LOGIN“Laura, ikut aku!”Silvi segera menarik lengan Laura, mengajak wanita itu melangkah cepat menjauh dari ruangan VIP yang terasa begitu mencekik.Ia membawa Laura keluar dari restoran menuju area parkiran yang lebih terbuka.Sebagai sesama wanita, Silvi sebenarnya tidak tahu pasti apa yang benar-benar terjadi di balik pintu rumah sakit itu, namun ia mencoba menenangkan Laura yang tubuhnya masih gemetar hebat.“Laura, tenang dulu! Moreno sengaja memprovokasi agar kamu cemburu,” ucap Silvi, mencoba menyuntikkan logika di tengah emosi Laura.“Dokter Dimas tidak mungkin sendirian melakukan pemeriksaan, meskipun situasi bimbingan itu benar terjadi.”Silvi pernah melewati masa-masa menjadi mahasiswi koas, jadi ia paham betul bagaimana prosedur lingkungan medis bekerja.Tapi….Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Silvi sebenarnya juga didera keraguan yang sama.Sudah menjadi rahasia umum di dunia medis bahwa beberapa dokter konsulen memang kerap terlibat hubungan terlarang dengan koas mereka.
Ponsel di dalam tas Laura berdering nyaring, menampilkan nama Dimas di layarnya.Sebelum beranjak ke restoran Jepang ini bersama Silvi, Laura memang sempat mengirimkan pesan singkat berisi lokasi makan siang mereka kepada sang suami.Tepat saat ketegangan di ruangan sepi itu memuncak, pintu mendadak didobrak dari luar.Dimas yang baru saja tiba di restoran langsung bergegas masuk dan matanya seketika menyalang merah saat melihat Moreno tengah mencengkram paksa pergelangan tangan istrinya.“Lepaskan istriku, Moreno!” bentak Dimas dengan suara baritonnya yang menggelegar, langsung memasang badan dan menyentak tangan Moreno menjauh dari Laura.Dimas pun sudah berada di batas puncak kesabarannya dalam menghadapi segala kegilaan dan teror obsesif yang dilancarkan Moreno selama berbulan-bulan ini.“Oh, Dokter Dimas,” sahut Moreno, perlahan mundur satu langkah sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut.Sebuah seringai licik dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajah tampannya.“Bagaiman
“Boleh ikut bergabung?”Suara berat yang sangat familiar itu tiba-tiba memecah keheningan meja makan.Sedang asyik menikmati hidangan Jepang premium di depan mereka, Laura dan Silvi terkejut saat Moreno dengan santai langsung menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Laura.Laura tidak menyangka Moreno sampai nekat menyusulnya ke restoran ini.Padahal, ia dan Silvi sudah sengaja mengendap-endap pergi lewat pintu belakang galeri demi menghindari pengintaian pria itu.Tetap saja pergerakan mereka ketahuan. Jaringan mata-mata Moreno rupanya bekerja terlalu rapi.“Gak!” jawab Laura ketus dan malas. Ia bahkan tidak sudi lagi menatap wajah Moreno.Matanya tetap fokus menatap potongan A5 Wagyu Beef di piringnya, mencoba mengabaikan kehadiran sang mantan.Moreno sama sekali tidak peduli dengan penolakan kasar itu. Ia tetap bergeming di posisinya, lalu dengan gerakan tenang meletakkan sebuah kotak beludru kecil di atas meja, tepat di samping lengan Laura.Kotak itu terbuka, menampilkan sebuah j
Napas Silvi tertahan sejenak. Ia melihat sosok Moreno sedang duduk santai di sudut luar kafe sembari memegang cangkir kopi, dengan sepasang mata yang mengunci fokusnya menatap tajam ke arah Laura dari sana.“Gilaaa!!!!” pekik Silvi dalam hati, merinding melihat tingkat kepedulian yang sudah melampaui batas kewarasan itu.“Itu mantan pacar kamu, kan?” tanya Silvi pelan, menunjuk tipis dengan dagunya ke arah seberang jalan.Laura mengangguk lemas, bahunya merosot turun.Wajah cantiknya langsung diliputi awan mendung. Laura sudah benar-benar kehabisan cara dan bingung bagaimana lagi cara mengusir pria keras kepala itu.Moreno bahkan sanggup membawa laptopnya dan bekerja seharian penuh di kafe seberang, hanya demi memantau setiap gerak-gerik Laura dari pagi hingga galeri tutup.Kehadiran konstan pria itulah yang selalu memicu salah paham dan membuat ia bersama Dokter Dimas bertengkar hebat akhir-akhir ini.“Kamu stres gak sih kalau dia mulai menggila gitu?” tanya Silvi lagi, ikut merasaka
“Rin, kamu gak ada di rumah, ya?” tanya Silvi melalui sambungan telepon saat kakinya melangkah di halaman rumah sahabatnya yang tampak sepi.Hari ini Silvi memutuskan datang ke rumah Karin setelah menghabiskan malam penuh paksaan dan keintiman yang menguras emosi bersama Aldi.Setidaknya, ada satu hal yang ia syukuri, Aldi tidak menawannya lagi setelah itu dan membiarkannya pergi pagi-pagi sekali.Silvi butuh tempat untuk bernapas, namun rumah pelariannya justru kosong.“Iya, aku lagi ngidam makan gudeg, tapi harus di Jogjanya langsung!” sahut Karin riang di seberang sana.Silvi hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban itu. Sifat manja Karin semenjak hamil tua memang makin menjadi-jadi.Setiap kali ngidam makanan khas daerah, Karin pasti menuntut untuk mencari ke kota asalnya langsung, sekalian menjadikannya alasan untuk jalan-jalan berdua dengan sang suami.“Hemm, aku juga mau ke Jogja. Kok gak ngajak sih?” gerutu Silvi, mencoba mengalihkan sesak di dadanya dengan obrolan bi
Silvi terkejut saat mendengar suara bunyi ceklek pada pintu apartemennya.Matanya melebar sempurna ketika sosok tinggi tegap Aldi melangkah masuk dengan santai setelah berhasil membuka password pintu rumahnya.Pikiran Silvi berputar hebat.Siapa yang memberitahu kode rahasia itu kepada Aldi?Apakah pria ini menyadap semua sistem keamanan tempat tinggalnya?“Kamu ngapain?” tanya Silvi dengan nada tinggi dan penuh kepanikan, mundur beberapa langkah saat Aldi menutup pintu itu dengan pelan namun pasti, menguncinya dari dalam.“Kita harus bicara, Sayang. Jangan kekanak-kanakan seperti ini. Aku tulus denganmu, Silvi,” ucap Aldi dengan suara yang menuntut, tatapannya mengunci pergerakan Silvi.Silvi tidak mau mendengar sepatah kata pun dari pria itu. Rasa trauma dan muak membuat otaknya berputar mencari cara untuk lolos.Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca, berusaha keras menghubungi pihak security apartemen.Namun, Aldi jauh lebih cepat da
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K







