เข้าสู่ระบบNila tiba di rumah. Suasana rumah sederhana tersebut terlihat kacau. Kursi-kursi kayu tampak berantakan, tidak lagi berada di tempatnya lagi.
Di atas meja anyaman bambu yang sudah lapuk, terlihat debu-debu dari sisa abu rokok berserakan. Mata Nila melotot. Napasnya berhembus kasar. Ingin rasanya berteriak, tetapi ia tahu suaminya lebih galak dari Singa. Jika ia marah, Yanto pasti lebih marah lagi. Menghela napas panjang, dengan malas ia menyusun kursi-kursi itu ke tempatnya semula. Ketika sedang sibuk merapikan ruang tengah rumah itu, Nila dikejutkan dengan kedatangan Yanto dari pintu luar. "Mas," panggil Nila saat melihat suaminya nyelonong masuk ke rumah tanpa menyapa. Yanto menoleh sesaat. Pandang matanya tertuju pada belanjaan yang diletakkan Nila di atas meja. "Udah masak?" tanyanya dengan wajah dingin. "Belum Mas, aku baru pulang dari warung Bu RT. Pas aku pulang aku lihat rumah berantakan. Kamu habis ngapain?" Yanto berdecak, "Udah biasa 'kan kamu lihat rumah berantakan? Ada yang aneh? Kalau kamu ngeliat rumah ini rapih, baru kamu boleh heran. Siapa tahu aku masukin wanita lain ke sini untuk membersihkan rumah ini. Daripada nunggu Istri yang kerjaannya ngeluh terus kayak kamu." Deg! Nila langsung diam. Ucapan Yanto sukses menyayat hatinya. Meski sudah biasa mendengar omelan pria miskin itu, tetapi tetap saja rasanya menyakitkan. Apalagi setiap kali Yanto marah, suaminya itu selalu membawa-bawa wanita lain, seolah ia tidak lagi berharga di mata sang suami. "Cepat masak! Aku udah lapar!" titah Yanto sedikit membentak. Nila menarik napas panjang, mengambil belanjaannya lalu melangkah ke dapur. Yanto hanya melihat sekilas. Belanjaan yang dibawa istrinya terlihat banyak, tetapi tidak ada keinginan sedikitpun untuk bertanya 'darimana Nila mendapatkan uang?' Baginya itu semua tidak penting, yang terpenting malam ini perutnya kenyang. Setelah Nila masuk ke dapur, Yanto duduk di kursi ruang tengah rumah sederhananya itu. Di dapur, Nila terdiam, merenung dengan tatapan kosong ke depan. Kilasan tentang pertemuannya dengan Yuni kembali melintas. Namun, bukan soal tawaran itu, melainkan ucapan tetangganya tentang Yanto. "Apa mungkin Mas Yanto punya selingkuhan?" Nila menghela napas panjang. Berusaha percaya pada suaminya, tetapi sulit, karena selama ini sikap Yanto padanya tidak pernah baik. Mereka menikah memang karena mau sama mau, bukan karena perjodohan. Namun, lama-kelamaan sikap Yanto malah semakin menyebalkan. Dulu Yanto mengejar-ngejarnya, menunjukkan perasaan cinta yang besar hingga membuat Nila percaya bahwa Yanto adalah laki-laki baik. Nila yang hanya anak yatim-piatu langsung menerima lamaran Yanto dan menikah dengan pria itu tanpa melihat status dan ekonomi. Baginya semua itu tidak penting, yang terpenting ia memiliki seseorang yang tulus menyayanginya. Namun, setelah menikah bukannya dibahagiakan, ia justru dijadikan pembantu dan bahan bulan-bulanan Yanto. "Kamu masak apa Nil? Kenapa nggak ada bau masakan sama sekali?" teriak Yanto yang seketika membuyarkan lamunan Nila. "Ini lagi nyuci beras Mas," sahut Nila, panik, karena sejak tadi ia hanya melamun. Dengan cepat ia mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam plastik dan menyiapkan