LOGINMemasuki trimester kedua, perubahan Mariana terasa… drastis. Kalau dulu ia bisa tiba-tiba bengong memikirkan Alan, sekarang? Tidak sama sekali. Bahkan ketika nama Alan disebut, reaksinya datar. Sangat datar. Seolah fase itu… sudah lewat begitu saja.Bagi Mariana.,Alan sama sekali tidak menarik. --- Di sisi lain, Alan tetap datang ke rumah Mariana. Awalnya untuk “ngecek kondisi Mariana”. Lalu jadi “sekadar mampir”. Lalu entah sejak kapan… jadi rutinitas. Dan yang paling aneh— Edgar tidak pernah melarang ataupun marah. --- Sore itu, suara riuh terdengar dari ruang keluarga. “WOI! KENA HEADSHOT!” teriak Alan sambil berdiri dari sofa. “Tenang aja, itu lu cuma hoki,” jawab Edgar santai, matanya tetap fokus ke layar TV. Dua laki-laki itu duduk berdampingan, masing-masing memegang stik PlayStation . dengan ekspresi yang sama seriusnya. Mariana berdiri di ambang pintu, memandangi mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Ia menyilangkan tangan. “Ini… rumah aku
Sore itu, Alan duduk sendirian di kantin kampus.Segelas minuman dingin di depannya sudah mulai berembun, tapi belum juga ia sentuh. Sedotannya hanya ia putar-putar tanpa tujuan, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk mengisi kekosongan.Di depannya, Raka memperhatikan dengan alis berkerut.“Lu kenapa murung gitu?”Alan mendesah panjang, bahunya sedikit turun.“Kak Mariana udah tiga hari nggak chat gue.”Raka langsung menepuk meja, cukup keras sampai beberapa orang menoleh.“Nah! Bagus dong!”Alan menatapnya tidak percaya.“Bagus dari mana?”“Dari semua sisi!” jawab Raka cepat. “Bro, dia itu istri orang. Istri orang yang lagi hamil pula.”Alan menghela napas lagi, lebih pelan kali ini.“Iya juga sih…”“Terus?”Alan mengalihkan pandangannya ke taman kampus. Angin sore menggerakkan daun-daun, mahasiswa lalu-lalang seperti biasa.Biasanya… di jam seperti ini, ponselnya sudah berbunyi.Biasanya, Mariana sudah menyuruhnya membeli sesuatu.Sekarang… kosong.“Dia nggak nyuruh
Langit sudah gelap ketika Mariana akhirnya keluar dari gedung kampus. Angin malam berhembus pelan, membawa suasana yang lebih tenang setelah seharian penuh pikiran. Ia baru saja melangkah ke halaman parkir saat sebuah mobil berhenti pelan di depannya. Kaca jendela turun. “Naik, Kak Mariana.” Mariana menghela napas. “Kamu lagi…” Alan tersenyum santai dari balik kemudi. “Aku lewat. Kebetulan ketemu kakak lagi disini.” Mariana menyipitkan mata. “Kampus ke rumahku itu nggak searah sama tempat tinggal kamu.” Alan langsung menjawab cepat, “Hari ini searah.” Mariana menatapnya beberapa detik… lalu tanpa banyak protes, membuka pintu dan masuk. “Makasih,” gumamnya singkat. Mobil melaju pelan meninggalkan kampus. --- Di dalam mobil, suasana tidak benar-benar sunyi. Ada sesuatu yang menggantung—aneh, canggung, tapi juga hangat. Alan sesekali melirik Mariana. “Kakak capek?” tanyanya. Mariana bersandar di kursi. “Lumayan.” Beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba M
Perpustakaan mulai sedikit lebih ramai saat sore menjelang malam. Beberapa mahasiswa berdatangan, mencari tempat duduk sambil membawa buku dan laptop. Suara kursi yang digeser pelan dan bisikan-bisikan kecil memenuhi ruangan. Mariana masih duduk di tempat yang sama. Laptopnya sudah terbuka lagi, tapi layar yang menyala itu lebih lama menampilkan halaman kosong daripada tulisan. Pikirannya tidak di situ. Tatapannya kosong, jemarinya diam di atas keyboard. “Kalau Edgar itu pakai topeng… aku nggak,aku masih ori” Kalimat Alan terus terngiang. Mariana menghela napas panjang, lalu mengetik asal-asalan—beberapa angka, lalu dihapus lagi. “Fokus, Mariana… fokus,” gumamnya pelan. “Fokus apa kak?” Suara itu datang tiba-tiba dari sampingnya. Mariana langsung menoleh—dan hampir kaget setengah mati. “Aurora?!” Seorang perempuan berdiri di samping meja dengan tangan bersedekap, alis terangkat tinggi. Penampilannya rapi, tegas, dengan aura percaya diri yang khas. Aurora—adik Mariana. “
