공유

3. Pertengkaran

작가: Dita SY
last update 최신 업데이트: 2025-12-06 17:37:05

Nila tiba di rumah. Suasana rumah sederhana tersebut terlihat kacau. Kursi-kursi kayu tampak berantakan, tidak lagi berada di tempatnya lagi.

Di atas meja anyaman bambu yang sudah lapuk, terlihat debu-debu dari sisa abu rokok berserakan.

Mata Nila melotot. Napasnya berhembus kasar. Ingin rasanya berteriak, tetapi ia tahu suaminya lebih galak dari Singa.

Jika ia marah, Yanto pasti lebih marah lagi.

Menghela napas panjang, dengan malas ia menyusun kursi-kursi itu ke tempatnya semula.

Ketika sedang sibuk merapikan ruang tengah rumah itu, Nila dikejutkan dengan kedatangan Yanto dari pintu luar.

"Mas," panggil Nila saat melihat suaminya nyelonong masuk ke rumah tanpa menyapa.

Yanto menoleh sesaat. Pandang matanya tertuju pada belanjaan yang diletakkan Nila di atas meja.

"Udah masak?" tanyanya dengan wajah dingin.

"Belum Mas, aku baru pulang dari warung Bu RT. Pas aku pulang aku lihat rumah berantakan. Kamu habis ngapain?"

Yanto berdecak, "Udah biasa 'kan kamu lihat rumah berantakan? Ada yang aneh? Kalau kamu ngeliat rumah ini rapih, baru kamu boleh heran. Siapa tahu aku masukin wanita lain ke sini untuk membersihkan rumah ini. Daripada nunggu Istri yang kerjaannya ngeluh terus kayak kamu."

Deg!

Nila langsung diam. Ucapan Yanto sukses menyayat hatinya. Meski sudah biasa mendengar omelan pria miskin itu, tetapi tetap saja rasanya menyakitkan.

Apalagi setiap kali Yanto marah, suaminya itu selalu membawa-bawa wanita lain, seolah ia tidak lagi berharga di mata sang suami.

"Cepat masak! Aku udah lapar!" titah Yanto sedikit membentak.

Nila menarik napas panjang, mengambil belanjaannya lalu melangkah ke dapur.

Yanto hanya melihat sekilas. Belanjaan yang dibawa istrinya terlihat banyak, tetapi tidak ada keinginan sedikitpun untuk bertanya 'darimana Nila mendapatkan uang?'

Baginya itu semua tidak penting, yang terpenting malam ini perutnya kenyang.

Setelah Nila masuk ke dapur, Yanto duduk di kursi ruang tengah rumah sederhananya itu.

Di dapur, Nila terdiam, merenung dengan tatapan kosong ke depan.

Kilasan tentang pertemuannya dengan Yuni kembali melintas. Namun, bukan soal tawaran itu, melainkan ucapan tetangganya tentang Yanto.

"Apa mungkin Mas Yanto punya selingkuhan?" Nila menghela napas panjang.

Berusaha percaya pada suaminya, tetapi sulit, karena selama ini sikap Yanto padanya tidak pernah baik.

Mereka menikah memang karena mau sama mau, bukan karena perjodohan. Namun, lama-kelamaan sikap Yanto malah semakin menyebalkan.

Dulu Yanto mengejar-ngejarnya, menunjukkan perasaan cinta yang besar hingga membuat Nila percaya bahwa Yanto adalah laki-laki baik.

Nila yang hanya anak yatim-piatu langsung menerima lamaran Yanto dan menikah dengan pria itu tanpa melihat status dan ekonomi.

Baginya semua itu tidak penting, yang terpenting ia memiliki seseorang yang tulus menyayanginya.

Namun, setelah menikah bukannya dibahagiakan, ia justru dijadikan pembantu dan bahan bulan-bulanan Yanto.

"Kamu masak apa Nil? Kenapa nggak ada bau masakan sama sekali?" teriak Yanto yang seketika membuyarkan lamunan Nila.

"Ini lagi nyuci beras Mas," sahut Nila, panik, karena sejak tadi ia hanya melamun.

Dengan cepat ia mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam plastik dan menyiapkan di atas meja.

Deg!

