Share

Bab 24

Author: Vhiena Vhie
last update publish date: 2026-02-16 16:51:09

Kanina keluar dari pusat perbelanjaan dengan langkah terburu-buru. Pada saat ini, dia masih memikirkan pertemuannya dengan Renata dan Althan sesaat lalu.

“Kebetulan lagi...”

Sejujurnya, Kanina tidak mengerti mengapa ada begitu banyak kebetulan yang terjadi antara dirinya dan Althan sejak insiden di restoran waktu itu.

Tapi, dia juga tidak berani berpikir terlalu jauh. Mungkin memang kebetulan. Mungkin memang tidak sengaja bertemu. Lagipula, dia tidak menemukan alasan lain selain itu.

Rasanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 97

    Suara langkah sepatu terdengar pelan dan teratur, semakin mendekat dari arah pintu. Ralia yang semula masih dipenuhi amarah seketika terdiam saat menyadarinya.Dia tidak menoleh. Namun matanya bergerak cepat, seolah dalam satu detik itu pikirannya langsung bekerja mencari sesuatu.Lalu, hampir seketika, raut wajahnya berubah. Amarah di matanya menghilang, digantikan dengan ekspresi sedih yang tampak begitu meyakinkan. “Kanina…” suaranya bergetar halus, nyaris berubah menjadi tangisan. “Aku nggak tahu apa salahku…”“Aku ke sini cuma mau beli bunga… sekalian menyapa kamu dan ibumu… Tapi kalian... malah memperlakukan aku seperti ini…”Kalimat itu keluar terbata-bata, diiringi isak kecil yang terdengar menyedihkan.Jika orang lain melihatnya sekarang, mungkin mereka benar-benar akan percaya bahwa Ralia adalah korban yang tidak tahu apa-apa.Gaunnya kotor terkena tanah, rambutnya sedikit berantakan, sementara tetes air di wajahnya membuat penampilannya tampak semakin memperihatinka

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 96

    Kanina menatap perempuan di depannya seperti sedang melihat orang bodoh. “Mengadu?” ulangnya perlahan.Sebuah tawa kecil lalu lolos dari bibirnya—ringan, pendek, tetapi mengandung sesuatu yang tidak bisa disalahartikan. Bukan tawa yang hangat, bukan pula tawa yang menunjukkan kegembiraan. Lebih seperti ejekan yang tidak repot-repot disembunyikan.“Tuduhan macam apa itu?” katanya sambil menggeleng tak habis pikir.Reaksinya membuat Ralia menatap dengan tajam, tampak tersinggung. Namun, sebelum dia sempat buka suara, Kanina sudah mendahului.“Aku bukan mengadu,” ucapnya dengan nada santai. “Aku hanya ingin suamimu melihat sendiri apa yang kamu kirimkan padaku, tentang betapa bahagianya kalian… tentang bagaimana kamu begitu ingin menunjukkannya padaku.”Kanina tersenyum kecil. “Bukankah itu hal yang bagus?” tanyanya kemudian. “Suamimu pasti bangga, punya istri yang begitu rajin menunjukkan betapa bahagianya dia setelah berpisah denganku.”Kata-kata itu dipenuhi sarkasme—halus

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 95

    Keesokan harinya, pagi datang dengan tenang, seolah waktu sengaja melangkah lebih pelan dari biasanya. Cahaya matahari jatuh miring melalui kaca depan toko, membentuk bayang-bayang lembut di lantai dan rak-rak bunga yang tersusun rapi.Udara masih menyimpan kesejukan sisa malam, bercampur dengan wangi segar dedaunan dan kelopak yang baru disiram.Kanina baru saja membuka pintu toko. Lonceng kecil di atasnya berdenting pelan, menjadi penanda dimulainya hari yang lain.Dia meletakkan buket pesanan Althan di atas meja kerja dengan hati-hati. Hari ini, bunga daisy putih menjadi pusatnya, kelopaknya bersih dengan inti kuning yang cerah. Di sekelilingnya, Kanina memadukan beberapa tangkai baby’s breath yang halus seperti kabut tipis, diselipi mawar peach yang lembut dan beberapa daun eucalyptus.Semuanya dibungkus dengan kertas berwarna krem pucat, diikat pita cokelat muda yang sederhana namun elegan.“Ibu sedang apa?” Kanina bertanya dengan penasaran saat mengalihkan pandangan dan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 94

