Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 81 Cara Licik dr. Arlan

Share

Bab 81 Cara Licik dr. Arlan

last update publish date: 2026-07-12 20:23:10

“Datang ke apartemenku sekarang, ini tentang Karin!”

Arlan berani sekali menghubungi Papi Rion, demi membuat Karin berhenti berhubungan dengan pria manapun.

Papi Rion yang sibuk terpaksa datang tengah malam ke apartemen mewah Arlan untuk menjemput Karin. Papi Rion tidak pernah tahu apa yang Karin lakukan sehari-hari, tidak pernah peduli bahkan tidak pernah bertanya perkembangan Karin, seolah Karin itu anak tiri.

“Dia gak akan datang ke sini, dok. Kau pikir Papi peduli padaku?” Karin melipat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 293 Jangan Lama-Lama

    “Kok kamu tau aku liburan ke Bali?” Karin melilitkan tangannya ke leher Arlan, ia memandang Arlan sekarang berbeda. Padahal seharusnya Karin sedih. Ya, ia sedih tapi yang membuat Karin senang. Ternyata ia tidak punya hubungan dengan Arlan dan Karin belum ingin memberitahu semua itu. Ia saja masih shock. “Kamu yang memberitahu, memang kamu yang mau aku datang,” jawab Arlan dengan percaya dirinya dan Karin hanya tersenyum sambil menatap wajah Arlan dengan binar kebahagiaan yang nyata. Ah, ternyata? “Kamu sayang aku?” Begitu banyak pertanyaan Karin. “Sangat sayang makanya aku mencarimu. Kenapa kabur dari rumah?” Karin yang tadinya tersenyum tiba-tiba menarik senyumnya, ia tidak mengerti. Hanya tidak ingin mengerti saja. Mungkin ia bosan, mungkin juga lelah atau mungkin ini sudah di titik batas kesabarannya. “Aku gak betah di rumah, dok. Terlebih ada Kak Dion, dia gak suka aku, dia benci aku. Aku juga capek kuliah, sejujurnya kuliah kedokteran itu bukan jiwaku tapi aku tetap jalan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 292 Liburan Dadakan

    Kebetulan Papi Rion berteman dengan banyak konglomerat di Jakarta, ia meminta temannya untuk mencari data Karin di maskapai. “Karin baru saja terbang ke Bali, penerbangannya semalam jam setengah sepuluh malam. Mungkin dia sudah di Bali sekarang.” Papi Rion tidak pulang lagi dan sibuk mencari Karin, bahkan Arlan juga ikut dengannya mencari Karin tapi masih belum ketemu. Informasi ini sangat berguna untuk Rion tapi ia tidak bisa sembarangan pergi apalagi ada kasus besar pagi ini yang harus ditangani. “Dion, puas kamu!” Papinya menghubungi Dion, memaki-maki Dion yang begitu kejam dengan adiknya sendiri. Karin tanpa berpikir panjang langsung pergi dari rumah dan merasa sudah tidak pantas lagi tinggal di rumah itu. “Tidak perlu kasihan Pi, dia bukan anak kandung Papi. Bukannya Papi dari dulu selalu mencoba membuat wanita hamil anak Papi, buat saja yang baru dengan wanita lain.” Begitu entengnya mulut Dion membuat Rion sakit hati mendengarnya. “Tidak perlu kamu suruh, aku akan lakuk

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 291 Karin Kabur

    Karin mengepak pakaiannya, ia keluar rumah diam-diam dengan taxi. Karin tidak tahu mau pergi kemana tapi ia tidak ingin ada di rumah saat ini. Ia bahkan malu setelah tahu kalau ia bukan anak kandung Mami dan hidup seperti princess. “Pantes dia gak pernah anggap aku adiknya,” ucap Karin dengan sedih. Hari ini Karin banyak menangis. Kepalanya jadi pusing bukan main. “Jadi, kita kemana Mbak?” tanya taxi online itu karena sudah tiga puluh menit tidak jelas berputar-putar di dekat bandara. Karin ragu memesan tiket ke Bali. Ia ingin pergi tapi tidak tahu pergi kemana yang tidak diketahui orang tuanya. “Bandara aja, Pak.” Karin memesan tiket online dan mengambil waktu penerbangan terakhir, untung saja tidak terlambat, penerbangan terakhir pukul setengah sepuluh malam. Sampai di Bandara, Karin menonaktifkan ponselnya, ia langsung check in. Pikiran Karin kacau, ia bahkan tidak menghubungi Silvi atau Arlan apalagi orang tuanya.Ia hanya ingin sendiri. Tanpa harus test DNA, orang tuanya s

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 290 Ternyata Aku?

