登入“Pagi dok, Sari bawakan sarapan untuk Mbak Karin dan dokter.” Pagi sekali perawat itu sudah datang, Karin sudah bangun, semalaman Arlan tidur di sofa karena tidak berani keluar. Biasanya juga pemberani tapi dengan wanita gatal seperti itu, Arlan takut! Mungkin takut burungnya digondol Sari. “Pagi Mbak Sari, gimana nyenyak tidurnya?” tanya Karin dengan senyumnya yang nakal sambil melihat Arlan. Dalam hati Karin mendukung Sari untuk meluluhkan hati Arlan, itupun kalau bisa. Pria mana yang tidak tergoda dengan sentuhan, gairah dan godaan untuk bercinta. Semua pria itu sama. “Gak terlalu nyenyak Mbak Karin, kamarnya dingin banget. Jadi, tidur di luar. Heheheh.” Arlan diam saja sambil menggulung kemejanya sampai lengan. Ia tidak mau memberi muka pada perawat gatal ini. “Oh hahahha, dimatikan saja AC nya Mbak Sari kalau gak tahan,” jawab Karin sambil menggaruk keningnya. “Saya suka berkeringat juga Mbak, makanya cari keringat di luar tapi gak dapat,” jawab Sari. Wanita ini mulai be
“Kau harus berobat, dokter.” Karin melengos ke arah lain saat permainan mereka sudah selesai, Arlan begitu puas. Ternyata memang tidak ada yang mengganggu mereka di dalam kamar, Karin bisa menahan desahannya dan tidak ada yang mendengar saat Karin dan Arlan bercinta di dalam kamar. “Aku tidak sakit,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek sambil menggunakan celananya kembali. Karin juga merapikan pakaiannya yang lusuh di lantai, matanya juga sibuk mencari dimana Arlan melempar dalamannya tadi. Pria mesum ini gila, Karin sudah tidak sanggup menahan gairahnya tapi Arlan tidak bisa ditolak. “Kau sakit, kau tidak bisa menahan gairahmu. Kau terlalu hyper, wanita mana yang kuat menghadapimu,” gerutu Karin dengan mengepalkan tangannya. Arlan terkekeh, sebenarnya Karin sudah bisa mengimbangi permainannya. Kenapa ia harus berubah, mereka hanya perlu membiasakan diri saja. Karin tertatih duduk di bibir ranjang, tadi Arlan mengajaknya bercinta dengan berbagai macam gaya, bahkan mereka pun
“Boleh aku ke rumah?” Karin sedang bersandar di punggung ranjang saat membalas pesan dr. Dimas, Dimas sangat mengkhawatirkan kondisi Karin, seharusnya lebih baik Karin dirawat di rumah sakit, banyak yang menjaganya tapi Karin tidak nyaman, ia ingin tidur di rumahnya, makanya semua pengobatan dialihkan ke rumah, yang jadi permasalahan Dimas tidak pernah sekalipun ke rumah Karin. “Gak usah dok, ada dr. Arlan juga sama perawat, Mami udah bayar perawat pribadi,” jawab Karin dengan senyumnya. Karin tidak peduli, Arlan yang sedari tadi duduk di sofa memperhatikannya atau tidak, Arlan tidak leluasa mendekati Karin karena ada perawat Karin juga, entah kenapa wanita ini tidak mau keluar dari kamar Karin. “Tapi aku gak bisa tidur kalau gak lihat kamu, boleh video call?” Aduh, kalau Karin mengangkat video call, Arlan pasti mengamuk. “Gak enak dok, ada dr. Arlan lagi ngomong sama Mami di kamar,” jawab Karin bohong. Lebih baik Karin menghindari pertengkaran daripada ia memancing Arlan untuk
Ponsel Karin berdering, ada notifikasi masuk saat mobil Papi Rion keluar dari rumah. Seperti biasa, uang masuk. Papi Rion merasa bersalah karena menahan uang Karin dan membiarkan Arlan yang menyimpannya. Akibatnya Karin jadi berhemat. Seratus juta! Karin hanya melihatnya dengan wajah datar dan meletakkannya kembali ponselnya ke sisi ranjang, Arlan masih duduk di bibir ranjang untuk menghiburnya. “Kamu tidak suka uang?” tanya Arlan. Bukan tidak suka, mungkin karena sudah ada dan tidak kekurangan, makanya uang jadi tidak spesial untuk Karin. Karin hanya butuh cinta, perhatian dan kasih sayang yang tulus. Ia tidak tahu rasanya, Karin ingin sekali seperti seorang anak gadis yang sempurna, seperti temannya yang lain, foto liburan dengan Ibu dan Ayahnya, makan bersama dengan keluarganya atau apapun hal yang normal dilakukan oleh keluarga. “Suka,” jawab Karin datar. “Aku bisa berikan lebih banyak, asal jangan nangis.”Arlan pun tidak mengerti, mungkin wanita lain mendekatinya demi uan
“Apaan sih dok, kayak anak kecil,” gerutu Karin sepanjang jalan menuju ke rumahnya. Tubuhnya sedang tidak nyaman karena sakit ini, sekarang perasaannya juga tidak enak dengan Dimas. Dimas itu sangat baik dengannya, tidak punya niat buruk, pada saat menjaganya juga tidak mengambil kesempatan padahal mereka pacaran dan wajar saja kalau berciuman atau berpelukan. Tapi, Dimas tidak melakukan itu. Dimas benar-benar memperlakukan Karin seperti pasien, memberikan ia obat, minuman dan juga menyuapi makanan. Arlan diam saja melihat Karin menggerutu, ia malah sibuk dengan ponselnya. Karin tidak tahu apa yang Arlan lakukan sepertinya sedang melihat pergerakan harga saham. “Lagian kalau dr. Dimas yang jaga aku, itu wajar banget dok, dia itu pacar aku, aku juga mau diperhatiin sama dia, masa aku diperhatikan Om sendiri terus, tiap malam dijaga sama Om terus sih,” lanjut Karin membuat kesal. Karin sengaja terus mengatakan itu supaya Arlan sadar dengan posisinya. Arlan malah bodoh amat, tersera
“Katanya kamu minta keluar hari ini?” tanya Silvi. Sudah waktunya pulang, jadi Silvi yang menjaga Karin. Kedua dokter yang perhatian dengan Karin belum menjengkuk Karin, mungkin mereka sibuk. “Hemm, aku bosan. Dua hari di rumah sakit sama aja kayak lama banget, tugas aku numpuk, aku gak mau kelulusan aku nanti tertunda karena banyak izin,” jawab Karin. “Siapa yang ngurus keluar?” Soalnya tidak ada keluarga Karin di ruangan. “Ada Mami, Mami udah ngurus ke bagian administrasi.” Mungkin malam sudah boleh pulang, Karin memaksa harus dirawat di rumah sakit padahal suhu tubuhnya masih hangat meskipun sudah turun tapi karena Karin berasalan dia seorang mahasiswi kedokteran Kedokteran dan Tante juga Omnya dokter, makanya Karin diizinkan. “Selamat malam, Honey.” dr. Dimas masuk membawa buahan untuk Karin dan juga siap mengantar Karin untuk pulang, Dimas baru saja selesai praktek, makanya tidak ada lagi kerjaan selain mengurus kekasihnya yang sakit. “Malam dok,” jawab Karin dengan seny
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







