Share

Bab 488 Sesak Banget

last update publish date: 2026-09-25 11:02:18

“Lepasin, Sayang! Hahaha!”

Karin memekik di antara tawa renyahnya, kedua kakinya menjuntai pasrah saat tubuhnya mendadak melayang, digotong persis seperti sekarung beras di atas bahu kokoh suaminya.

Arlan mendengus, melangkah lebar meninggalkan area toilet tempat istrinya itu sempat barikade diri.

Plak!

Sebuah tepukan gemas mendarat di bokong Karin sebagai hukuman.

“Aduh! Sakit, Sayang!” protes Karin, walau sama sekali tidak terdengar kesakitan. Ia justru semakin tertawa puas di dalam gendongan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 497 Penggaris Untuk Burungmu

    “Sayang ….”Karin menerobos masuk ke ruangan Arlan dan langsung memeluknya begitu erat, hampir membuat tulang rusuk Arlan berbunyi krek.Arlan sempat terharu, mengira istrinya sedang butuh kehangatan dan sandaran jiwa setelah seharian menghadapi kejamnya dunia.Siang itu, ruang direktur terasa seperti zona meditasi darurat.Cahaya matahari menyusup melalui kaca besar, menyinari piring makan siang yang masih mengepulkan aroma hangat.Karin langsung duduk setelah memeluk Arlan dan memandangi makanannya seolah-olah nasi goreng di hadapannya bisa mendadak bicara dan menjelaskan rumus kalkulus.Sendok di tangannya bergerak acak, mengaduk makanan tanpa niat menyuap.“Ada apa?”Arlan memperhatikannya sejak tadi dengan alis berkerut, menimbang-nimbang apakah istrinya sedang kesurupan atau hanya sedang mode mogok makan.Ia tahu diam Karin bukan sekadar diam. Ada beban berat yang sedang dipikul istrinya.“Silvi minta maaf lagi,” ucap Karin akhirnya. Suaranya pelan sekali, nyaris kalah saing den

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 496 Siapa Pria Itu?

    “Karin!” Tangan Laura melambai, ia melihat Karin di koridor dan kebetulan Laura ada di rumah sakit ini.Kening Karin berkerut, kembarannya ini sekarang sering sekali datang ke rumah sakit. Entah sengaja bertemu dengannya atau memang berobat di rumah sakit ini.“Aku boleh cerita?” tanya Laura sambil menggandeng tangan Karin. Karin mengangguk dan mengajak Laura ke ruang koas. Hanya tempat itu yang aman untuk mereka dan tidak ada yang akan mengganggu. Pintu ruang koas kembali terbuka. Laura melangkah masuk dengan sisa rasa tidak nyaman di tubuhnya.Laura baru saja melewati prosedur medis yang cukup menguras energi, Dimas baru saja selesai merapikan kateter word yang terpasang di area intimnya akibat kista bartholin yang dideritanya.Laura berjalan perlahan, lalu duduk dengan lambat ke sofa di sudut ruangan dengan helaan napas panjang.Wajahnya tampak lelah, namun ada kilat emosi lain yang menuntut untuk dikeluarkan. Ia datang siang itu murni hanya ingin bercerita dan menumpahkan keluh k

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 495 Pemuas Ranjang, Terserah!

    “Aku tau percuma minta maaf tapi aku akan coba lagi,” ucap Silvi. Sudah berulang kali Silvi minta maaf tapi tidak pernah Karin mau memaafkannya, bahkan pagi ini ia masih baik membantu Karin yang terlambat presentasi, Karin pun tetap dingin. Siang itu, udara di dalam ruang istirahat koas terasa begitu mencekam. Silvi berdiri di depan meja sahabat lamanya itu dengan tubuh gemetar dan mata yang mulai sembab. Di hadapannya, Karin duduk dengan posisi tegak, wajahnya sedingin es, sama sekali tidak menampilkan riak emosi. “Rin, aku minta maaf ... aku mohon, maafkan aku,” suara Silvi pecah, air matanya kini luruh tanpa bisa ditahan lagi. “Aku gak pernah punya niat sedikitpun untuk menghancurkan keluargamu. Tolong pahami posisiku, Rin. Lagipula ... Papi Rion sudah duda sejak Mami Kaina meninggal. Aku gak merebutnya dari siapapun sekarang.” Silvi menarik napas pendek, mencoba mengatur suaranya yang serak. “Dan soal hubunganku dengan Diego ... itu murni atas kehendakku sendiri. Aku tidak

