Beranda / Romansa / Suami Misteriusku / Bab 6 Lorong Gelap

Share

Bab 6 Lorong Gelap

Penulis: Yuni Masrifah
last update Tanggal publikasi: 2026-03-27 07:23:39

Aku kesulitan untuk memberontak, tenagaku tidak cukup kuat untuk menolak, hingga akhirnya Tristan telah berhasil mengunciku di kamar.

“Ma-mau apa?” tanyaku. Lirih, tenggorokanku terasa tercekat.

Belum apa-apa lututku sudah bergetar. Aku berjalan mundur, sementara Tristan terus melangkah mendekatiku.

“Pertanyaan yang aneh. Bukankah kamu sudah tahu apa yang akan aku lakukan padamu? Bukankah kamu juga tahu apa yang telah aku lakukan pada Shana?”

Kalimat itu cukup membuatku tersentak. Merinding. Matilah aku, ternyata Tristan telah mencium niatku. Dan kini … kemungkinan terburuknya rencanaku akan gagal total. Remon, menyesal aku telah memutuskannya demi menikah dengan lelaki ini. Aku seperti menyerahkan nyawa padanya.

“Ma-maksud kamu? A-aku tidak tahu. Su-sumpah!” Suaraku pun sampai terputus-putus. Aku tidak mampu menyembunyikan kegugupanku.

Tristan mengernyitkan dahi, menelengkan kepala, menyipitkan mata.

“Kamu takut padaku?” tanyanya berbisik, nyaris tidak terdengar. Hembusan napasnya terasa meremangkan bulu kuduk.

Aku tidak bisa mengangguk, pun tidak mampu menggeleng. Aku menjadi serba salah untuk menjawab.

“A-aku–”

“Ayolah, Sophia. Kita sudah sah menjadi suami istri. Ini malam pertama kita, kenapa kamu tidak peka?”

Aku membeliak, mengerjapkan mata beberapa kali. Hampir saja aku ketahuan karena gelagatku.

Aku yang tegang, seketika berangsur tenang. Aku mengira Tristan hendak menghabisiku. Namun, ternyata aku salah. Aku terlalu takut, pikiran buruk ini membuat rencanaku nyaris ketahuan oleh Tristan.

“Oh … aku … aku hanya gugup saja. Soalnya ini pertama buatku. Tapi …,” Aku menunduk.

“Kenapa?” tanya Tristan.

Aku menghela napas dalam. Kupandangi wajah tampan itu. Aku menggeleng pelan, seraya berkata, “Maaf, aku sedang berhalangan!”

Seketika Tristan terlihat kecewa. Namun, dia mengangguk kecil, dia menuntunku menuju ranjang yang akan menjadi tempat tidur kami.

“Oke, aku akan sabar menunggu sampai kamu selesai halangan. Sekarang kita tidur,” ucapnya.

Aku bisa bernapas lega, malam ini aku telah lolos dari niat Tristan. Padahal aku sedang tidak berhalangan. Jujur aku tidak siap menyerahkan kesucianku padanya. Walaupun dia telah sah menjadi suamiku.

Jika harus jujur aku sedih, seharusnya kesucianku ini aku serahkan pada Remon seandainya kami menikah. Ternyata impian tinggallah impian.

Tristan menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Kami berdua berbaring dalam senyap. Tidak ada obrolan, tidak ada suara apa pun. Namun, tidak berselang lama suara dengkuran halus terdengar dari mulut Tristan.

Aku meraba-raba ranjang ini. Nyaman. Namun, menyimpan kenangan kelam.

Waktu terasa begitu lama, sementara aku belum juga bisa memejamkan mata. Aku terjaga, padahal waktu telah menunjukkan tengah malam.

“Apa aku mulai saja malam ini?”

Kalimat itu seketika menggugah rasa penasaranku. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mencari tahu tentang misteri meninggalnya semua mendiang istri Tristan termasuk Shana.

Aku melirik wajah lelaki ini. Lelap, tenang, membuat tekadku semakin bulat akan melakukannya malam ini.

Kusingkirkan tangan kekar itu dari pinggangku. Namun, pelukan ini semakin erat, seolah dia tahu bahwa aku akan melepaskannya.

“Tenang … tenang, dia tidak bangun.”