di atas meja. Deg! Jantungnya berdegup kencang saat ia mendengar suara langkah kaki menuju dapur. Jika Yanto melihat ia belum melakukan apapun sejak tadi, ia pasti akan dimarahi habis-habisan. Sambil sedikit memejamkan mata, ia melirik dengan sudut matanya dan melihat bayangan Yanto mendekat. "Kamu punya uang berapa bisa belanja sebanyak ini?" tanya Yanto sambil mengangkat karung beras lima kilo yang berada di atas meja. Nila hanya diam sambil menundukkan kepala. Tangannya terlihat sibuk memilah bahan masakan. "Jawab!" bentak Yanto. Tubuh Nila tersentak kaget. "A-aku ... aku pinjam uang Mas." Ia menelan ludah keras. Yanto tersenyum sinis, "Ada sisanya? Mana sini!" Nila mengangkat kepalanya, menatap sang suami, "Aku pinjam uang ini sama tetangga kita Mas. Sama Mbak Yuni. Sisanya mau aku kembalikan ke dia, biar aku nggak susah bayarnya." "Ya udah sini sisanya! Kamu bayar hutang juga pake duit dari aku 'kan? Ngapain dikembalikan sisanya? Toh nanti aku juga yang bayar." Yanto menarik lengan Nila dengan kasar. "Mana sisanya?" "Nggak ada Mas," jawab Nila sambil menggeleng dengan manik mata berkaca-kaca. Yanto mendengus kesal. Matanya menatap nyalang. "Kamu mau pakai uang itu sendiri? Hah! Untuk kamu apakan uang itu? Belanjakan untuk dirimu sendiri? Iya?" Nila kembali menggeleng, "Nggak Mas. Aku ... aku mau kembaliin sisanya ke Mbak Yuni, karena aku nggak mau hutang budi sama dia." "Ya udah sini! Biar sisanya buat aku. Toh bukan kamu yang bayar." Yanto menarik daster kembang-kembang yang dikenakan istrinya dengan kasar. "Mana sini!" "Nggak ada Mas, uangnya udah habis." "Tadi katamu masih ada!" Yanto melotot, mengangkat satu tangannya lalu melayangkan pukulan ke pipi Nila. Plak! Suara tamparan itu terdengar renyah. Pukulan kencang Yanto membuat tubuh Nila terhempas dan jatuh ke atas tanah. Tangisan Nila pecah, ia memegang pipi yang merah dan panas. "Sakit Mas!" Tangannya gemetar memegang pipi yang terasa sakit dan perih. "Brengsek! Jadi Istri nggak tahu diri! Udah dikasih makan, nggak nurut sama suami. Bangsat!" maki Yanto. Nila hanya menundukkan kepala sambil menangis, meminta maaf. Tanpa mereka berdua sadari, pertengkaran yang terjadi hampir setiap hari itu didengar oleh tetangga sebelah. Bahkan, dari kaca jendela panjang rumah Bima, ia dapat melihat bayangan yang terpantul dari bilik bambu rumah tetangganya. Pria yang duduk di atas kursi roda itu terus menatap ke arah dapur rumah Yanto, melihat pertengkaran pasangan suami-istri itu. "Ampun Mas! Ampun. Maafin aku Mas!" jerit Nila, memohon saat Yanto menarik rambutnya dan menyeret tubuh ringkih itu mendekati tungku api. "Istri nggak guna! Bangsat!" maki Yanto. Bima menarik napas panjang. Tangannya mengepal di atas pegangan kursi roda. Perasaan muak pada Yanto menyelimuti hati. Ingin rasanya ia memberi bogem mentah pada pria itu, yang beraninya hanya pada wanita. Tanpa ia sadari, diam-diam Yuni memperhatikan dari pintu dapur. Ia tersenyum melihat suaminya begitu peduli pada Nila. Salah satu alasan yang membuatnya yakin Nila bisa melancarkan rencana untuk bercerai dari Bima, karena selama ini ia melihat kepedulian di mata suaminya itu pada Nila. 