? “Gak ada kok dok,” jawab Karin sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum. Arlan hanya diam menonton dari jauh, tidak diperbolehkan marah, tidak boleh juga cemburu karena Dimas memang kekasih Karin. “Tapi sampai kapan? Aku takut kamu benar-benar jatuh cinta dengannya,” ucap Arlan dengan satu tangan di saku celananya. Dimas bisa membuat Karin nyaman, bahkan sekarang Karin sudah berani membantahnya dan membela Dimas.“Aku gak punya batik, aku mau ke mall.” Karin menghapus air matanya dan dia harus cepat bersiap untuk acara nanti malam. “

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 169 Kecupan Ketiga

    Karin ikut merapikan tempat pertemuan setelah mereka selesai, ia membuang kotak-kotak kue ke tong sampah dengan sangat telaten padahal di rumah, Karin seorang princess yang sangat dimanjakan orang tuanya. “Rin, aku duluan.” Silvi meninggalnya sendirian dengan koas lain, padahal ini juga pekerjaannya. Ruangan sudah sepi tapi Karin dan yang lain malah diminta ikut membersihkan tempat ini. Memangnya tidak ada OB? Karin menggerutu dalam hati. “Awwwhhhh.” Karin terkejut dan menoleh cepat saat tangannya ditarik ke ruangan kosong yang masih ada di dalam ruang meeting itu. Jantung Karin berdegup kencang saat didorong oleh dr. Diego ke dinding.“Susah sekali mengajakmu bertemu Baby,” bisiknya dengan suara serak di telinga Karin sambil mengecup lembut daun telinga Karin. Karin langsung merinding dan langsung menyentuh telinganya. “Kamu suka sembunyi-sembunyi seperti ini?” tanyanya sambil membelai lembut bibir Karin. “dok, masih ada orang di ruangan ini, aku gak mau sampai ke-ketahuan, u

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 168 Pertemuan Para Kekasih Hati

    “Kalian panitia?” tanya Icha meremehkan. Icha melipat tangannya di dada dan melihat Karin dari atas sampai bawah. Wanita ini sok cantik, juga merebut kekasih sahabatnya. Icha masih punya dendam dengan Karin, ia ingin sekali membuat nama baik Karin hancur tapi disisi lain, ternyata Karin juga keponakan dr. Arlan. Jadi, mereka tidak bisa sembarangan membuat Karin susah. “Iya dok, ini mau izin gak ikut visit, soalnya mau persiapan untuk malam nanti.” Icha mengangguk pelan dan melambaikan tangannya. “Pergilah!”Icha juga malas dibantu oleh Karin dan Silvi. Lebih tepatnya muak melihat wajah Karin. Setelah mendapatkan izin, mereka berlari ke ruang pertemuan. Sudah banyak yang berkumpul termasuk dokter-dokter yang mengadakan acara besar rumah sakit ini. “Untung gak terlambat,” ucap Silvi sambil menarik Karin, mereka mencari tempat duduk yang dekatan. Tidak lama banyak dokter spesialis masuk. Arlan bahkan datang dengan Diego. “Ya ampun,” ucap Karin sambil menutup wajahnya dengan map bi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 167 Kabarnya Dia Tidak Normal

    “Udah enakan perutnya?” tanya Silvi, hari ini seperti biasa Karin sudah masuk ke rumah sakit, ikut visit pasien dan mulai mengerjakan laporannya yang tertunda karena berapa Minggu ini terus masuk rumah sakit. “Hemm udah, gak deras lagi.” Karin panik saja, biasanya darah haidnya tidak sebanyak itu tetapi bulan ini volumenya lebih banyak. Sepertinya ia memang tidak cocok dengan KB, sebagai mahasiswi kedokteran Karin malah meragukan KB suntik, selain suntik, ia juga minum pil KB. Ya, mungkin saja karena itu hormon nya jadi tidak stabil.“Malam nanti ada acara doctors gathering di Hotel Grand Hyatt.” Karin tidak tahu karena biasanya memang anak koas tidak diajak acara besar seperti ini. “Oh,” jawab Karin santai. Itu bukan urusannya, ia juga tidak mungkin ikut dalam acara.“Aku lihat kamu masuk dalam panitia penyambutan karena banyak dokter spesialis yang diundang.” “APA?” Sumpah? Karin terkejut bukan main, tidak ada dari panitia itu memberitahu Karin. Mereka sebenci itu dengan Karin

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status