Home / Romansa / Suami Perkasa / Merasakan Malam Ini

Share

Merasakan Malam Ini

last update publish date: 2025-08-14 10:58:06

Setelah berenang, Naomi menarik Farel masuk ke kamar tidurnya yang luas, lampu-lampu temaram memantul lembut di cermin dan permukaan kayu gelap. Tirai tipis menutupi jendela, cahaya kota menyelinap, memberi nuansa hangat dan intim.

Naomi menutup pintu, menatap Farel dengan mata yang bersinar penuh misteri dan gairah. “Aku ingin kau rasakan semuanya malam ini… tanpa gangguan, tanpa bayangan masa lalu,” bisiknya, suara lembut tapi menggoda.

Farel masih terengah, napasnya belum stabil. Tubuh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Perkasa   Aku Salah Apa

    Tapi kemarahan Mariana tak hanya sampai disitu, Tangannya langsung meraih vas bunga di meja samping dan melemparkannya. BRAK. Vas itu menghantam kepala Edgar. Pria itu tersentak, tubuhnya oleng sambil memegang pelipisnya. Tangisan Lucy masih memenuhi ruangan saat semuanya mulai terasa kacau. Edgar yang tadi masih berdiri, tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuhnya goyah, tangannya sempat mencari pegangan—tapi tidak menemukan apa-apa. “Gar—” suara Mariana nyaris keluar, refleks. Terlambat. Tubuh Edgar jatuh ke lantai dengan bunyi berat yang membuat Nadia kembali menjerit. “Ya Allah, Pak Edgar—!” Kepalanya terbentur sisi karpet, matanya tertutup, napasnya ada… tapi tidak sadar. Dunia Mariana yang tadi panas tiba-tiba seperti disiram dingin. Sunyi sekejap. Hanya tersisa tangisan Lucy yang makin histeris. “Bangun…” suaranya berubah. “Edgar… bangun.” Tidak ada respon. Tangannya gemetar saat berlutut di samping tubuh itu. —amarahnya retak. “Gar… jangan be

  • Suami Perkasa   Ciuman diruang Tamu

    Sore itu Mariana pulang lebih cepat dari biasanya. Tidak ada alasan jelas—hanya perasaan tidak enak yang sejak siang terus mengganggu. Ia mematikan mesin mobil dengan gerakan cepat, lalu turun tanpa benar-benar berpikir. Rumah itu tampak seperti biasa. Tenang. Rapi. Lampu teras menyala. Tapi begitu pintu dibuka, ada yang terasa tidak beres. Terlalu sunyi. Tidak ada suara Lucy. Tidak ada langkah kaki Nadia. Tidak ada televisi. “Edgar?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Mariana melangkah masuk perlahan. Tas masih di bahunya, sepatu belum dilepas. Ia berhenti sejenak saat mendengar suara dari arah ruang tengah. Tawa. Pelan. Cekikikan ringan, seperti dua orang yang sedang berbagi sesuatu yang hanya mereka pahami. Jantung Mariana berdetak lebih cepat. Ia berjalan mendekat. Begitu berbelok, pemandangan di depannya langsung menahan napasnya. Lucy ada di stroller. Terbangun. Tangannya bergerak kecil, matanya berkedip pelan, seperti mencari seseorang yang seharusnya ada di dekatnya.

  • Suami Perkasa   Cemburu

    Pagi di kantor Mariana tidak pernah benar-benar pelan.Telepon berdering. Email masuk tanpa jeda. Orang keluar-masuk ruangannya dengan wajah tegang seolah semua hal di dunia harus selesai hari itu juga.“Mariana, meeting jam dua dimajuin jadi setengah satu ya.”“Mariana—”“Iya, iya, kirim aja ke aku,” potongnya cepat, matanya bahkan tidak benar-benar terangkat dari layar laptop.Rina masuk, duduk tanpa diundang, seperti biasa.Tangannya mengambil salah satu kertas di meja, tapi matanya justru menatap Mariana dengan ekspresi yang terlalu santai untuk sesuatu yang akan ia katakan.“Gue tuh kepikiran sesuatu dari kemarin pas habis nenggok Lucy.”Mariana masih mengetik.“Biasanya kalau lu kepikiran, itu bukan hal penting.”“Enggak, ini penting.”Nada Rina tetap ringan.“Apa lu nggak… cemburu?”Jemari Mariana berhenti.Hanya satu detik.Lalu lanjut lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.“Cemburu sama siapa?”“Ya itu,” Rina mengangkat bahu. “Suami lu di rumah terus sama babysitter.”Mariana me