Jantungnya berdegup kencang saat ia mendengar suara langkah kaki menuju dapur. Jika Yanto melihat ia belum melakukan apapun sejak tadi, ia pasti akan dimarahi habis-habisan.

Sambil sedikit memejamkan mata, ia melirik dengan sudut matanya dan melihat bayangan Yanto mendekat.

"Kamu punya uang berapa bisa belanja sebanyak ini?" tanya Yanto sambil mengangkat karung beras lima kilo yang berada di atas meja.

Nila hanya diam sambil menundukkan kepala. Tangannya terlihat sibuk memilah bahan masakan.

"Jawab!" bentak Yanto.

Tubuh Nila tersentak kaget. "A-aku ... aku pinjam uang Mas." Ia menelan ludah keras.

Yanto tersenyum sinis, "Ada sisanya? Mana sini!"

Nila mengangkat kepalanya, menatap sang suami, "Aku pinjam uang ini sama tetangga kita Mas. Sama Mbak Yuni. Sisanya mau aku kembalikan ke dia, biar aku nggak susah bayarnya."

"Ya udah sini sisanya! Kamu bayar hutang juga pake duit dari aku 'kan? Ngapain dikembalikan sisanya? Toh nanti aku juga yang bayar." Yanto menarik lengan Nila dengan kasar. "Mana sisanya?"

"Nggak ada Mas," jawab Nila sambil menggeleng dengan manik mata berkaca-kaca.

Yanto mendengus kesal. Matanya menatap nyalang. "Kamu mau pakai uang itu sendiri? Hah! Untuk kamu apakan uang itu? Belanjakan untuk dirimu sendiri? Iya?"

Nila kembali menggeleng, "Nggak Mas. Aku ... aku mau kembaliin sisanya ke Mbak Yuni, karena aku nggak mau hutang budi sama dia."

"Ya udah sini! Biar sisanya buat aku. Toh bukan kamu yang bayar." Yanto menarik daster kembang-kembang yang dikenakan istrinya dengan kasar. "Mana sini!"

"Nggak ada Mas, uangnya udah habis."

"Tadi katamu masih ada!" Yanto melotot, mengangkat satu tangannya lalu melayangkan pukulan ke pipi Nila.

Plak!

Suara tamparan itu terdengar renyah. Pukulan kencang Yanto membuat tubuh Nila terhempas dan jatuh ke atas tanah.

Tangisan Nila pecah, ia memegang pipi yang merah dan panas.

"Sakit Mas!" Tangannya gemetar memegang pipi yang terasa sakit dan perih.

"Brengsek! Jadi Istri nggak tahu diri! Udah dikasih makan, nggak nurut sama suami. Bangsat!" maki Yanto.

Nila hanya menundukkan kepala sambil menangis, meminta maaf.

Tanpa mereka berdua sadari, pertengkaran yang terjadi hampir setiap hari itu didengar oleh tetangga sebelah.

Bahkan, dari kaca jendela panjang rumah Bima, ia dapat melihat bayangan yang terpantul dari bilik bambu rumah tetangganya.

Pria yang duduk di atas kursi roda itu terus menatap ke arah dapur rumah Yanto, melihat pertengkaran pasangan suami-istri itu.

"Ampun Mas! Ampun. Maafin aku Mas!" jerit Nila, memohon saat Yanto menarik rambutnya dan menyeret tubuh ringkih itu mendekati tungku api.

"Istri nggak guna! Bangsat!" maki Yanto.

Bima menarik napas panjang. Tangannya mengepal di atas pegangan kursi roda.

Perasaan muak pada Yanto menyelimuti hati. Ingin rasanya ia memberi bogem mentah pada pria itu, yang beraninya hanya pada wanita.

Tanpa ia sadari, diam-diam Yuni memperhatikan dari pintu dapur. Ia tersenyum melihat suaminya begitu peduli pada Nila.

Salah satu alasan yang membuatnya yakin Nila bisa melancarkan rencana untuk bercerai dari Bima, karena selama ini ia melihat kepedulian di mata suaminya itu pada Nila.

'Semoga setelah pertengkaran hebat malam ini, Nila mau bekerja di rumahku,' batin Yuni.

Ia melangkah masuk ke dalam kamar sang anak, menemui putri semata wayang yang tengah duduk di depan meja belajar.

