Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 487 Burung Kamu Kecil

Share

Bab 487 Burung Kamu Kecil

last update publish date: 2026-09-25 10:12:42

Arlan melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi senyap.

Keningnya berkerut!

Sebagai sesama dokter, ia tahu persis jadwal Karin. Malam ini istrinya tidak ada jadwal jaga koas, tidak ada panggilan darurat di rumah sakit dan tidak ada pesan izin keluar rumah.

“Sayang?” panggil Arlan, meletakkan kunci mobilnya di meja depan.

Nihil.

Rumah itu terasa seperti rumah hantu, bersih, rapi, tapi tak berpenghuni. padahal Arlan sudah bela-belain mengosongkan jadwal dengan pasiennya malam ini hanya demi memel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 492 Jatah Berkurang

    “Ngebut, Sayang! Ngebuuut! Anggap aja kamu lagi balapan di sirkuit F1!” teriakKarin heboh dari kursi penumpang, tangannya gemetaran menahan kaca rias di sun visor mobil seraya mencoba mengaplikasikan lipstik yang berulang kali mencong karena guncangan jalan.“Aduh, ya ampun.”Arlan fokus menatap jalanan, sesekali melirik spion dan menginjak pedal gas lebih dalam, meliuk-liuk di antara kemacetan kota dengan gesit.“Ini sudah kecepatan maksimal di jalur kota, Sayang. Kalau lebih cepat lagi, kita bukan sampai di tempat presentasi, tapi di kantor polisi,” sahut Arlan tenang namun tetap memacu mobilnya dengan cekatan.Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!Ponsel di pangkuan Karin tidak berhenti bergetar.Layarnya terus menyala menampilkan rentetan pesan masuk dari Silvi.Karin melirik layar itu dengan frustasi.“Karin, kamu di mana sih? Tiga urutan lagi nama kamu dipanggil!”Padahal musuhan! Tapi, Karin tetap menja

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 491 Mau Lagi Sayang, Please!

    “Mau lagi?” Arlan berbisik di ceruk leher Karin. Ciuman pembuktian di ruang makan yang semula diniatkan Karin hanya untuk meredam cemburu Arlan, justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.Sentuhan lembut itu menyulut kembali api gairah yang sempat padam semalam.Arlan, yang dasarnya sudah terlanjur posesif dan begitu tergila-gila dengan tubuh Karin, langsung kehilangan kendali akal sehatnya.Rencana awal mereka yang seharusnya pergi ke rumah sakit pagi ini menguap begitu saja ke udara.Arlan memutus ciuman sejenak hanya untuk meraup napas, menatap Karin dengan tatapan gelap penuh damba.“Rumah sakitnya kita tunda siang nanti,” bisik Arlan rendah, suaranya serak dan sarat akan gairah yang kembali tersulut.Sebelum Karin sempat memprotes atau mengingatkan jadwal mereka, Arlan sudah menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Karin. Membungkam mulut Karin dengan cumbuannya.Ia mengangkat tubuh istrinya ya

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 490 Cuma Boleh Lihat Burungku

    Setelah selesai berpakaian, Karin melangkah ke ruang makan dengan langkah yang masih sedikit tertatih karena sisa pegal semalam. “Hemm, enak banget.” Puji Karin dengan tulus. Di atas meja sudah tersaji nasi goreng spesial lengkap dengan telur mata sapi dan potongan ayam, semuanya disiapkan oleh pembantu setia mereka. Karin memang sama sekali tidak bisa memasak bahkan untuk sekedar merebus telur, tipe istri manja yang beruntung karena Arlan tidak pernah mempermasalahkan hal itu sedikit pun bagi Arlan, kenyamanan Karin adalah yang utama. Arlan duduk di hadapannya sambil menyesap kopi hitam, menatap sang istri dengan senyuman tipis yang sarat akan sisa kemesraan pagi ini. Karin menyuap sesendok nasi goreng, lalu menatap Arlan dengan ekspresi serius yang mendadak dibuat-buat, seperti seorang anak kecil yang ingin mengadukan sebuah rahasia besar. “Sayang,” panggil Karin, menaruh sendoknya dan mencondongkan tubuh ke depan. “Aku mau buat pengakuan dosa.” Arlan menaikkan satu alisnya,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 489 Hukuman Suami Perkasa

