ANMELDEN“Kirimkan kabar buruk ini pada tuanmu, bajingan. Biarkan dia tau kalau wanita yang dia obsesikan sedang sekarat karena ulahnya.”Arlan menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk konfrontasi terakhir. Umpan telah ditelan oleh mata-mata di lapangan, dan gelombang kejutnya sedang merambat menuju villa bersalju tempat Karin disembunyikan.Lelaki bertopi itu bergegas keluar dari area lobi rumah sakit dengan langkah seribu.Informasi yang ia kumpulkan malam ini sudah lebih dari cukup. Sejak mengintai kediaman rahasia Dimas yang terisolasi, ia telah menyaksikan segalanya, kesibukan yang janggal di tengah malam, mobil yang melesat membelah jalanan bagai kesurupan, hingga momen krusial saat tubuh Laura yang lemas didorong tergesa-gesa memasuki ruang ICU khusus.Dari balik celah kaca koridor, ia berhasil membidik satu foto.Gambar buram yang menampilkan Laura di bawah kepungan alat medis itu langsung dikirimkan melalui pesan terenkripsi ke belahan bumi utara.Di balkon villa bersalju Aurora, pons
Mendengar ketegasan Arlan yang begitu kuat, Dimas tidak punya argumen lagi. Taruhan terakhir telah dilemparkan ke atas meja judi takdir mereka.Skenario berbahaya itu akhirnya mulai bergulir dari dalam rumah.“Apa perlu ada darah seperti ini, Sayang?” Dimas menyiram darah palsu ke gaun tidur Laura yang putih. “Ya, Sayang. Dengan begini Karin bisa pulang.” Laura bersalah jadi dia akan ikuti apapun supaya Karin kembali. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun. Agar informan Moreno yang tersebar di Jakarta tidak mencium adanya konspirasi, semuanya harus direkayasa sealami mungkin, meniru kepanikan nyata dari sebuah keadaan darurat medis.“LAURA! Kamu kenapa, Sayang?” Dimas mulai berteriak histeris Malam itu, ketenangan perumahan pecah oleh suara deru mobil yang mendadak.Dimas sengaja membuka lebar pintu utama rumahnya, membiarkan lampu teras menyala terang benderang.“Siapkan mobil, CEPAT! Aku ingin ke rumah sakit sekarang, Laura tenanglah, Sayang!”Dari dalam rumah, terdengar sua
Dimas mendengarkan dengan seksama, tangannya mengepal erat.“Lalu bagaimana dengan Laura? Dia harus ada di kamar itu saat Moreno datang. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuhnya, Dok.”“Aku yang akan menjaga perimeter di dalam kamar, Dimas,” tegas Arlan, menatap Dimas lurus.“Begitu Moreno menginjakkan kaki di ruangan itu untuk melihat Laura, dia tidak akan bisa keluar lagi. Aku akan memastikan Karin pulang dan Moreno membayar semua kegilaan ini.”Umpan telah dipasang di Jakarta, tinggal menunggu waktu sampai sang predator mencium baunya dari kejauhan salju Monako.“Apa ini akan berhasil?” Di dalam kamar tidur yang temaram, Dimas duduk di tepi ranjang dengan berat. Ia menggenggam jemari Laura yang terasa sedingin es.“Sayang, aku mau ngomong,” bisik Dimas. Dengan nada suara yang diatur sehati-hati mungkin agar tidak memicu trauma istrinya.“Apa, Sayang?” Laura sudah menduga apa yang akan Dimas katakan, pasti ini karena Karin.Dimas mulai menjabarkan rencana nekat yang dis
Uang miliaran rupiah memang bisa membuka pintu manapun, termasuk mulut seorang pekerja domestik di Monako.Setelah berani membayar mahal salah satu orang dalam yang bekerja di area tersebut, Arlan dan Dimas berhasil mencegat dan menguntit seorang pelayan yang baru saja keluar dari gerbang villa mewah milik Moreno.Namun, informasi yang mereka dapatkan justru bagai hantaman palu di dada Arlan.“Tempat itu sudah sepi, Tuan,” ucap pelayan itu dengan gugup dalam bahasa Prancis yang diterjemahkan cepat oleh Dimas.“Tuan Moreno sudah berangkat sejak beberapa jam yang lalu bersama seorang wanita. Tapi ... saya benar-benar tidak tahu ke mana mereka pergi.”“Brengsek!”Arlan memukul kemudi mobil sewaan mereka dengan brutal.Napasnya memburu, wajahnya memerah menahan ledakan amarah yang bercampur dengan keputusasaan. Ia terlambat lagi!Moreno selalu selangkah lebih maju, bergerak layaknya hantu yang licik.Sementara itu, ponsel di saku jaket Arlan tetap membisu.Tidak ada dering telepon, tidak
“Wow….”Sebuah bisikan kagum lolos begitu saja dari bibir Karin saat mereka melangkah ke balkon luar villa.Di atas kepala mereka, langit malam yang sedingin es seolah menjadi kanvas raksasa.Tirai cahaya hijau keunguan dari Aurora Borealis menari-nari dengan begitu megah, memantulkan sinarnya pada hamparan salju putih yang membeku.Keindahan itu begitu magis, sempat membuat Karin melupakan statusnya sebagai tawanan.Namun, rasa hangat itu segera menguap, digantikan oleh jepitan rasa sedih yang menyesakkan dada. Air mata Karin hampir menetes saat ingatan tentang Arlan kembali menyeruak.“Seharusnya aku melihat pemandangan indah ini bersamamu, Arlan,” batinnya pilu.“Kamu senang melihatnya, Dokter Karin?” tanya Moreno yang berdiri di sampingnya, memecah kesunyian malam.Karin hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari langit.Anehnya, rasa takut yang sejak awal mencekik dadanya kini telah surut secara drastis.Setelah rangkaian pemeriksaan medis darurat di dalam kamar tadi
“Ayo, duduklah!”Karin menarik napas dalam-dalam, mengunci emosinya di balik topeng profesionalisme seorang dokter.Di dalam ruangan villa yang terisolasi ini, ia harus mengesampingkan fakta bahwa pria di hadapannya adalah seorang penculik gila dan mulai memandangnya murni sebagai seorang pasien dengan gangguan disfungsi ereksi.Sebagai seorang dokter wanita, memeriksa organ vital seorang pria, terlebih dalam situasi penuh tekanan seperti ini, memerlukan batasan klinis yang sangat ketat untuk menjaga objektivitas dan keselamatan dirinya.“Ehem!”Pertama, Karin melakukan anamnesis atau wawancara medis secara mendalam. Ia tidak langsung melakukan kontak fisik.Dengan tatapan mata yang lurus dan dingin, Karin mulai menggali riwayat psikologis dan fisik Moreno.“Kapan terakhir kali benda ini berfungsi dengan normal?” tanya Karin, suaranya datar layaknya seorang dokter di ruang praktek.“Selama ada Laura,” jawab Moreno santai.“Apakah kau sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, alkohol at
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K







