LOGINKarin segera menyejajarkan kudanya dengan Arlan, menyentuh lengan suaminya itu sebagai isyarat untuk tidak melangkah lebih jauh.Mereka sudah berjanji pada Laura di pondok spa tadi untuk tidak memicu amarah Moreno.Laura yang melihat ketegangan kembali memuncak segera mengalihkan perhatian Moreno.“Moreno, lihat! Mataharinya sudah hampir tenggelam sempurna. Ayo, kita jalan lagi!”Mendengar suara lembut Laura, fokus Moreno seketika kembali melunak. Ia menatap Laura, lalu kembali melempar pandangan peringatan terakhir pada Arlan sebelum memacu kudanya perlahan mendampingi Laura menyusuri sisa garis pantai yang mulai meredup.Stop!Hanya itu yang Moreno inginkan, ia sudah banyak mengalah demi membuat liburan mereka menyenangkan.Matahari terbenam di NIHI Sumba sore itu menutup hari dengan visual yang luar biasa indah, namun menyimpan bara ketegangan yang siap meledak kapan saja di antara kedua belah pihak.Setelah aktivitas berkuda yang penuh ketegangan tersembunyi itu selesai, Moreno da
Sementara itu, di sisi lain lembah Nihioka, Moreno dan Arlan berdiri di tepi tebing, menyaksikan ombak besar yang bergulung di bawah mereka.Suasana di antara kedua pria berkuasa itu tetap sedingin es, meski mereka dikelilingi oleh keindahan surga tropis.“Kau memainkan peranmu dengan sangat baik hari ini, Moreno. Laura pasti menganggapmu seorang manusia,” sindir Arlan sambil bersedekap, matanya menatap lurus ke arah laut.“Mengajak kami ke sini agar kau terlihat seperti pria terhormat, bukan penculik posesif.”Penculik posesif? Terdengar berlebihan.Moreno terkekeh pelan, menyandarkan tubuhnya pada pagar kayu dengan gestur yang sangat tenang.“Ini adalah wilayahku, Arlan. Di NIHI Sumba ini, aku bisa menjadi apa saja yang kuinginkan. Menjadi tunangan yang penuh cinta, tuan rumah yang murah hati, atau....”Moreno menjeda kalimatnya, lalu menatap Arlan dengan mata menggelap yang dipenuhi ancaman terselubung.“Sesuatu yang tidak mungkin kalian pikirkan.”Moreno menepuk pundak Arlan denga
“Sepertinya kamu mulai menikmati suasananya, Sayang,” ucap Moreno tepat di telinga Laura.Nada suaranya terdengar begitu tenang, namun Moreno merasa kalau ia menang.Laura memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu menoleh sedikit untuk menatap sepasang manik mata gelap pria di sebelahnya.“Ya, Moreno. Udara disini sangat segar, dan makanan disini juga sangat enak.”Moreno menarik sudut bibirnya, tampak sangat puas mendengar jawaban jujur dari bibir Laura. Ia melihat Arlan dengan tajam yang duduk di depannya sambil mencium tangan Laura, seolah sedang memamerkan kepemilikan mutlaknya atas wanita itu.Arlan yang menangkap basah tatapan arogan tersebut meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring dengan denting halus yang memecah keheningan di antara mereka. Ia memundurkan punggungnya, bersandar pada kursi rotan dengan gestur yang dipaksakan serileks mungkin.“Kau membawa banyak pengawal untuk sebuah liburan privat di pulau terpencil, Moreno,” ucap Arlan dengan nada menyindir, matanya meliri
“Oh, ya?”Moreno menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai tipis yang arogan.Kilatan terkejut di matanya memudar dalam hitungan detik, berganti dengan relaksasi tubuh yang penuh kendali nyata.Moreno tidak akan kabur, apalagi marah! Melarikan diri hanya akan menunjukkan bahwa ia kalah dan terintimidasi oleh kehadiran Arlan.Bagi Moreno, liburan mewah ini justru terasa jauh lebih menantang dan lengkap dengan kehadiran “para pengganggu” yang melangkah masuk ke dalam sangkar emasnya.“Kebetulan yang menyenangkan tentunya, Dokter Arlan. Aku juga gak menyangka kalian akan menyusul sejauh ini,” ucap Moreno dengan suara bariton yang tenang, melepaskan cengkraman kasarnya di pinggang Laura menjadi usapan lembut yang manipulatif.“Karena kalian sudah di sini, gak ada salahnya bergabung. Liburan di NIHI Sumba terlalu megah untuk dilewatkan sendirian. Bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama?”Arlan menatap tajam, sementara Karin mengangguk setuju demi bisa mendekati Laura.M
“Aku pasti buat kamu bahagia, Sayang” Sore itu juga, setelah pelukan posesif Moreno terlepas dan pria itu bergegas keluar kamar untuk menghubungi sekretarisnya, Laura segera beraksi. Menggunakan ponsel cadangan yang ia sembunyikan dengan sangat rapi di dalam lipatan baju di lemari terdalam, Laura mengetik sebuah pesan singkat dengan tangan yang gemetar. Ia tidak bisa mengirim pesan teks biasa yang rentan disadap. Laura menggunakan akun surel samaran yang hanya diketahui oleh Karin dan Arlan. “Besok pagi. Jet pribadi Moreno. Nihi Sumba. Dia membawaku pergi untuk menjauhkanku dari kalian. Area terbuka adalah satu-satunya kesempatanku. Tolong aku!” Setelah menekan tombol kirim, Laura langsung menghapus seluruh riwayat dan menyembunyikan kembali ponsel tersebut. Jantungnya bertalu-talu, namun secercah harapan kini menyelimuti hatinya yang sempat redup. Di tempat lain, sebuah notifikasi khusus berbunyi di ponsel Arlan. Pria itu sedang berkumpul bersama Karin di sebuah ruang ker
“Laura!” teriak Moreno.Pintu terhempas ke dinding. Pandangan mata Moreno yang menggelap dan liar langsung menyapu seluruh penjuru kamar luas itu.Napasnya yang memburu perlahan mulai teratur saat manik matanya menemukan sosok yang dicarinya.Laura masih ada di sana.Wanita itu tersentak kaget dari posisinya di dekat jendela akibat hantaman pintu yang begitu keras. Tubuh Laura yang rapuh tampak bergetar hebat saat melihat Moreno berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang sedikit berantakan, dasi yang sudah dilonggarkan dan napas yang terengah-engah.Moreno melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dengan perlahan, menguncinya dari dalam.Ketegangan yang membara di dadanya perlahan mencair, digantikan oleh kelegaaan yang luar biasa melihat buruannya tidak ke mana-mana.Namun, tatapan matanya yang posesif dan tajam tetap mengunci tubuh Laura, perlahan berjalan mendekat ke arah wanita yang kini melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding pembatas jendela.Moreno me
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