    Suasana makan malam kali ini lebih menyeramkan dari ujian untuk mendapatkan gelar kedokteran. Tidak ada yang bicara, hanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Meskipun tadi Karin menemani Dion berenang tapi bukan berarti mereka sudah dekat dan akur, Dion hanya ingin menyiksa Karin dengan cara seperti itu. “Karin, Papi sudah melihat apartemenmu, itu kecil sekali. Papa tadi minta sekretaris Papi untuk mencarikan rumah dekat kampus saja,” ucap Rion memecah keheningan. Sebelah sudut bibir Dion terangkat. Sepertinya ia sedang mengejek perhatian Papi Rion. “Karin hanya perlu nama Wijaya di belakangnya dan dia akan kaya seumur hidup,” ejek Dion sambil melihat kedua orang tuanya. “Dion!” Papi Rion kesal sekali kalau Dion sudah bertemu dengan Karin, Dion pasti akan selalu membuat Karin sedih dengan kata-katanya yang tajam. “Memangnya aku salah? Kalau saja Karin dilahirkan oleh rahim wanita jalang. Bagaimana hidupnya?” “DION!” Papi Rion berteriak sambil menunjuk wajah Dion. Sedangkan Mami

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 289 Hubungan Panas

    “Karin, Mami di Bandara sekarang, malam ini pulang ke rumah. Kakakmu tidak lagi tinggal di luar negeri, dia mau tinggal di Jakarta.” Karin sedang di rumah sakit saat orang tuanya menghubungi Karin pagi ini, subuh tadi sudah berat untuknya, ia menangkap basah Papinya selingkuh dan itu dengan sahabatnya dan sekarang, ia harus menghadapi Kakaknya yang kejam. Meskipun seperti itu, Karin menyayangi Kakaknya berharap suatu hari Kakaknya bisa sayang dengannya sama seperti Kakak yang lain. “Jangan lupa, Sayang!” Mami Kaina bahagia sekali, anak kesayangannya pulang, sudah pasti Mami akan betah di rumah. Karin menekan nomor Arlan, ia tidak tahu kekasihnya ini sibuk atau tidak karena sejak keluar bersama dengan Papi, ia tidak lagi kembali bahkan belum ada pesan darinya. Karin pikir Arlan mungkin tidur karena kelelahan. “Halo, Sayang. Sorry, tadi lagi sibuk. Kamu di mana? Sudah makan? Mau aku pesankan makanan?” tanya Arlan dengan begitu lembut dan sangat perhatian. Sungguh sayang, tunangan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 288 Mulai Menciptakan Batas

    Karin tertidur di mobilnya, padahal mereka sudah sampai di apartemen. Arlan juga melihat ada mobil Rion. Padahal Rion tidak tinggal di apartemen ini. “Kenapa ia datang ke sini?” tanya Arlan penuh selidik. “Karin, Sayang. Ayo bangun! Kita sudah sampai,” ucap Arlan sambil menepuk pipi Karin dengan lembut. Karin terbangun dengan mengeratkan tangannya ke atas. Matanya bengkak karena menangis tadi dan Karin sangat malu kalau mengingat itu, seharusnya Karin simpan saja rahasia kelamnya sampai mati. Untuk apa membuat mereka tahu yang terjadi padahal semua itu sangat rahasia. “Bukannya itu mobil Papi, dok?” tanya Karin. Karin bergegas keluar mobil saat ia mengingat Silvi. Jangan-jangan Papi Rion mengejar Silvi, tidak ada wanita lain yang disukai Papinya. “Ayo dok, aku takut banget. Papi pasti datang ke rumah karena Silvi sendirian. Aku gak mau dia diapa-apain sama Papi.” Tangan Karin ditarik dan mereka terpaksa lari. Arlan juga tidak tahu yang Karin katakan. Mungkinkah Rion yang selalu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status