แชร์

Bab 30 Lepas Dokter

ผู้เขียน: Madamme Yellow
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-11 17:55:38

“Karin di mana?” Silvi menghubungi Karin tiba-tiba, Karin tidak masuk pagi, hari ini ia jaga malam, baru saja pulang untuk istirahat. Temannya sudah sibuk mencari keberadaannya.

“Kenapa? Di rumah, baru aja sampai. Ada apa Sil.” Jantung Karin berdebar hebat.

Karin takut ada tugas dari Konsulen yang belum ia selesaikan atau masalah di rumah sakit.

“Kamu sudah kirim tugas ke dr. Icha belum?” tanya Silvi.

“Gak ada, dr. Icha gak ngomong kalau ada tugas.”

Rasanya Karin ingat, ia hanya diminta un
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 31 Lakukan Di Apartemen Saja

    “Tugas yang diberikan dr. Arlan sebelumnya dan saya buat untuk diskusi kasus hari ini, dok.” Arlan mengangguk setuju dengan wajah yang dingin padahal di dalam hati tersenyum. Dimas pasti tidak lagi mencurigai mereka setelah ini. Arlan tahu kalau tugas yang dibuatnya diketahui oleh dokter lain dan itu tidak baik. Sebenarnya jawaban Arlan tidak memuaskan Dimas. Dimas tahu kalau ada sesuatu antara Arlan dan Karin. Setelah selesai diskusi, Karin mendatangi Arlan, hari ini sebenarnya terakhir ia jaga malam karena seterusnya dia akan datang seperti biasa. Jadi, ia dan Arlan kemungkinan akan jarang bertemu di saat malam dan Arlan tidak punya alasan untuk memanggilnya ke ruang klinik pribadinya. “Dokter, makasih.” Karin mendekati Arlan sebelum keluar dari ruang pertemuan. Arlan sedang merapikan laporan yang ada di hadapannya, sudah tidak ada lagi dokter yang lain di ruangan ini tetapi masih ada beberapa koas yang berdiskusi di kursi lain. “Aku tidak mau hanya terima kasih saja,” jawab A

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 30 Lepas Dokter

    “Karin di mana?” Silvi menghubungi Karin tiba-tiba, Karin tidak masuk pagi, hari ini ia jaga malam, baru saja pulang untuk istirahat. Temannya sudah sibuk mencari keberadaannya. “Kenapa? Di rumah, baru aja sampai. Ada apa Sil.” Jantung Karin berdebar hebat. Karin takut ada tugas dari Konsulen yang belum ia selesaikan atau masalah di rumah sakit. “Kamu sudah kirim tugas ke dr. Icha belum?” tanya Silvi. “Gak ada, dr. Icha gak ngomong kalau ada tugas.” Rasanya Karin ingat, ia hanya diminta untuk memperhatikan, tidak ada tugas tertulis atau persentasi nanti dengan dr. Icha. “Ya ampun Karin, gak baca group?” Karin menutup matanya dan menarik napas dalam. Sumpah! Karin tidak membaca group karena semalam ia sibuk dengan dr. Arlan. Lagipula, dr. Icha biasanya tidak pernah memberikan tugas dan untuk stase ini kebanyakan dr. Arlan yang memberikan tugas untuknya. “Sekarang baca dulu tugas di group terus kumpul aja seadanya,” jawab Silvi. Karin menutup telepon tanpa menjawab lagi. Dia m

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 29 Make Out

    “Aku lagi gak mau,” jawab Karin malas. Arlan juga tidak memaksa, Arlan berdiri dari ranjang dan mengambil laptopnya. Punggungnya bersandar di kepala ranjang sedangkan Karin mendekati Arlan dengan sangat manja. Hubungan mereka salah tapi perasaan ini benar. Karin merasa nyaman dengan Pamannya. Seharusnya tidak berjalan seperti ini tapi Karin tidak bisa mengingkari. “Dokter gak ngantuk?” tanya Karin sambil melingkarkan perut Arlan dengan telunjuknya, Arlan hanya menggunakan celana saja tanpa atasan. “Ada meeting besok pagi,” jawab Arlan. Arlan tersenyum dan tangannya mengusap pipi mulus Karin. Sikap Arlan mulai berbeda pada Karin, tidak lagi antara Konsulen dan Koas tetapi hubungan dewasa antara pria dan wanita. “Kalau mau tidur, tidurlah. Apa aku mengganggumu, aku bisa bekerja di ruang kerjaku kalau memang kau terganggu.” Karin menggeleng pelan. Karin duduk dan masuk ke dalam pelukan Arlan, sebenarnya bukan Karin yang merasa terganggu tapi Arlan. Dengan keadaan seperti ini, Arlan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 28 Besar Sekali