Keesok harinya, perpustakaan kampus terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya suara halus pendingin ruangan dan sesekali lembaran buku yang dibalik terdengar samar. Di salah satu meja dekat jendela, Mariana duduk sambil menyusun laporan bahan baku di laptopnya. Alisnya sedikit berkerut, fokus, tapi sesekali ia menghela napas kecil. Alan datang seperti biasa—tanpa suara berisik, tapi kehadirannya selalu terasa. Ia membawa buku catatan tebal, rambut gondrongnya diikat setengah, kaos putihnya sedikit kusut, namun tetap saja… entah kenapa terlihat menarik. Ia berhenti di samping meja Mariana. “Boleh duduk sini Kak?” tanyanya pelan, menjaga volume suaranya agar tidak mengganggu suasana perpustakaan. Mariana bahkan tidak langsung menoleh. “Duduk aja, Lan. Emang siapa yang larang?” Alan tersenyum tipis lalu duduk di sebelahnya. Ia membuka buku catatan, berpura-pura membaca. Namun beberapa detik kemudian, matanya mulai melirik ke arah Mariana—diam-diam, tapi cukup sering untuk ketahuan. M
Alan memandangi layar ponselnya terlalu lama. Foto itu sebenarnya sederhana. Tidak ada pose khusus. Hanya seorang perempuan yang sedang berdiri dikasir rambutnya sedikit tertiup angin,dengan senyum yang tidak sepenuhnya ia sadari. Tapi entah kenapa, Alan tidak bisa berhenti menatapnya. Sudah hampir lima menit. “Buset…” Suara dari belakang membuat Alan hampir menjatuhkan ponselnya. “Lu ngapain bengong kayak orang kesambet?” Raka menyenggol bahunya sambil menjatuhkan diri di kursi sebelah. Alan langsung mematikan layar ponselnya. Terlambat. Raka sudah keburu melihat sekilas. “Eh, eh, eh…” Raka menyipitkan mata. “Tadi itu cewek siapa?” “Bukan siapa-siapa,” jawab Alan cepat. Raka malah makin curiga. “Bukan siapa-siapa tapi fotonya lu zoom segitu dekat?” katanya sambil terkekeh. “Sini gue lihat.” “Apaan sih lu.” Tapi Raka sudah keburu merebut ponselnya. Layar menyala kembali. Foto perempuan itu muncul lagi. Raka yang tadinya santai langsung berhenti tertaw
Carlos terhuyung mundur, wajahnya kosong. Suaranya pecah, hampir seperti anak kecil yang kehilangan segalanya. “Jadi… tidak ada sedikit pun tempat untukku di hatimu?” Keira menggeleng pelan, suaranya nyaris berbisik namun tegas. “Yang ada hanya kuburan bagi semua luka yang kau tanamkan. Aku tid
Hari itu, kota dipenuhi cahaya senja. Langit berwarna oranye keemasan, dan angin laut membawa aroma asin yang menenangkan. Keira berdiri di balkon apartemennya, menatap jauh ke horizon. Hatinya masih berdebar karena kejadian beberapa minggu lalu bersama Carlos—pertemuan terakhir yang menutup masa l
Malam itu kamar terasa semakin sunyi. Sukma tidak bisa tidur meski tubuhnya lelah. Air mata yang tadi sempat kering kembali membasahi pipinya. Perasaan kecewa, marah, dan putus asa bercampur menjadi satu. Ia merasa hidupnya hampa, pernikahannya rapuh, dan semua yang ia jalani hanyalah sandiwara.Ta
Malam di kafe itu seolah masih berbekas dalam kepala Farel. Kata-kata Laura berputar terus, tak mau hilang. Tentang Sukma yang penuh manipulasi, tentang rahasia kelam yang tak pernah ia bayangkan. Ia duduk lama di mobil, menyalakan mesin tapi tak segera beranjak. Hanya menatap kosong ke jalan yan