Aku berusaha bersikap sesantai mungkin. Sekali lagi aku menyingkirkan tangan itu dari pinggangku. Kali ini berhasil, Tristan tidak lagi mempererat pelukannya. Kuganti tubuhku dengan bantal guling. Mungkin dengan begini Tristan tidak akan menyadari bahwa aku pergi.

Aku cukup lega, dan kini aku mulai melangkah menuju pintu. Aku menoleh ke arah Tristan, dia masih tidur. Aman.

Klik!

Suara kunci sekecil itu pun terasa seperti bom yang akan meledak. Kembali aku menoleh Tristan, syukurlah … aku masih aman.

Lanjut aku keluar dari kamar ini. Kuedarkan pandanganku ke sekitar ruangan ini. Aku berdiam, bingung, entah harus kuawali dari mana, dengan cara apa, dan harus bagaimana. Seketika aku merasa buntu.

“Berpikir, fokus, Sophia.” Aku mengetuk-ngetuk kepalaku.

“Gudang!” Seketika tempat itu terlintas dalam pikiran.

Bisa jadi barang bukti bekas pembunuhan yang Tristan lakukan ada di dalam sana.

Aku mulai melangkah mengendap tanpa suara, seperti seorang maling yang hendak mencuri sesuatu di dalam rumah ini.

Aku belum hafal tata letak ruangan di rumah ini. Aku hanya mengikuti insting, siapa tahu saja benar.

Kakiku terus berayun ke ruang belakang. Hingga akhirnya langkah ini berhenti tepat di depan sebuah lorong gelap yang tak jauh dari dapur.

Aku menelan saliva dengan susah payah. Tenggorokan ini terasa tercekat melihat pemandangan ini.

Tidak ada hantu, tidak ada sesuatu apa pun yang menakutkan kulihat. Hanya kegelapan, tidak sedikit pun cahaya menerangi lorong tersebut.

“Apakah di sana?” gumamku berasumsi.

Beberapa saat aku hanya diam tertegun. Tubuhku membeku di tempat. Kaki seolah kaku untuk melangkah. Perasaan tidak nyaman mulai terasa. Namun, sesegera mungkin aku menyingkirkan keraguan ini.

Kulanjutkan langkah ini, walaupun gemetar, aku tetap melakukannya hingga aku benar-benar berada di lorong tersebut.

Kegelapan yang terasa mencekik membuatku tidak kuat. Aku pun memutuskan untuk kembali. Mungkin besok siang ketika Tristan pergi bekerja, adalah waktu yang tepat. Jujur aku takut tempat gelap. Seolah ada sesuatu yang tak terlihat tengah mengintaiku.

Aku kembali ke kamar, kubuka pintu kamar ini pelan. Berharap Tristan tidak mendengar suara pintu ini.

Kuhembuskan napas lega, ketika kulihat Tristan masih dalam posisi yang sama, tidur.

Rasa kantuk pun telah menyapa, kulirik jam di dinding telah menunjukkan pukul satu dini hari.

Aku pun kembali mengendap menaiki ranjang di mana Tristan masih berbaring. Perlahan kubaringkan tubuh ini di sebelahnya lalu mulai memejamkan mata.

“Aku tahu kamu dari mana!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suami Misteriusku    Bab 157 Siklus Hitam

    “A-ayah! Ayah masih hidup?” tanyaku. Suaraku sampai tergugup. Aku terkejut tiba-tiba melihatnya datang.Ayah tersenyum dengan anggukan kecilnya.“Kamu lupa siapa Ayah?” Ayah tersenyum tipis.“Ayah tidak benar-benar pergi, Sayang. Maaf, Ayah tidak bermaksud membuatmu dan ibumu sedih dan tidak cepat-cepat pulang. Ayah hanya memerlukan sedikit waktu untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada keluarga kita dari jauh,” jawabnya. Dia menunjuk Arion dan Om Remon.Aku tersenyum haru, ada gejolak bahagia ketika melihat pahlawanku masih hidup. Seketika sebutan pembunuh pada dirinya, hilang terkikis haru. Ini terasa seperti mimpi. Namun, dia memang ada di hadapanku, bersuara, bahkan senyumannya bisa kulihat jelas.Ayah menatap nyalang ke arah Arion yang masih tersungkur di lantai.“Anak bodoh! Kamu kira aku tidak tahu tujuanmu mendekati putriku!” maki Ayah.Arion perlahan berdiri, menunduk di hadapan Ayah. Arion tidak bersuara, apakah dia takut?“Kamu merasa pintar karena telah berhasil

