Startseite / Alle / Suami Flash Sale / Bab 12. Kontrak Eksklusif

Teilen

Bab 12. Kontrak Eksklusif

last update Veröffentlichungsdatum: 24.11.2021 09:59:00

Ke esokan paginya, Meera membawa rencana kerja sama yang telah dia persiapkan semalaman untuk datang ke Munthe Group bersama Sakha, suaminya sendiri.

Melihat Gedung Munthe Group yang memiliki seratus dua puluh tiga lantai, membuat Meera terkejut sekaligus takjub sama sekali tidak tahu kebenarannya.

Bagaimana bisa perusahaan sebesar Munthe Group bisa melirik perusahaan keluarga Mahesa? Itu sangat terlihat mustahil jika dipikir pakai otak.

 

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Suami Flash Sale   Bab 78: Penghakiman Sang Pewaris

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat. Siska, yang tadi berdiri hendak menampar Meera, kini mematung dengan tangan menggantung di udara. Matanya melotot menatap Sakha, seolah sedang melihat hantu yang mengenakan mahkota. Bibirnya bergetar, mencoba mengeluarkan kata-kata, namun hanya suara desis yang keluar. "S-Sakha? Kamu bilang... Munthe?" Suara Siska akhirnya pecah, melengking dengan nada tidak percaya. "Jangan membual! Kamu hanya menantu sampah yang miskin tidak berguna! Kamu hanya sampah yang numpang hidup di rumahku!" Sakha tidak tergerak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi Direktur Utama, menyilangkan kaki dengan elegan. Gerakannya begitu halus namun penuh intimidasi. Di belakangnya, para pengawal Munthe Group berdiri seperti patung baja, tangan mereka berada di dekat senjata, siap bertindak jika ada satu gerakan mencurigakan. "Tidak berguna?" Sakha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Ibu mertua, alasan aku tetap diam saat kamu menghinaku

  • Suami Flash Sale    Bab 77: Jubah yang Terlepas

    Pagi hari menjelang rapat darurat keluarga Mahesa, Mansion Munthe disibukkan dengan persiapan yang tenang namun mematikan. Sakha berdiri di depan cermin besar, membiarkan seorang pelayan senior merapikan setelan jas tiga lapis berwarna biru gelap yang dijahit khusus di London. Di kerah jasnya, tersemat pin emas kecil berbentuk huruf M yang dikelilingi berlian hitam, simbol tertinggi kekuasaan Munthe Group. Meera berdiri di ambang pintu, terpaku melihat transformasi suaminya. Tidak ada lagi kaos oblong pudar atau sandal jepit yang biasa Sakha gunakan saat disuruh ibunya membeli garam di warung. Pria di depannya kini memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga udara di dalam ruangan terasa lebih berat. "Meera, kemarilah," panggil Sakha, suaranya berat dan penuh wibawa. Meera melangkah mendekat. Sakha mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari sakunya. Di dalamnya terdapat kalung berlian yang berkilau indah. Dengan lembut, Sakha memakaikannya di leher Meera. "Hari ini,

  • Suami Flash Sale   Bab 76: Badai Sebelum Perjamuan

    Pagi harinya, suasana di Mansion Munthe terasa sangat tenang namun fungsional. Sakha sudah bangun lebih awal, duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke laut dengan laptop militer di pangkuannya. Meski kakinya masih dibalut perban, ketajaman matanya menunjukkan bahwa ia sudah siap untuk berperang. Di sampingnya, Meera berdiri dengan tatapan cemas, menggenggam cangkir teh yang sudah mulai dingin. Ia tidak bisa berhenti memikirkan rekaman suara Tante Rosa. Bayangan tentang bagaimana tantenya itu sering memamerkan perhiasan mahal dan meremehkan Sakha di setiap acara makan malam keluarga, menyebut suaminya sebagai pria miskin, kini berubah menjadi kebencian yang mendalam. "Minumlah tehmu, Meera. Kamu butuh energi untuk besok," ujar Sakha tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku masih tidak habis pikir, Sakha," gumam Meera. "Ibu mertuamu, maksudku ibuku, yang selalu memuja Tante Rosa karena kepintarannya mengelola uang perusahaan. Ternyata, uang itu berasal dari penghianatan terhad