Sementara Bima masih duduk di dekat jendela dapur. Matanya tertuju pada rumah Yanto dan mendengarkan pertengkaran itu.

Bayangan suami-istri itu terlihat jelas dari pantulan dinding anyaman bambu. Bahkan, Bima dapat melihat aktivitas di sana seperti sedang menonton televisi.

"Brengsek! Istri nggak guna!" teriak Yanto.

"Maafin aku Mas," ucap Nila bersujud di depan kaki suaminya. "Maaf."

"Oke, aku maafin kamu kali ini, tapi kamu harus memuaskan aku sekarang!"

Deg!

Bima meremas pegangan kursi roda kuat-kuat saat melihat Yanto membuka celana dan meminta Nila memasukan benda panjang itu ke dalam mulut.

"Sial!" umpatnya geram.

Setelah bertengkar nyaris bunuh-bunuhan, sempat-sempatnya Yanto menginginkan itu.

Kemungkinan tetangga sebelahnya memiliki fetis seksual yang aneh.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   9. Kecupan Basah

    "Mas tahu semuanya?" Suara Nila tertahan, nyaris tak dapat keluar dari mulutnya.Bima mengangguk dengan senyuman kecil terlukis di wajah. Memang selama ini ia selalu memperhatikan tetangganya. Sejak mengetahui Nila sering disiksa, diam-diam Bima menaruh rasa iba.Dari beberapa bulan lalu, hampir setiap malam Bima selalu duduk di dapur hanya untuk melihat aktivitas Nila walau hanya bayangannya saja.Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh. Perasaan yang lama-lama lebih dari sekedar kasihan.Sekarang ... wanita yang sering ia perhatikan dari kejauhan itu ada di dekatnya. Sangat dekat, bahkan sedang duduk di atas pangkuan."Aku sering memperhatikanmu dari dapur." Bima melanjutkan. Suaranya terdengar pelan, tapi sangat merdu bagi Nila. Tangannya membelai pipi Nila dengan sangat lembut, lalu merengkuh jenjang leher wanita pemilik bulu mata lentik itu. Nila hanya diam saat Bima mendekatkan bibirnya, lalu mengecup lembut, dan melumat habis hingga ia kehabisan napas."Mas .... " Nila melepas

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   8. Melayani

    Pekerjaan memandikan suami orang, selesai. Nila mengira semua tugas mengurus pria itu berakhir, tapi ternyata Bima masih memberi pekerjaan lain. Bima yang lapar, meminta Nila mengambil makanan di dapur. Kebetulan pagi tadi Yuni membeli lauk di warung dekat rumah. Setelah berganti pakaian, Nila mengambil makanan untuk Bima, dan kembali ke kamar tamu. "Ini makanannya, Mas." Nila meletakkan piring berisi makanan ke atas meja kecil di samping ranjang.Bima mengangguk, lalu mengalihkan pandangan pada Nila. "Mau ke mana kamu?" Nila yang baru saja ingin keluar dari kamar itu, menghentikan langkah kakinya di ambang pintu. "Saya mau bersihin rumah Mas.""Tugas kamu merawatku belum selesai. Aku mau makan."Nila mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ia lalu menunjuk ke arah piring, "Itu makanannya Mas udah saya ambilin. Mas tinggal makan. Yang sakit kaki Mas 'kan? Bukan tangan?"Bima megembus napas sambil tersenyum kecut. "Iya aku tahu, tapi aku tidak biasa makan sendirian. Temani aku makan."Ni

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   7. Lebih Baik dari Istri Sah

    Nila berusaha mengabaikan ucapan ngelantur Bima. Tak perduli pria itu terus menatapnya, ia tetap melanjutkan pekerjaan sebagai pengasuh pria lumpuh.Dengan perlahan ia mengarahkan selang shower ke tubuh kekar Bima. Matanya tak lepas memandang pahatan sempurna dada kotak-kotak itu.Perasaan kagum pada sosok di depannya merayap, membuatnya semakin gugup dan gelisah.Namun, sebisa mungkin Nila menyembunyikan perasaan aneh yang bercampur aduk seperti gado-gado jualannya Bu Jalal.Nila menarik napas panjang. Dengan gerakan lembut ia mengusap lengan berotot Bima.Ada yang janggal dari bentuk tubuh pria itu. Bukannya Bima sudah berbulan-bulan duduk di kursi roda? Kenapa bentuk tubuhnya seperti orang yang selalu berolahraga setiap hari? Lagi-lagi Nila menepis semua pemikiran yang menyelinap. Rasa penasaran yang kadang di luar logika. "Aku belum tahu alasan Yuni memperkerjakanmu di rumah ini." Bima memulai pembicaraan. Memecah keheningan kamar mandi yang tadi hanya dipenuhi suara gemericik a