    Ralia mengerjap, jantungnya berdentum keras dan keterkejutan melintas cepat di matanya. Sejenak, dia terdiam, lalu perlahan, raut wajahnya berubah menjadi bingung.“Apa maksudmu, Mas?” Harsya tidak menanggapi pertanyaan itu. Dia hanya bangkit berdiri, berjalan mendekat dan memperlihatkan tangkapan layar berisi foto-foto dan pesan yang barusan dia terima di ponselnya.“Kamu sengaja mengirimkan semua ini pada Kanina? Untuk apa?” tanyanya dengan nada mendesak.Ralia menegang. Matanya terpaku pada layar ponsel di tangan Harsya, seolah kata-kata dan gambar di sana tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang asing.Dia tidak menyangka bahwa Kanina—yang selama ini hanya diam, yang tidak pernah membalas, yang seolah tidak peduli—akan memilih cara seperti ini untuk menjawab. Bukan dengan kata-kata. Bukan dengan emosi. Melainkan dengan mengembalikan semuanya tepat ke sumbernya, dan membuat Harsya tahu apa yang dia lakukan.Ralia berdiri kaku di tempatnya. Handuk di tangannya tergenggam erat

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 93

    Malam itu, toko sudah lama ditutup. Lampu di bagian depan dimatikan, menyisakan cahaya hangat dari lampu kerja di sudut meja.Di ruang belakang, Artanti sudah tertidur lelap—napasnya teratur, memberi rasa damai yang sederhana.Kanina sendiri masih duduk di antara rak bunga, menyelesaikan pesanan buket untuk besok. Rencananya, dia akan bermalam di toko.Tangkai-tangkai bunga tersusun rapi di atas meja, sebagian sudah dia potong, sebagian lagi menunggu untuk dirangkai. Tangannya bergerak perlahan, tidak tergesa, justru hati-hati, menikmati setiap proses kecil yang kini terasa semakin akrab.Dalam hening, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar pelan. Kanina melirik sekilas, lalu meraihnya ke dalam genggaman.Satu pesan masuk, dari nomor yang tidak tersimpan di dalam kontak, tetapi terlalu familiar untuk tidak dikenali.“Ralia, apa lagi kali ini?” gumamnya samar.Beberapa hari yang lalu, Ralia sempat mengirimkan belasan foto pernikahannya dengan Harsya. Dengan penuh rasa

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 92

    Sejak hari itu, sesuatu yang baru diam-diam menjadi bagian dari rutinitas Kanina. Tidak datang dengan perubahan yang mencolok, tidak pula terasa terburu-buru.Setiap malam, tepat di waktu-waktu yang nyaris sama, ponselnya akan berbunyi. Getaran kecil yang kini mulai terasa akrab, bahkan tanpa sadar sering dia tunggu.Satu pesan singkat selalu datang dari Althan. Isinya tidak pernah panjang—hanya menyebutkan jenis bunga yang dia inginkan untuk buket keesokan hari.“Mawar merah.”“Tulip kuning.”“Lily.”Sesederhana itu. Tanpa salam, tanpa penjelasan, tanpa tambahan apa pun yang tidak perlu. Namun justru karena itu, semuanya terasa lebih mudah dan juga jelas.Kanina tidak pernah kebingungan memahami maksudnya. Dia membaca pesan itu, lalu membiarkannya tinggal sejenak di benaknya, sebelum mulai merangkai bunga-bunga.Meski pesannya singkat, Kanina tidak banyak bertanya. Dia justru merasa seolah Althan menyerahkan sisanya padanya.Bagaimana bunga-bunga itu dirangkai, bagaimana ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status