  • Suami Flash Sale   Bab 72: Bertaruh dengan Waktu

    Udara di dalam gudang logistik Mahesa semakin menyesakkan. Bau gas metana yang menyengat kini bercampur dengan aroma hangus dari kabel-kabel yang terbakar akibat peretasan sistem oleh wanita misterius itu. Suasana kacau balau; tim taktis Munthe Group berusaha menahan serangan dari penembak runduk di langit-langit, sementara getaran dari bawah tanah semakin hebat, seolah-olah ada monster yang berusaha mendobrak keluar dari perut bumi. Meera ditarik paksa oleh dua anggota tim keamanan elit menuju pintu keluar yang telah hancur. Langkahnya tertatih, matanya terus menoleh ke belakang, menatap sosok Sakha yang kian menjauh dan menghilang di balik kepulan asap tebal. "Sakha! Kembali!" teriak Meera. Suaranya serak, tenggelam di antara dentuman tembakan. Namun, Sakha tidak menoleh. Bagi Sakha, ini bukan sekadar tentang menyelamatkan aset atau menghentikan Armand. Ini adalah tentang menebus tahun-tahun di mana ia harus diam melihat keluarga Mahesa disusupi dari dalam. Jika gudang ini mel

  • Suami Flash Sale    Bab 75: Di Balik Gerbang Emas

    Mansion megah keluarga Munthe berdiri kokoh di atas perbukitan yang menghadap langsung ke arah pelabuhan. Arsitekturnya yang bergaya klasik modern dengan pilar-pilar tinggi dan pencahayaan temaram memberikan kesan misterius sekaligus berkuasa. Meera melangkah turun dari mobil, matanya tak henti memandangi barisan pelayan dan pengawal yang membungkuk hormat saat ia dan Sakha lewat. "Selamat datang kembali, Tuan Muda. Selamat datang, Nona Muda," sapa seorang pria tua dengan setelan kepala pelayan yang sangat rapi. Meera merasa canggung. Panggilan "Nona Muda" terasa begitu asing di telinganya, padahal di keluarga Mahesa, ia sering dipanggil dengan nada merendahkan jika pekerjaannya di kantor dianggap tidak becus oleh saudara-saudaranya. Meera memperhatikan Sakha yang kini duduk di kursi roda elektrik, wajah suaminya masih pucat namun tatapannya tetap tajam, memerintah setiap pergerakan di rumah itu tanpa perlu banyak kata. Setelah tim medis pribadi Sakha selesai menjahit luka di pa

  • Suami Flash Sale   Bab 74: Harga Sebuah Kesetiaan

    Guncangan di area pelabuhan berangsur mereda, menyisakan debu-debu yang menari di bawah sorot lampu taktis. Meera masih berlutut di atas aspal yang kasar, napasnya tersengal seolah separuh paru-parunya baru saja dikembalikan setelah mendengar suara Sakha di radio. Tanpa memedulikan rasa sakit di lututnya yang lecet, ia bangkit dan berlari mengikuti tim taktis yang bergerak cepat menuju arah drainase timur. "Sakha! Sakha!" Meera memanggil berkali-kali, suaranya parau tertiup angin laut yang dingin. Di ujung dermaga tua yang sudah lapuk, sebuah penutup beton drainase raksasa terbuka dengan dentuman keras. Tak lama kemudian, sebuah tangan yang bersimbah darah dan kotoran muncul, mencengkeram tepian semen. Tim taktis segera merapat, menarik tubuh pria yang keluar dari sana. Itu Sakha. Namun, pemandangan di depan mata Meera membuatnya hampir pingsan. Kemeja putih yang tadi dipakai Sakha kini telah berubah menjadi abu-abu kecokelatan, robek di bagian bahu, dan yang paling mengerikan ada

  • Suami Flash Sale   Bab 16. Bersujud

    “Astaga! Pernyataan resmi Munthe Group dirilis! Kontrak 4 miliar itu benar adanya!"Dengan teriakan barusan tadi, semua orang sangat terkejut. Hampir terserang jantung di masing-masing tempat duduk mereka.Setelah itu, semua orang buru-buru mengeluarkan ponsel mereka dan membuka

  • Suami Flash Sale   Bab 15. Kekalahan Jay

    Lebih dari sepuluh menit kemudian, keduanya akhirnya sampai ke Mahesa Group. Di ruang pertemuan, semua orang di keluarga Mahesa tampak aneh. Mereka semua tahu bahwa Meera pergi ke Emgrand Group pagi-pagi sekali, tetapi semua orang tidak percaya di

  • Suami Flash Sale   Bab 13. Kontrak Eksklusif

    Asisten wanita membawa Avella langsung ke kantor Lori.Melihat Meera yang datang bersama asistennya, Anita segera bangkit dari kursi dan menyapanya dengan hormat."Halo, Nyonya Meera. Saya Anita, Wakil Ketua Munthe Group. Senang bisa kenal dan bertemu dengan A

  • Suami Flash Sale   Bab 11. Kesombongan Sigit

    Sigit mengangguk sambil tersenyum manis, lalu Sigit menyipitkan mata ke arah Sakha yang berdiri di sampingnya di hadapannya seolah-olah sedang memandangi semut di pinggir jalan. Sigit langsung menghampiri Meera dan melemparkan senyumannya.

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status