Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 649 Diam Dan Nikmati!

Share

Bab 649 Diam Dan Nikmati!

last update publish date: 2026-10-22 00:24:45

“Kita dimana?” tanya Karin sambil mengedarkan matanya.

“Monaco.” Moreno menjawab dengan tenang.

Cahaya pagi Mediterania yang menembus jendela kaca besar vila mewah itu sama sekali tidak mampu menghangatkan dingin yang menjalar di sekujur tubuh Karin.

Di atas meja marmer, sarapan mewah tersaji tanpa tersentuh.

“Aku mau pulang!” jerit Karin, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.

Moreno tetap tenang.

Tangannya dengan elegan mengaduk cangkir kopi, menciptakan denting se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 649 Diam Dan Nikmati!

    “Kita dimana?” tanya Karin sambil mengedarkan matanya.“Monaco.” Moreno menjawab dengan tenang.Cahaya pagi Mediterania yang menembus jendela kaca besar vila mewah itu sama sekali tidak mampu menghangatkan dingin yang menjalar di sekujur tubuh Karin.Di atas meja marmer, sarapan mewah tersaji tanpa tersentuh.“Aku mau pulang!” jerit Karin, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.Moreno tetap tenang.Tangannya dengan elegan mengaduk cangkir kopi, menciptakan denting sendok yang konstan dan menyebalkan.“Kau gila, Moreno! Aku bukan Laura. Aku Karin!”Karin mencengkeram tepi meja, menatap pria di hadapannya dengan tatapan menghunus.“Jangan pernah berpikir kau bisa menyentuh tubuhku. Lebih baik aku mati daripada harus menjadi pelacurmu! Aku punya suami!”Moreno menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, menyunggingkan senyum sinis yang penuh dominasi.Di negara kerajaan kecil ini, Moreno tahu persis bahwa Karin hanyalah seekor burung dalam sangkar emasnya. T

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 648 Dibawa Kabur

    “Kita harus bertemu, Karin diculik!”Panggilan darurat segera tersambung. Arlan tidak lagi peduli dengan ego atau prosedur formal. Ia langsung menghubungi Dimas, membeberkan kenyataan pahit tentang hilangnya Karin.“Diculik?” tanya Dimas.“Ya, Moreno yang melakukannya. Dia gila! Aku juga sudah menghubungi koneksiku yang lain untuk membantu menemukan Karin. Moreno menyembunyikannya dengan sangat rapi.”Didorong oleh rasa frustasi yang memuncak, mereka tidak hanya menggerakkan Aldi yang menguasai jaringan informasi jalanan, tetapi juga mengetuk pintu koneksi yang jauh lebih masif.“Aku juga akan membantumu, Dokter Arlan. Tenanglah!”Dimas, sebagai dokter spesialis onkologi terkemuka, pernah menyelamatkan nyawa seorang istri jenderal bintang empat yang memegang jabatan tertinggi di instansi militer.Mantan pasien yang sangat berhutang budi padanya itu langsung mengerahkan unit intelijen khusus taktis begitu mendengar kabar bahwa adik ipar sang dokter diculik.Ketiga kekuatan besar, hukum

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 647 Firasat Buruk Arlan

    Jantung Arlan rasanya seperti berhenti berdetak sesaat. Pasokan udara di sekitarnya mendadak terasa mencekam.Hubungan telepon dengan Silvi terputus begitu saja setelah Arlan mengucapkan terima kasih dengan suara tercekat.Firasatnya langsung memburuk.Karin Sendirian!Di Puskesmas yang sudah sepi. Di tengah banyaknya gosip keluarga mereka dan Moreno yang sedang menggila di luar sana.Arlan langsung meraih kunci mobilnya dan berlari keluar ruangan, mengabaikan tatapan bingung dari sekretarisnya. Ia memacu mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi menuju Tangerang.Pikirannya berkecamuk, membayangkan skenario terburuk yang bisa menimpa istrinya.Begitu tiba di Puskesmas, suasana sudah benar-benar lengang. Arlan melangkah lebar masuk ke dalam koridor yang sunyi.Langkah kakinya menggema, menuntunnya langsung menuju ruang poli umum tempat Karin bekerja.Pintu ruangan itu sedikit terbuka.Begitu Arlan mendorongnya, pemandangan di dalam ruangan membuat dunianya seolah runtuh.Ruang

