LOGINSuara gesekan sapu dengan lantai terdengar pelan, berulang-ulang memecah kesunyian toko bunga yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Ralia menggenggam gagang sapu erat hingga ruas jemarinya memutih. Wajahnya muram, bibirnya terkatup kaku, sementara sorot matanya dipenuhi emosi yang dipaksa ditekan.Setiap gerakan tangannya tampak kaku dan penuh keterpaksaan. Pecahan pot bunga di lantai dikumpulkannya perlahan, tanah yang berhamburan dibersihkan sedikit demi sedikit.Di dekat rak bunga, Althan masih berdiri dengan tenang. Tubuh tingginya bersandar di sisi rak kayu. Tidak ada ekspresi berarti di wajah pria itu. Namun tatapannya jelas sedang mengawasi.Di sisi lain, Kanina membawa Artanti duduk di kursi dekat meja kerja. Emosinya tampak sudah reda, digantikan ekspresi kebingungan, seolah tidak mengerti apa sedang terjadi.“Ibu di sini saja, ya?” ucap Kanina sambil mengusap tangan ibunya dengan lembut.Artanti tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan polos. Kanina memberinya se
Kalimat Althan terdengar ringan. Hampir seperti ucapan yang wajar. Tidak keras, tidak pula diwarnai emosi. Namun justru karena itu, sindiran di dalamnya terasa begitu jelas.Ralia langsung membeku, seolah seseorang baru saja menampar wajahnya di depan banyak orang—pelan, namun telak hingga meninggalkan rasa panas yang menjalar sampai ke dada.Untuk sesaat, dia lupa mempertahankan ekspresi rapuh yang sejak tadi dia bangun dengan susah payah. Matanya membelalak tipis, sementara bibirnya menegang tanpa sadar.“Masih mau berpura-pura?” Artanti berseru jengkel. Tangannya mengangkat botol semprot lagi, seakan sudah siap menghujani Ralia dengan semburan air jika masih bersandiwara.Kanina menahan tangan ibunya dengan lembut, namun senyum tipis tampak jelas di bibirnya. Ralia melihat itu sebagai ejekan dan kemarahan di dalam hatinya semakin bergejolak.Dia akhirnya menarik napas pelan, lalu perlahan bangkit berdiri dari lantai yang kotor, mengabaikan gaunnya yang sudah ternoda tanah di b
Suara langkah sepatu terdengar pelan dan teratur, semakin mendekat dari arah pintu. Ralia yang semula masih dipenuhi amarah seketika terdiam saat menyadarinya.Dia tidak menoleh. Namun matanya bergerak cepat, seolah dalam satu detik itu pikirannya langsung bekerja mencari sesuatu.Lalu, hampir seketika, raut wajahnya berubah. Amarah di matanya menghilang, digantikan dengan ekspresi sedih yang tampak begitu meyakinkan. “Kanina…” suaranya bergetar halus, nyaris berubah menjadi tangisan. “Aku nggak tahu apa salahku…”“Aku ke sini cuma mau beli bunga… sekalian menyapa kamu dan ibumu… Tapi kalian... malah memperlakukan aku seperti ini…”Kalimat itu keluar terbata-bata, diiringi isak kecil yang terdengar menyedihkan.Jika orang lain melihatnya sekarang, mungkin mereka benar-benar akan percaya bahwa Ralia adalah korban yang tidak tahu apa-apa.Gaunnya kotor terkena tanah, rambutnya sedikit berantakan, sementara tetes air di wajahnya membuat penampilannya tampak semakin memperihatinka
Kanina menatap perempuan di depannya seperti sedang melihat orang bodoh. “Mengadu?” ulangnya perlahan.Sebuah tawa kecil lalu lolos dari bibirnya—ringan, pendek, tetapi mengandung sesuatu yang tidak bisa disalahartikan. Bukan tawa yang hangat, bukan pula tawa yang menunjukkan kegembiraan. Lebih seperti ejekan yang tidak repot-repot disembunyikan.“Tuduhan macam apa itu?” katanya sambil menggeleng tak habis pikir.Reaksinya membuat Ralia menatap dengan tajam, tampak tersinggung. Namun, sebelum dia sempat buka suara, Kanina sudah mendahului.“Aku bukan mengadu,” ucapnya dengan nada santai. “Aku hanya ingin suamimu melihat sendiri apa yang kamu kirimkan padaku, tentang betapa bahagianya kalian… tentang bagaimana kamu begitu ingin menunjukkannya padaku.”Kanina tersenyum kecil. “Bukankah itu hal yang bagus?” tanyanya kemudian. “Suamimu pasti bangga, punya istri yang begitu rajin menunjukkan betapa bahagianya dia setelah berpisah denganku.”Kata-kata itu dipenuhi sarkasme—halus
Keesokan harinya, pagi datang dengan tenang, seolah waktu sengaja melangkah lebih pelan dari biasanya. Cahaya matahari jatuh miring melalui kaca depan toko, membentuk bayang-bayang lembut di lantai dan rak-rak bunga yang tersusun rapi.Udara masih menyimpan kesejukan sisa malam, bercampur dengan wangi segar dedaunan dan kelopak yang baru disiram.Kanina baru saja membuka pintu toko. Lonceng kecil di atasnya berdenting pelan, menjadi penanda dimulainya hari yang lain.Dia meletakkan buket pesanan Althan di atas meja kerja dengan hati-hati. Hari ini, bunga daisy putih menjadi pusatnya, kelopaknya bersih dengan inti kuning yang cerah. Di sekelilingnya, Kanina memadukan beberapa tangkai baby’s breath yang halus seperti kabut tipis, diselipi mawar peach yang lembut dan beberapa daun eucalyptus.Semuanya dibungkus dengan kertas berwarna krem pucat, diikat pita cokelat muda yang sederhana namun elegan.“Ibu sedang apa?” Kanina bertanya dengan penasaran saat mengalihkan pandangan dan
Ralia mengerjap, jantungnya berdentum keras dan keterkejutan melintas cepat di matanya. Sejenak, dia terdiam, lalu perlahan, raut wajahnya berubah menjadi bingung.“Apa maksudmu, Mas?” Harsya tidak menanggapi pertanyaan itu. Dia hanya bangkit berdiri, berjalan mendekat dan memperlihatkan tangkapan layar berisi foto-foto dan pesan yang barusan dia terima di ponselnya.“Kamu sengaja mengirimkan semua ini pada Kanina? Untuk apa?” tanyanya dengan nada mendesak.Ralia menegang. Matanya terpaku pada layar ponsel di tangan Harsya, seolah kata-kata dan gambar di sana tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang asing.Dia tidak menyangka bahwa Kanina—yang selama ini hanya diam, yang tidak pernah membalas, yang seolah tidak peduli—akan memilih cara seperti ini untuk menjawab. Bukan dengan kata-kata. Bukan dengan emosi. Melainkan dengan mengembalikan semuanya tepat ke sumbernya, dan membuat Harsya tahu apa yang dia lakukan.Ralia berdiri kaku di tempatnya. Handuk di tangannya tergenggam erat