    “Permisi, dr. Arlan?” Karin menyeringai sambil melirik pintu, ada perawat yang memanggil Arlan tepat sekali saat Arlan menagih janjinya. “Saya permisi dokter, mau kembali ke ruang IGD.” Karin tersenyum simpul dan pergi tanpa banyak kata. Bahkan tidak lagi menoleh ke ruang Arlan. Sedangkan Arlan terpaksa melepaskan Karin. Arlan pikir tidak ada yang tahu ia ke rumah sakit malam ini karena memang tidak ada jadwal. Jam dua belas malam, di ruang IGD begitu ramai, ada tabrakan beruntun dan pasien dilarikan ke rumah sakit ini. Sebagai koas, Karin membantu mengobati pasien apalagi dokter yang berjaga malam ini hanya satu orang. “Kamu hecting lukanya Karin,” ucap Residen yang bersama Karin saat ini. Karin mengangguk dan mencobanya. Untuk pertama kalinya Karin melakukan itu tapi Karin masih ragu-ragu.“Kau tidak bisa melakukannya?” Arlan berdiri tepat di belakangnya dan mengambil jarum dari tangan Karin lalu membantu Karin melakukannya. Di depan perawat dan Residen, Arlan bahkan terlihat

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 27 Janji Adalah Hutang

    Sejak malam itu, Karin benar-benar memutuskan komunikasinya dengan Arlan, padahal mereka romantis. Seperti biasa, tidak ada masalah. Justru Arlan bingung kenapa sejak ia di Jepang, Karin memblokir nomor ponselnya. Hari ini Arlan pulang ke Jakarta, sampai di Jakarta malam hari. Selama di Jepang, Arlan sudah menahan emosinya untuk tidak marah pada Karin. Arlan ingin bertanya apa salahnya? Kenapa ia blokir? Bukankah malam itu mereka bicara hal yang dewasa dan menyenangkan. Tidak ada masalah apapun, Karin tidak marah dan jijik mendengarnya. Semua baik-baik saja. “Kenapa dengannya?” Arlan sudah ada di Bandara, selama ia di Dinas, pikiran Arlan justru ada di Jakarta tepatnya memikirkan Karin. Arlan membeli banyak oleh-oleh untuk temannya dan Karin. Untuk Karin spesial. Saat Arlan memantau ponselnya, ternyata pagi ini Karin sudah membuka blokirnya. Tapi, Arlan memutuskan untuk tidak menghubunginya. Pasti Karin sudah tahu kalau Arlan akan pulang ke Jakarta dan Karin tidak mau punya ma

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 26 Kuat Di Ranjang

    “Dokter sorry, Karin pulang duluan, Karin tiba-tiba asam lambung.” Karin menghubungi Dimas setelah ia di dalam taxi. “Hoek.” Untuk terlihat natural, Karin berpura-pura muntah padahal sebenarnya tidak seperti itu. “Kenapa gak ngomong Cantik, dokter bisa antar kamu pulang,” jawab Dimas khawatir. “Gak apa dok, ini udah di taxi. Sorry sekali lagi, mungkin next time kita bisa nonton bersama.” Setelah bicara baik-baik, Dimas akhirnya mengerti tapi Karin juga tahu kalau Dimas pasti kecewa. Tidak lama setelah memutuskan teleponnya, hujan deras mengguyur bumi. Tepat sekali dengan hati Karin yang sedang galau. Arlan marah padanya, Dimas juga kecewa dan sekarang dia terpaksa pulang. Sampai di rumah, Karin mendapati pemandangan yang tidak menyenangkan. Pertengkaran orang tuanya lagi. “Pi, baru Minggu kemarin kamu ke luar negeri dengan Asisten Pribadimu yang baru dan sekarang pergi lagi dengan yang lain,” teriak Mami Kaina di depan pintu. Karin turun dari mobil dan mera

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status