  • Suami Misteriusku    Bab 156 Boneka

    Om Remon memutar kursinya menghadapku. Kulihat matanya sembab, dia menangis?“Maaf, Om. Kenapa Om menangisi orang yang pernah bermasalah dengan keluarga Om?” tanyaku, sebelah tanganku menunjuk ke arah foto yang Om Remon pegang.Om Remon lantas melirik Foto tersebut, lantas beralih padaku.“Bermasalah?” tanyanya, aku mengangguk.“Iya, Arion yang bilang!” jawabku.“Arion mengatakan itu padamu?” Aku kembali mengangguk.Dari belakang, kudengar suara langkah kaki berhenti tepat di belakangku. Saat aku menoleh, ternyata Arion.Kini pandangan Om Remon beralih kepada Arion. Cukup lama, cukup membuatku bingung dari caranya menatap Arion.“Dia mati!” ucap Om Remon, seraya kembali menatap foto lelaki itu.“Iya, Om. Aku sudah tahu!” Aku menunduk. Kemungkinan besar Arion telah memberitahu Om Remon nasib orang yang ada di foto tersebut. Namun, yang aku heran, kenapa Om Remon menangisi foto tersebut?“Ayahmu yang membunuhnya!” lanjutnya. Aku semakin menunduk dalam.“Maaf! Maafkan ayahku!” ucapku lir

  • Suami Misteriusku    Bab 155 Teriakan

    “Tapi aku tidak tahu Ayah membuang atau menguburnya di mana,” lanjutku.Arion tampak menyibak rambutnya ke belakang. Kudengar hembusan napas panjang dari hidungnya.“Baiklah … ayahmu sudah mewakili. Hanya saja caranya yang salah. Kalau begitu aku pamit, ya! Aku harus ke kantor, ayahku bisa marah jika aku berlama-lama meninggalkan pekerjaanku,” pamit Arion.Aku mengangguk, kupandangi kepergian Arion sampai mobilnya tidak lagi terlihat dari pandangan.Aku kembali ke rumah, kulihat Ibu tidak sedikit pun menyentuh makanan yang ada di atas meja. Hanya Glenn yang sibuk makan. Tatapan Ibu begitu kosong sepeninggal Ayah.Aku berjongkok di depan Ibu, kuraih kedua tangannya.“Aku juga sedih, Bu. Aku menyesal telah membenci Ayah. Tapi semua kehendak Tuhan. Kita tidak bisa terus menerus seperti ini. Ada aku, Glenn, yang membutuhkan Ibu. Jika Ibu serapuh ini, lalu bagaimana dengan kita?”Ibu menunduk, bahunya berguncang hebat. Namun, sesegera mungkin ia menegakkan tubuhnya, menghapus jejak air mat

  • Suami Misteriusku    Bab 154 Merindukan

    Samar kudengar suara isak tangis seorang wanita. Serta sentuhan di pergelangan tanganku. Hangat, serta kecil.Perlahan kubuka mata ini, kuedarkan pandanganku, kamarku. Aku berada di dalam kamarku. Gorden yang tertutup rapat, menandakan hari telah malam.“Elia!” Kulihat Arion mendekatiku, tersenyum haru ketika melihatku membuka mata.Di samping kananku kulihat Ibu dan Glenn yang tengah duduk di sampingku. Ibu menangis, aku tahu hatinya terluka.Tidak terasa air mataku mengalir. Tidak kupungkiri, aku pun sama halnya seperti Ibu. Aku memang membenci Ayah. Namun, aku tidak ingin dia meninggal.Aku menangis sesenggukan, teringat uluran tangan yang dia lakukan padaku. Dia menatapku penuh cinta. Namun, aku menatapnya penuh kebencian. Dan kini … semua tinggal kenangan. Ayah tidak akan pernah lagi pulang ke rumah ini.“Bu, kenapa harus Ayah, Bu?” Aku mencoba untuk bangun. Arion segera membantuku.Ibu memelukku begitu erat. Kami saling menumpahkan tangis di kedua bahu yang berbeda pemilik.“Ibu

