LOGINTanpa berpikir panjang, ia membalikkan badan dengan tergesa-gesa, berniat mencari ponsel di kamarnya untuk menghubungi nomor Moreno. Ia harus menyerahkan diri demi menyelamatkan kakaknya.Ceklek!Suara gagang pintu yang bergerak di belakangnya membuat Laura terkejut.Langkah kakinya yang gemetar langsung diburu oleh Dimas yang bergerak secepat kilat mengejarnya hingga ke dalam kamar.Brakh!!Dimas menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu melangkah cepat mendekati Laura yang sedang menggeledah tasnya dengan tangan gemetar, mencari ponselnya untuk menghubungi nomor Moreno.“Lepaskan, Sayang! Lepaskan aku!” jerit Laura histeris saat Dimas menahan kedua pergelangan tangannya, menariknya menjauh dari tas itu.“Ini semua salahku! Moreno melakukan ini karena aku kabur! Dia menginginkanku, Sayang, bukan Karin! Biarkan aku menelponnya, kumohon....”“Laura! Tatap mataku! Tenang, Sayang, tenang!”Dimas memotong kalimat Laura dengan suara baritonnya yang tegas namun penuh kelembutan.Tanpa mempeduli
“Kamu dimana, Sayang. Aku benar-benar tidak sanggup sendirian seperti ini. Apa bajingan itu melukaimu?” tanya Arlan sambil mencium pakaian Karin.Arlan sungguh terpuruk! Kalau tahu menolong Dimas dan Laura akan berdampak kehilangan Karin, sungguh Arlan tidak ingin melakukannya.Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak bisa menyesali semua itu sekarang.Sementara di Monaco Moreno tengah menikmati kemenangan semu di atas kapal pesiar mewahnya, di Jakarta suasana terasa begitu pekat dan menekan. Arlan masih sibuk mencari istrinya dengan semua jaringan koneksi yang ada.Gurat lelah di wajah sang Direktur Rumah Sakit kini telah berganti menjadi kecemasan yang mendalam.Ia mengepalkan tangan, menyadari satu kenyataan.Arlan sungguh meremehkan Moreno.Buktinya, hingga detik ini, tidak ada satu pun jejak digital maupun fisik mengenai keberadaan Karin dan belum ada juga telepon tuntutan dari Moreno.Pria psikopat itu sengaja memutus komunikasi untuk menyiksa mental Arlan perlahan-lahan.“Kalau
Di tengah deru bising mobil F1 yang membelah sirkuit jalan raya di bawah balkon penthouse, seorang pria berbadan tegap melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara.Sambil tetap menjaga kewaspadaan, bodyguard kepercayaan Moreno itu sedikit membungkuk, berbisik tepat di samping telinga tuannya yang sedang menikmati cerutu bersama Karin.Di sebelah Moreno, Karin tampak luar biasa anggun. Ia bisa diajak bekerja sama, duduk dengan tenang tanpa keributan dan kepanikan yang merepotkan.Sikap kooperatif Karin yang anggun itu benar-benar pemandangan yang bagus di mata Moreno.“Tuan Moreno,” bisik sang bodyguard dengan nada rendah yang teratur.“Dokter Arlan dan Dokter Dimas saat ini sedang gila mencari keberadaan Anda. Siasat Anda berhasil. Mereka mengira Anda pergi ke Paris, karena manifes jet pribadi yang terdaftar atas nama Anda malam itu tercatat menuju Paris, Prancis. Kami juga menyebarkan jejak palsu ke Italia, negara tetangga yang hanya berjarak beberapa kilometer dari perbatasan Monaco
“Mau dibawa kemana aku oleh pria gila ini?” bisik Karin dalam hatinya.Karin semula menaruh harapan besar pada keramaian Grand Prix Monaco. Dibenaknya, sirkuit jalan raya Monte Carlo yang padat dan dipenuhi jutaan pasang mata adalah kesempatan emas.Jika mereka berada di tengah kerumunan penonton, ia bisa saja berteriak sekuat tenaga, memicu keributan dan meminta tolong kepada petugas keamanan atau turis asing untuk melepaskannya.“Tempat apa ini?” Karin bertanya-tanya dalam hatinya.Begitu mobil mewah yang membawa mereka berhenti, harapan itu pupus seketika.Moreno ternyata tidak membawanya ke area tribun sirkuit, melainkan ke sebuah penthouse pribadi yang eksklusif di kawasan pelabuhan Port Hercule.“Brengsek!” umpat Karin dalam hati.Dadanya bergemuruh menahan amarah yang menyakitkan.Moreno memang begitu matang dan dingin dalam melancarkan aksinya.Pria itu tidak akan pernah membiarkan Karin menyentuh kerumunan yang bisa mengancam kendalinya.Di Monaco, para miliarder dan kaum eli
“Sayang, kamu pasti sedang mencariku sekarang, kan?”Bisikan lirih itu menguap sia-sia di udara dingin Monaco, membentur dinding marmer kelabu sebuah villa megah yang terasa tak lebih dari sekedar penjara mewah.Karin duduk meringkuk di sudut ranjang, memeluk lututnya erat-erat sembari menatap ke luar jendela besar yang menampilkan panorama tebing batu dan deburan ombak Laut Mediterania.Jiwanya merana, diselimuti kesedihan pekat yang nyaris mencekik napasnya.Karin terisolasi total.Rumah megah terpencil ini dikepung rapat oleh barikade anak buah Moreno berkacamata hitam yang tak menyisakan satupun celah untuk meloloskan diri.Di tempat sejauh ini, ia tidak bisa meminta tolong pada siapa pun.“Jadi, di sini tempatnya.…” batin Karin berkecamuk pilu.Sebuah kesadaran pahit mendadak melintas di kepalanya.Ketika Laura dulu menghilang tanpa jejak dari Jakarta, Moreno pasti menyembunyikannya di dalam sangkar emas ini.Pantas saja jaringan rahasia suaminya dan kepolisian tidak pernah bisa
“Kita dimana?” tanya Karin sambil mengedarkan matanya.“Monaco.” Moreno menjawab dengan tenang.Cahaya pagi Mediterania yang menembus jendela kaca besar vila mewah itu sama sekali tidak mampu menghangatkan dingin yang menjalar di sekujur tubuh Karin.Di atas meja marmer, sarapan mewah tersaji tanpa tersentuh.“Aku mau pulang!” jerit Karin, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.Moreno tetap tenang.Tangannya dengan elegan mengaduk cangkir kopi, menciptakan denting sendok yang konstan dan menyebalkan.“Kau gila, Moreno! Aku bukan Laura. Aku Karin!”Karin mencengkeram tepi meja, menatap pria di hadapannya dengan tatapan menghunus.“Jangan pernah berpikir kau bisa menyentuh tubuhku. Lebih baik aku mati daripada harus menjadi pelacurmu! Aku punya suami!”Moreno menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, menyunggingkan senyum sinis yang penuh dominasi.Di negara kerajaan kecil ini, Moreno tahu persis bahwa Karin hanyalah seekor burung dalam sangkar emasnya. T
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K







