Mag-log in“Dokter Arlan, Mbak Laura mengalami komplikasi pasca-operasi ginekologi minor yang dilakukan oleh Dokter Dimas minggu lalu. Kateter drainasenya terlepas secara tidak sengaja akibat trauma mekanis malam ini dan terjadi robekan serta pendarahan baru di area introitus dan kelenjar Bartholin.”Dokter Arlan mengernyitkan dahi, menangkap ada sesuatu yang disembunyikan.“Trauma mekanis bagaimana? Kateter Word tidak akan lepas kalau tidak ada tarikan atau tekanan yang sangat kuat, Diego!”“Aku harus segera melakukan eksplorasi dan penjahitan ulang pada robekan mukosa serta jaringan kelenjar yang rusak, Dok. Pendarahannya aktif dan jika ditunda, risiko infeksinya sangat tinggi," potong Diego dengan tegas dan profesional, mengalihkan fokus Dokter Arlan kembali ke prioritas keselamatan pasien.“Mohon maaf, demi kenyamanan dan privasi tindakan Mbak Laura, tolong Dokter Arlan untuk menunggu di luar bilik.”Dokter Arlan terdiam sejenak. Sebagai sesama dokter bedah, ia tahu Diego benar.Privasi pasi
“Saya pasien Dokter Dimas, saya hanya mau dia!”Malam itu, hembusan angin malam kota tidak mampu meredakan kesibukan di Instalasi Gawat Darurat.Diego, dengan kantung mata yang menghitam akibat kurang tidur dan beban emosional sidang komite etik yang belum sepenuhnya hilang, melangkah masuk setelah mendapat panggilan darurat dari dokter jaga.Tidak ada waktu untuk meratapi ruang operasi yang dingin kemarin; malam ini, pasien lain telah menunggunya.Di salah satu bilik tirai IGD, seorang pasien wanita berusia sekitar 22 tahun tampak meringis kesakitan sambil memegangi area selangkangannya.“Uhhh sakit.”Dokter jaga IGD segera menghampiri Diego dan memberikan laporan singkat sembari menyodorkan papan klip rekam medis.“Dokter Diego, ini pasien Laura Calista. Beliau adalah pasien pasca-operasi insisi dan drainase kista Bartholin minggu lalu oleh Dokter Dimas. Baru saja Word catheter (kateter Word) yang dipasang di dalam kelenjar Bartholin-nya terlepas. Tampak ada sedikit rembesan darah d
“Tetap tenang, Diego!” gumam Diego dalam hati.Diego menarik napas dalam sebelum sidang komite etik dimulai.Suasana di dalam ruang rapat utama lantai lima terasa begitu menekan.Pendingin ruangan yang berhembus konstan sama sekali tidak mampu mengusir ketegangan yang menyelimuti ruangan persegi tersebut.Di ujung meja oval, Dokter Arlan, selaku Direktur Rumah Sakit, duduk dengan raut wajah masai yang sulit diartikan.Di sekeliling meja, para senior dari Komite Etik dan Medik menatap tumpukan berkas rekam medis dengan ekspresi formal yang dingin.Dokter Diego duduk di kursi tengah, tepat di hadapan panel penguji.Seragam jas putihnya terasa lebih berat dari biasanya.Bayangan garis lurus pada monitor hemodinamik Ibu Rahayu beberapa jam lalu masih tercetak jelas di pelupuk matanya.“Dokter Diego!”Dokter Arlan membuka suara, memecah keheningan yang mencekam. Suaranya berat, menggema di ruangan yang sunyi.“Komite hari ini berkumpul untuk melakukan audit medis dan evaluasi etik terkait
Diego, seorang dokter spesialis bedah onkologi yang biasanya begitu berjarak dan profesional, kini menangis tersedu-sedu di koridor rumah sakit, memeluk anak-anak dari pasien yang gagal ia selamatkan.Di atas pundak anak-anak itu, Diego menatap koridor yang kosong. Ia tahu, secara medis ia bisa membela diri di depan komite etik.Namun melihat tiga pasang mata piatu ini, Diego tahu ia harus membawa luka ini seumur hidupnya.Rasa gagal ini telah terpatri permanen di dalam jiwanya.Pagi perlahan merayap naik, menggantikan malam kelam yang dipenuhi duka.Ponsel Diego yang tergeletak di atas meja kerjanya bergetar berulang kali. Layarnya berkedip menampilkan nama Silvi.Namun, Diego hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Ia tidak memiliki energi, bahkan hanya untuk sekedar menggeser layar dan mengucap kata halo.Silvi, yang hafal betul tabiat Diego, langsung tahu ada sesuatu yang sangat tidak beres.Diego tidak pernah mengabaikan panggilannya tanpa alasan yang sangat krusial.Tanpa buang
“Dok ... kita sudah melakukan semuanya sesuai prosedur. Ligasi sudah maksimal, transfusi sudah masuk belasan kantong. Jaringan parametriumnya memang sudah terlalu rapuh akibat infiltrasi tumor,” ucap Rian, mencoba memberikan rasionalisasi yang biasa mereka gunakan untuk menghibur diri.Diego tidak menyentuh botol itu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata merah yang berkaca-kaca.“Sesuai prosedur, Rian? Tapi ibu itu meninggal,” sahut Diego, suaranya parau, nyaris berbisik namun penuh penekanan.“Tiga anak, Rian. Yang paling kecil bahkan mungkin belum paham apa itu kanker. Kemarin suaminya meremas tangan saya, menitipkan seluruh hidup keluarganya di pisau bedah saya. Saya bilang saya akan melakukan yang terbaik.”Dadanya bergemuruh hebat.“Dokter Diego sudah melakukan yang terbaik. Ini komplikasi fasa lanjut, Dok. Di atas meja operasi, semua keputusan Dokter sudah tepat,” potong dr. Sarah, spesialis anestesi, yang baru saja masuk setelah merapikan dokumen kematian pasien.D
Klem terakhir dilepaskan. “Akhirnya, selesai juga.” Diego mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega di balik masker bedahnya. Bidang operasi di dalam rongga panggul Ibu Rahayu tampak bersih dan kering, tidak ada rembesan darah aktif. Operasi Wertheim yang melelahkan selama hampir lima jam itu akhirnya selesai. “Kasa dan instrumen lengkap, Dok,” lapor perawat Maya setelah menghitung ulang alat untuk memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam tubuh pasien. Ujung pisau bedah itu akhirnya menyelesaikan tugasnya setelah lima jam yang menegangkan. Diego berhasil memisahkan jaringan parametrium yang terinvasi, mengangkat rahim, dan membersihkan kelenjar getah bening panggul dengan akurasi yang luar biasa. Ketika operasi dinyatakan selesai, helaan napas lega terdengar di ruang operasi. “Kamu sudah di rumah sakit, Beb?” Diego menghubungi Silvi setelah selesai. “Hemm, udah. Gimana operasinya? Lancar?” tanya Silvi. “Ya, begitulah. Masih harus dilihat lagi, tapi
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







