Share

Bab 257 Dalam Mimpi

last update publish date: 2026-08-16 11:56:08

Pagi ini, Silvi dan Karin jadi canggung, antara mereka menyimpan rahasia yang susah untuk diutarakan, Silvi takut Karin membencinya sedangkan Karin juga takut Silvi menyalahkannya.

Mereka diam sambil bermain ponsel, tidak ada keinginan untuk bangun, padahal mereka harus ke rumah sakit.

“Aku mandi dulu, ya. Aku udah suruh Bibi untuk antar sarapan ke kamar, gak usah ke meja makan lagi,” ucap Karin sambil melirik Silvi yang muram.

“Hemm,” jawab Silvi.

Ah, Karin tidak tahu harus seperti apa, Ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 280 Main Lagi

    Karin tidak sempat merapikan setiap sudut apartemennya, ia bergegas mengusir Arlan karena sebentar lagi Silvi pulang. Begitu Silvi sampai dengan kedua pizza di tangannya, Silvi terkejut bukan main. Apartemen seperti kapal pecah, piring berantakan, kotak makanan yang masih ada di meja makan, bantal sofa sudah ada di bawah lantai, air mineral yang tumpah. “Ini sebenarnya kenapa? Kok seperti dirampok?” Silvi bingung melihatnya, ia pun melihat kamar Karin, membuka kamar sahabatnya yang dingin, Karin tidur tengkurap tanpa busana dan ditutup selimut, tapi punggungnya masih terbuka. Silvi melihat ke lantai ada pengaman yang masih terisi cairan kental. “Sialan,” gumam Silvi mengutuk Karin, pantas saja Karin memintanya membeli Pizza di tempat yang jauh. Ternyata di apartemen ia mengajak seseorang untuk bercinta. Masih tercium wangi parfum maskulin bercampur kayu dan jeruk segar.Karin tidur, ia tidak bangun mungkin lelah. Silvi pun tidak membangunkan Karin, ia malah merapikan ruang tamu y

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 279 Hormon Yang Meningkat

    “Siapa yang telpon?” tanya Xavier saat Karin keluar dari kamar. “Mami,” jawab Karin bohong. “Mami mau ke apartemenku Xavier, kamu pulanglah, sudah ada Mami yang temani aku,” lanjut Karin sambil melihat ke arah lain. Ia tidak berani menatap wajah Xavier karena saat ini ia sedang berbohong. “Ok, tapi makan siang dulu. Ayo, aku sudah siapkan.” Xavier membantu Karin untuk ke meja makan dan Karin melihat semua makanan mewah dari Restoran bintang lima yang dipesan khusus oleh Xavier bahkan datang saat makanan itu masih hangat. “Eugh!” Karin melenguh menahan sakit dan nyeri dibagian dadanya, ia memang mengikuti saran Arlan untuk Induksi Laktasi, memang Karin menginginkan tubuhnya mengeluarkan susu seperti Renata karena Karin cemburu dengan tubuh Renata yang menggoda. Karena Karin tidak ingin Arlan berpindah hati meskipun ia selalu saja mengusir Arlan dengan kejam. “Ada apa Karin, kenapa dadamu basah?” tanya Xavier. Mata Xavier terbelalak. Mungkinkah Karin menyusui? Ia tidak hamil, tid

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 278 Tubuh Pengkhianat

    Di dalam ruangan meeting, Arlan tidak fokus, pikirannya kacau karena Papanya sudah mengetahui kalau Arlan masih belum menyerah sampai saat ini. Ditinggalkan berdua saja dengan Renata, entah apa yang dipikirkan Papanya untuk memaksa mereka berdua menikah. “Hari ini cukup sampai disini, terima kasih semuanya.” Arlan merapikan mejanya dari berkas-berkas laporan yang menumpuk dan membawanya keluar, ia ingin kembali ke ruangannya tapi masih ragu, Arlan takut Papanya belum pulang. Arlan urungkan dan ia kembali ke ruang kliniknya, tempat itu menyimpan banyak rahasia antara ia dan Karin. Arlan tidak mungkin melupakan itu. “Ahhh,” suara desahan Karin yang berharap Arlan mempercepat permainannya. Sialan! Baru saja ia merasakan bercinta dengan Karin, tapi masih saja menginginkannya lagi dan lagi. Arlan tidak pernah bosan, bahkan tidak ada kata bosan. “Huh!” Arlan membuang napas kasar setelah masuk ke ruangannya yang kecil tapi cukup nyaman. “Karin Karin Karin.”Arlan memanggil nama Kar

