Share

Bab 30 Lepas Dokter

Penulis: Madamme Yellow
last update Tanggal publikasi: 2026-06-11 17:55:38

“Karin di mana?” Silvi menghubungi Karin tiba-tiba, Karin tidak masuk pagi, hari ini ia jaga malam, baru saja pulang untuk istirahat. Temannya sudah sibuk mencari keberadaannya.

“Kenapa? Di rumah, baru aja sampai. Ada apa Sil.” Jantung Karin berdebar hebat.

Karin takut ada tugas dari Konsulen yang belum ia selesaikan atau masalah di rumah sakit.

“Kamu sudah kirim tugas ke dr. Icha belum?” tanya Silvi.

“Gak ada, dr. Icha gak ngomong kalau ada tugas.”

Rasanya Karin ingat, ia hanya diminta un
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 244 Perjodohan

    Ceklek! Karin terkejut melihat ada yang membuka pintu kamarnya, Karin pikir siapa yang masuk tadinya ternyata Mami. “Boleh Mami masuk?” “Hemm, Mi.” Karin sudah ganti pakaian tidur, pakaian tidur Karin memang kurang dasar karena Karin suka pakaian seperti ini, nyaman dan ringan. Mami Kaina menatap Karin dari ujung rambut sampai ujung kepala, pria normal mana yang bisa menolak anaknya ini. Orang bilang Karin sangat mirip dengannya saat muda, sebenarnya Karin dan Kaina tidak mirip sama sekali. “Silvi tidur?” tanya Mami Kaina, Silvi sudah masuk dalam selimut dan tidak bangun lagi, Karin juga tidak berencana membangunkan sahabatnya itu. “Iya Mi, capek di rumah sakit.” Kaina mengusap rambut panjang Karin dan tersenyum lembut. “Kamu pernah marah dengan Mami karena memintamu jadi seorang dokter?” Karin menggeleng, ia tidak marah. Karin selalu berusaha untuk membuat orang tuanya bahagia, ia juga hanya punya cara seperti ini. “Kapan jadi kamu lulus?” Karin mendesah pelan, pertanyaa

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 243 VCS

    “Kenapa kau bingung? Karena aku benar, iya kan?” “Sayang, please! Aku tidak pernah suka bertengkar, kita bukan anak-anak lagi, nikmati saja waktu sekarang, tidak perlu memikirkan perasaan orang lain.” Karin menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja Arlan katakan. “Apa?” “Kau bicara apa? Jadi, maksudmu aku tidak perlu memikirkan perasaan dr. Renata, yang penting perasaan aku saja, yang penting kita suka, seperti itu?” “Ya,” jawab Arlan dengan tegas. “Kenapa kau sebajingan ini dok. Apakah di belakang aku, kau juga seperti itu dengan dr. Renata? Kau bercinta tapi tidak pernah memikirkan perasaanku?” tanya Karin sambil menangis. “Sayang, berhentilah menangis! Apa yang kamu pikirkan itu salah, sudah lama aku tidak melakukan itu dengan wanita lain, hanya kamu!” “Bohong, mana mungkin aku percaya dok, setiap hari pekerjaanmu seperti itu, melihat banyak milik wanita lain, bisa saja kau melakukannya dengan pasienmu.” “Karin! Aku tidak bajingan seperti itu, aku seorang dokter d

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 242 Karin Main Sendiri

    “Kariiiiiiin dasar begok,” ucapnya sambil menjambak rambutnya sendiri. Bodoh memang, tidak bisa dirayu sedikit oleh Arlan, langsung luluh lantah, padahal Karin sangat marah, benci, emosi, dan kesal dengan Arlan. Ia malah biarlah Arlan mengisi tubuhnya, mengaduknya dengan cepat dan menumpahkan cairan kental itu ke rahimnya, rasanya masih ada, membekas dan nikmat. Keringatnya mengucur dengan deras dan Karin bergairah. Ahhhh, sialan!Karin baru saja sampai rumah, tadinya ingin mencari apartemen yang dekat dengan rumah sakit dengan Silvi, ia malah meninggalkan Silvi sendirian di Restoran, sekarang ia kelaparan. Tidak ada yang masak di rumah, terpaksa Karin keluar setelah mandi nanti. “Eumph, enak banget,” gumam Karin merasakan area intimnya yang kembali basah. Bohong kalau ia marah, ia merindukan Arlan, rindu sekali sampai ingin menangis. Tapi, Arlan mengkhianati cinta mereka. Arlan yang lebih dulu meninggalkannya, kenyataannya bukan Karin yang takut tapi Arlan. Arlan melepaskan pak

