INICIAR SESIÓN"Ahh ... akhirnya acaranya selesai juga. Sumpah, kakiku pegel banget seharian berdiri, Om!" ujar Alesha seraya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur empuknya. Hari ini Alesha seperti merasakan sedang melakukan pentas seni di depan banyak orang, tapi dia pun tersadar kalau ternyata itu bukanlah pentas seni, melainkan pernikahannya dengan Alvino. "Itu aja dirasain. Lemah.""Sewot banget sih, Om. Nggak bisa ya sekali aja biarin orang bahagia?""Nggak bisa.""Mati aja deh, sana!" balas Alesha yang sudah duduk seraya menatap tajam ke arah Alvino.Alvino memilih untuk tidak membalas perkataan Alesha. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena seharian berdiri dengan senyum yang dia paksakan terbit. Pikiran Alvino seketika melayang-layang ke Queenna, sang kekasih. Alvino benar-benar masih mencintainya, dia juga belum ingin ditinggalkan oleh Quenna yang selama ini selalu ada untuknya; selalu mengerti dirinya, selalu tahu semua kebutuhan hidupnya.
Alesha duduk di depan cermin seraya wajahnya dipermak oleh sang make over terkenal, tentu saja make over itu pilihan dari Ghiska yang menginginkan acara pernikahan puteranya perfect. Bukan hanya acaranya saja, tapi penampilan sang mempelai juga harus ikut perfect, dia tidak ingin ada satu hal pun yang tidak sempurna di acara besarnya Alvino.Sekitar tiga puluh menitan duduk diam saja dan mengikuti intruksi dari Gita---Make over---yang mempermak wajahnya se-sempurna mungkin, akhirnya sudah berada di tahap finishing dengan mengoleskan lipstik di bibir tipis Alesha. "Nah, sempurna. Coba kamu lihat diri kamu di pantulan cermin itu, Alesha. Maaf kalau kamu kurang suka hasil make up, Mbak."Alesha yang memang jarang sekali memakai make up tebal pun merasa takjub dengan kecantikan dirinya di dalam pantulan cermin. Dia sampai tidak percaya kalau yang di depan sana adalah dirinya. Mulut Alesha terbuka takjub, matanya pun 'tak berhenti memandangi dirinya sendiri."Ini bener-bener Ale ya, Mbak?
Setelah kejadian di ruang tamu, berakhirlah Alesha dan Alvino berada di kamar milik Alvino berdua. Alesha yang baru memasuki kamar bernuansa abu itu pun terus saja merasa takjub dengan semua isi rumah milik keluarga Malik."Ayo, masuk, ngapain bengong coba? Mau cosplay jadi patung, hah!?" Alvino menegur Alesha yang masih saja berdiri di ambang pintu seraya maniknya menelusuri semua isi kamar Alvino."Biasa aja dong, Om, nggak usah ngegas gitu!" Alesha berjalan menghampiri Alvino tentu saja dengan membawa barang-barang bawaannya. Alesha meletakkan barang-barangnya di meja dengan begitu keras hingga menimbulkan bunyi yang tidak mengeenakkan, membuat sang pemilik kamar menatap tajam ke arahnya."Setahun saja kamu di rumah ini, bisa-bisa semua barang-barang kamu hancurin dengan tangan kasar kamu itu. Heran juga aku sama kamu, kamu ini cewek tapi kenapa kasar banget, sih? Bisa nggak sih lembut sedikit, Alesha Shaqia?"Alesha membalas tatapan tajam dari Alvino dengan tatapan menantang sert
Sesampainya di dalam, Alvino mengajak Alesha ke ruang tamu yang ukurannya sangatlah luas, mungkin luasnya setengah rumah Alesha. Alesha menatap sekeliling dengan mata takjub. Berbagi guci mahal terpajang di setiap sudut ruangan dengan rapi. "Kak, Vi---" Asheeqa Mazaya Malik---Adik Alvino---terdiam di tempat setelah melihat kehadiran Alesha di sana. Raut wajahnya berubah tidak suka ketika beradu tatap dengan Alesha."Jadi bener Kakak akan menikah dengan gadis ini? Astaga, kenapa selera mama sama papa se-rendah ini sih, Kak?" tanya Asheeqa berdecih tidak suka. Asheeqa benar-benar merasa tidak suka melihat Alesha yang akan menjadi bagian dari keluarga Malik."Mana Kakak tahu, toh Kakak cuma ikutin kemauan mereka doang, padahal mah Kakak aja nggak mau nikah sama modelan gadis kayak, Alesha," balas Alvino menyetujui ucapan Asheeqa, sang adik.Alesha merasa dipojokan oleh kakak-beradik di hadapannya saat ini. Alesha merasa mendapat musuh baru. Alesha benar-benar tidak mengerti kenapa Ashee