  • Suami Perkasa   Baby

    Pagi harinya, rumah baru mereka di kawasan elit terlihat seperti Katalog properti Tangisan Lucy yang menggema dari kamar. “MARIIIII!” “YA?!” “DIA NANGIS LAGI!” Mariana muncul dari ruang kerja dengan ekspresi lelah. “Ya angkat dong, Edgar!” “Aku takut salah!” “Dia bukan bom, dia bayi!” --- Edgar akhirnya menggendong Lucy dengan kaku. Seperti sedang memegang barang pecah belah harga miliaran. Lucy berhenti menangis. Edgar membeku. “Dia… diam… sayang” Mariana melirik. “Ya bagus.” Beberapa detik hening. Lalu Edgar berbisik pelan, “…kayaknya dia suka aku.” Mariana tersenyum tipis. “Dia cuma lagi mikir ini orang siapa kok aneh.” --- Siang itu, Mariana kembali duduk di ruang kerjanya. Laptop terbuka. Meeting berjalan. Nada suaranya kembali berubah. Tegas. Dingin. Profesional. Seolah tadi pagi bukan dia yang dilempari tangisan bayi. --- Di ruang tamu, Edgar duduk di sofa. Lucy tertidur di dadanya.Sejak semalam— Rumah itu bena

  • Suami Perkasa   Lucy

    Ruang bersalin itu tidak pernah benar-benar tenang. Suara alat medis berdetak pelan. Langkah kaki perawat berlalu-lalang. Dan di tengah semua itu— Suara Mariana. “SAKIT BANGET,ADUH!” Gema suaranya hampir mengalahkan semua yang lain. Keringat membasahi pelipisnya, rambutnya menempel berantakan di wajah. Tangan kanannya mencengkeram seprai, sementara tangan kirinya— menjambak rambut Edgar tanpa ampun. “AA— SAYANG, RAMBUT AKU—” “DIEM LO!” bentak Mariana, napasnya tersengal. “INI GARA-GARA LO!” Edgar meringis, setengah jongkok karena kepalanya tertarik ke bawah. “Iya… iya… salah aku… semua salah aku…” “TAU LO!” --- “Tarik napas, Bu… ya… pelan…” suara dokter tetap tenang di tengah kekacauan itu. Tapi Mariana sudah tidak peduli. “PELAAAN GIMANA?! INI KAYAK MAU MATI!” Edgar mencoba lepas dari cengkeraman. Gagal. Rambutnya masih jadi korban. --- Di sudut ruangan, berdiri seorang gadis muda—Aura, adik Mariana. Tangannya bersedekap, wajahnya antara kasihan dan… geli. Ia

  • Suami Perkasa   Eror

    Memasuki trimester kedua, perubahan Mariana terasa… drastis. Kalau dulu ia bisa tiba-tiba bengong memikirkan Alan, sekarang? Tidak sama sekali. Bahkan ketika nama Alan disebut, reaksinya datar. Sangat datar. Seolah fase itu… sudah lewat begitu saja.Bagi Mariana.,Alan sama sekali tidak menarik. --- Di sisi lain, Alan tetap datang ke rumah Mariana. Awalnya untuk “ngecek kondisi Mariana”. Lalu jadi “sekadar mampir”. Lalu entah sejak kapan… jadi rutinitas. Dan yang paling aneh— Edgar tidak pernah melarang ataupun marah. --- Sore itu, suara riuh terdengar dari ruang keluarga. “WOI! KENA HEADSHOT!” teriak Alan sambil berdiri dari sofa. “Tenang aja, itu lu cuma hoki,” jawab Edgar santai, matanya tetap fokus ke layar TV. Dua laki-laki itu duduk berdampingan, masing-masing memegang stik PlayStation . dengan ekspresi yang sama seriusnya. Mariana berdiri di ambang pintu, memandangi mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Ia menyilangkan tangan. “Ini… rumah aku

  • Suami Perkasa   Putus

    flash back.Mereka putus bukan karena bosan. Mereka masih sering saling tatap di antara ciuman yang panas. Tapi… sesuatu mulai berubah setelah terlalu sering “menghangatkan” rasa yang seharusnya dibiarkan tumbuh dulu dari awal.Dinda pernah bilang:> “Edgar, kamu tahu nggak bedanya cinta sama kecan

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Suami Perkasa   Maaf

    Mariana tidak menangis. Ia juga tidak marah. Yang ada hanyalah kekosongan—sejenis sunyi yang terasa seperti langit tanpa matahari. Masih biru, masih luas, tetapi dingin dan hampa.Ia duduk di hadapan Edgar, suaminya. Lelaki itu tampak pucat, seolah seluruh darahnya mengalir ke satu titik rasa bersa

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Suami Perkasa   Tanya Jawab

    Mariana berdiri di dapur dengan ekspresi tenang, tapi matanya—oh, matanya—tajam seperti laser pointer murahan yang dipakai dosen di power point kuliah jam tujuh pagi.Di tangan kirinya, pisau dapur masih menempel sisa wortel dari masakan sore tadi. Tapi bukan itu yang bikin Edgar pucat seperti temb

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Suami Perkasa   DNA

    -- Edgar menatap amplop cokelat itu seperti menatap vonis. Tidak ada logo mencolok. Tidak ada tulisan dramatis. Hanya nama klinik dan satu kalimat kecil: Hasil Uji DNA – Rahasia Tangannya sempat gemetar ketika ia merobek tepinya. Bukan karena takut pada hasilnya—melainkan karena ia sudah tahu

    last updateLast Updated : 2026-04-04
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status