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 241 Buat Anak

    “Bagaimana kalau kita punya anak saja daripada menciptakan ASI lebih dulu?” Arlan menulis catatan di buku Karin yang tertinggal, ia pun memberikannya pada Karin yang duduk disebelahnya. Karin tidak punya pilihan lagi, tempat duduk yang disisakan untuknya telat sekali disebelah dr. Arlan, karena yang lain tidak berani mendekati Arlan dan kalau bisa duduk sejauh mungkin. Karin mengernyit saat melihat tulisan Arlan itu, tapi setelah Karin membuka lembaran berikutnya barulah Karin mengerti dan malu. “Ya ampun, mau mati rasanya,” gumam Karin sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Bisa-bisanya buku itu jatuh bersama dengan obat yang ia beli, itu hanya eksperimen Karin saja, tidak benar-benar ingin melakukannya. Hanya bercanda! “Silahkan semuanya, pesan saja makanan yang kalian suka,” ucap Arlan dengan senyumnya. Jarang sekali dr. Dingin ini tersenyum dan malam ini malah begitu ramah. “Kamu pesan apa?” tanya Arlan mendekati Karin, Arlan sengaja mendorong tempat duduknya agar bi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 240 Keluar ASI

    “Mau kok dok, ayooo!” Silvi menarik Karin tapi Karin menolak, ia enggan makan di depan wajah Arlan. “Jangan kayak anak kecil Rin, profesional aja, kalau udah putus ya putus,” bisik Silvi kesal. “Katanya mau lulus stase cepat, mau gak?” Demi kelulusan cepat, Karin akhirnya ikut. Tapi jangan pikir, Karin sudah memaafkan Arlan, Karin tetap marah. Bahkan nomor ponsel Arlan, sudah ia blokir. Supaya pria mesum ini tidak lagi bisa mencarinya, menghubunginya atau mengirim pesan apapun.Arlan tidak hanya mengajak Karin dan Silvi, ia juga mengajak beberapa perawat dan dokter yang anestesi yang menemaninya tadi. Saat keluar dari rumah sakit, ternyata dr. Dimas masih menunggu Karin. Karin mengabaikan Dimas, ia tidak mau bicara juga. Pria hanya membuat lelah, tidak ada satupun pria di bumi ini yang cocok dengannya. “Please, aku bisa jelaskan Honey. Mereka memfitnahku karena mereka tidak suka aku, aku tidak pernah menghamili Luna, kau percaya dengan laporan itu?” Bisa-bisanya Dimas berkelit

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 239 Traktir Makan Malam

    “Ngapain dr. Dimas nungguin kamu?” tanya Silvi saat mereka bersiap untuk ikut OPU dengan dr. Arlan. Tadi dr. Arlan sudah meminta mereka berdua untuk lembur, sebenarnya tidak dibayar, tapi Arlan sedang baik hati. Jadi, ada imbalan untuk lembur hari ini. “Gak tau, aku lagi males banget sama dia, Sil. Penilaian aku tentang dia jadi berubah, aku gak nyangka aja Sil, gak nyangka banget malah. Oke dia tidur dengan dr. Luna, aku terima tapi dia malah hamili dr. Luna terus keguguran, aku gak yakin keguguran, jangan-jangan memang sengaja digugurkan.”Silvi mengangguk sambil mengintip dr. Dimas dari jauh, Silvi mendukung kali ini, memang Dimas tidak pantas dimanfaatkan, cowok di dunia ini banyak. Kenapa harus memilih yang brengsek? “Tapi, dia kayaknya gak akan nyerah deh Rin, kalau belum ngomong sama kamu. Gimana kalau dia nunggu sampai malam? Kayaknya kita bakal di rumah sakit ini sampai enam jam lagi, operasi gak sebentar.” Karin menarik napas berat, terserah kalau Dimas mau menunggu tapi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status