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 494 Tinggal Bersama

    Langkah kaki Diego terdengar tegas di sepanjang koridor, namun pikirannya berkecamuk.Begitu pintu lift tertutup dan ia sendirian, ia langsung merogoh ponsel dari saku jas putihnya dan menekan sebuah nama.“Silvi, ke tangga darurat lantai tiga sekarang. Kita perlu bicara,” ucap Diego tanpa basa-basi begitu telepon tersambung.Hanya butuh waktu tiga menit sampai pintu besi tangga darurat itu terbuka, menampilkan sosok Silvi dengan napas sedikit terengah.Wajah cantik mahasiswi koas itu tampak cemas.Diego langsung melangkah mendekat, menatap Silvi lekat-lekat.“Karin sudah mengadukan hubungan kita dengan Arlan.”Mata Silvi membelalak sempurna. Wajahnya mendadak pucat, kehilangan rona darah.“Apa? Karin?”Silvi menyandarkan punggungnya ke dinding pembatas tangga, mendadak merasa lemas.“Demi Tuhan, Dok ... aku sudah takut dari kemarin. Ternyata benar firasatku. Akhir-akhir ini perawat di bagian obgyn sudah mulai menyindirku. Mereka membicarakan betapa seringnya aku keluar masuk ruanganm

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 493 Peringatan Dari Seorang Sahabat

    “Duduk!”Aroma kopi hitam dan sterilisasi khas rumah sakit menguar di antara mereka.Di ruang kerja Arlan yang tertutup rapat, atmosfer terasa berat, namun anehnya, ada ketenangan yang dingin di sana.Diego duduk bersandar di kursi hadapan Arlan. Punggungnya tegap, wajahnya tanpa ekspresi, seolah-olah ia hanya dipanggil untuk membahas jadwal operasi pasien bedah sesar, bukan soal skandal moral.Sebagai sesama dokter spesialis obgyn, mereka tahu persis cara menjaga ketegangan emosi di bawah jas putih yang mereka kenakan.Diego sudah bisa menebak arah pembicaraan ini sejak kakinya melangkah melewati pintu.Ini pasti soal Karin. Dan tentu saja, soal Silvi, koas yang kemarin menghabiskan waktu bersamanya dibalik pintu terkunci.Arlan meletakkan cangkir kopinya, bunyi detak keramik beradu dengan meja kaca terdengar begitu nyaring di ruangan yang sepi.“Ada apa, Dokter Arlan?” tanya Diego sudah mulai penasaran. Tumben sekali sahabatnya ini memanggilnya di jam krusial. Matanya menatap Diego

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 492 Jatah Berkurang

    “Ngebut, Sayang! Ngebuuut! Anggap aja kamu lagi balapan di sirkuit F1!” teriakKarin heboh dari kursi penumpang, tangannya gemetaran menahan kaca rias di sun visor mobil seraya mencoba mengaplikasikan lipstik yang berulang kali mencong karena guncangan jalan.“Aduh, ya ampun.”Arlan fokus menatap jalanan, sesekali melirik spion dan menginjak pedal gas lebih dalam, meliuk-liuk di antara kemacetan kota dengan gesit.“Ini sudah kecepatan maksimal di jalur kota, Sayang. Kalau lebih cepat lagi, kita bukan sampai di tempat presentasi, tapi di kantor polisi,” sahut Arlan tenang namun tetap memacu mobilnya dengan cekatan.Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!Ponsel di pangkuan Karin tidak berhenti bergetar.Layarnya terus menyala menampilkan rentetan pesan masuk dari Silvi.Karin melirik layar itu dengan frustasi.“Karin, kamu di mana sih? Tiga urutan lagi nama kamu dipanggil!”Padahal musuhan! Tapi, Karin tetap menja

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status