    “Eugh!”Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang tampak seperti kapal pecah setelah badai semalam.Karin perlahan membuka matanya, mengerang pelan saat merasakan seluruh persendiannya protes. Tubuhnya terasa remuk dan ada rasa pegal yang tertinggal di area pinggangnya.Di sampingnya, Arlan masih tertidur lelap dengan posisi miring, menampilkan punggung tegapnya yang dipenuhi beberapa bekas cakaran tipis, ulah Karin sendiri saat kehilangan kendali semalam.Karin menarik selimut tebal sampai ke dagu, menatap wajah suaminya yang tampak begitu tenang saat tidur. Sisa-sisa kejadian semalam mendadak berputar di otaknya, membuat pipinya langsung memanas.Sambil memegangi pinggangnya yang encok, Karin membatin dalam hati, bersumpah tidak akan pernah lagi mengejek 'aset' suaminya itu kecil.Arlan benar-benar tidak memberi ampun. Pria yang biasanya lempeng dan kaku itu berubah menjadi monster yang luar biasa perkasa di ranjang, membuat Karin yang tadinya te

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 488 Sesak Banget

    “Lepasin, Sayang! Hahaha!”Karin memekik di antara tawa renyahnya, kedua kakinya menjuntai pasrah saat tubuhnya mendadak melayang, digotong persis seperti sekarung beras di atas bahu kokoh suaminya.Arlan mendengus, melangkah lebar meninggalkan area toilet tempat istrinya itu sempat barikade diri.Plak!Sebuah tepukan gemas mendarat di bokong Karin sebagai hukuman.“Aduh! Sakit, Sayang!” protes Karin, walau sama sekali tidak terdengar kesakitan. Ia justru semakin tertawa puas di dalam gendongan, memegangi perutnya yang mulai kaku karena terlalu banyak terbahak.“Lagian kamu makin hari makin jahil, ya. Mau kabur dari rumah tapi sembunyinya di kamar tamu. Itu namanya pindah tidur, Sayang, bukan minggat,” gerutu Arlan sambil menurunkan istrinya dengan hati-hati ke atas ranjang.Karin langsung berguling, menatap wajah Arlan yang mencoba pasang tampang datar, meski telinganya sudah memerah.“Ya lagian kamunya lempeng terus kayak jalan tol! Aku kan butuh hiburan malam-malam gini.”Arlan ber

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 487 Burung Kamu Kecil

    Arlan melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi senyap.Keningnya berkerut!Sebagai sesama dokter, ia tahu persis jadwal Karin. Malam ini istrinya tidak ada jadwal jaga koas, tidak ada panggilan darurat di rumah sakit dan tidak ada pesan izin keluar rumah.“Sayang?” panggil Arlan, meletakkan kunci mobilnya di meja depan.Nihil.Rumah itu terasa seperti rumah hantu, bersih, rapi, tapi tak berpenghuni. padahal Arlan sudah bela-belain mengosongkan jadwal dengan pasiennya malam ini hanya demi memeluk istri kecilnya itu dan mengajaknya makan malam romantis.Dengan langkah cepat, ia menuju kamar utama.Harapannya untuk melihat Karin sedang rebahan di ranjang langsung pupus saat matanya menangkap secarik kertas di atas nakas.Arlan berjalan mendekat, mengambil kertas itu dan membacanya.“Arlan, aku pergi. Burung kamu kecil.”Arlan melongo.Ia membaca tulisan tangan Karin yang berantakan khas dokter itu sampai tiga kali.Detik berikutnya, ia langsung memeriksa lemari pakaian. Kosong melompong

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status