'Semoga setelah pertengkaran hebat malam ini, Nila mau bekerja di rumahku,' batin Yuni. Ia melangkah masuk ke dalam kamar sang anak, menemui putri semata wayang yang tengah duduk di depan meja belajar. Sementara Bima masih duduk di dekat jendela dapur. Matanya tertuju pada rumah Yanto dan mendengarkan pertengkaran itu. Bayangan suami-istri itu terlihat jelas dari pantulan dinding anyaman bambu. Bahkan, Bima dapat melihat aktivitas di sana seperti sedang menonton televisi. "Brengsek! Istri nggak guna!" teriak Yanto. "Maafin aku Mas," ucap Nila bersujud di depan kaki suaminya. "Maaf." "Oke, aku maafin kamu kali ini, tapi kamu harus memuaskan aku sekarang!" Deg! Bima meremas pegangan kursi roda kuat-kuat saat melihat Yanto membuka celana dan meminta Nila memasukan benda panjang itu ke dalam mulut. "Sial!" umpatnya geram. Setelah bertengkar nyaris bunuh-bunuhan, sempat-sempatnya Yanto menginginkan itu. Kemungkinan tetangga sebelahnya memiliki fetis seksual yang aneh.Bima melangkah naik ke lantai dua rumahnya. Setibanya di depan pintu kamar, ia mengetuk pintu itu dengan perlahan.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban, hanya isakan kecil yang terdengar dari balik pintu. Tanpa menunggu ijin, Bima memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci.Bima menghela napas panjang, saat melihat di atas tempat tidur bernuansa merah muda itu, Nabila sedang meringkuk di bawah selimut, memeluk boneka beruang pemberian Bima tahun lalu."Sayang .... " Panggilan yang biasa dijawab dengan suara ceria, kini diabaikan begitu saja oleh Nabila."Papa mengerti perasaan kamu Nak." Perlahan Bima melangkah mendekati ranjang kemudian duduk di tepi. "Kamu pasti sedih dan kecewa, itu wajar Sayang, tapi kamu harus tahu satu hal .... ""Papa pergi aja!" teriak Nabila dengan suara parau.Bima menghela napas panjang, mengusap punggung kecil yang bergetar itu. "Kakak Nabila ...."Isakan itu semakin kencang. "Papa pergi aja! Cepat pergi! Papa urus aja bayi laki-laki itu. Papa 'kan suka
Pada jam makan malam, Nila dan Bima sudah menyiapkan diri untuk memberitahu kabar bahagia kehamilan itu pada Nabila.Setelah makanan spesial terhidang di atas meja, Nila memanggil anak sambungnya yang masih berada di dalam kamar.Kedatangan Nabila disambut senyum manis sang ayah ... Bima, melebarkan kedua tangan, menyambut pelukan anak Kesayangan."Kesayangan Papa. Kamu sedang apa di kamar tadi? Kok baru keluar?" "Aku lagi belajar matematika Pa. Besok kan ada ujian harian. Aku mau dapat nilai bagus, biar bisa dapat hadiah dari Mami Nila." Tatapan Nabila tertuju pada wanita cantik_sang Ibu sambung. Nila selalu bisa mengambil hati Nabila, memanjakan gadis kecil itu dengan memberikan hadiah-hadiah kecil atas pencapaian yang diraihnya. "Kalau begitu, kamu tunjukkan kamu bisa menjadi anak yang pintar dan membanggakan ya." Bima melepas pelukan, mengecup lembut kening Nabila. "Oke, aku janji aku bakal jadi anak yang pintar dan membanggakan untuk kalian berdua. Dan untuk Mama juga," senyu