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   6. Tugas Pertama

    Pekerjaan pertama yang harus Nila lakukan adalah memandikan Bima? Tak pernah terbayangkan seumur hidup ia akan mengurus dan melayani pria lumpuh, yang tak lain suami tetangganya sendiri. Sekarang, tepat hari pertama ia bekerja, ia sudah diminta memandikan pria yang wajahnya cukup tampan itu. Nila mendadak gugup saat melihat Bima membuka pakaian satu per satu. Ia menelan ludah dan langsung memalingkan wajah ke samping. Diam-diam Bima memperhatikan wanita muda itu. "Buka celanaku," katanya memerintah. Nila membulatkan kedua mata. Pandangannya beralih pada celana jeans panjang yang dikenakan Bima. Pria itu tampak kesulitan menurunkan celana jeans biru tua yang terhimpit bokong dan kursi roda. Mata Bima menyempit menatap Nila. Wanita di depannya hanya diam seperti patung. "Cepat buka celanaku!" "Bu-buka .... " Nila tercengang hingga sulit mengeluarkan kata. Mulutnya terbuka lebar dengan tatapan polos tanpa dosa. "Ya, buka celanaku. Tidak mungkin aku mandi dengan celana masih m

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   5. Perhatian

    Bima mengambil kotak P3K dari lemari kecil lalu melajukan kursi rodanya ke luar dari kamar. "Ikut saya!" Nila mengikuti pria itu menuju kursi di ruang tamu. "Duduk!" Bima menunjuk kursi di depannya. "Eh .... " Nila sedikit gugup dan ragu. Bima berdecak. "Duduk!" titahnya pada Nila yang diam seperti patung. "Gimana saya mau obati luka kamu kalau kamu berdiri begitu?" "Tapi Mas ... nggak usah, ngga apa-apa. Nanti juga luka saya sembuh sendiri. Lagian ini cuma lebam." "Cepat duduk!" Bima meninggikan suaranya. Mau tak mau Nila menurut, daripada ia dipecat oleh suami tetangganya itu, bisa-bisa Yuni marah besar padanya. Belum lagi Yanto sangat mengharapkan gaji bulanan Nila untuk memperbaiki keuangan mereka. Dengan perasaan takut-takut Nila duduk di depan Bima. Ia menatap pria di depannya sesaat, lalu menundukkan kepala. "Angkat kepalamu," pinta Bima. Nila mengikuti, menegakkan kepala, menatap pria itu. Kalau boleh jujur, wajah Bima sangat tampan meski dilihat da

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   4. Mulai Bekerja

    Paginya setelah pertengkaran besar terjadi tadi malam, tiba-tiba saja Nila mendatangi rumah Yuni. Wanita muda itu berdiri di depan pagar rumah tetangganya sambil celingak-celinguk. Melihat kedatangan Nila, buru-buru Yuni membuka pintu dan keluar dari rumahnya. "Nil .... " Yuni membuka pintu pagar. "Kamu mau kerja di sini?" Nila menundukkan kepala sambil meremas jemarinya di depan. Ia menarik napas panjang dan mengangguk sedikit. Melihat jawaban itu, Yuni tersenyum. "Kalau kamu menerima pekerjaan dari saya, kamu harus mengikuti syaratnya. Gimana?" Nila mengangkat kepalanya, "Syarat seperti apalagi Mbak?" "Kita bicara di tempat lain." Yuni keluar dari pagar rumah, dan membawa Nila ke dinding rumah tetangga sebelah. Nila menurut saja, toh dia hanya ingin bekerja demi suaminya. Semalam ia mengatakan pada Yanto kalau uang yang didapatkan itu dari Yuni. Ia juga menceritakan kalau Yuni menawarkan pekerjaan untuknya, dan jawaban Yanto ... pria itu malah setuju dan meminta Ni

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status