  • Suami Misteriusku    Bab 153 Ramah

    “Baik, Om Remon!” sahutku. Aku mengangguk kecil.“Oh iya, silahkan duduk, Elia! Bi–”“Em … Ayah, aku sudah menyuruh Bibi buatin minum tadi. Sepertinya sebentar lagi minumannya jadi,” potong Arion.Om Remon mengangguk-anggukkan kepalanya. “Anak pintar!”“Oke, baiklah. Em … Elia, Om mau tahu, Om penasaran juga, apa yang membuatmu jatuh cinta sama anak Om ini? Dia nakal loh, padahal. Bahkan sejak di bangku SMA, Om sangat sering dipanggil oleh guru BP. Hampir setiap hari anak ini membuat ulah. Om sampai bosan terus menerus mendatangi sekolahnya untuk meminta maaf. Kok bisa kamu menaklukan kenakalan dia? Bagaimana caranya?” tanya Om Remon.“Ayah … sudah, tidak usah membongkar masa laluku, aku malu. Aku sudah berubah, loh!” timpal Arion. Hal itu membuat Om Remon terkekeh.Wajah Arion sedikit memerah. Entah kenapa ketika melihatnya seperti itu, dia terlihat lucu dan konyol.“Tidak apa-apa, dong. Daripada orang lain yang membongkar, lebih baik Ayah sendiri memberitahunya. Lagi pula Elia ini p

  • Suami Misteriusku    Bab 152 Mengajak Bertemu

    Aku berlari menghampiri Ibu, kubantu Ibu untuk berdiri.“Ibu sakit?” tanyaku. Aku cemas melihatnya.Ibu menggeleng pelan, wajahnya begitu sayu.“Ibu tidak apa-apa, Sayang. Perasaan Ibu tidak enak, semoga ayahmu baik-baik saja di mana pun berada,” jawabnya.Aku membawa Ibu ke dalam rumah. Kubantu dia untuk duduk di sofa ruang tamu. Sementara Glenn, kubiarkan dia bermain dengan anak tetangga. Aku tidak mau mengganggu waktunya bermain. Kupantau dia dari kaca jendela.“Tidak usah berpikir buruk, Bu. Kita tahu siapa Ayah, dia pasti bisa jaga diri,” ucapku. Berusaha menenangkannya.Ibu mengangguk kecil, walaupun wajahnya masih terlihat murung. Aku mengambilkan air minum untuknya.“Sudah lebih tenang?” tanyaku.“Iya, Sayang. Ibu sudah tenang, terima kasih, ya!” Aku mengangguk, lantas mengusap lengannya dan bersandar pada bahunya.“Permisi!” Aku mengangkat kepalaku, kami berdua serempak menoleh ke ambang pintu.“Arion!” Lelaki itu berdiri di ambang pintu, dengan seulas senyuman yang dia lem

  • Suami Misteriusku    Bab 7 Menyusuri

    “Aku tahu kamu dari mana!” bisik Tristan.Aku membeliak, aku membalikkan tubuhku menghadapnya.Tristan tidak tidur, dia terjaga dengan senyuman kecil yang terlihat menakutkan.“A-aku–”Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Tristan telah mengungkungku, mengunci pergerakanku. Kembali aku dilanda w

  • Suami Misteriusku    Bab 5 Menerima

    “Apa?! Kamu mau menikah dengan Tristan?”Siang ini aku dan Remon tengah beristirahat di sela-sela lelahnya bekerja. Kami berdua duduk di sebuah kantin, kami sengaja memilih meja yang paling pojok.“Iya, Mon, aku terpaksa harus melakukannya. Ini demi keadilan bagi mendiang Shana dan wanita-wanita la

  • Suami Misteriusku    Bab 4 Tidak Percaya

    “Shana!”Nama itu keluar begitu saja dari mulutku. Keyakinanku begitu kuat. Tungkaiku seketika terasa lemas. Nyaris pingsan.Aku kembali menutup gordenku, meremas bajuku bagian atas, menangisi apa yang aku lihat barusan.“Aku gagal! Aku telah gagal menyelamatkannya. Shana … maafkan aku.” Aku menang

  • Suami Misteriusku    Bab 3 Keras Kepala

    “Shana, ya Tuhan! Apa yang terjadi padanya?”Samar-samar aku mendengar suara jeritan seorang wanita di dalam rumah Tristan, yang kebetulan tengah kulewati ini, walaupun sisi rumah bagian yang kulewati ini, berdiri tembok menjulang tinggi yang kokoh.Keringat dingin tiba-tiba muncul di dahiku. Kakik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status