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 277 Godaan Janda Penuh Gairah

    “Ngapain Kakek Billy ke rumah sakit?” Silvi melihat Kakek Billy terburu-buru naik ke lift, sepertinya menuju ruangan dr. Arlan. Silvi tidak tahu ada masalah apa yang penting ia menghubungi Karin saja. Siapa tahu ini masalah pertunangan dr. Arlan dan dr. Renata yang akan disegerakan. Supaya Karin sadar dan tidak lagi memikirkan Pamannya. “Halo, Rin. Udah sehat?” tanya Silvi setelah telepon tersambung. “Udah lumayan, kenapa? Tumben banget nelpon, biasa juga nunggu aku mati dulu,” sindir Karin dengan menarik sudut bibirnya. “Gak ada kayak gitu Rin, aku ini sahabat yang selalu ada suka dan duka.” Karin memang tidak pernah serius. Padahal Silvi tidak ingin bercanda saat ini. “Ada gosip, aku lihat Kakek Billy naik ke ruangan dr. Arlan, dia terburu-buru banget, kayak mau nikahin anak gitu,” lanjut Silvi. Memang kompor! Padahal Karin sudah tidak sedih dan bisa tertawa, Silvi malah mengingatkan pernikahan Arlan dan juga dr. Renata. “Ngapain Kakek? Berobat?” “Sehat gitu, tapi gak tau j

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 276 Tukang Gombal

    “Pagi, princess.” Xavier selalu menghubungi Karin di waktu yang tepat, saat ia memang membutuhkan orang untuk diajaknya bicara. “Pagi,” jawab Karin dengan suara serak karena ia baru selesai menangis. “Ada apa? Sepertinya kamu habis menangis?” tebak Xavier. Suara Karin berbeda, biasanya ceria atau cuek tapi pagi ini seperti ada suara yang tertahan. “Gak ada, semalam aku jatuh dari tangga.”“Jatuh dari tangga?” tanya Xavier panik. Baru saja Xavier tiba di kantornya, belum sempat duduk, ia melepaskan jasnya di kursi. “Hemm, tapi gak apa. Aku gak masuk hari ini,” lanjut Karin sambil memijat kakinya. Padahal pagi tadi Arlan sudah memijatnya dan sudah mulai nyaman. “Aku akan ke apartemenmu sekarang! Aku mau melihat keadaanmu,” ucap Xavier menarik jasnya dan berlari secepat mungkin ke parkiran, ia sendiri yang mengendarai mobilnya menuju apartemen Karin yang baru. Padahal Karin belum setuju tapi Xavier cepat sekali. Karin melanjutkan merebahkan dirinya di ranjang dan melamun lagi.“K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 275 Susu Kesukaanmu

    “Bohong!” Karin mendorong tubuh Arlan dengan kuat, tidak mungkin semua ini terjadi, pasti Arlan sedang memanipulasinya dan Arlan bisa melakukan semua itu dengan kekuasaan yang sekarang. Padahal Karin sudah terharu, Arlan bingung. Kenapa sikap Karin menjadi seperti ini lagi. “Aku akan tanya Kakek langsung, aku gak percaya denganmu, dok.” Karin begitu sigap menekan nomor Kakek Billy, sedangkan Arlan langsung panik dan berusaha menarik ponsel Karin. Namun, terlambat! Kakek Billy sudah mengangkat telepon dari cucu kesayangannya itu. “Kek, Karin mau tanya sesuatu, boleh?” tanya Karin dengan hati-hati. Arlan menggeleng, meminta Karin untuk menutup telponnya sekarang. “Matikan Sayang!” Arlan berbisik dengan suaranya yang pelan. Karin tidak mau mendengarkan, ia tetap saja ingin bicara dan langsung bertanya. Kakek Billy tidak mungkin berbohong. “Ada yang mengirimkan pesan padaku, Kek. Apa benar dr. Arlan itu bukan anak kandung Kakek?” tanya Karin ragu sambil melipat bibirnya. Karin m

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status