LOGIN“Puas?” tanya Karin, suaranya agak serak saat ia menarik tangannya kembali.Arlan menyeringai.Sebuah kekeh diredam lolos dari bibirnya yang tampak begitu puas. Hasrat purba yang berminggu-minggu ia tahan akhirnya tumpah malam ini, meski hanya lewat jemari Karin, itu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan badai di kepalanya.“Makasih, Sayang,” bisik Arlan, lalu mencondongkan tubuh untuk mengecap bibir Karin dengan lumatan lembut.Di dalam dada, Karin menggerutu pahit.Bukannya ia dingin atau enggan menyerahkan segalanya, tetapi ia punya janji keramat pada dirinya sendiri, tidak akan ada penyatuan utuh sebelum janji suci pernikahan terucap.Setelah debar napas Arlan kembali teratur, mereka kembali menghadapi hamparan kertas di atas kasur, mencatat nama-nama yang akan diundang ke pesta pernikahan mereka.Pesta itu akan digelar di sebuah ballroom mewah yang megah, namun dengan barisan kursi yang lengang.Tamunya sedikit, tetapi Arlan memastikan setiap detailnya intim, dengan hidangan b
“Kita udah mau nikah, tapi kamu lebih percaya sama orang lain,” ucap Karin lirih, melemparkan pandangannya kosong ke luar jendela.Dada Karin sesak. Jika tuduhan Arlan benar, bahwa ia bermain api dengan Dimas, Karin tidak akan sudi membuang energi untuk berbohong.Ia pasti akan jujur, menghadapi kemarahan Arlan, lalu pergi.Namun kenyataannya? Hanya ada Arlan di hatinya sekarang. Dan dituduh atas hal yang tidak ia lakukan rasanya sungguh menyakitkan.“Sorry ... please, Sayang,” Arlan memohon. Suaranya serak karena penyesalan. Ia berlutut, meraih kedua telapak tangan Karin, lalu mengecupnya dengan lembut, seolah sedang meminta ampun pada dunianya.Karin menarik napas panjang, menatap Arlan dengan tatapan malas yang menyembunyikan luka.“Setelah ini, pasti bakal banyak orang iseng yang kirim fitnah kayak gitu ke kamu. Terus kamu mau langsung percaya gitu aja?”"Gak, aku gak akan percaya lagi. Aku bersumpah!”Karin membuang muka. Rasa kesalnya belum menguap begitu saja. Bayangan bagaiman
“Capek banget, Sayang. Aku butuh pelukan kamu,” gumam Arlan, suaranya parau menahan lelah begitu melangkah melewati pintu apartemen.Seharian ini fisiknya terkuras habis. Menjelang pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari di minggu ini, Arlan harus berlarian kesana kemari mengurus segala detail seorang diri.Karin, calon istrinya, hanya tahu beres. Bukan karena tidak peduli, tetapi Karin benar-benar buta soal urusan domestik seperti ini.Ditambah lagi, sifat Karin yang introvert dan pemalu membuatnya enggan berinteraksi dengan orang asing, apalagi bernegosiasi soal vendor pernikahan.Karin menyerahkan seluruh kendali kepada Arlan dengan keyakinan penuh bahwa hari besar mereka akan tetap megah dan sempurna.Bahkan soal tamu undangan pun Karin bersikap acuh tak acuh.Dari sedikitnya daftar hadir, Karin hanya mengundang satu nama, Silvi!Baginya, tidak butuh dunia tahu kebahagiaannya, cukup Silvi seorang yang menyaksikan ia melepas masa lajang.“Sini, kamu tidur di pangkuanku,” uca
“Ya. Dan sekalian, aku ingin mengundang kalian semua ke Grand Hotel Hyatt. Pernikahan kami akan digelar di Grand Ballroom-nya.” Arlan mengucapkannya dengan nada bangga yang terselubung.Mendengar nama tempat itu, keheningan yang megah sekaligus menyakitkan menyelimuti ruangan.Grand Hotel Hyatt bukanlah hotel bintang lima biasa. Bagi kalangan elit, kemewahan arsitekturnya, pilar-pilar marmer yang mengkilap, dan Grand Ballroom-nya yang tersohor dengan langit-langit setinggi istana berhiaskan lampu kristal menjuntai, telah menobatkan tempat itu sebagai hotel sekelas bintang enam. Itu adalah tempat di mana kemewahan mutlak, mendefinisikan kasta tertinggi masyarakat.Pernikahan di sana akan menjadi bursa kemegahan yang luar biasa, namun bagi Keluarga Wijaya, kemewahan itu justru menjadi panggung taruhan rasa malu yang tak tertahankan.Bukannya bahagia mendengarnya, Tante Nora, adik Rion, justru pecah dalam tangis yang menyayat hati.Kakek Billy memalingkan wajahnya ke dinding, sebuah peno
Kakek Billy mendadak dilarikan ke rumah sakit, tepat setelah badai besar menghantam Keluarga Wijaya.Arlan resmi mencoret namanya sendiri dari silsilah keluarga.Rasa kecewa menghujam dada Billy begitu dalam hingga membuatnya sesak. Arlan adalah putra kesayangannya.Meski ia tahu tak ada setetes pun darah Wijaya yang mengalir di tubuh pemuda itu, Billy telah menumpahkan seluruh kasih sayangnya tanpa sisa.Ia memberikan dunia yang Arlan inginkan, menuntunnya hingga menjadi dokter spesialis, bahkan mengerahkan seluruh pengaruhnya untuk mendudukkan Arlan di kursi Direktur Rumah Sakit.Namun, balasan yang diterimanya justru sebuah penghianatan paling menyakitkan, Arlan membuang nama besar yang telah membesarkannya demi ego pribadi.“Panggil ... Arlan....!” suara Kakek Billy terdengar parau dan putus-putus di balik masker oksigen yang berembun.Di tengah lilitan selang infus, ia masih menyisakan sisa kekuatannya hanya untuk memanggil sang putra angkat yang dianggapnya durhaka.Dion, yang s
Setelah berhari-hari hidup bagai robot di koridor rumah sakit yang dingin, Karin akhirnya bisa menghirup udara bebas.Setidaknya untuk hari ini.Kemarin adalah siksaan batin yang luar biasa. Ia berulang kali harus berhadapan dengan Dimas di meja operasi.Alih-alih profesional, pria itu justru semakin terang-terangan menunjukkan obsesi gilanya. Tatapan Dimas di balik masker bedah selalu sukses membuat tengkuk Karin meremang.Getar ponsel di atas meja memecah lamunannya. Sebuah nama muncul di layar, seketika menghangatkan hatinya yang cemas. Arlan!“Sayang, prosesnya lebih cepat dari yang aku kira. Hasilnya sudah keluar.” Suara Arlan di seberang telepon terdengar begitu bersemangat.Karin yang baru saja selesai mandi, langsung menggenggam erat ponselnya. Matanya berbinar, memancarkan binar kebahagiaan yang sudah lama redup.“Oh ya? Yeay! Jadi ... kita bisa menikah?”Ada nada penuh harap yang membuncah dalam pertanyaannya. Karin sudah tidak sabar untuk menyerahkan seluruh hidupnya dan ha
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”