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 646 Tidak Masalah Kau Jadi Penggantinya

    “Bawa masuk dia ke mobil!” perintah Moreno.Semuanya terjadi begitu cepat.Karin bahkan tidak memiliki waktu untuk mencerna ancaman Moreno. Dua pria berbadan tegap dengan setelan hitam legam mendadak muncul dari balik punggung Moreno, langsung mencengkram kedua lengan Karin dengan kukuh.“To….”Sebelum Karin sempat membuka mulut untuk berteriak meminta pertolongan, tubuhnya sudah diangkat setengah diseret, dibawa paksa keluar melalui selasar yang sepi menuju parkiran belakang.Sore itu, Puskesmas benar-benar tak berdaya melindunginya.Petugas keamanan yang biasa berjaga di depan sedang keluar untuk makan siang, menganggap situasi akan aman-aman saja seperti hari biasanya, sebelum ancaman bernama Moreno datang merusak segalanya.Sebuah mobil SUV hitam dengan kaca pekat sudah menunggu dengan pintu yang terbuka. Tubuh Karin didorong kasar ke dalam kursi penumpang, disusul oleh Moreno yang duduk tepat di sebelahnya.“Kamu mau apa, hahh?”Karin berteriak histeris, napasnya memburu karena p

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 645 Tamu Tidak Di Undang

    "Aduh, banyak banget lagi pasiennya," ucap Karin begitu sibuk pagi ini. Di sudut lain kota, keriuhan yang berbeda sedang dihadapi oleh Karin.Hari ini adalah pekan pertama Karin memulai masa internshipnya.Sebagai istri dari seorang Direktur Rumah Sakit, Karin sebenarnya punya jalur instan. Ia bisa saja meminta penempatan di klinik mewah atau rumah sakit besar di bawah kendali suaminya.Namun, Karin menolak keras. Ia bersikeras mengikuti aturan resmi yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan melalui sistem seleksi komputerisasi nasional.Alhasil, nasib membawanya terdampar di sebuah Puskesmas padat pengunjung di kawasan Tangerang.“Rin, serius Dokter Dimas udah nikah sama Laura, kembaran kamu?” bisik Silvi yang duduk di sebelah Karin.Saat itu, ruang poli umum sedang sedikit senggang setelah gelombang pasien pagi mereda.Mereka berdua duduk bersebelahan di balik meja periksa, menghadap tumpukan rekam medis pasien.Karin hanya menyunggingkan senyum kecut. Jemarinya pura-pura sibuk me

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 644 Sarapan Pagi Pengantin Baru

    “Sayang?” panggil Laura.Langkah kaki Laura terasa ringan saat menuruni anak tangga satu per satu.Sejak membuka mata pagi tadi, sisi kasur di sebelahnya sudah mendingin.Dimas tidak ada di sana.Namun, rasa sepi itu mendadak menguap begitu indra penciumannya menangkap aroma gurih bawang putih dan mentega yang ditumis, menuntun langkahnya langsung menuju dapur.“Sayang kamu ngapain?” tanya Laura dengan senyum lembutnya.Di depan kompor, seorang pria bertubuh tegap sedang sibuk membalikkan nasi di atas wajan.Pemandangan itu membuat Laura tak bisa menahan senyumnya. Dimas, sang dokter spesialis onkologi yang biasanya tampak berwibawa dengan jas putih dan stetoskop, kini terlihat begitu handal dengan apron sewarna sage yang melekat di tubuhnya.Laura mendekat. Ia langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggang Dimas dari belakang, menyandarkan pipinya di punggung tegap sang suami.“Kamu ganteng banget kalau lagi begini, Sayang,” bisik Laura lembut, tepat di dekat telinga Dimas.Dimas

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status