Sebulan berlalu begitu cepat. Pagi hari seperti biasa, Nila bangun lebih pagi dari ayam tetangga.Saat beranjak dari tempat tidur, Nila merasakan kepalanya pusing, dan perutnya agak mual.Nila terdiam sejenak. Matanya beralih pada kalender duduk yang ada di atas meja.Di sana lingkaran merah yang terlihat, sudah terlewat beberapa hari. Di tanggal 10 hari terakhir ia datang bulan, tetapi sudah hampir tanggal 15 ia belum juga kedatangan tamu bulanan."Apa mungkin?" Tak ingin menebak-nebak, Nila mengambil testpack dari dalam laci meja dan masuk ke dalam kamar mandi.Setelah mengikuti semua arahan dalam kartu panduan itu, Nila menunggu beberapa menit sebelum membukanya.Nila menatap benda persegi panjang di tangannya dengan jantung yang bertalu hebat.Dua garis merah terlihat jelas saat ia membuka alat tes kehamilan it
"Ahhh!"Suara desahan panjang terdengar di ruang kamar bercahaya temaram itu. Suara yang lolos dari mulut Nila, memecah keheningan kamar. "Mas! Ahhh!" Nila memejamkan kedua mata sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.Khawatir wanitanya melukai bibir sendiri, Bima menghentikan kegiatan gilanya yang tengah menjilat bagian V sang Istri."Nikmati Sayang. Malam ini aku akan membuatmu merasakan apa yang tidak pernah kamu dapatkan dari Yanto," ucap Bima dengan senyuman mesum."Cukup ahhh Mas .... " rengek Nila di sela napasnya yang memburu. Bulir bening menetes di sudut matanya.Bukan karena sakit, melainkan karena rasa syukur yang meluap. Penghinaan Yanto di masa lalu tentang kekurangan fisiknya seketika lebur oleh cara Bima memujanya.Bima menegakkan kepala, wajahnya kemerahan dengan peluh yang membasahi dahi.Ia berpindah posisi, merangkak naik hingga wajahnya sejajar dengan Nila, lalu mengecup lembut air mata di pipi istrinya. "Kenapa menangis, Sayang? Apa aku terlalu kasar?"Nila
Satu minggu berlalu dengan sangat cepat. Hari ini adalah hari pernikahan Bima dan Nila.Bima berdiri di depan cermin, merapikan dasi putihnya. Nabila, yang mengenakan gaun mungil berwarna senada, berlari masuk dan memeluk kaki sang ayah."Papa! Mami Nila cantik sekali! Seperti bidadari!" seru Nabila riang.Bima berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Nabila, mengusap pipi putrinya dengan lembut. "Iya, sayang. Mulai hari ini, Nabila punya Mami yang sah. Nabila senang?""Senang banget! Nabila janji nggak akan nakal lagi dan nangis lagi."Pak Hermawan masuk ke ruangan, terlihat jauh lebih segar dan bahagia. "Sudah siap, Cucuku? Semua tamu penting sudah menunggu. Para kolega dari luar negeri pun sudah hadir."Bima berdiri tegak, menggenggam tangan kakeknya. "Siap, Kek. Terima kasih sudah mengembalikan harga diri keluarga kita."Ija
Sama seperti Yuni yang tenggelam dalam penyesalan, di dinding penjara yang lembap dan berbau pesing menjadi saksi bisu hancurnya hidup Yanto.Pria yang dulunya merasa paling berkuasa saat melayangkan tangan ke wajah Nila itu, kini meringkuk seperti tikus di sudut sel yang gelap.Hukuman lima belas tahun penjara bukan hanya sekadar angka di atas kertas vonis.Baginya, setiap detik di dalam sana adalah neraka yang nyata. Di dalam sel nomor 402 itu, Yanto bukanlah siapa-siapa. Dia berada di kasta terendah.Narapidana kasus KDRT. Di dunia hitam penjara, penyiksa wanita dianggap lebih rendah daripada kotoran sapi."Woi, Tukang Pukul Perempuan! Bangun!" teriak sebuah suara parau yang menggelegar.Seorang pria bertubuh raksasa dengan tato naga yang melilit lehernya, yang biasa dipanggil Bang Jalu, menendang tulang kering Yanto dengan sepatu botnya yang keras.







