LOGINSebentar lagi Karin akan menyelesaikan laporannya dengan dr. Dimas. Hari ini persentasi setelah itu Karin akan mendapatkan nilai, ia akan kembali ke dr. Arlan sebelum rotasi ke stase lain lagi. Nilai ditentukan oleh dr. Arlan untuk terakhir kalinya. Karin menyampaikan laporannya dengan baik siang ini, ia keluar dari ruangan jam satu siang tepat waktu makan siang. “Kita mau makan siang di mana?” tanya Dimas. “Karin yang bayarin,” jawab Karin dengan senyumnya. Dimas sudah banyak membantunya. Dimas juga berjanji akan memberikan nilai yang baik karena Karin sudah menerima cintanya. “Oke.” Karin berduaan dengan Dimas ke restoran, sebenarnya sudah banyak gosip tentang Dimas dan Karin. Mereka tidak menepisnya karena itu benar. Sikap Dimas berbeda, setiap pagi menyiapkan sarapan pagi untuk Karin, memberikan hadiah kecil dan perhatian yang tidak biasa.“Nanti mampir dulu ke gerai, aku mau ganti nomor.” Karin duduk di kursi penumpang sebelah dr. Dimas dengan santai. Pantas saja Karin tid
“Pagi dok! Jangan lupa sarapan, Karin ke rumah sakit duluan.” Catatan kecil yang ditinggalkan Karin, hari ini Karin sibuk, ia harus ke gerai untuk mengganti nomor ponselnya. Semua karena kelakuan Arlan. Padahal hari ini ada presentasi dengan dr. Dimas dan temannya yang lain tapi fokus Karin terpecah.Arlan bangun tidur tidak lagi melihat Karin di kamarnya, padahal semalam mereka baru selesai jam dua malam. Arlan juga tidak bisa menghubungi Karin karena ponselnya rusak. Hari ini ia juga akan ke mall untuk beli yang baru. “Pagi Pak Arlan, Non Karin sudah pulang pagi banget tadi,” ucap pembantu Arlan. Arlan duduk di meja makan setelah selesai bersiap. Sepertinya Karin tidak sarapan pagi, Karin juga tidak makan malam padahal ia semalam kelaparan. “Aku lupa,” gumam Arlan sambil menyugar rambutnya ke belakang. Seharusnya ia memberikan makan dulu dengan keponakannya bukan sibuk melahap Karin. Pantas Karin lebih menyukai Dimas. Dimas selalu ingat kesukaan Karin. “Tadi Non Karin nangis P
“Apa yang kau lakukan?” tanya Arlan sambil memperhatikan ponsel Karin yang disimpannya di belakang punggung. Dimas tadi menghubungi Karin, hanya untuk bertelepon dengan Dimas, Karin sampai masuk ke toilet. Ouch pasti penting sekali. “Gak ada lagi bersihkan itu aja, lengket banget.” Bohong! Tadi Karin mengantuk, ia memilih tidak mandi dan melanjutkan tidur.“Mana ponselmu!” Arlan mengulurkan tangan kanannya, meminta ponsel itu baik-baik dengan Karin. “Gak ada, ngapain aku bohong.” Karin berjalan cepat ke kamar tapi Arlan menarik tangannya dan mengambil ponsel itu dengan paksa. Arlan mengeluarkan SIM-card Karin dan mematahkannya. “Apaan sih dok? Tau gak sih kalau nomor itu penting banget, ya ampun aku sibuk banget, gimana aku mau ngurus nomornya lagi?” Frustasi Karin menghadapi tingkah Arlan yang posesif. Arlan bahkan tidak merasa bersalah sama sekali setelah melakukan semua itu dan puas. Sangat puas! Itu hukuman untuk wanita yang suka bohong. “Lain kali tidak seperti ini, lain
Ceklek!Karin bisa membukanya, Arlan memberitahu kode password kamarnya. Begitu masuk, Karin disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Untuk kamar dewasa, kamar Arlan termasuk rapi. Warna hitam dan gold memberikan kesan glamor juga elegan, tidak jauh seperti kamar suite hotel bintang lima. Kalau kamar Karin memberikan kesan feminim tetapi kalau Arlan memberikan kesan tegas. Kamar Arlan sangat luas, ya ini rumah utama tentu semua kamar dibuat khusus. Karin masuk ke arah lain, ada pintu tersembunyi. Di dalamnya wardrobe, Karin tersenyum sinis saat melihat pakaian haramnya. Apa Kakek Billy tidak pernah melihat kamar Arlan?“Apa yang kau lihat?” Arlan mengejutkan Karin. Ada banyak cambuk di dinding saat Karin lebih dalam lagi masuk kamar ini, di dalam kamar, ada kamar tersembunyi. Lebih gelap, campuran marun dan hitam. Tempat ini lebih horor. “dok, untuk apa ini?” tanya Karin tidak mengerti. Rasanya saat ia dan Arlan bercinta, Arlan tidak segila itu sampai harus menggunakan alat-ala
Percuma saja mengeluh, rumah ini tidak mendengar suaranya. Selalu dan seperti biasa. Orang tuanya selalu benar, apa yang Karin katakan salah. Oke! “Kamu mau ke mana Karin?” tanya Mami Kaina saat Karin membawa koper kecil. Mungkin menginap di apartemennya atau di hotel. Karin sedang merajuk dan marah. Mami Kaina bisa saja memberikan diam-diam uang tapi sama saja tidak mendidik Karin. “Ke rumah Om,” jawab Karin malas. Itu yang orang tuanya mau, tidak masalah. Karin akan ikuti semua mau orang tuanya. Tapi, jangan salahkan Karin jika suatu saat semua sudah terlambat. “Hati-hati ya, Sayang. Karin mau minta makan apa, nanti Mami yang siapkan, Karin cuma fokus belajar saja,” ucap Mami Kaina sambil mengecup kepala Karin. Cuma belajar? Karin ingin tertawa mendengarnya, ia bersama dengan Arlan itu sama saja belajar gaya bercinta. Mereka tidak mungkin membuka buku pelajaran.“Hemm, Karin pergi Mi.” Karin lapar sekali tetapi ia putuskan untuk ke rumah Kakeknya, Karin ingin tahu kenapa Ar
“Itu mobil dr. Arlan,” gumam Karin saat ia sedang menunggu supirnya menjemput. Arlan baru saja ganti mobil dan selalu jadi bahan gosip. dr. Arlan di umurnya yang sudah matang, masih saja belum memiliki seorang istri. Padahal sudah banyak dokter dan perawat di rumah sakit mencari perhatiannya. Arlan masih tidak menanggapi semua itu. Karin jadi bingung. Kenapa Arlan justru bucin sekali dengannya. Bahkan sudah jelas-jelas Karin bilang dia jadian dengan Dimas, Arlan tetap tidak peduli malah malam ini mereka akan bertemu. “Dia ganteng dan sempurna tapi punya fantasi aneh,” lanjut Karin sambil menggerutu dalam hati. Secara tidak langsung Karin juga mengumpat dirinya sendiri aneh, mereka sama. “Kenapa dia suka aku?” Masih saja membuat Karin tidak mengerti. Supirnya lambat sekali menjemputnya, di luar sebentar lagi hujan. Karin takut dalam perjalanan nanti jalanan banjir dan macet. Ah, ia butuh uang. Kalau tahu begini. Karin pasti menyimpan uang tunai dari dulu, sekarang ia dalam kesuli
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