Malam ini ... setelah dua hari yang lalu mempersiapkan segala keperluan pernikahan Alvino dan Alesha, Alesha dijemput oleh Alvino untuk dibawa ke rumahnya dikarenakan besok mereka akan segera melangsungkan pernikahannya di kediaman Malik. Memang sudah begitu perjanjiannya, Alesha akan dibawa H-1 pernikahan akan dilangsungkan."Abang, Ale pergi dulu, ya," pamit Alesha dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sekali mengerjap saja, air mata Alesha akan langsung meluncur dari tempatnya.Kenandra juga sama sedihnya dengan Alesha, tapi dia menahannya dengan memperlihatkan senyum termanisnya untuk sang adik. Dia tidak ingin Alesha semakin merasa tidak rela meninggalkan dirinya. Kenandra tahu ini adalah saatnya untuk dia melepaskan Alesha, sebab Alesha kini sudah memiliki kehidupan baru bersama suaminya."Hey ... jangan sedih gitu, dong, Ale. Kita kan cuma pisah rumah saja, bukan berarti kita putus hubungan, 'kan? Ale masih jadi adik kesayangan, Abang, selamanya. Ale sekarang udah punya kehidupa
Tanpa sadar, mereka mulai dekat meski dengan perdebatan-perdebatan kecil. Alesha merasa cukup nyaman dengan keberadaan Alvino meski Alvino menyebalkannya sangat tidak ketulungan. Mobil silver Alvino terparkir rapi dengan mobil-mobil yang lain. Alesha turun lebih dulu setelah mobil Alvino terparkir. Alesha tidak akan berharap lagi untuk dibukakan pintu oleh Alvino, karena berharap pada Alvino sama saja dengan menyakiti perasaan sendiri. "Padahal baru aja mau bukain kamu pintu mobil, tapi malah keluar duluan. Kamu jadi nggak bisa ngerasai diromantisin sama aku," ujar Alvino setelah berdiri di samping Alesha. Alesha memutar bola matanya malas menatap Alvino dengan gaya sok cool-nya itu. Berada di dekat Alvino memang nyaman, tapi bisa-bisa kalau seharian berdebat dengan Alvino, Alesha bisa darah tinggi. "Sudahlah, Om, hentikan omong kosong, Om. Aku tahu Om hanya berbohong." "Apa tampangku terlihat sedang berbohong?" "Terlihat jelas, Om. Muka-muka seperti Om ini adalah muka-muka seo
Alesha sudah bersiap mengenakan baju putih lengan pendek dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya hanya sampai atas lututnya, meski hanya mengenakan pakaian seperti itu, Alesha tetap terlihat cantik dengan tinggi badan yang tidak terlalu tinggi. Sedari tadi Alesha berjalan kedepan dan belakang
Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya. "Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara
"Bunda, Ayah, cukup!" tegur Kenandra Athariz---Kakak Alesha---seraya berjalan menghampiri dua orang yang tengah asik memarahi adik kesayangannya. "Kenan," ucap mereka serempak dan tentu saja terkejut. "Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian bisa-bisanya menuduh Ale akan menjual dirinya hanya demi
Ayah, Bunda, Alesha nggak mau nikah diusia Alesha yang masih sangat muda ini, terlebih dengan seseorang yang nggak pernah Alesha temui sama sekali!" tolak Alesha dengan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya disertai deraian air mata yang terus mengaliri pipi berisinya tanpa henti. Kedua orang t







